
Saat ibu pacar Andi masuk dia melihat sekitarnya terdapat pria tampan dan wanita cantik disana.
"Ibu dan adik bisa duduk di samping ibu saya." ucap Arya menunjuk sofa kosong di samping ibunya.
"Terimakasih mas." ucap ibu pacar Andi menggandeng anaknya.
Arya duduk di samping Hani yang sedang memangku Putri.
"Cantik juga ya by pacarnya Andi." bisik Arya pada Hani.
"Mau aku tepuk mulutnya?" bisik Hani menyentil mulut Arya karena kesal.
Arya hanya tertawa kecil melihat Hani marah.
"Perkenalkan nama saya Dini ibu dari Ani pacar Andi." ucap Dini memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal Bu Dini, saya Titi ibu dari Andi dan itu suami saya Arif." ucap Titi.
"Saya kemari atas panggilan mas Arya untuk membahas tentang masalah yang dialami Andi dan Ani." ucap Dini.
"Langsung ke poinnya saja, Andi sudah sepakat dengan saya dan Arya untuk bertanggung jawab menikahi Ani yang sedang hamil. Dan kami selaku orang tua mengucapkan maaf sebesar-besarnya atas kebodohan anak kami Andi." ucap Arif.
"Saya juga meminta maaf kepada keluarga Andi atas kelalaian Ani dalam hal ini. Saya sangat sedih dan kecewa dengan kelakuan Ani yang sangat menentang saya ini." ucap Dini meneteskan air matanya.
"Sudah masalah itu kita lupakan saja, yang berlalu biarlah berlalu kini kita sudah harus membuka halaman baru untuk mencapai tujuan baru. Sekarang kita tidak usah membuka luka lama, saya mau membahas hari pernikahan Andi dengan Putri." ucap Arya.
"Ya benar kata Arya, biarkan masa lalu berlalu mari kita buat jalan untuk masa depan. Ibu Dini mau hari pernikahan kapan?" tanya Arif.
"Saya ikut saja yang penting mereka bisa resmi menikah." jawab Dini.
"Untuk urusan pendidikan biar mereka homeschooling sampai lulus SMA atau SMK. Kalau saran saya pernikahan dipercepat supaya tidak menimbulkan pembicaraan tetangga. Dan saya mau supaya yang datang hanya kerabat dekat." ucap Arya.
"Ya saya setuju dengan usulan mas Arya." ucap Dini.
"Bagaimana kalau bulan depan atau minggu depan saja?" tanya Titi.
"Apa kalau minggu depan Andi sudah sembuh?" tanya Dini.
"Don coba kau pukul palanya kalau teriak berarti minggu depan bisa sembuh tapi kalau diam aja berarti minggu depan suntik mati." ucap Arya menahan tawa karena Hani memukul lengannya.
Doni memukul kepala Andi yang sedang tidur hingga membuat Andi teriak kesakitan.
"Nah berarti minggu depan sudah bisa sembuh." ucap Arya.
"Oke fix minggu depan kita gelar acara pernikahan Andi dan Ani. Tempatnya nanti saya dan Arya yang pikirkan. Sekarang nak Ani bisa bicara dulu dengan Andi." ucap Titi.
Ani yang sedari tadi diam langsung berdiri dan berjalan menuju kasur Andi.
"Kayak sinetron deh, menjijikkan sekali." bisik Arya pada Hani.
"Kamu benar aku serasa mau muntah." bisik Hani.
Ani memperhatikan kondisi Andi yang dipenuhi perban dan terlihat sangat menyedihkan.
"Kau berbuat apa sampai terluka begini?" tanya Ani.
"Awalnya sih cuman luka di punggung eh malah ditambahin sama pria pria yang ada disini." ucap Andi pasrah.
"Kau mau aku pukul lagi hah? udah tau kau yang salah malah nuduh kami yang enggak enggak!" ucap Doni.
"Ampun ampun." ucap Andi.
"Itulah akibat dari tawuran, belum saja kamu tertangkap polisi. Kalau kamu tertangkap bisa koma kamu dibuatnya." ucap Ani.
"Lain kali pikirkan matang matang jika ingin mengambil keputusan, jangan cuman gak enak sama teman jadi kamu ikut ikutan." ucap Ani lagi.
"Iya iya aku minta maaf." ucap Andi.
Kring..kring..kring..
"Aku angkat telepon dulu ya by." ucap Arya keluar ruangan.
