
"Dimana posisi Target?"
Suara dari handphone Ezra terdengar, Ezra kini tengah menikmati fasilitas hotel bintang lima dipagi hari yang cerah. Menjadi pengusaha diusia muda benar-benar membuatnyabisa mendapat uang bahkan tanpa bekerja, dia baru berusia dua puluh lima tahun tapi sudah sukses besar.
"Posisinya ada di Starbucks, cari mobil dengan plat nomor berwarna emas, dia suka benda mengkilap." Kata Ezra.
"Bersih mengkilap seperti tanpa kaca?"
"Pfffttt– maksud ku seperti logam, bukan kaca. Gak perlu iklan, kerjain aja langsung saya nunggu berita kematian dia." Ezra mengusap ujung bibirnya, terkejut pembunuh bayaran bisa bercanda disaat begini. Seseorang dibelakangnya juga tertawa mendengar itu, "hahaha apa banget itu orang, yakin dia pembunuh bayaran? Jokesnya kayak bapak-bapak." Ejeknya pada Louie.
Ezra menutup teleponnya, dia menatap balik seseorang yang tadi tertawa, "Yah namanya pekerjaan pasti dia butuh healing. By the way buat apa lu kemari Arion?" Tanya Ezra.
Arion, laki-laki berambut blonde itu tengah berbaring dikasur empuk hotel ini, menatap Ezra sang bawahan dalam usaha gelapnya menjual organ tubuh dan parfume dari bau tubuh manusia. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma kamar hotel mewah ini, "Hotel ini payah dalam membeli pengharum, pengharumnya murahan. Kok bisa lu nyaman disini?" Arion bertanya balik.
"Ya gua gak setajam lu penciumannya, jadi fine-fine aja disini." Jawab Ezra.
Arion bangkit, dia berdiri disamping Ezra yang tengah menatap pemandangan kota bandung dari hotel besar ini, "Jadi rencana lu buat narik Alina balik itu nyewa pembunuh bayaran buat nyelakain saudari jauhnya?" Tanya Arion.
Ezra mengangguk, merasa percaya diri dengan rencananya, namun itu malah membuat Arion marah, satu pukulan mengenai wajahnya. Arion tampak menyipitkan mata tanda dia marah, "Bajingan, lu lupa kalau Alina gak pernah deket sama saudarinya? Orang tuanya aja ngebuang dia, gimana caranya di bisa ngerasain rasa khawatir kehilangan saudara?" Tekan Arion.
"Okey baiklah, setidaknya kita bisa memakai itu sebagai ancaman. Gua yakin Alina punya tv ditempat sembunyinya." Ezra menjelaskan, "Saat dia liat saudarinya meninggal, dia takut dan akhirnya menyerahkan diri. Gua minta Louie bunuh Celina dengan cara paling kejam, itu bisa jadi ancaman yang bagus buat Alina."
__ADS_1
Arion bukannya menyetujui rencana Ezra justru malah semakin marah, dia menghantam Ezra lagi dan lagi tanpa basa basi, "Buang-buang uang, rencana lu payah. Itu cuma bakal ngebuat Alina makin takut bodoh." Kata Arion, dia meludahi Ezra yang sudah babak belur.
Orang-orang yang bekerja dibawah Arion memang sering mendapat perlakuan buruk jika mereka tidak berhasil mencapai ekspektasi Arion. Ezra adalah tangan kanan Arion yang sudah bekerja setidaknya lima tahun dengannya, sejak umur mereka duapuluh tahun mereka sudah merintih usaha gelap ini berdua.
Sepeninggalan Arion, Ezra merasa muak selalu dihajar seperti ini, dia ingin pergi dan hidup bebas dengan uang-uang yang sudah dia kumpulkan, dengan hidupnya sendiri dia bisa saja membeli banyak properti, ditambah dia membuka kursus untuk para pengusaha pemula agar bisa kaya raya.
Ezra berniat berhenti bekerja bersama Arion besok lusa setelah lukanya sembuh, entah ancaman apa yang akan Arion keluarkan nantinya, dia harus bisa tahan dengan ancaman itu.
"Sialan, ini sakit sekali." Ringis Ezra.
