
Hari hari berjalan dengan tenang, Louie kini berada di kampusnya mengerjakan kuis offline dikelas. Mudah bagi Louie mengerjakan kuis ini, dia pintar dan sudah menyiapkan semua pelajarannya jika memang ada kuis mendadak seperti hari ini. Teman-temannya sedikit iri saat Louie keluar kelas lebih dulu, izin pergi ke toilet sekaligus ke kantin.
"Angkasa, lu mau ke kantin? Yuk bareng." Ajak teman Louie, Andromeda Orion. Sama seperti nama galaksi tetangga galaksi bimasakti, dia anak jurusan Astronomi cocok dengan namanya.
Louie mengangguk, Angkasa nama panggilan Louie dikampus ini, meski semua orang tau nama aslinya karena Louie menyuruh mereka memanggil angkasa jadi semua memanggilnya demikian. Kantin disini lumayan banyak variasi makanannya, dan Louie selalu pergi ke tempat yang menjual onigiri, onigiri disini enak bagi Louie.
"Onigiri lagi ya, gak mau nyoba bakso?" Tanya Meda.
"Gua udah biasa beli onigiri tapi okelah bakal gua coba beli bakso, katanya enak." Louie mengantongi onigiri yang dia beli, dia dan Meda pergi ke stand yang menjual bakso, memesan dua mangkuk bakso beserta mie nya.
Meda membuka handphonenya melihat berita-berita, "Gue denger ada pejabat yang meninggal karena ditembak orang misterius, lu denger gak beritanya?" Meda membuka obrolan.
Louie mengangguk santai sambil mengunyah, dia tidak masalah kalau ada yang membahas hal itu didepanya, lagipun seharusnya Andromeda sudah tahu siapa pelakunya.
"Yang tau tau aja, Med." Kata Louie.
Meda mengangguk paham, lalu mengurut keningnya pening. "Aneh, masih aja ngambil padahal bahaya buat lu sendiri Kasa." Katanya.
"Uang gak akan datang segampang balik telapak tangan, harus ambil resiko. Gua udah nyoba cari kerjaan lain tapi gajinya gak bisa nutupin kebutuhan kuliah sama biaya hidup." Ujar Louie.
"Iya juga, yah kerja jadi barista juga masalah. Bisa kayak gue kan? Ikut aja jadi barista, lumayan bisa liat cewek cakep." Ajak Meda. Louie menggeleng menolak ajakannya, "Gua punya cewek yang lebih menarik dari cewek-cewek diluar sana." Katanya. Itu membuat Andromeda terkaget-kaget, Louie bisa menemukan perempuan yang menarik itu sangat langka, sejak pertama Meda mengenal laki-laki ini dia tidak pernah mendengar Louie menceritakan seorang perempuan.
Ah bahkan Meda mengira Louie adalah seornag homo seksual.
"Siapa? Kenalin ke gue dong, gue pengen liat cewek mana yang berhasil buat Angkasa tertarik." Kata Meda.
__ADS_1
"Itu konsumsi pribadi, gak bakal gua kasih liat dia ke orang lain." Kata Louie. Benar dia tidak mau Alina dilihat oleh laki-laki sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
"Pelit banget, gue yakin dia cantiknya ngalahin bidadari sampe buat Angkasa tertarik begini hahaha."
Tidak ada balasan dari Louie, dia sibuk memakan baksonya yang baru saja datang, baunya menggoda dan Louie memakannya lahap tanpa sisa. Dia harus buru-buru kembali ke kelas, persetan dengan toilet dia hanya beralasan agar bisa keluar sebentar, teman sekelasnya ada yang punya bau tidak sedap dihidungnya.
Penciuman Louie jadi terganggu karena itu, dia ingin buru-buru pulang ke rumah dan mencium bau candu yang masuk ke hidungnya beberapa hari terakhir.
"Gua duluan, masih ada kelas." Pamit Louie.
Meda melambaikan tangannya sembari memakan bakso, dia sudah biasa ditinggal Louie seperti saat ini, yah sudah terlalu lama sendiri.
Dilain tempat Alina kini sibuk mengangkat barbel seberat tiga kilo gram dengan dua tangannya, dia tidak kuat jika hanya satu tangan. Badannya yang terlalu sering tiduran ini merasakan efek kram dari olahraga yang dia lakukan beberapa hari terakhir, itu memang berhasil membuat dia sedikit lebih bertenaga tapi semua badannya sakit dan dia harus segera belajar menembak.
Dibanding rasa sakit kram nya, dendam Alina pada Arion lebih besar lagi karena itu dia tidak menyerah dan tetap melakukannya meskipun harus kesakitan. Louie juga bilang tubuhnya akan terbiasa nantinya, dia hanya perlu melakukannya tiap hari dengan begitu dia akan jadi lebih kuat dan tahan banting.