"Hallo ada apa?" tanya Arya.
"Bos anggota kita diserang lagi!!!" jawab Keny panik.
"Kau tenang dulu, ceritakan semua padaku." ucap Arya.
Keny menarik nafas dalam-dalam lalu menceritakan semua kejadian yang dialami anggota gengnya.
"Jadi awalnya ada 20 anggota yang sedang berangkat ke restoran milik bos untuk berganti sift jaga. Tapi ditengah jalan malah di cegat oleh 100 anggota geng Macan Putih. Mereka awalnya unggul tapi karena kalah jumlah mereka kalah dan sekarang ada 15 orang koma dan 5 orang lagi terluka berat. Mereka semua di rawat di rumah sakit Cinta Sehat." ucap Keny.
"Kau ada di ruangan mana? biar aku kesana. Kebetulan kita satu rumah sakit." ucap Arya.
"Saya sekarang ada di ruangan 34." jawab Keny.
__ADS_1
"Tunggu aku akan kesana." ucap Arya menutup teleponnya.
Arya masuk kedalam ruang dan menghampiri ayahnya.
"Ayah aku boleh minta nomor paman Beni?" tanya Arya.
"Ayah kirim sekarang ya." ucap Arif mengeluarkan ponselnya dan mengirim nomor Beni ke Arya.
"Sudah." ucap Arif.
"Terimakasih ayah." ucap Arya kembali keluar ruangan dan membuat semua orang bingung dengan kelakuan Arya.
"Kenapa dia?" tanya Rosa.
"Tidak tau." jawab Rizal.
Arya berjalan ke ruangan 34 untuk menjenguk anggotanya yang terluka. Arya juga menelepon pamannya untuk mencari alasan dibalik penyerangan ini.
"Hallo Arya ada apa telpon paman?" tanya Beni.
"Apa paman Beni tadi baru mengeroyok 20 orang pemuda?" tanya Arya.
"Dari mana kau tau?" tanya Beni serius.
"Apa alasan paman memukuli mereka?" tanya Arya balik tanpa menjawab pertanyaan Beni.
"Itu karena mereka sudah memukuli anak dari petinggi gengku. Jadi aku membalasnya dengan mengeroyok mereka." jawab Beni.
"Apa paman punya bukti kalau mereka yang memukuli anak dari petinggi geng paman?" tanya Arya.
"Tidak tapi anak dari petinggi geng ku memang babak belur." jawab Beni.
"Apa itu buktinya?" tanya Arya.
"Ya." jawab Beni.
"Kalau begitu tunggu saja anggota geng paman sekarat dan semua tulang kaki dan tangan patah." ucap Arya.
"Kau ini kenapa sih Arya?" tanya Beni bingung.
"Paman sudah melakukan pengeroyokan pada anak buahku sebanyak dua kali. Namun yang pertama kali aku biarkan karena mengganggap jika paman salah orang. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya karena paman sudah keterlaluan. Asal paman tau dari 20 orang yang paman keroyok ada 15 orang koma dan 5 lainnya luka berat! apa paman terima kalau anggota paman aku buat seperti itu?" tanya Arya.
"Sekarang mau mu apa?" tanya Beni dengan nada bersalah.
"Aku tidak mau meminta apa apa, aku hanya mau paman datang ke rumah sakit Cinta Sehat dan ke ruangan No 34." jawab Arya.
"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu pada paman." jawab Arya.
"Tunggu aku disana, aku berangkat sekarang." ucap Beni.
Arya menutup teleponnya dan mempercepat jalannya ke ruangan No 34. Saat masuk ke dalam Arya melihat lima anak buahnya tidur dengan dibalut perban pada seluruh bagian tubuhnya.
"Bos!" sapa Keny dan Draco.
"Apa semuanya sudah selesai di operasi?" tanya Arya.
"Sudah, baru saja selesai." jawab Draco.
"Bagaimana perkembangan markas?" tanya Arya.
"Kini rata rata anggota kita sudah berada ditingkat GrandMaster tingkat dasar. Bisnis juga semakin meningkat dengan signifikan. Kita juga berencana untuk memperluas markas dan jaringan dunia bawah." jawab Keny.
"Lakukan semaumu jika itu demi kebaikan bersama, jika dananya kurang hubungi aku biar aku bantu." ucap Arya.
Anggota yang tadi tidur kini terbangun karena mendengar suara Arya.
