
"Kita tidak akan pernah tahu, seperti apa pendamping kita kelak. Terkadang semua tidak seperti yang di harapkan, tapi Tuhan tahu yang terbaik untuk kita."
Reyhan Aldebaran. Salah satu pengusaha muda yang sukses, Dia di karuniai otak yang cerdas sehingga dalam waktu singkat mampu membawa perusahaan Aldebaran Corp ke level tertinggi.
Bukan cuma otak yang cerdas, tapi juga wajah yang rupawan. Mata biru, hidung mancung, dan kulit putih, berbanding terbalik dengan hatinya yang mungkin sedikit ... gelap.
Postur tubuhnya sangat atletis, membuat sosok nya begitu di kagumi, terutama para kaum hawa. Dengan apa yang dia miliki saat ini, tidak sulit baginya mencari seorang pacar atau calon istri. Namun, sayang, Pintu hatinya sudah tertututup. Tepatnya sejak beberapa tahun ini.
Rey yang ramah dan baik, berubah menjadi sosok yang dingin dan angkuh. Dalam urusan pekerjaan dia termasuk Bos yang tegas. Dia tidak segan untuk menghukum bahkan memecat para karyawannya saat itu juga jika mereka melakukan kesalahan.
pagi ini Rey sudah siap berangkat ke kantor karna dia ada meting penting. Rey menarik salah satu laci, di sana berjajar rapih jam tangan bermerk koleksinya. Dan pilihannya jatuh pada jam tangan Dior berwarna silver. tidak jauh dari sana, deretan sepatu juga berjajar di sebuah lemari kaca.
Setelah dirasa penampilannya sempurna, dia keluar kamar, menghampiri meja makan. Disana sudah tersaji kopi dan beberapa lembar roti tawar. Menu sarapan Rey setiap pagi.
Di rumah besar yang sudah seperti istana itu, dia hanya tinggal sendiri. Kedua orang tuanya sering bepergian ke luar negri.
Rey lebih suka membawa mobilnya sendir, walau dia mempunyai supir yang siap mengantarnya kemanapun.
Seperti saat ini. Saat dia tengah berkendara, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Ya, Dilan?"
"Iya, aku udah hampir nyampe." ucap Rey.
__ADS_1
Diujung sana Dilan terus saja bicara, dia panik, karna clien sudah tidak sabar menunggu. Hingga Rey mempercepat laju mobilnya. .
Namun tiba-tiba, dia menge-rem mobil nya mendadak, membuat kening nya membentur stir mobil. Rey terlalu fokus, dalam pikirnya dia hanya ingin segera tiba di kantor. Sehingga dia tidak melihat lampu merah.
Sedikit lagi! Jika seandainya dia terlambat, maka namanya akan masuk berita di media cetak dan elektronik.
Kini didepan mobilnya sudah ada beberapa orang yang mengerumuni, dan beberapa orang lagi berlarian menghampiri.
Ya, ia hampir saja menabrak seorang anak kecil, Entahlah, itu anak kecil atau seorang wanita, dia tidak tahu pasti, yang jelas dia mendengar teriakan.
Dari kerumunan, seorang gadis keluar dengan menggendong anak laki-laki. mungkin usianya sekitar 4 tahun. Para warga terlihat khawatir, mereka menanyakan keadaan gadis dan anak itu. "Kita baik-baik saja," terang gadis itu.
Gerak-gerik gadis itu, tidak luput dari pandangan Rey. Dia masih bergeming didalam mobilnya.
Rey keluar dari mobil setelah warga mengetuk-ngetuk pintu dan menyuruhnya keluar dengan emosi.
"Oke, saya akan tanggung jawab!" ucap Rey. Dia mengambil beberapa lembar uang setatus ribuan. lalu mengancungkanya. "Segini, cukup, kan? apa masih kurang?"
Dari samping Rey, seseorang merampas uang itu, lalu melemparnya kesisi lain. Membuat Rey tersentak.
"Eh, Mas, Tahu peraturan gak, sih? atau kamu buta warna? kamu gak lihat ada anak kecil yang nyebrang? atau mata kamu juga buta hah?" omel gadis itu.
"Berapa yang kamu mau? Satu juta, dua juta? Saya sudah hapal betul bagaimana kelakuan orang-orang seperti kamu. Yang suka memanfaatkan situasi hanya untuk keuntungan priba_"
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi Rey. "Saya tidak butuh uang anda. Jangan mentang-mentang anda punya banyak uang. terus anda berpikir bisa menyelesaikan semua masalah dengan uang? Tidak ...." Gadis itu menarik nafas, mengatur emosinya yang meluap. Dia tidak pernah merasa direndahkan seperti itu, apalagi di depan umum. "Saya kasihan sama anda. Punya banyak uang tapi miskin hati!"
Tangan rey mengepal kuat, baru kali ini ada wanita yang menolak uangnya. "Apa maksud mu? Kamu gak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Dengar. kalau saya mau, saya bisa ... " Rey mendengar ponselnya berdering dari dalam mobil, dia langsung teringat meetingnya.
Rey menarik tangan gadis itu, lalu menaruh kartu nama di tangannya. "Kalau ada apa-apa dengan kalian, hubungi saya." ucap Rey sebelum dia pergi. Baginya ada hal yang jauh lebih penting dari pada meladeni gadis itu. Dia akan urus gadis lancang itu nanti.
****
Setelah selesai meting Rey kembali ke ruangan nya. Kata-kata gadis itu terus mengusiknya. membuat emosinya naik. "Saya kasihan sama anda, punya banyak uang, tapi sayang, miskin hati."
Namun, seketika. Bayangan gadis itu saat berada di kerumunan, membuat emosinya hilang. Entah kenapa senyumnya begitu manis, Hanya melihat senyum nya saja membuat Rey merasa tenang. Apa? Manis? sejak kapan dia memuji seorang wanita? Ini tidak benar!
"Untung saja kamu bisa meyakini clien kita, Mereka sempat meragukan kamu karena telat datang." Dylan tiba-tiba bersuara dari arah pintu. Membuat lamunan Rey buyar.
Dilan melangkah menghampiri sang bos dengan beberapa lembar map di tangan.
Rey berdecak. " Tidak ada yang bisa nolak seorang reyhan Aldebaran," ucap nya percaya diri.
"Ya, aku akui, kamu memang hebat. Tapi, kenapa kamu bisa terlambat? Waktu di telpon kamu bilang segera sampai?" selidik Dylan.
Dylan adalah sekretaris plus sahabat baik nya Rey. Selama ini dia tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan tidak suka jika ada wanita yang mendekatinya. Makanya dia menunjuk Dylan.
Bagi Rey semua wanita itu tidak lebih dari seorang ******, yang mau melakukan apa saja untuk uang.
__ADS_1
Dia gak pernah tertarik pada seorang perempuan, sejak wanita itu menghianatinya. Sejak saat itu Rey tidak pernah percaya lagi pada yang nama nya cinta.