
Louie menyesap teh hangat miliknya, menunggu kedatangan klien yang sudah berjanji akan memberi uang untuk dirinya atas apa yang sudah dilakukan. Target lagi-lagi ada dikota Bandung, namun kali ini targetnya seorang pejabat yang melakukan korupsi. Louie tidak begitu perduli siapa korbannya, yang dia ingin saat ini hanya uang.
Pintu ruang dirumah bertingkat itu terbuka lebar, menampilkan seseorang yang wajahnya tampan, rambutnya putih dan matanya hitam pekat menatap lurus ke Louie yang sudah menunggunya.
"Maaf menunggu lama." Katanya.
"Ya, kita selesaiin hari ini, gua sibuk." Balas Louie.
Orang itu memberikan tanda pengenalnya dan juga tangannya sudah siap dengan sejumlah uang didalam koper, "Ini uang, dan ini identitasku kalau kamu butuh uang saya akan bantu, blackgod." Katanya.
Louie menatap kartu identitas yang diberikan, tertulis disana nama Devandra Huang disana. Laki-laki ini membuatnya mengingat seseorang, orang yang waktu itu menawarkan Louie menjadi pengusaha si pemilik Lamborghini. Kartunya pergi sama bedanya kali ini memiliki nama, sementara yang sebelumnya tidak ada.
"Lu buat kursus gitu? Gua pernah ketemu yang mirip lu." Kata Louie.
Devandra mengangguk, "kalau tertarik silahkan ikut gua besok, ini udah banyak peminatnya kali aja lu salah satu yang beruntung." Kata Devandra.
Louie merasa tertarik dengan tawarannya, kali ini dia tengah kesulitan mendapat klien. Dia menerima sejumlah uang itu lalu pergi menuju kos yang dia sewa beberapa hari di Bandung, dia membuka laptop miliknya dan melihat kalau Alina tengah memakan sesuatu.
Louie menatap Alina dari kamera itu, dia sudah tau kalau ada anak bernama Wenda yang membantu Alina keluar, tapi Louie senang gadis itu masih menetap meski dia tau kalau dia dikurung oleh iblis sepertinya.
"Kalau diliat-liat lagi makin cantik ya..." Gumam Louie.
Bibirnya tersenyum kecil, pipinya juga memerah seperti bahagia. Dia mengawasi apa yang Alina lakukan selama seharian penuh tanpa keluar dari kamar, dia besok masih ada di Bandung karena ingin menjalankan kursus.
Kursus yang terlihat sudah banyak peminatnya karena dia sudah bertemu didua kota yang berbeda, Bandung dan Jakarta. Dia makin tertarik lagi, setelah melihat alamat yang dekat dengan kampus ternama di Bandung.
"Kayaknya bakal ada mahasiswa sana yang masuk kursus ini ya..." Gumam Louie menebak-nebak siapa saja yang ada didalam kursus.
__ADS_1
Tapi dari pada fokus dengan kursus itu Louie justru lebih tertarik untuk melakukan penipuan, otaknya memang dasarnya otak kriminal, dia juga tidak kapok sekarang tengah dicari oleh kepolisian karena membunuh anak yang tidak bersalah.
Meski polisi belum tau dia pelaku asli tapi mereka tengah menyelidikinya dan menemukan senjata milik Louie, tidak akan ada yang bisa tau siapa dibalik semua ini, Louie sudah menutupinya dengan sangat baik.
Namun Louie juga merasa was was dengan keberadaan Arion yang bisa saja memberitahu semua apa yang dia sudah lakukan, Arion meski terlihat gila pastilah seorang yang pintar, licik dan juga kejam. Louie masih harus berhati-hati dengan semua rencananya, karena itu dia berniat mengikuti kursus ini terlbeih dahulu.
Malamnya sudah tiba dan Louie sudah bersiap untuk tidur, dia mendengarkan suara rintik hujan yang mengenai gentengnya, tenang dan tidak ada pengganggu disini. Louie benar-benar menyukai keadaan ini, seperti sebelum ada Alina.
Dia harus buru-buru mengambil mata hijau itu dan mengawetkannya.
Malam itu dingin dan Alina meringkuk kedinginan didalam rumah, dia memang sudah makan, terima kasih untuk Wenda yang memberinya makan. Dia juga masih menunggu Louie pulang, lilin yang dia pinta sudah tidak bisa dipakai, rencana awalnya dia ingin mencetak kunci rumah agar bisa dibuat duplikatnya.
