Takdir Tuhan Siapa Yang Tau?

Takdir Tuhan Siapa Yang Tau?
Lembaran baru


__ADS_3

Seminggu setelah kedatangan nya di Jakarta.


Tami juga sudah di terima kerja menggantikan posisi mba Eva, mba Megi bilang karna dirinya sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari pegawai baru untuk di tempatkan di posisi itu.


Terlebih lagi dia sudah yakin dengan orang yang di kenalkan Eva pada nya, bukan masalah pengalaman yang ia pertanyakan, tapi kejujuran dan juga ke disiplinan pegawai nya yang paling ia cari, baginya, pengalaman pegawai nya bisa mereka cari sambil memulai pekerjaan, asalkan dengan modal jujur, ulet, disiplin dan tekad yang kuat, Tami benar benar menikmati setiap pekerjaan yang dia lakukan, semenjak perkenalan nya minggu lalu, dia bahkan belum pernah lagi bertemu dengan Mba Megi, pada awal nya Tami memanggil atasan sekaligus pemilik tempat nya bekerja ini dengan Ibu, namun mba Megi menolak nya, ia merasa belum terlalu tua untuk di panggil Ibu, dan supaya berasa lebih dekat dengan karyawan kata nya.


Tempat dimana Tami ini bekerja adalah pusat dari beberapa cabang usaha milik mba Tami dan keluarga nya, usaha di bidang fashion dengan butik ternama dan sekaligus pemilik rumah produksi berskala besar, belum lagi usaha nya di bidang konstruksi yang kabar nya saat ini di jalankan oleh keponakan nya.


Dan sempat terdengar beberapa karyawan sering bergosip soal keluarga kaya raya ini, sempat berhembus kabar bahwa keponakan mba Megi satu satu nya ini lah yang kelak akan mewarisi seluruh bisnis keluarga mereka, Tami tak begitu peduli soal kabar yang beredar luas dan sedang hangat hangat nya di bicarakan itu, bagi nya tak perlu memepermasalahkan hal hal yang tidak ada kaitan nya dengan diri nya, cukup fokus bekerja dengan baik, soal hasil akhir nanti, biarlah menjadi kejutan nanti.


" Tami, di panggil Mba Megi keruangan nya !" Se orang pegawai butik menghampiri Tami yang sedang mengecek beberapa stok kain yang akan di kirim ke beberapa rumah produksi cabang, di letakan nya sebuah note dan juga pensil di atas meja


" oh oke makasih, nanti saya ke ruangan nya "


pegawai itu pun berlalu meninggalkan Tami.


Divpusat cabang ini terdiri dari mess karyawan di bagian paling belakang, serta ruang pabrik besar yang memepekerjakan dua ratus orang karyawan khusus di bagian jahit dan ada juga khusus bagian pola, sortir, packing dan yang lain nya, di bagian atas ada tempat yang di fungsi kan sebagai kantor, tempat meeting karyawan dan juga ruang monitor karyawan, ruang di samping itu ada sebuah bangunan yang lebih mirip panthouse, itu adalah ruangan pribadi Mba Megi sekaligus pemilik usaha ini, sengaja bangunan nya di buat senyaman mungkin biar betah, kerja berasa di rumah, itu jawaban mba Eva, saat dulu Tami bertanya kenapa disini ada rumah, begitu pertanyaan nya, saat ia baru pertama kali di ajak tour mengelilingi tempat ini . dirinya langsung di buat nyaman dengan suasa na tempat yang luas dan masih banyak pepohonan di sekitar nya, membuat suasana sangat segar di tengah hiruk pikuk metropolitan yang sudah terasa sangat panas, juga para pegawai yang kebanyakan di dominasi para perempuan, sangat ramah dan hangat, ia saja yang baru pertama kali menginjakan kaki di kota, sudah memiliki banyak kenalan, teman teman baru dari segala bidang pekerjaan, ada yang di bagian jahit, cuting, packing dan yang lain nya. Tidak sedikit juga para pekerja anak anak remaja se usia nya yang merantau ke ibu kota dan melamar pekerjaan disana. Sungguh dia semakin merasa nyaman dan betah .


