
Setelah beberapa saat mobil yang di kemudikan Devan melaju meninggalkan butik tempat Tami bekerja, Devan sengaja menepikan mobil nya di sebuah taman bunga. Cuaca sore hari yang teduh membuat sebagian orang memilih menghabiskan waktu santai nya di area ini, sebuah taman yang berada di pusat kota, dengan wahana bermain anak dan juga wahana air.
Devan kemudian duduk di sebuah bangku taman yang menghadap pada air mancur, Tami hanya mengekori nya dari belakang tanpa banyak bertanya, mereka duduk berdua bak sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu santai nya.
Untuk sesaat hanya ada keheningan tercipta di antara nereka, hingga tidak lama kemudian Tami memulai percakapan di antara mereka.
" Emmhh.. Mas marah ya sama Tami?!" Ucap Tami sambil melirik ke arah Devan sekilas
" enggak !" Jawab Devan datar
" Terus kenapa dari tadi mas diem aja?"
Devan tak menjawab ucapan Tami kali ini, ia terlihat acuh tanpa berniat menanggapi, hingga dering handphone milik Tami memecah keheningan di antara mereka
Drrrrtt....derrrttt.....derrrt....
Tami segera mengambil Ponsel nya dari dalam tas, begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel nya yang masih menyala, Tami terlihat sedikit terkejut ia menatap sekilas ke arah Devan, untuk sesaat, tatapan mereka bertemu pandang sebelum ia memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut
" assalamu'alaikum...?ya hallooo ..!"
"....."
"A-aku baik, bagai mana dengan mu? " jawab Tami gugup
"...."
" emmmhh... eu-ak-aku-aku,tentu,ak -aku juga "
" ..."
" emmhh ya, sudah cukup lama. "
"...."
" belum, mungkin akhir tahun nanti aku pulang "
"...."
" emmmh maaf Ga, bisa kita ngobrol nya lewat chat aja? " ucap Tami sambil melirik Devan sekilas
__ADS_1
" ..... "
" tidak apa apa, emhh ti-tidak juga "
"...."
" ya tentu, waalaikum salaam Ga "
Panggilan terputus setelah mereka berpamitan, Tami kembali memasukan ponsel nya ke dalam tas, Devan tak henti henti nya memperhatikan gerak gerik gadis itu dalam diam, sejujur nya dalam hati ia sangat penasaran akan sosok si penelfon yang barusan berbicara dengan Tami, tapi rasa gengsi yang terlalu besar membuat nya memaksa untuk tetap diam, berharap gadis itu mau bercerita tanpa ia minta.
Namun lama mereka terdiam, jangan kan bercerita, gadis yang ada di sebelah Devan ini malah asyik dengan lamunan nya sendiri, entah apa yang sedang ia fikirkan, membuat Devan gemas rasa nya ingin segera mengetahui ada apa dan siapa yang menelfon Tami barusan.
" Tami " ucap Devan akhir nya, dengan sejuta ke gugupan dan ke gengsian dalam dirinya, ia memutuskan untuk membuka suara juga akhir nya.
" i-iya mas kenapa? " jawab Tami dengan sedikit terkejut, sambil membenarkan posisi duduk nya. pasal nya usai menerima panggilan tadi, konsentrasi nya benar benar terpecah.
" siapa yang nelfon kamu barusan? Ada masalah? " tanya Devan penasaran
" i-itu, emhh itu.. itu teman saya Mas "
" Teman?!" Tanya Devan lagi
" kenapa setelah bicara dengan nya kamu melamun? Ada masalah apa?!"
"Tidak ada apa apa mas, kami hanya bertukar kabar "
" kamu yakin?"
" yakin mas "
" apa dia laki laki?"
" i-iya mas, dia teman laki laki "
" apa ada yang ingin kamu ceritakan sama saya?!"
" ehh .. emm... tidak mas, tidak ada apa apa !"
