
Ganesha masih berada ditempat Arion, dia setengah sadar karena rasa sakit yang datang dari lebam-lebam diwajahnya. Suara Arion samar-samar masuk ketelinga, dia tengah menelpon seseorang dengan telepon rumah kuno diruangan ini.
Tidak begitu jelas namun Ganesha tau itu membicarakan Alina dan Louie, dia mencoba menyadarkan diri dan mendenagr dengan seksama apa yang dibicarakan oleh Arion.
"Begitu... Mereka ada di Bandung? Cepat cari keberadaan mereka. Bawa. Alina. Kesini." Ujar Arion penuh penekanan.
Sebuah obsesi yang mengerikan, Ganesha menyumpahi Arion mati dalam hatinya, dia akan marah besar jika temannya yang lain ikut dijadikan gudang informasi sepertinya saat ini. Dia ingat kemarin apa yang terjadi, waktu dimobil dia menggeliat tidak enak dia baru benar-benar terbanguj saat sudah sampai di rumah Arion.
"HMMPH!! HMMM!!" Ujar Ganesha tidak jelas.
Dia kaget melihat Arion ada didepannya, mukanya jelas dia ingat karena Arion yang membuat Louie harus pergi tanpa kabar seperti saat ini. Ganesha sudah menganggap Louie sebagai adiknya, namun Arion membuatnya jauh dari Louie.
"Selamat datang Ganesha, ada yang pengen gua tanyain ke lu." Kata Arion ramah, dia tersenyum seperti rubah licik.
Ganesha mengernyitkan dahinya, tidak bisa melakukan apapun karena bodyguard Arion termasuk Ezra memegang kedua tangannya.
"Bawa dia." Perintah Arion.
"Hmmph!! Bhmpp!" Ganesha memberontak namun tidak bisa melonggar sama sekali, justru semakin erat jika dia terus bergerak.
Arion berjalan dibelakang masih sambil tersenyum, mereka berempat masuk ke dalam ruangannya lalu mengunci ruangan itu dengan rapat. Ganesha dipaksa duduk dan diikat disebuah kursi, mulutnya baru dibuka saat sudah diikat.
"MAU NGAPAIN LU BRENGSEK?! LEPASIN GUA!" Ujar Ganesha, rahangnya mengeras dan kulitnya memerah.
Arion melipat tangannya didada, "Mau ngapain ya? Ya mau nyari temen lu lah, kasih tau gua dimana dia." Kata Arion.
Ganesha makin memanas saat Arion bertanya demikian, "Gua gak tau, mereka pergi tanpa bilang apa-apa sama gua." Katanya, dalam hati Ganesha bertanya-tanya kapan memangnya Louie pergi bersama Alina?
Rambut Ganesha dijambak kuat, tidak puas dengan jawaban darinya Arion juga mengambil handphone Ganesha dan mencoba menghubungi Louie lewat handphone itu. Ini sudah malam, Ganesha berpikir Louie tidak akan membalas pesan atau teleponnya jika suka malam.
"Lu gak bakal dapet jawaban apa apa–"
Bugh! Satu pukulan mendarat di perut Ganesha, Arion memukulnya tepat di ulu hati sampai Ganesha kesakitan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Badannya remuk bahkan sampai detik ini, dia tidak bisa dibawa ke rumah sakit karena tengah disekap, dia juga berdoa agar temannya tidak disakiti.
__ADS_1
"Hey, ini jam berapa?" Tanya Ganesha lemah.
Tanpa menjawab apapun Arion mendekati Ganesha dan melepas ikatan dari badan Ganesha tanpa pikir panjang, "Sana, pergi sholat dzuhur dulu kalau kuat." Kata Arion.
Ganesha agak terkejut mendengarnya, dia jalan pelan-pelan menahan rasa sakit diseluruh badannya. Laki-laki teman Louie ini tidak menyangka kalau Arion melepaskan ikatannya karena dia adalah seorang muslim yang harus melaksanakan sholat, yah setidaknya Arion masih membiarkannya sholat.
Air wudhu dia lakukan ditoilet, Ganesha mencoba mencari celah tapi ruangan ini benar-benar tertutup dan tidak ada jalan untuk kabur, hanya ada sati pentilasi udara dan satu pintu saja. Dia bahkan tidak tahu sekarang dimana keberadaannya, dia hanya ingin melakukan sholat setelah itu berdoa agar cepat keluar dari sini.
Doa nya juga dia berikan pada temannya agar mereka selamat, hanya Louie satu-satunya orang yang tidak dia doakan karena dia sedikit sakit hati saat ini, dia babak belur karena Arion yang mencari Louie.
Louie juga adalah seorang atheis jadi tidak perlu didoakan, Louie mungkin akan berdoa sendiri entah pada siapa, meski kini dia ada disalah satu Gereja, itu tidak membuatnya mengangkat tangan dan berdoa pada tuhan.
