Target Si Mafia

Target Si Mafia
Tujuh : Target


__ADS_3

Setelah sekitar sebulan Alina tinggal dirumah Louie, ini kali pertamanya dia kembali menghirup udara luar yang panas. Jakarta memiliki suhu tiga puluh dua derajat celsius hari ini, Alina tidak kuat dengan suhu panasnya ditambah lagi macet luar biasa menahan mereka lama dijalan.


Louie kali ini akan langsung pergi ke Bandung, dia lumayan terkesima saat Alina memakai dress yang dia beli. Sesuai dengan tanggal yang ditentukan pelanggan Louie kemarin, mereka akan pergi ke Bandung hari ini dan melaksanakan perencanaan pembunuhan lusa nya nanti tepat tanggal ulang tahun dari Celina, si Seleb.


5 April 1999, tanggal lahir dari Celina dan hari ini tanggal 2 April 2022, tiga hari lagi untuk persiapan membunuh Louie. Ini lumayan ekstrem jika dibandingkan dengan pelanggan Louie yang lain, karena biasanya mereka membayarnya dan membiarkan Louie memilih tempat eksekusi. Namun kali ini tidak, pelanggannya ingin dia membunuh tepat didepan banyak penggemar dari Celina.


Ini akan jadi tantangan baru bagi Louie, dia harus menghitung akurat jika tidak mau ketahuan oleh pihak berwajib. Alina sampai saat ini masih belum tau apa pekerjaan Louie jadi dia hanya mengikuti Louie saja dan menurut apa perintahnya selama bekerja nanti.


"Jangan pernah menatap orang disekitar, anggap aja angin lalu." Kata Louie.


"Iya, saya mengerti."


Butuh tujuh jam lebih untuk sampai ke bandung, macet lah yang membuat mereka baru sampai pada malam hari, raja lelah berjam-jam berada diperjalanan, badan Alina sakit karena terus menerus duduk. Mereka sampai disebuah rumah besar yang terlihat tidak memiliki penghuni, ini rumah yang disediakan oleh pelanggan Louie. Tidak perlu keluar uang untuk hotel, hanya perlu datang ke Bandung dan memakai fasilitas yang sudah disediakan.


Alina terkesima melihat rumah besar ini, tempat yang mereka kunjungi sedikit masuk ke sebuah desa, bukan benar-benar ada di Bandung. Louie keluar setelah memarkirkan mobilnya, ada orang yang menyambut mereka dari dalam dan memberikan kunci pintu kepada Louie.


"Keluar." Titah Louie pada Alina.

__ADS_1


Alina keluar, sedikit linglung karena lelah duduk. Dia berjalan masuk mengikuti Louie, membiarkan orang yang tadi keluar dari dalam rumah merapihkan barang mereka. Koper merah muda bergambar hello Kitty dan koper hitam biasa.


"Lu pergi ke kamar diatas lagi, jangan kemana-mana sebelum gua suruh." Perintah Louie.


Seperti yang diperintahkan, Alina naik ke lantai atas mencari kamar kosong dan berbaring dikasur, menikmati lembutnya sprei kasur disini. Tanpa sadar dia tertidur, kram tubuhnya sudah lumayan berkurang hari ini. Dia tertidur lelap, mengeksplorasi mimpinya kembali.


Sementara Louie tengah berbicara melalui telepon dengan pelanggannya yang seorang pengusaha, dia membicarakan posisi tempat dan waktu kejadiannya, dia juga mencari posisi yang bagus untuknya bersembunyi. Dipekerjaannya kali ini dia mungkin tidak kan menggunakan pistol, pelanggannya berkata kalau pesta ulang tahunnya akan diadakan di alun-alun kota Bandung.


Terlalu terbuka, Louie akan memikirkan cara lain untuk membunuhnya. Ini akan jadi perencanaan kecelakaan bukan pembunuhan, dia harus membuat ini seakan menjadi kecelakaan. Banyak informasi yang diberikan si pelanggan, salah satunya Celina yang akan pergi sendirian menuju alun-alun nanti dan alamat rumah Celina.