Namun Louie pulang lebih lama dari dugaannya, dia salah langkah dalam membuat rencana. Kuku jadinya sudah kasar karena terus digigit, dia takut tidak berhasil memakai Louie untuk membunuh Arion, dia juga takut Arion lebih dulu membunuh Louie.
Alina tidak mau kembali kepelukan Arion si psikopat gila.
"Ya Tuhan, kalau memang aku harus mati, matikanlah. Saya takut Arion bisa kembali lagi." Gumam Alina.
Jendela dibuka, ada Wenda yang mengenakan jas serta payung datang membawa sebuah selimut tebal. "Psstt, Alina ini aku bawa selimut." Bisiknya.
Alina membuka jendelanya, membiarkan Wenda masuk dan memberikan selimut pada Alina, "Ini selimut dari ayah, katanya dia takut kamu kena hipotermia kalau gak pake selimut." Jelas Wenda.
Alina tersenyum senang, dia menerima selimut itu dan memeluknya, "Terima kasih, kalian benar-benar keluarga yang baik..." Kata Alina.
Wenda mengacungkan jempolnya, "Iya! Tidur yang nyenyak Alina. Apa disini benar-benar gak ada selimut tebal? Kejam banget itu yang ngurung kamu, kenapa kamu masih disini..." Kata Wenda.
"Kalau aku kabur dia bisa ngejar aku..." Kata Alina.
__ADS_1
"Apa dia kayak monster?"
Alina mengangguk dan itu membuat Wenda merinding, gadis itu membayangkan sosok hitam dengan mata merah dan juga tanduk kambing yang besar dikepalanya, kakinya lemas karena takut. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, jangan sampe kamu kedinginan!" Pamit Wenda.
Melihat gelagat Wenda membuat Alina bingung kenapa gadis itu ketakutan, yah tapi dia juga merasa ketakutan saat ini. Rumah ini lembab dan seperti ada yang mengawasinya selalu, dia ingin buru-buru menyelesaikan balas dendamnya.
"Louie cepat pulang aku takut..." Kata Alina.
Suara Alina itu seakan tersambung dengan Louie, laki-laki itu membuka matanya kembali, perasaannya juga tidak nyaman dan tidak enak. Dia tidak begitu yakin dengan perasaannya, dia bahkan tidak mengerti apa itu perasaan.
Ting! Ting! Ting!
Handphonenya berbunyi berkali-kali, dia mengambil nya dan menemukan pesan dari Ganesha yang menanyakan keberadaannya sekarang. Louie tidak menggubrisnya, dia lebih memilih membuka laptopnya menonton Alina yang tertidur.
Ganesha tidak berhenti mengirim pesan ke handphone Louie karena keadaannya saat ini tengah babak belur dihajar Arion. Iya, Ganesha dihajar Arion agar buka mulut dimana keberadaan Louie saat ini.
"Gua gak tau dimana Louie anjing, lepasin gua!" Seru Ganesha. Pipinya sudah ungu dan hidungnya sudah mimisan dibuat Arion yang mengamuk, Ezra hanya diam melihat itu, tidak ada niat untuk membantu saat ini.
Arion masih sibuk mengirim pesan ancaman pada Louie namun sama sekali tidak di gubris. Dia membanting handphonenya ke lantai, meski sudah diancam akan membunuh Ganesha, Louie sama sekali tidak menggubris itu.
Otaknya memikirkan hal-hal kotor, menebak kalau Louie dan Alina tengah melakukan hubungan suami istri saat ini. Dia menatap Ezra, "Lacak nomor handphonenya dan langsung cari dia malam ini juga." Kata Arion.
Ezra mengangguk lalu izin pergi keluar ruangan, Arion masih sibuk marah-marah didepan Ganesha yang sudah sekarat.
Dalam hati Ganesha bersyukur, dia tidak tahu dimana Louie dan dia menyuruh Louie pergi jauh-jauh dari tempatnya berada. Dia juga merasa kalau umurnya tidak akan lama lagi jika terus berada disini, dia hampir menyerah.
Tadi siang saat tengah berada di perpustakaan umum yang sepi, Ganesha diajak Ezra untuk keluar sebentar, tidak ada kecurigaan karena Ezra memiliki wajah yang tenang tapi siapa sangka dia justru diculik ke rumah Arion yang entah dimana ini.
__ADS_1
Tidak ada kesempatan kabur bagi Ganesha, dia hanya bisa berdoa pada Tuhan agar segera lepas dari genggaman Arion, sekarang Louie tau kenapa Alina kabur dari Arion.
Laki-laki itu memang gila.