Dia memuntahkan darah dari mulutnya, "Si bajingan itu kapan dia akan berhenti menyakiti orang."
Mobil Ferrari hitam milik Ezra menelusuri jalan kota Bandung ini, dia mencari rumah sakit terdekat. Beruntung karena sudah terbiasa dipukul sejak tahun lalu dia masih lancar mengendarainya, tubuhnya sudah terbiasa dipukul Arion.
"Astaga mas Ezra, kamu kenapa atuh? Babak belur begini." Tanya seorang perawat yang Ezra kenal, perawat yang biasa menemaninya saat laki-laki itu sakit, cinta pertama Ezra selama hidup duapuluh lima tahun didunia ini, Luna Lesmana. Tidak ada sepatah kata lagi, Ezra menumpukan kepalanya yang pusing dibahu Luna. Gadis itu langsung saja mendaftarkan nama Ezra untuk segera dirawat.
"Ya Allah Ezra, kamu berantem lagi? Kenapa bisa berantem lagi, jangan diulang atuh." Luna segera memanggil temannya untuk membawa Ezra ke ICU, keadaan Ezra sudah parah jadi mereka cepat memberi tindakan pada Ezra.
"Sakit..." Ringis Ezra.
Luna panik, laki-laki yang sudah dia anggap adiknya ini pingsan setelah meringis kesakitan. Dia mengutuk siapapun yang membuat Ezra babak belur seperti ini, dia yakin jika suaminya melihat keadaan Ezra dia juga marah karena Ezra lah yang membuat kehidupan suami istri itu menjadi lebih baik. Iya, Ezra mencintai perawat yang sudah mempunyai suami, dan dia harus merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Berbeda dengan Ezra, Arion orang yang dikutuk Luna kini menikmati makan siangnya seorang diri di hotel, menikmati lezatnya salmon dan manisnya dessert khas timur tengah kesukaannya, tanpa merasa bersalah dengan yang dia lakukan pada Ezra.
"Salmonnya kurang segar, tidak ada rasanya. Hambar." Komentar Arion.
Koki hotel yang mendapat komentar begitu menundukkan kepalanya meski dalam hati dia jengkel bukan main, Arion adalah tamu spesial di hotel tersebut karena itu pelayan hotel melayaninya sebaik mungkin, Kokinya bahkan membuat kembali salmon khusus untuk Arion, dia tidak mau dipecat oleh atasannya.
"Halo mas, lagi free?"
Arion menoleh, melihat ada seorang laki-laki yang sedikit feminim mendekatinya, tidak salah lagi laki-laki ini seorang homoseksual, terlihat dari bagaimana dia berpakaian, hampir persis seperti seorang perempuan. Arion tidak membalas, dia fokus pada kunafa yang dia makan sebelum salmonnya datang kembali.
"Mas nya ganteng deh... Saya mau kenalan, namanya siapa?" Tanya laki-laki itu lagi, kali ini sambil menyentuh-nyentuh Arion.
Merasa jengkel dengan kehadiran laki-laki itu, Arion menodongkan pistol, "Mati atau jauh-jauh dari saya." Tegasnya.
Tanpa babibu Arion menembak laki-laki itu, beruntung tempat ini sepi dan hanya beberapa orang saja yang berada disini termasuk si laki-laki homoseksual ini. Para pelayan teriak melihat adegan itu, Arion kembali menodongkan pistolnya, "Diam jika tidak mau mati, kalian berisik. Segera bereskan mayat menjijikan ini." Titah Arion.
Merasa takut, para pelayan mengangguk dan Arion melemparkan pistol pada salah satu pelayan disana, "Salmonnya kasih anjing saja, aku tidak berselera lagi." Sarkas Arion pada sang koki.
Meski sudah direndahkan begitu, tidak ada yang berani melawan, sampai satpam hotel datang karena suara tembakan dan melihat salah satu pelayan memegang pistol. Arion tidak peduli siapa pelayan itu, dia malas berurusan dengan satpam dan polisi. Lagipun dia memiliki orang dalam dikepolisian, tidak akan ada yang berani menangkapnya.
Arion adalah orang yang ditakuti oleh kepolisian.
__ADS_1