
Hari sudah mulai menggelap, Devan dan Tami bahkan masih berkeliling mencari benang rajut yang di pesan oma, setelah sekian lama berkeliling akhir nya benang itu berhasil didapat kan.
" emm Tami, kita makan malam dulu sebelum pulang gimana? Tanya Devan saat mereka keluar dari salah satu toko yang menjual benang rajut pesanan oma.
" emm boleh Mas "
" apa kamu tau tempat makan yang enak dan bagus di sekitar sini?!
" emmm,... Rooftop Lucy in The Sky terkenal sih di sekitar sini Mas, bahkan anak anak gaul jakarta sering nongkrong disana, katanya musik disana sangat seru dan sangat urban."
" ko' katanya, emang kamu belum pernah kesana?!"
" he.. he.. belum sih mas, keluar malem juga paling kalo di ajak mba Megy, itu pun kalau dia senggang"
" sama Onty? Emang kamu nggak punya temen lain?!"
" ya ada sih, tapi mereka kan tinggal nya di mess, butik. Jadi kalau mau main,jauh juga mesti kesana dulu, ya mending di rumah lah nemenin Oma,"
" jadi, kamu selama disini belum pernah main sama temen temen kamu disini?!"
" main ke tempat tempat jauh sih nggak mas, paling cuma sekitaran butik nyari makan, itu juga kalau saya ada kerjaan disana, sisa nya ya nemenin Oma "
" kamu kerja di butik juga?"
" dulu sebelum diminta nemenin oma, saya kerja disana Mas, di bagian pengecekan barang, tapi setelah diminta mba Megy buat nemenin oma di rumah, kerja disana cuma kalo lagi di butuhin aja, sisa nya saya tetep sama Oma di rumah "
" oh.. oya, ini kali ya tempat nya !" Tanya Devan, saat melihat ke arah dimana disana banyak sekali orang terutama anak anak muda, memadati area rooftop, " wahh kaya' nya tempat nya enak sih, tapi kelihatan nya penuh Tam, ini kita mau tetep masuk atau nyari tempat lain aja ?!"
" emm.. terserah mas sih, Tami ikut aja, lagian kalau tempat nya penuh gitu, takut nya nanti mas makan nya kurang nyaman juga, kita cari tempat lain juga gak papa mas "
" ya udah bentar, aku coba nyari di internet siapa tau nanti nemu tempat yang bagus"
tidak lama kemudian
" coba kamu liat ini Tam,(kata Devan sambil mencondongkan handphone nya ke arah Tami) gimana?"
" emm..kemang food festival. boleh juga mas, disitu juga terkenal makanan nya enak kan?"
" iya sih, menurut artikel nya gitu, ya udah yukk kita jalan, supaya pulang nya juga gak kemaleman "
Dengan segera Devan kembali menghidupkan mesin mobil nya menuju ke arah kemang Raya, kondisi jalanan sangat macet, apalagi saat ini adalah akhir pekan, dengan sabar Devan terus melajukan kendaraan nya hingga tidak lama kemudian mereka sampai , dengan segera ia mencari area tempat parkir yang masih kosong.
Bak sepasang kekasih remaja, kehadiran mereka disana cukup menjadi perhatian para pengunjung lain, si pria terlihat gagah dan berwibawa dengan si wanita yang terlihat sangat cantik dengan senyuman yang begitu manis menghiasi wajah nya.
Melihat setiap pria yang berpapasan dengan mereka melihat ke arah Tami dengan tatapan lapar, entah karena lapar ingin makan atau lapar karena melihat gadis cantik dan manis yang terus tersenyum dengan sangat imut di samping nya ini,
Entah kenapa, Devan merasa kurang nyaman dengan itu
" kamu jangan senyum senyum terus tam!"
__ADS_1
" loh, emang bya kenapa mas?
" kamu jelek kalau senyum gitu!"
" hah?? Masa sih mas aku jelek kalo lagi senyum?!"
" iya, kenapa? Kamu nggak percaya?!"
" ya bukan nya gitu, justru selama ini kebanyakan orang yang ketemu aku mereka suka lo mas sama senyuman aku "
" oh, jadi kamu sengaja, tebar tebar senyum gitu biar mereka pada suka sama kamu?!"
" ya, bukan nya gitu mas, kan gak enak aja, mereka liatin aku masa aku nya harus cemberut gitu?!"
" ah, udah lah terserah kamu aja, ternyata kamu keras kepala juga ya !"
Devan kemudian memilih salah satu bangku yang masih kosong dan Tami hanya mengekori nya dari belakang.
" emmmm.. Mas, Mas Devan marah ya sama Tami?!"
Belum sempat Devan menjawab, se orang pramusaji datang membawa pesanan mereka, ya tadi tepat nya sesaat setelah mereka masuk, mereka sempat memesan makanan terlebih dahulu.
Setelah pramusaji itu pergi, Devan dan Tami segera memakan makanan mereka tanpa bersuara, bahkan setelah selesai makan dan mereka keluar dari rumah makan pun Devan masih saja diam.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, saat ini Devan dan Tami sudah dalam perjalanan pulang,
" Mas Devan kenapa dari tadi diam? Mas marah ya sama Tami?!"
Devan melirik sekilas lengan kiri nya yang masih di pegang Tami, tanpa menurunkan tangan yang menyentuh nya, Devan menjawab
" Tidak, kenapa saya harus marah? Toh kamu nya juga seneng kan jadi pusat perhatian banyak orang dengan senyuman kamu?"