"Nak, berdoalah dengan khusyuk." Ujar salah satu jemaat.
Louie tidak membalas, dia hanya mengangguk ramah lalu pergi seperti tidak ada beban. Dia tidak tahu apa yang membuatnya pergi ketempat ini, dia hari ini pergi ke tempat kursus dengan hanya membawa sebuah buku dan pulpen ditasnya. Kedua kakinya menghampiri sebuah rumah sederhana yang terparkir banyak motor, sepertinya yang ingin kaya bukan hanya dia.
Tok tok tok! Beberapa saat setelah diketuk pintu terbuka, menampilkan seseorang dengan pakaian koko muslim warna hitam dengan garis putih, "Oh kamu yang mau ikut ya? Sini masuk." Ajaknya.
Mata Louie tertuju pada laki-laki yang menyewa jasanya kemarin, dia duduk bersila dipojok ruangan sambil menatapnya dengan tersenyum, "Dateng juga." Katanya.
Tidak ada balasan dari Louie, laki-laki itu justru menatap cermin yang memantul ke arahnya, dia membelalakan mata saat ada seseorang yang ingin memukulnya dari belakang. Badannya refleks bergerak kebawah dan menendang tepat diselangkangan laki-laki tersebut, setelah tumbang kesakitan Louie mundur.
Matanya was-was melihat keadaan disekitar, orang-orang yang tadinya duduk kini berdiri seakan mereka marah. Pintunya pun dikunci dari dalam oleh orang yang tadi membukakan pintu, mereka memegang senjata ditangannya.
"Yah, gua gak nyangka bakal begini akhirnya." Kata Louie.
"Gue juga, pada akhirnya lu mangsa gue." Sahut orang yang menyewanya kemarin. Louie mengernyit sedikit, matanya fokus menatap orang-orang yang akan menghajarnya sebentar lagi.
"Dimana Alina?" Tanya salah satu dari mereka.
Pertanyaan itu membuat pikiran Louie buyar, kursus ini bukan kursus tapi ini jebakan untuknya, Apa Arion membuatnya? Kursus ini sebenarnya tidak ada atau hanya jebakan? Dia harus terus berhati-hati, dari apa yang dia lihat sepertinya orang-orang ini memang bagian dari rencana Arion untuk menangkapnya, begitulah yang dia pikirkan.
"Kalian ajudan Arion?" Tanya Louie.
__ADS_1
"Siapa Arion? Kami cuma dibayar buat nangkep lu aja, sama pemimpin kami." Jelas salah satu anak remaja seumuran Louie.
Matanya menyipit, jika mereka tidak kenal Arion lantas siapa pemimpin mereka?
"Udah jangan banyak basa basi, cepet serang dia!" Seru salah satu orang.
Ada sekitar tujuh orang diruang tamu ini, Louie harus segera menghabisi mereka dan kabur dari tempat ini. Gawat jika Arion menemukan keberadaan Alina, dia tidak mau gadis itu kembali ke pelukan monster seperti Arion.
Pertarungan tidak bisa terelakkan, Louie lumayan kewalahan karena lengannya tergorek pisau cukup dalam dan dia tetap harus mengalahkan empat orang sekaligus. Tendangan, pukulan bahkan sundulan sudah dia keluarkan dan itu berhasil membuat tujuh orang itu tumbang.
Louie mengambil nafas dalam dan mencoba menutup lukanya yang sudah mengucur banyak darah, dia harus pergi dari ini.
"Halo, Blackgod."
Sapaan itu membuat Louie membeku, dia menoleh kearah belakang, matanya melihat sosok yang belum pernah dia lihat sebelumnya tapi Louie tau kalau orang itu adalah bawahan dari Arion.
"Mau apa lu?" Tanya Louie.
Dia berdehem, "Sebelum itu kenalin gua Ezra–"
"To the point."
"Dimana Alina? Kasih dia ke gua dan gua bakal kasih lu sepuluh miliar." Kata Ezra tanpa pikir panjang.
Louie tersenyum miring, "Lu pikir gua bakal ngasih lu Alina cuma karena uang segitu? Gua gak bakal ngasih dia, dia udah jadi milik gua dan bakal terus begitu." Kata Louie.
Ezra berkacak pinggang mendengar itu, dia merasa tertantang dengan jawaban Louie. Tidak ada yang bisa menolak sepuluh miliar, hanya Louie saja saat ini.
"Mau lu beri uang sebanyak apapun gua gak bakal ngasih lu Alina." Kata Louie penuh penekanan, mereka berhenti berbicara saat Louie keluar dari rumah ini buru-buru.
Ezra tidak mengejarnya, dia tidak ada niat mengejarnya dan segera menelepon Arion soal kejadian ini.
"Arion, Louie berhasil kabur." Begitu katanya.
__ADS_1