
Perlahan matahari tenggelam di ufuk barat.Menyisakan kegelap yang melingkupi jiwa yang sepi.Tak ada satu pun orang di sisinya saat ini.Mereka semua pergi setelah prosesi pemakaman.
"Kasihan sekali nasib kamu nak.Yang sabar ya."
"Yang sabar ya nak.Ayah dan Ibu kamu sudah bahagia disana.Kamu harus cepat bangkit dan melanjutkan hidup."
"Kalau butuh apa-apa bilang saja sama Ibu nak.Tidak usah sungkan,anggap saja saya sebagai pengganti Ibu kamu."
Dan masih banyak lagi bentuk simpati yang terucap dari mulut mereka.Namun Nesya tak butuh itu.Dia hanya butuh ketulusan sebuah hati untuk menemaninya.Dia butuh tindakan nyata bukan hanya sekedar basa-basi semata.
💔💔💔
Terhitung sudah tiga hari Nesya cuti kantor.Kini saatnya dia kembali bekerja meski jiwanya masih terguncang.Dia harus melanjutkan hidup seperti kata mereka.
"Nesya,"panggil Bos begitu melihat Nesya sudah duduk di kursi kerjanya.
"Iya Bos.Ada yang Bos butuhkan?"tanya Nesya yang menjabat sebagai sekretaris Bos.
"Saya belum sarapan."Bos tersenyum lebar sambil mengelus perutnya yang datar.
"Mau saya pesankan sarapan Bos?"
Bos mengangguk dengan semangat."Pesankan saya ayam bakar."
"Lho bukannya Bos tidak...."
"Pokoknya saya mau itu,"potong Bos sambil masuk begitu saja ke ruangannya.
Nesya mengerutkan kening.Merasa aneh dengan Bos nya saat ini.Biasanya kan Bos nya tidak mau makan ayam.Lha kenapa sekarang minta dibelikan ayam.
Kringg...kring....
"Dengan Nesya di sini.Ada yang bisa dibantu?"sapa Nesya ramah.
__ADS_1
"Jangan bengong aja.Buruan belikan saya ayam bakar."
"iy...iya Bos,"jawab Nesya gugup.
💚💚💚
"Ini Bos sarapannya."Nesya meletakkan sekantong plastik di meja Bos.
"Lama,"omel Bos dengan nada datar.
"Maaf Bos,tadi antriannya panjang banget."
"Alasan."
"Serius Bos."Nesya mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.
"Saya sudah gak mood sarapan."
"Itu buat kamu aja."kata Bos
"Ta...tapi..."
"Gak ada tapi-tapian.Sekarang makan!"perintah Bos tanpa bisa diganggu gugat.
Bos meninggalkan ruangannya menyisakan Nesya yang masih berdiri di depan meja.Nesya menatap nanar pada makanan itu.Usahanya sia-sia padahal dia sudah rela mengantri hampir setengah jam.Dilirik saja tidak makanan itu apalagi disentuh.
Nesya menghela napas panjang."Ya sudahlah,biar aku yang makan."
Nesya mulai menikmati sarapan itu.Begitu lahap hingga tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya.
💜💜💜
"Ayo ikut saya."Tiba-tiba Bos menarik tangan Nesya begitu mereka sampai di lobi.
__ADS_1
"Lho mau kemana Bos?Saya mau pulang ini."Nesya berusaha melepaskan cekalan tangan Bos pada lengannya.
"Ikut saya sebentar saja."Bos terus saja menyeret Nesya ke arah parkiran mobil.
"Saya gak mau Bos,sudah capek banget ini,"protes Nesya yang tak juga mampu melepaskan diri dari Bos.
"Sebentar saja,habis itu saya antar kamu pulang."
"Nggak mau Bos..."
"Saya butuh kamu.Sekali ini saja."
"Tapi bos..."
"Gak ada bantahan,"kata Bos final.
Nesya hanya bisa cemberut tanpa bisa menolak.Bisa terancam posisinya jika melawan.Bisa-bisa langsung dipecat sekarang juga.
Nesya langsung menyandarkan tubuhnya di kursi begitu masuk mobil.Dia benar-benar lelah hari ini.Kerjaannya menumpuk karena cutinya itu.
"Ayo keluar."Suara Bos menyadarkan lamunan Nesya.
Nesya mengerjapkan matanya.Melihat ke luar dan menemukan sebuah restoran mewah."Kita ngapain Bos kesini?"tanya Nesya bingung.
"Makan."Bos menjawab singkat.Bos malah sibuk sendiri dengan kaca spionnya untuk merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Lho katanya butuh saya?Kok malah makan?tanya Nesya bingung.
"Kita isi tenaga dulu.Ini kerjaan berat,saya tidak mau kamu pingsan di tengah kerjaan nanti."Bos membuka pintu mobil dan keluar begitu saja.
"Tungguin Bos!"
💛💛💛
__ADS_1