Target Si Mafia

Target Si Mafia
Sepuluh : Psycho


__ADS_3

Hari eksekusi dilaksanakan, Louie mengerjakannya sendiri dengan cepat, dan ledakan terjadi saat jalanan sepi, dia tidak akan membahayakan warga sekitar karena urusannya hanya dengan Celina. Tiga ledakan beruntun terdengar, banyak orang panik dan akhirnya berlari tunggang langgang saat mobilnya meledak.


Berita kematian seleb terkenal ini jadi sorotan, polisi mencoba mencari apa yang janggal tapi Louie jauh lebih cerdas, tidak mungkin bagi mereka melacak Louie. Puas dengan hasil ledakannya, Louie memotret kejadian tersebut dengan kamera handphone, menunjukannya pada sang pelanggan agar dia merasa puas.


"Minggir! Minggir! Pemadam kebakaran mau lewat!!"


Seseorang berteriak membuat Louie menyingkir dan pergi dari tempat kejadian, "Begitulah akhir dari orang yang sering menjual tubuhnya dengan gratis, haha..." Gumam Louie.


Uang sudah dia dapatkan dan sekarang waktunya dia pulang kembali ke Depok bersama Alina, dia tidak perlu takut untuk ditangkap karena pada akhirnya polisi akan meresmikan kalau hal ini adalah kecelakaan dari bocornya bensin.


Evil, I've come to tell you that she's evil.. Most definitely.


Lagu diputar, Louie kembali dengan sebuah makanan ditangannya. Dari luar rumah dia mendengar ada keributan yang terjadi didalam, "Ada apa lagi ini..." Gumam Louie. Saat berada didalam dia menemukan Alina tengah berdiri depan mayat seorang laki-laki, tubuhnya penuh darah dan sepertinya Alina lah yang membunuh laki-laki itu. Laki-laki kemeja putih yang menatapnya di Mall tempo lalu.


Louie menepuk bahu Alina, "Lu apain dia, Alina?" Alina memeluk Louie, dia menangis saat itu juga didalam pelukan Louie, "Dia mau bawa aku ke Arion lagi... Dia anak buahnya Arion, dan Arion lagi ada di Bandung... hiks..." Tangisnya.


"Kalau begitu bantu aku bereskan mayatnya, kita akan kubur dihalaman belakang." Kata Louie.


Alina mengangguk, "Maaf sudah merepotkan kamu lagi Angkasa."


Louie membopong mayat laki-laki itu dan menyiapkan alat cangkul tanah untuk mengubur mayatnya. Sementara Alina membersihkan lantai dari darah yang berceceran sampai bersih, air bersih diember langsung bercampur darah saat ini. Alina merasa bersalah sudah membunuh orang lagi, tapi dibanding dia kembali ke pelukan Arion lebih baik dia membunuh.


Ini adalah pembunuhan kedua dari Alina, dia sudah bisa disebut pembunuh berantai saat ini.


Tadi saat Alina tengah belajar untuk menebaskan pisau, ada seseorang yang masuk tanpa permisi, dia menarik tangan Alina dan memaksanya ikut.


"Kamu Alina bukan? Saya diperintah untuk memanggil kamu ke tempat tuan Arion." Begitu dia berkata dengan wajah datarnya.


"Saya tidak mau, pergi sana brengsek. Jangan ikuti aku!" Balas Alina, tangannya memegang erat pisau disertai tatapan menusuk tajam. Anak buah Arion tidak gentar dengan bentakan dari Alina, dia berpikir itu hanya sebuah gertakan semata seperti sebelum-sebelumnya.


Namun siapa sangka kalau Alina langsung menusukan pisau itu keperutnya, ini membuat anak buah Arion itu terkejut, dia mencoba melawan dengan memukul Alina sampai jatuh, tapi pukulan itu hanya membuat Alina tumbang sebentar saja. Dia menebas dada laki-laki itu membuat darah mengucur deras, "Saya tidak mau kembali ke neraka lagi, kamu saja yang ke neraka."


Perlawanan demi perlawanan dikeluarkan oleh anak buah Arion, sayangnya dengan darah yang terus mengucur kesadarannya semakin habis dan berakhir dia mati ditangan Alina.


"Alina, udah selesai?" Louie datang bertanya, tubuhnya penuh tanah dan darah.


Louie sekali lagi dibuat terkesan dengan Alina yang bisa mengalahkan satu orang anak buah dari musuhnya tanpa kesusahan. Ini tidak seperti yang Louie ekspetasikan pada gadis lemah, ini jauh berada diatas ekspetasinya.

__ADS_1


"Louie apa yang saya lakukan benar?" Tanya Alina, sambil menatap Louie sedih.


Laki-laki itu tersenyum.


Satu pelukan kembali diberikan, Louie juga mengelus kepalanya, "Ya, kamu melakukan hal yang benar, Alina." Katanya tanpa sadar mengganti bahasanya jadi lebih lembut.


Mereka berpelukan, laki-laki penuh tanah dan darah serta perempuan penuh darah dan airmata, saling berbagi kehangatan setelah membunuh satu orang ancaman. Louie merasa setelah terjadi pembunuhan ini, akan ada sesuatu yang besar terjadi.


Dia merasa was-was tanpa ada konteks jelas.


"Sekarang, ayo rapihkan pakaian dan pergi dari kota ini. Disini sudah tidak aman." Bisik Louie.


Louie dan Alina kembali ke Depok, ke rumah Louie dengan keadaan kelelahan. Perjalanan panjang mereka tempuh dan itu membuat Alina terlelap didalam mobil, rasanya lelah, kejadian hari ini membuat Louie makin tertarik dengan Alina.