" ya ampun mas, aku nggak ada maksud buat itu beneran deh "
Devan hanya diam tak menjawab
" Mas, sudah dong, gak enak tau aku nya, aku salah ya, aku minta maaf ya "
" ya tapi besok besok jangan gitu lagi, sengaja banget ya kamu tebar pesona "
" ya enggak lah mas, mana ada aku tebar pesona "
Tiba tiba, pintu utama terbuka dari dalam
" Devan, Tami, kenapa kalian bisik bisik disini? Ayo masuk !" Ajak mba Megy
Mereka pun masuk ke dalam rumah
" Bu, ini nih dua bocah yang dari tadi ibu tunggu baru balik, tau nggak bu, tau nya mereka berdua malah maen bisik bisikan di depan pintu "
__ADS_1
" apaan sih Mba, tadi kita cuma ngobrol ko, ya kan mas?!" Tanya Tami sambil menatap ke arah Devan
" hmmm , " jawab Devan singkat
sementara Oma Merlyn dan Mba Megy malah saling pandang sambil tersenyum saling memberi kode
" Oma, ini sudah malam, Oma harus istirahat, ayo Oma, Tami antar oma ke kamar ya !"
Oma hanya menanggapi nya dengan sedikit mengangguk sambil tersenyum, kemudian Tami segera mendorong kursi roda itu menuju kamar Oma Merlyn, begitu juga dengan Megy dan Devan, mereka segera memasuki kamar masing masing untuk beristirahat.
Waktu sudah menujukan pukul tiga dini hari, Devan tebangun karna merasa kehausan, ia segera keluar menuju dapur untuk mengambil air, namun saat ia hendak berbalik, ia dikejutkan dengan kehadiran Tami di dapur yang sedang memegang botol air sambil beberapa kali terlihat menguap
" astagfirullahaladzim... !" Kata Devan terkejut
Tiba tiba tami mengucek ke dua mata nya saat mendengar suara seseorang di hadapan nya lantas ia pun sama terkejut nya
" Mas Devan,.? Mas lagi ngapain?
" lah kamu sendiri ngapain? Berjalan sambil nguap nguap begitu kenapa kamu? Kalau nabrak tiang baru tau rasa nanti !"
" ih mas sembarangan aja, aku tuh mau ngambil air mas, nih ( sambil memperlihatkan botol air minum kosong di tangan nya ) pas mau minum, ternyata botol nya kosong, makanya aku ke dapur "
" oh, ya udah sana ! Hati hati, kalau jalan tuh mata nya di buka, jangan sambil merem !"
Tami kemudian mengisi air ke dalam botol minum nya Tanpa menjawab ucapan Devan, bahkan pria itu sudah pergi entah kemana
namun saat Tami hendak melangkah ke arah kamar, ia sempat mendengar suara seseorang sedang menggerutu di ruang Tv, karna penasaran, ia pun melihat nya sebentar, namun yang di lihat cukup membuat nya terkejut
" Mas Devan belum tidur?!" Tanya Tami mendekat ke arah kursi dimana Devan sedang asyik menonton sebuah acara Tv
" setelah minum aku nggak ngantuk, makanya mau nonton dulu, kamu belum tidur juga?!"
" tadi nya sih mau ke kamar, tapi denger suara seseorang dari sini, aku jadi penasaran, pas di lihat ternyata Mas Devan lagi nonton "
" iya ini, aku rada sebel sama pemeran laki laki nya ini ko lemah banget jadi cowok !"
" lah emang kenapa, ya wajar lah, nama nya juga sinetron, lagian mas mah aneh hari gini yang di tonton Sinetron, kalau jam jam segini cocok nya tuh horor mas"
" engga ah, nanti kamu berisik,teriak teriak ketakutan, bisa bisa bangunin orang rumah "
" aku?? Ko aku?? jangan jangan mas kali yang bakalan teriak teriak ketakutan, kan mas yang nonton, ? Jawab Tami masih anteng dengan posisi berdiri nya
" kurang seru ah kalo nonton sendirian, sini kamu duduk ( sambil menepuk nepuk kursi di sebelah nya) temenin aku nonton biar seru kalo ada temen nya "
"Hufftt gara gara di bawa ngobrol aku juga jadi gak ngantuk lagi, ya udah deh, aku ikut nonton " jawab Tami, sambil ikut duduk di kursi sebelah Devan, mereka pun asyik menonton beberapa acara yang kadang di selingi canda tawa di antara ke dua nya.
Ketika sedang asyik bercerita Devan terlihat kesal, karna dari tadi, Tam, gadis itu tak terdengar menanggapi, hingga ketika Devan melirik ke arah nya, ternyata gadis itu sudah terlelap sambil kepala nya bersandar pada sandaran kursi dan tidak lama kemudian kepala Tami jatuh di pundak kanan Devan, tapi tak lantas membuat Tami bangun, gadis itu terlihat begitu damai dalam tidur nya, karna kasihan, dan takut gadis itu merasa kurang nyaman dengan tidur nya Devan kemudian merebahkan kepala Tami di atas pangkuan nya, kemudian kedua kaki nya di naikan je atas kursi, dengan posisi Devan yang masih duduk menghadap Tv yang masih menyala, sesekali tangan nya ter ulur mengusap lembut dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Tami.
" kamu cantik Tami, apalagi saat di lihat dari dekat gini, kelihatan kaya bayi' masih polos, Trimakasih karna selama ini, kamu mau menemani Oma," gumam Devan, pelan sambil terus mengusap pelan kepala Tami dengan lembut, hingga tidak lama kemudian ia pun ikut terlelap, sambil terduduk.
__ADS_1