Takdir Tuhan Siapa Yang Tau?

Takdir Tuhan Siapa Yang Tau?
Kemarahan Devan


__ADS_3

Setiba nya di butik siang itu, Tami dan Mba Megy terlihat sibuk dengan urusan nya masing masing, hingga beberapa kali Devan menghubungi Tami tak ada satu pun panggilan yang terjawab dari nya, hingga beberapa pesan yang masuk nampak nya belum sama sekali terbaca,


jelas Tami tak mengetahui nya, ia menyimpan ponsel di dalam tas kerja nya di dalam ruangan tempat nya bekerja yang menyatu dengan ruangan pekerja kantor yang lain, yang hanya terpisah oleh sekat yang menjadi pembatas antara meja satu dengan yang lain nya.


sementara diri nya saat ini sedang sibuk mengecek beberapa stok kain yang ada di gudang belakang pabrik.


Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, usai melakukan pekerjaan nya, Tami segera menuju ruangan mba Megy untuk memberika laporan hasil kerja nya tadi,


tokk... tok... tok... Tami mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu sebelum ia masuk


" Ya silahkan masuk!" Jawab mba Megy dari dalam


Cklekkk... Tami membuka handel pintu, kemudian masuk mendekati meja kerja mba Megy


" Mba, ini laporan kerja dari pabrik dan stok kain di gudang belakang mba !"


" iya, kamu simpan saja di situ, oh ya, tadi Devan hubungin saya, kata nya kamu nggak angkat telfon dia dari tadi, apa benar? Kenapa tam? Kalian ada masalah?!" Tanya mba Megy


" saya nggak tau mba!"


" loh, ko kamu nggak tau?!"


" emm saya nggak tau kalau mas Devan hubungin saya mba, karna dari tadi, saya nggak pegang Hp, hehe.. maaf mba "


" heyy kenapa harus minta maaf, pantesan aja dari tadi dia uring uringan "


" maksud Mba? Mas Devan?"


" iya, dia nelfon saya berkali kali tadi, cuma mau nanyain kamu doang, mba fikir kalian ada masalah, tau nya karena hp kamu ketinggalan di tas ya?"


"I-iya mba,!"


" ya sudah gak papa, kamu jangan gugup gitu, sekarang kamu balik aja ya, mungkin bentar lagi Devan bakalan jemput kamu,!"


" loh, ko mas Devan sih mba, kita kan kesini nya bareng, ya udah mba juga ikut pulang ya!"


" nggak bisa ade' ku yang cantik, mba masih banyak kerjaan, udah kamu pulang duluan aja ya !"


" yah, mba ko' gitu, ya udah deh Tami disini aja ya, nungguin mba. Biar nanti kita pulang bareng !"


Belum juga mba Megy menjawab, suara getar ponsel di atas meja, mengalihkan perhatian mereka


Drrrtt... drrrttt....drrrttt...( mba Megy pun menjawab panggilan tersebut )


" ya hallo Dev kenapa?"


"...."


" iya iya, ini Tami ada di ruangan onty ko' "


"...."


" ini Tam, Devan mau bicara sama kamu (mba Megy menyerahkan ponsel nya pada Tami, dan Tami segera menerima nya )

__ADS_1


" ha-halloo......."


" ......."


"Maaf Mas, ponsel Tami tertinggal dalam tas, " jawab Tami dengan suara sangat pelan, ia merasa tak enak berbicara di hadapan mba Megy,


Mba Megy yang mendengar pun faham, ia berdehem, kemudian berkata " sudah, jangan hiraukan saja, berbicara lah " disana Tami hanya mengangguk menatap mba Megy


"...."


"Emmm.. mas nanti saja yah bicara nya, "


"...."


" ta-tapi mas..."


"...."


"Ini mba ponsel nya !" Kata Tami sambil menyerahkan ponsel milik Megy di atas meja


" loh, nelfon nya ko' udahan?"


" mas Devan kaya' nya marah deh sama Tami kenapa ya mba?!"


" masa sih? Kenapa dia harus marah sama kamu?"


" iya mba, itu dia yang Tami nggak ngerti, kenapa ya laki laki itu suka marah marah nggak jelas"


" mba nggak tau, mungkin kamu ada salah sama dia, coba deh di inget inget lagi "


" hah?? Kamu nolak Devan Tam?!" Tanya mba Megy dengan terkejut


" iya mba, Tami nolak mas Devan buat jemput kesini "


" hah.. kirain..."