Tok.. tok.. tok.. " assalamualaikum mba.. ini Tami " seru Tami dari luar pintu


" Masuk Tam, "


ceklek


Tami nampak ragu, melangkahkan kaki nya pelan, pasal nya setelah minggu lalu saat diri nya di kenalkan mba Eva, ini adalah pertemuan ke dua nya dengan Mba Megi secara langsung, meski dari cerita yang dia dengar dari semua para pekerja disini, mba Megi memang lah orang baik, tapi tetap saja dia merasa gugup, yang ditakutkan adalah dirinya membuat kesalahan tanpa dia sadari,


" duduk Tam, " Tami kemudian menduduki sebuah kursi putar yang berhadapan dengan Mba Megi hanya terhalang sebuah meja kerja berukuran lumayan besar, yang sudah penuh dengan tumpukan kertas.


" Gimana? Kamu betah kerja disini?" mba Megi melepas sebuah kaca mata yang bertengger manis di hidung nya, kemudian beralih menatap Tami


" jangan gugup gitu, biasa aja, saya nggak makan orang ko " Mba Megi menyadari kegugupan Tami, terlihat dari raut wajah gadis manis itu yang terus tertunduk, dan meremas kedua tangan nya di depan. Jujur saja, saat pertama kali melihat Tami, mba Megi langsung dibuat jatuh hati dengan gadis berlesung pipi ini, andaikan diri nya se orang pria, mungkin sudah di pacari nya sejak kemarin, sikap dan juga tatakrama nya begitu sopan dan tutur kata nya lembut, sangat jarang dia temui di kehidupan sekarang, orang yang masih menjunjung tinggi etika dan kesopanan.


" ehh .. i. Iya mba, Saya betah ko kerja disini, betah banget malah "


" syukur lah kalau begitu, oh ya, kamu sekarang tinggal di Mess atau masih di tempat nya Vini teman nya Eva?"

__ADS_1


Mba megi mengetahui seluruh cerita Tami dari Eva, bagai mana ia yakin membawa gadis ini untuk bekerja dan menggantikan posisi nya, juga keadaan Tami yang sudah yatim piatu dari kecil, tak lupa perjalanan mereka saat sampai di kota, makanya dia tau kalau sesaat setelah mereka tiba, mereka menempati tempat kos nya Vini, yang kebetulan dua hari lalu sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan nya disini. Mba Megi juga tau, tempat kos yang dulu di tempati Vini juga masih tersisa satu bulan yang sudah terbayar. dan Vini bahkan sempat menawarkan nya pada Tami, jika gadis itu mau menempati nya tanpa harus membayar selama satu bulan ini.


" saya sekarang menempati mess karyawan mba, kebetulan satu kamar dengan Rima dan sella "


" oh ya, itu juga bagus, biar mempersingkat waktu datang ke tempat kerja, hemat juga kan, biar nggak perlu ongkos naik angkot "


" iya mba " jawab Tami


" Tapi, sebenernya saya panggil kamu kesini, karna saya mau minta tolong sama kamu "


" minta tolong apa ya mba, maaf sebelum nya "


" nggak papa, kamu nggak salah, kenapa minta maaf, sudahlah jangan terlalu kaku begitu, anggap lah saya ini kakak kamu, jangan terlalu formal dengan saya, apalagi kita hanya berdua disini "


" iya mba " Tami sedikit menatap atasan nya itu dengan senyum manis nya


" jadi gini, Mba akan sedikit bercerita dulu sama kamu, biar kamu juga nggak penasaran nanti nya, nggak papa ya? " sekali lagi Mba Megi menatap sorot mata Tami, melihat gadis itu, tatapan nya begitu tedih dan senyum nya yang teramat manis dan enak di lihat


" jadi, dua puluh tahun lalu, ayah saya mengalami kecelakaan mobil, di dalam nya ada Ayah, Ibu, Mas Bian dan Mba Raya istri mas Bian, kakak laki laki saya satu satu nya, kecelakaan itu terjadi di Bali, dan menewaskan Ayah, Mas Bian juga Istrinya, dan yang masih selamat hanya Ibu, mba Megi sedikit menundukan pandangan nya, mata nya mengembun menahan air mata yang memaksa turun membasahi pipi nya. " Itu pun, kondisi ibu sekarang dalam ke adaan lurmpuh total, beliau sudah tidak lagi bisa berjalan dan menikmati masa tua nya,kaki nya sama sekali tak bisa di gerakan, bahkan semenjak kejadian itu, beliau sudah seperti kehilangan semangat hidup nya "


" saya turut berduka Mba, saya turut merasa kan kehilangan, karna saya juga sudah pernah merasakan kehilangan orang tua saya "


" selagi saya mampu, pasti akan saya bantu mba "


" Saya titip Ibu sama kamu Tami "


" Hah???!!! Tami benar benar terkejut.


ke-Ke kenapa Mba bilang begitu, memang nya mba mau kemana?!"