"Aku lelah...." Gumam Alina.
Nafasnya tersengal-sengal dan dia memejamkan matanya sebentar, ketika dia membuka mata dia melihat Ren sudah ada di atasnya, menatap dia yang kelelahan. "Walah lihat siapa yang lagi olahraga disini, kenapa gak bersihin rumah ini? Aku liat kotor dibagian luar tau." Begitu kata Ren.
Alina tersentak, dia duduk dan mencoba untuk berdiri, "Sshh aduh kakiku kram." Ringisnya, dia tidak bisa berdiri tegak dengan tubuh yang super duper kelelahan ini.
Ren memiringkan kepalanya bingung, "Lu udah berapa lama latihan fisik begini? Segini aja udah kecapean?" Tanya Ren sedikit remeh.
"Saya sudah lakukan ini tiga puluh menit lalu... Angkasa menyuruh saya berolahraga agar tidak cepat lelah..." Jawab Alina. Ren yang mendengat itu mengernyit jengkel, merasa cemburu Louie menyuruh gadis ini berolahraga. Dia berdecak lalu berkacak pinggang, "Gak perlu diikutin, beberes aja sana. Lu kan pembantunya Louie, jangan malah jadi beban harus minta diajarin Louie olahraga begini, bersihin sana." Perintah Ren.
__ADS_1
Alina balik mengernyit, dia tidak menyukai nada bicara Ren yang terdengar seperti seorang majikan menyuruh pembantunya. Lagipun dia bukan pembantu Ren tapi pembantu Louie, gadis asing seperti Ren tidak bisa memerintahkannya begitu saja, "Saya tidak mau, kamu siapa menyuruh saya? Angkasa berkata saya harus olahraga biar menambah tenaga, jangan menghalangi saya begini." Balas Alina.
Setelah berhari-hari kenal akhirnya Ren tau Alina bukanlah perempuan yang benar-benar pasrah, dia bisa melawan. Terlihat tatapannya tajam dan itu cukup berhasil membuat Ren merasa tertantang, "Lu nantangin gue? Gue itu calon pacar Louie, bahkan dia ngizinin gue manggil nama asli dia."
"Terus? Saya gak perduli kamu siapa, saya hanya mendengar apa kata Angkasa dan tidak ada orang lain yang bisa kasih perintah ke saya." Alina berjalan pincang keluar dari basement. Ren mengambil kesempatan ini untuk menendang punggung Alina sampai perempuan itu terjatuh didekat tangga, "Begitu? Udah berani emang sama orang-orang ya? Numpang aja bangga." Sarkas Ren.
Alina menatap tajam Ren lagi, "Lacur aja bangga."
Ren makin marah saat mendengar itu, dia menjambak rambut Alina melototinya sakin marahnya. "Kurang ajar, cewek kampung kayak lu beraninya ngomong begitu?"
Alina tidak gentar, dia balik menjambak rambut Ren. Terjadilah aksi jambak menjambak antara Alina dan Ren, mereka saling menghina satu sama lain. Dari fisik sampai profesi dihina, tidak ada yang mau kalah sampai pada saatnya Alina ditendang ke tembok tempat pistol Louie dipajang.
Mereka saling tatap menatap tanpa Ren tahu Alina sudah mengambil pistol berpeluru ditangan kanannya. Anger issue milik Ren bangkit saat ini dan dia meninju wajah Alina sampai Alina terbaring dilantai kembali, kakinya menginjak-injak perut Alina yang masih kram, "Bangun cewek brengsek." Kata Ren.
Buk buk buk begitu bunyinya, dan akhirnya dengan satu serangan balik Alina menembak Ren tanpa babibu.
Dor!
Ren tewas dengan tembakan yang menembus dagu sampai kepalanya. Itu jadi penutup aksi pertengkaran mereka berdua, Alina kesusahan bangun dan tangannya kembali bergetar karena menembakkan pistol lagi, dia menatap mayat Ren dekatnya dengan sendu.
"Maaf sudah bunuh kamu, saya pikir akhirat lebih cocok buat perempuan lacur yang bisanya membully orang seperti kamu." Alina perlahan berdiri, tubuhnya sakit dan rambutnya berantakan. Dia mendengar suara tepuk tangan dari arah pintu masuk basement, matanya menangkap sosok Louie yang tengah tersenyum menyeringai.
"Ini pembunuhan pertama lu, siap ngelakuin pembunuhan kedua?" Tanya Louie.
Alina tidak menjawab, dia sudah lebih dulu pingsan karena kepalanya sakit. Louie dengan sigap menahan tubuh Alina, laki-laki itu membawa Alina kembali ke kamarnya, mengistirahatkan gadis itu terlebih dahulu baru mencoba mengubur Ren ditaman belakang rumahnya.
__ADS_1
"Sangat disayangkan, padahal tubuhnya bagus." Kata Louie.