" oke, !!" Jawab Devan sedikit kecewa, tadinya ia berharap Tami mau berbagi cerita dengan nya, tapi nampak nya gadis itu masih merasa sungkan pada nya.
__ADS_1
" mas, kita mau sampai kapan disini? Ini udah hampir magrib lo " ucap Tami sambil melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.
" ya sudah kita pulang !! Tapi, apa kamu mau cari makan dulu atau kita mampir kemana sebelum pulang?" Tanya Devan, niat nya tadi ingin menghabiskan waktu dengan gadis ini nampak nya harus ia tunda, jelas situasi sekarang seperti kurang mendukung, apalagi mood nya sendiri sudah benar benar berantakan sejak tadi siang saat panggilan nya yang berpuluh puluh kali tadi tidak di jawab oleh Tami.
" jangan lah mas, nanti kemaleman, kita pulang aja, pasti Oma juga sudah menunggu di rumah "
" ya sudah, ayo !! "
Usai berkata demikian, Devan pun beranjak menuju ke mobil nya, sementara Tami, tanpa menjawab ajakan Devan, ia hanya mengekori saja dari belakang.
Usai keduanya masuk kedalam mobil, Devan fokus mengendarai mobil nya dan menatap lurus ke arah jalanan yang sedikit padat merayap, sementara Tami fokus pada ponsel di tangan nya yang ia ambil dari dalam tas, Devan tak henti henti nya melirik ke arah Tami, gadis itu terlihat sibuk berbalas pesan dan mengabaikan Devan begitu saja di samping nya. Lagi lagi Devan merasa di abaikan oleh Tami, dalam hati jelas ia merasa kesal dan penasaran sebenar nya siapa yang sedang sibuk berbalas pesan dengan Tami itu, namun ia sadar dirinya bukan siapa siapa yang tak punya hak untuk mengetahui kehidupan pribadi Tami.
Hingga tak terasa akhir nya mereka sampai di depan rumah, dan benar saja di teras sudah terlihat Oma di temani Bi Asih di teras, melihat itu, Tami segera keluar dari mobil begitu mesin mobil berhenti dengan cepat ia membuka pintu dan berlari ke arah Oma Merlyn, mencium kedua tangan wanita paruh baya yang sudah tersenyum manis menyambut nya pulang.
" heyy pelan pelan jangan lari lari ..!" Seu Oma
" Tami kangen Oma " ucap Tami sambil menunduk kemudian memeluk Oma Merlyn
" kenapa?! " tanya oma sambil melepas pelukan nya kemudian menbelai kedua pipi Tami lembut
" tidak apa apa, seharian gak ketemu Oma, rasanya Tami kangen banget sama Oma "
" dasar kamu ini, !" Jawab Oma sambil tersenyum manis
" oma kenapa oma masih di luar? hari sudah gelap oma, mari masuk !" Ucap Devan sambil mencium tangan Oma takjim
" oma tadi nunggu kalian pulang, ya sudah ayo masuk, bi Asih, ayo kita masuk !"
" baik Oma, marii !!" Jawab bi Asih sambil mendorong kursi roda Oma pelan masuk ke dalam rumah,
sementara Devan dan Tami mengikuti nya dari belakang.
" kalian berdua, masuk lah ke kamar, usai sembahyang dan bersih bersih, kita makan malam bersama ya..!" Ucap Oma menyuruh ke dua anak muda itu untuk segera masuk kedalam kamar masing masing
" baik Oma !!" Jawab Devan dan Tami kompak.
Oma dan bi Asih pun melihat nya dengan tersenyum bahagia.
Entah karena harapan mereka yang sama, atau hanya sekedar bahagia karena melihat ke dua insan yang mereka sayangi itu terlihat kompak. Entahlah, hanya tuhan dan mereka yang tau isi hati ke dua wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Namun demikian, apapun harapan baik dan dari siapapun harapan itu datang, semoga saja hal hal baik selalu dengan cepat allah kabulkan. Aamin