"Bos!" ucap salah satunya mencoba untuk duduk.
"Sudah tidur saja, jangan banyak gerak dulu." ucap Arya.
"Baik." ucapnya.
Tak lama kemudian Beni datang seorang diri tanpa ada yang menemaninya.
"Duduklah paman." ucap Arya tenang.
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Beni duduk didepan Arya.
"Keny kau putar video ayahnya Ramli." ucap Arya pada Keny.
Keny membuka laptopnya dan memutar video tentang semua kebusukan ayah Ramli.
"Brengsek! dasar Tarjo brengsek!" umpat Beni.
"Paman hanya dijadikan alat oleh Tarjo agar paman yang di salahkan oleh pemimpin The Kings. Tapi untung saja pemimpin The Kings sangat penyabar dan cerdas dalam menyikapinya." ucap Arya membanggakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Plak!
"Kau tidak usah bangga begitu! aku tau kau pemimpinnya!" ucap Beni memukul kepala Arya.
"Sombong sedikit saja tidak boleh!" ucap Arya.
"Sekarang paman bebas mau melakukan apa pada Tarjo. Mau mengeluarkan nya dari geng atau membunuhnya. Tapi aku sarankan jangan sampai membunuhnya, buat saja dia sengsara atau miskin." lanjut Arya.
"Aku akan ikuti idemu itu." ucap Beni.
Kring..kring..kring..
"Hallo ada apa ayah?" tanya Arya.
"Kau dimana? putri mencarimu sampai menangis sesenggukan ini! cepat kemari!" ucap Arif.
"Aku sedang menemui paman Beni, sebentar lagi aku kesana." jawab Arya.
"Cepat!" ucap Arif mematikan teleponnya.
"Siapa?" tanya Beni.
"Ayah." jawab Arya.
"Kebetulan aku juga mau menemuinya." ucap Beni.
"Aku pergi dulu, nanti kalau ada apa apa kau hubungi aku secepatnya." ucap Arya pada Keny.
"Baik bos!" jawab Keny.
Arya dan Beni keluar ruangan dan menuju ruangan Andi untuk menemui Putri yang menangis.
"Putri kenapa?" tanya Arya saat di ruangan Andi.
"Kakak dari mana?" tanya Putri dengan suara serak.
"Kakak barusan menjenguk teman kakak yang sakit di ruangan lain." jawab Arya.
"Kenapa Putri tidak diajak?" tanya Putri.
"Putri tadi sedang tidur jadi kakak tidak mengajak Putri." jawab Arya.
"Apa nanti kakak tidur dirumah ayah?'' tanya Putri.
"Putri tidak ingat ini hari apa?" tanya Arya balik.
"Hari Senin." jawab Putri.
"Nah itu ingat, kalau Putri mau berlibur besok saja kalau kak Andi sudah sembuh dan saat libur panjang. Nanti kita berlibur ke Bali, kita jalan jalan di pantai, makan kepiting dan berenang kalau Putri mau." ucap Arya.
"Kakak janji ya!" ucap Putri dengan mata berbinar-binar.
"Ya kakak janji." jawab Arya.
"Nanti kak Hani harus ikut!" ucap Putri.
"Ya nanti kak Hani dan yang lainnya ikut, kita liburan satu keluarga!" ucap Arya.
"Yeyyy!!!" Putri berlari memeluk ibunya dengan bahagia.
Arya hanya menggeleng pelan dan duduk di samping Hani.
"Tidak jadi melihat rumah by?" tanya Hani.
"Sudah sore menjelang malam, tapi kalau mau ayok aja." jawab Arya.
"Mau kemana nak?" tanya Titi.
"Cek rumah buk, kebetulan baru jadi minggu lalu." jawab Arya bohong.
"Dimana sih rumahnya?" tanya Arif.
"Jl Mawar No 53." jawab Arya.
"Jauh juga ya dari sini." ucap Rizal.
"Makanya itu, tapi kalau tetep mau liat ya ayok, sekalian cek mobil baru disana." ucap Arya menaik turunkan alisnya.
"Gass!" ucap Doni.
"Putri ikut!" ucap Putri.
"Gak boleh, besok Putri harus sekolah nanti kalau capek gimana?" tanya Arya.
"Iya iya Putri dirumah." jawab Putri.
__ADS_1
Arya dan yang lainnya pergi dari ruangan Andi dan berangkat menuju rumah baru Arya.