Dia membopong Alina pelan-pelan menuju kamarnya, membaringkan Alina dikasur favoritnya, lalu mengunci pintu rumah agar tidak ada maling yang mencoba masuk.


"Yo Louie, jadi dia perempuan yang lu maksud?"


Tapi sepertinya dikunci pun percuma, Louie memiliki teman yang jago dalam hal membobol, siapa lagi kalau bukan Andromeda Orion. Lihat sekarang laki-laki itu tengah mencomot makanan yang dia beli di Bandung, "Taruh lagi makanan itu brengsek, itu buat Alina." Perintah Louie yang tidak digubris Meda.


"Yah dia cantik kalau diliat dari kakinya, lu udah pakai dia?" Tanya Meda.


Meda tersedak, "Wow wow, terus lu mau luapin nafsu lu ke orang lain kaya Ren?" Jawaban itu diangguki Louie, "sayangnya dia udah mati, Alina yang bunuh." Kata Louie.


"Ren mati? Terus gimana adik adiknya? Serem juga cewek lu."


Louie duduk disamping Meda, merampas kembali makanan seperti mochi dan strawberry dari tangan Meda. "Pelit amat sih." Ketus Meda.


"Kalau lu gak mau nyusul Ren ke akhirat, diem aja jangan bertingkah." Tekan Louie.


"Iya iya, gue juga gak mau kali masuk penjara karena kasus yang udah gue buat, kita berdua main aman aja hahaha." Kata Meda, dia beranjak sebentar mengambil minum, "By the way gua kesini mau ngajak lu ke bar, mau ikut gak?" Ajak Meda.


"Gas, ayo."


Seperti tidak kenal lelah Louie pergi ke Jakarta bersama Meda, dia tidak akan meminum alkohol disana, dia hanya ingin melepas rasa lelahnya dengan musik yang berdendang, jangan lupakan menikmati malam bersama lacur disana. Bar juga jadi salah satu tempat berkumpulnya orang-orang terdekat Louie, tidak termasuk Ursa karena dia anak baik-baik berbeda dengannya dan Andromeda.


Masuk kesebuah ruangan VIP, disana sudah ada dua orang teman Louie yang menunggu. Mereka sudah lebih dulu meneguk beberapa gelas alkohol, Arsen si blasteran Canada sudah linglung disofa, wajahnya memerah karena mabuk.

__ADS_1


"Yoo Louie, apa kabar?" Tanya Ganeshaa.


Louie menyambut salam dari temannya ini dengan senang hati, dia duduk disamping Ganeshaa setelah itu sementara Meda menjaga Arsen yang mabuk, takut-takut dia pergi keluar dan mengamuk, itu kebiasaan Arsen jika sudah mabuk parah.


"Baik, gimana lu?" Louie bertanya balik, tangannya menuangkan jus jeruk yang tersedia.


"Ya seperti yang lu liat, gua baik baik aja. Tapi temen lu yang satu itu, dia mabuk karena mau ilangin stress karena kangen mantannya si Melody." Ledek Ganeshaa pada Arsen yang mabuk.


"Diem anjing, gua gak kangen Melody." Sangkal Arsen.


"Siapa kemarin yang nangis gara-gara liat story Instagram mantannya?" Sindri Meda sambil tertawa, Arsen memukul Meda dilengannya, "Diem, gak usah ngingetin. Gua gak suka dia sama si Raden, dia musuh gua." Kata Arsen.


"Terus? Yaudah kalau emang cemburu gak usah nyangkal, siapa suruh selingkuh sama si Rena." Sahut Louie.


Arsen mengacak rambutnya, "Bangsat."


"Omong-omong si Louie lagi deket sama cewek anjing, cantik bener gua liat-liat." Meda membuka obrolan soal Alina, mendengar itu dahi Louie mengernyit, apa-apaan si brengsek ini menceritakan Alina pada yang lain, begitu pikir Louie.


Ganeshaa menutup mulutnya, "Aku kira hubungan kita spesial mas." Katanya, meledek Louie yang sempat dapat rumor seorang homoseksual.


Louie menghabisi jus jeruk miliknya lalu berdecak, "Gua gak pernah naruh perasaan ke siapapun termasuk dia, cewek yang lu liat itu anak pungut yang numpang hidup sama gua." Jelas Louie. Meda menyeringai, "Masa anak pungut digendong begitu ke kamar pribadi pula, ah bilang aja dia cewek lu apa susahnya." Ledek Meda.


"Gua serius, tapi ada satu hal yang gua pengen dari dia."


Ganeshaa menatap Louie penasaran, "Apa tuh?"


"Mata hijaunya, cewek ini punya mata hijau alami. Itu warna mata langka, gak sembarangan orang bisa dapet didunia ini. Gua pengen matanya, mungkin bakal gua jadiin koleksi." Kata Louie.


Bugh, Ganeshaa memukul punggung Louie kencang, "Udah lah bro, jangan nyakitin orang lagi. Jadiin aja dia milik lu dengan begitu matanya, mukanya, badannya, jadi punya lu."


"Bener tuh, berhenti jadi psikopat dan mulailah mencintai satu sama lain." Kata Meda.


"Najis kata-kata lu hahahhas" Arsen tertawa sambil memukul pahanya.


Louie terdiam mendengar kalimat dari Andromeda, benar dia juga ingin berhenti jadi seorang psikopat tapi itu tidak senggampang itu, nyawa yang mati karena dirinya juga sudah banyak, apa masih bisa sembuh saat ini? Hampir mustahil mengingat pekerjaan Louie adalah seorang pembunuh bayaran.


Namun dalam hati dia juga ingin sembuh, dia ingin mengakhiri ini.

__ADS_1


Louie ingin kembali normal.


__ADS_2