Kalau begitu Louie akan memakai bom sebagai alat eksekusinya, laki-laki itu akan membuat bom rakitan sendiri dengan bahan yang dia sudah bawa didalam kopernya.


Ini pertama kalinya Louie malas beranjak ke lantai atas, dia jadi berteriak memanggil Alina agar si gadis keluar. Tapi tidak ada respon, dia mau tidak mau datang ke kamar Alina dan melihat kalau Alina tengah terlelap. Wajah Alina yang terlelap membuat Louie menatapnya intens, dia mengelus wajah mulus sang gadis, "Kalau dilihat-lihat memang cantik." Kata nya.


Louie tidak pernah setertarik ini pada perempuan, dari wajah sampai sikap dia suka namun yang paling membuatnya candu adalah bau tubuh Alina, dia bisa dibuat gila, seperti ada extra parfume ditubuhnya dan itu cocok dipadukan dengan parfume apapun. Dia bisa memaklumi kenapa ada laki-laki gila yang mengincarnya, sudah pasti karena obsesi.


"Kalau begitu gua sama dia sama aja, dia bisa jadi lawan yang berkesan kalau ketemu nanti. Gua penasaran apa dia nyari Alina terus setelah dia kabur atau nggak." Louie membatin, membayangkan seperti apa sosok laki-laki yang terobsesi pada Alina.

__ADS_1


Arion Ritcher Saputra, nama itu mungkin akan jadi rival Louie suatu saat nanti. Entah apa pekerjaannya, jika memang dia polisi Louie tidak akan gentar, sebelum mata hijau Alina jadi miliknya dia tidak mau melepaskan gadis itu.


Merasa terganggu sedikit Alina membalikan tubuhnya dan hal itu mengakhiri kegiatan Louie. Laki-laki tampan dan pintar ini lanjut merakit bom, dia harus menyelesaikannya sekarang tidak boleh buang buang waktu lagi, dia ingin mengambil lima ratus jutanya saat ini juga.


"Permisi, dengan tuan Louie? Kami datang untuk mengantar uang ini."


Pintu kamar Louie dibuka tanpa izin oleh seseorang berjas hitam dan berkacamata senada, ini pasti suruhan pelanggannya dia tersenyum lebar melihat uang-uang didalam koper, dengan cepat dia mengambilnya, "Dah, pergi sana. Dan lain kali, ketuk dulu pintunya brengsek." Sarkas Louie dengan tatapan tajamnya.


"Maaf, saya pergi dulu."


Bom kembali dirancang sekecil mungkin oleh Louie, dia menyimpan benda itu dilaci.


Skenario pembunuhan sudah dipikirkan Louie, dia akan memakai Alina untuk memasang bomnya dibagian bawah mobil nanti. Alina memiliki wajah yang polos jadi tidak akan ada yang curiga padanya, lagipun dizaman sekarang orang yang memiliki wajah good looking akan dilihat sebagai dewa, tidak akan ada yang menyalahi Alina jika memang ketahuan, wajahnya terlalu polos untuk dijadikan tersangka.


Menit demi menit berlalu dan Louie terlelap dalam tidurnya, mencoba memimpikan apa yang ingin dia temukan didunia ini. Orang yang tidak memiliki emosi seperti Louie memimpikan sesuatu yang orang sebut sebagai hati nurani. Dimana sebenarnya hati nurani itu? Seperti apa itu? Bagaimana bentuknya?


Pertanyaan itu muncul terus menerus, dia ingin hidup normal tapi sampai titik ini tidak ada yang bisa membuatnya normal seperti orang awam. Keluarganya membuat dirinya seperti ini, diperlakukan seperti hewan saat kecil.

__ADS_1


Itu benar-benar memuakan.


"Brengsek, manusia memang brengsek." Gerutu Louie sebelum berakhir tertidur lelap masuk kedalam mimpi buruknya.


__ADS_2