" saya tidak kemana mana, hanya saja, Saya sadar waktu saya untuk menemani ibu sangat lah sedikit, bahkan nyaris waktu saya di habiskan dalam pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan, tidak jarang pula, saya tidak pulang kerumah sama sekali, bahkan akhir akhir ini ada beberapa tender besar yang di ambil, mengharuskan saya pergi ke beberapa kota, dengan waktu yang saya sendiri tidak tau berapa lama.


Untuk sejenak mereka sama sama terdiam


" Sebetulnya saya juga berat meninggalkan Ibu, tapi tidak ada lagi yang bisa saya andalkan, keponakan saya masih sibuk dengan urusan nya di luar kota, dan saya juga sendiri, kamu pasti sudah tau bahwa saya se orang janda dan sudah berpisah, karna saya sadar, tidak ada yang bisa di andalkan dari diri saya selain mengabdikan diri saya untuk keluarga saya juga, meski saya sendiri tau saya tidak akan pernah punya keluarga sendiri, tapi setidak nya, untuk keponakan saya nanti, saya di vonis mandul dan tidak akan pernah punya keturunan, maka dari itu suami saya menceraikan saya tiga tahun lalu, "

__ADS_1


" Apalagi dengan kondisi seperti ini, saya benar benar tidak bisa membagi beban ini selain dengan keponaka saya, saya juga tau, saat ini, pekerjaan disana sedang mengalami kemajuan, makanya saya tidak ingin menambah beban pekerjaan ini pada ponakan saya, andai saja ayah dan ibu dulu memiliki banyak anak, dan Mas bian kakak saya satu satu nya tidak meninggal dunia, mungkin saat ini saya tidak sendirian "


" Maaf mba, sebelum nya, saya turut prihatin atas semua yang menimpa mba dan keluarga, jadi apa yang bisa Tami bantu untuk Mba?"


" saya minta mulai hari ini, kamu tinggal di rumah utama, dan menemani ibu saya, disana kamu hanya perlu menemani nya saja, karna untuk urusan rumah dan menasak disana sudah ada ART dan juga kok. kamu tidak perlu melakukan apa apa. kamu bersedia kan?!"


" Lalu, pekerjaan saya disini bagai mana mba?"


" Apa kamu masih mau bekerja disini?!"


"Mau mba, saya nyaman disini, tapi jika mba yang meminta saya untuk pindah saya tidak apa apa. Saya mau ko"


Mba megi mengulas senyum nya, dia benar benar tidak salah menilai gadis manis yang ada di hadapan nya ini, dan semoga ini adalah keputusan terbaik yang dia ambil


" Baiklah, jika kamu masih ingin bekerja disini kamu masih bisa ko'. saya akan suruh Sella sebagai wakil kamu, jadi, selama kamu menemani Ibu di rumah, Sela yang akan menggantikan nya, kamu cukup kesini ketika kantor membutuhkan nya, kamu faham kan maksud saya?"


"Iya mba, "


" dan untuk soal gaji, kamu tenang saja, khusus gaji kamu, saya yang akan transfer langsung ke rekening kamu setiap bulan nya, dan tidak melewati kantor "


"Trimakasih ya mba, Tami bener bener senang kerja sama mba, mba baik banget," Tami menyeka air mata nya yang lolos begitu saja mba Megi yang melihat itu segera membawa Tami dalam pelukan nya


" Makasih ya mba, makasih banget"


" udah, kamu jangan nangis, dan jangan trimakasih terus, dan mulai sekarang anggap mba ini sebagai kakak kamu ya "


" iya mba maka.. "


" eits jangan bilang makasih lagi " Mba Megi menyela ucapan Tami dan tersenyum


"Hehehe.. iya mba iyaa "


" oke jangan nangis lagi dong( mba Megi melepaskan pelukan nya menatap wajah teduh Tami dan mengusap sedikit sisa air mata yang masih membasah di pipi Tami) kamu cantik, kamu baik, semoga kamu dapat pendamping hidup yang paling baik ya, dan selalu bahagia "


" aamin, mba juga harus bahagia"

__ADS_1


" pasti, kita dan keluarga kita akan bahagia "


Entah apa yang akan terjadi di hari hari selanjut nya, manusia hanya boleh berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan


__ADS_2