"Kenapa mba?!"


" ehhh .... emm.. gak gak papa ko' hehehehhe "


"Habis nya Tami nggak enak sama Mba, Tami kesini kan bareng mba Megy, lagian juga nggak enak, aku pasti ngerepotin mas Devan, ya kan mba?"


" nggak gitu juga Tam, dia kaya gitu pasti ada maksud baik juga sama kamu, dia khawatirin kamu mungkin, bukti nya dia sampai nelfon mba berkali kali cuma buat nanyain kamu doang, "


" tapi mba, Tami tuh ngerasa gak enak gitu, masa pembantu harus di antar jemput majikan sih mba, "


" Heyyy..!! Kamu jangan bicara seperti itu, mana ada disini pembantu sama majikan, di sini kamu itu ade' nya mba, Devan itu keponakan mba, kita keluarga Tami, harus berapa kali mba bilang sama kamu "


"I-iya mba maaf!"


Drrrttt...drrtttt.... ponsel mba Megy kembali menerima panggilan, tertera nama Devan di layar nya


" ya halooo Dev ..?"

__ADS_1


"...."


" Tami masih di ruangan Onty ini "


"..."


" iya iya, ini Onty suruh dia temuin kamu di depan, udah ya.. jangan marah marah terus kasian Tami nya dia ketakutan sama kamu nanti "


"..."


" iya, Onty cuma bercanda Dev, ya sudah ya tunggu sebentar "


Panggilan pun terputus


" Tam, sekarang kamu pulang ya, kalian bicara lah baik baik, maklumin saja ya, Devan baru kenal perempuan, jadi dia rada rada kaku mungkin deketin kamu, baru kali ini juga mba liat dia se posesif itu sama perempuan, kamu nggak usah takut, "


" iya mba, ya sudah kalau begitu Tami pamit ya!"


" iya, yang akur ya kalian, jangan marah marahan terus "


" iya mba" jawab Tami sambil berlalu menuju ke luar ruangan,


sebelum menemui Devan di depan sana yang sudah pasti menunggu nya, Tami segera masuk ke dalam kantor,mengambil tas dan juga handphone nya terlebih dulu


" Tam, kamu dari mana aja sih, dari tadi handphone kamu bunyi terus tau, !" Kata Sisil teman kerja Tami


" aku dari gudang, habis itu nyerahin laporan ke mba Megy, hehe... lupa bawa handphone, maaf ya.. keganggu pasti ya denger suara ponsel aku bunyi terus "


" orang yang nelfon kaya nya ada penting ya Tam, sampai sampai tiap menit itu Hp bunyi terus, dari pacar ya? Goda sisil


" ih apaan sih, nggak ada, ini tuh dari majikan aku "


" alah, gak mungkin banget, kamu boong ya sama aku ?!" Goda sisil kembali


" ih nggak percaya ya udah, aku pamit duluan ya Sil "


" loh, nggak mau kumpul di mess dulu bareng anak anak? Kan mumpung kamu kesini, ini masih siang juga, ntar malem aja pulang nya !"


" gak bisa Sil, nanti lain kali aku main deh, aku buru buru ini !"


" oh, ya udah hati hati ya ...!"


" oke ..bay sisil!"


" bay Tami..!" Jawab Sisil


Tami pun segera keluar dengan terburu buru, dari kejauhan terlihat Devan sedang menunggu nya, bersandar pada pintu mobil, dan jangan lupa kaca mata hitam yang selalu setia menemani nya saat keluar rumah, oh sungguh Tami benar benar terpesona dengan ketampanan pria ini.


" Maaf ya mas Devan nunggu lama, maaf juga tadi telfon nya nggak terjawab, Tami lupa nggak bawa ponsel mas, ponsel nya ketinggalan dalam tas "


Sementara Devan hanya diam, ia terlihat acuh tak menanggapi, saat ia akan membuka pintu mobil, Devan melihat Tami masih tak bergeming, ia tetap berdiri tanpa ada niatan untuk ikut masuk, ia kemudian berkata


" Masuk ...!" Kata nya dengan dingin dan tegas

__ADS_1


Tami tersadar mendengar titah Devan yang terkesan membentak, ia hanya diam dan mematuhi ucapan Devan tanpa bantahan, ia masuk ke dalam mobil di ikuti Devan, mobil pun melesak membelah jalanan ibu kota di sore hari.


__ADS_2