
Ezra sudah mendengar berita kematian Celina, namun tidak ada perkembangan dari pergerakan Alina. Arion benar kalau Alina tidak akan muncul hanya dengan cara seperti ini. Laki-laki ini juga masih berada dirumah sakit, tubuhnya sudah lumayan pulih habis di hajar Arion. Dia kini tengah berkirim pesan dengan Louie soal kematian Celina, Louie benar-benar melakukannya dengan baik.
"Ezra, ini makanan untuk kamu pagi ini." Kata Luna, dia datang membawa senampan makanan rumah sakit seperti roti dan soup sayur. Ezra menegakkan tubuhnya senang, dia menerima makanan dari Luna dan memakannya lahap. Luna duduk disamping kasur, "Jadi kenapa kamu kemarin lusa bisa babak belur begitu Ezra?" Tanya Luna.
"Aku dikroyok, mereka mau ngambil mobil aku." Alibi Ezra. Tidak mungkin Luna mengenalkan Arion pada Luna, bisa-bisa Luna dalam bahaya meskipun dia sudah punya suami tentara yang hebat, tetap Arion itu juga menerima pelatihan militer agar bisa sampai dititik ini.
Luna menutup mulutnya, kaget. "kenapa bisa... Lain kali kamu bawa senjata ya? Mobil kamu juga gak diambilkan?" Tanya Luna.
Ezra menggeleng, "Untungnya nggak. Emang harusnya aku jaga-jaga bawa pistol sekalian ya..."
"Iya bawa aja."
Luna beranjak dari tempat duduknya, lalu membenarkan posisi infus nya agar Ezra tidak merasa kesusahan. Ezra menatap Luna terus menerus dengan tatapan sendu, cinta pertamanya sudah memiliki suami. Apa dia harus membunuh suaminya? Tidak mungkin, Luna sangat mencintai suaminya dan Ezra tidak mau membuat Luna sedih kehilangan Raden disaat pernikahan mereka masih seumur jagung.
Ting!
Pesan masuk, Ezra mendapat pesan dari Arion untuk segera kembali bekerja, membantu arion di penyelundupan narkotika didaerah Palembang besok lusa. Tidak ada semangat melainkan lebih ke arah marah, bisa bisanya anak itu tidak merasa bersalah sama sekali.
From : A
Cepet balik, kerjain kerjaan lu yang numpuk ini jangan menel-menelin istri orang di rumah sakit terus.
__ADS_1
Matanya membelalak saat Arion tau Ezra tengah menyukai orang yang sudah punya suami. Luna yang melihat perubahan ekspresi Ezra jadi sedikit khawatir, "Kenapa? Apa ada yang ngirim pesan aneh-aneh?" Tanya Luna yang dijawab gelengan. Ezra menaruh handphonenya lagi dan segera beranjak dari kasur, "Ini, tolong lepaskan infusnya. Aku harus kembali bekerja, Luna." Kata Ezra.
"Loh kamu belum sembuh jangan bekerja lagi, disini aja, Ezra." Kata Luna.
"Aku harus bekerja, kalau gak gitu mungkin aku bakal mati dihajar atasan." Balas Ezra.
Luna terkejut mendengar itu, "Kamu kerja apa sih sebenernya Ezra?"
Pertanyaan itu tidak dijawab Ezra, dia mengubah topiknya, "Aku benar-benar harus pergi Luna, tolong lepaskan infusnya." Pinta Ezra, matanya menatap memohon ke arah Luna, "Tolong lepaskan saja, aku akan bekerja lagi untuk dapat lebih banyak uang." Kata Ezra.
"Nggak, aku gak bakal ngebiarin kamu kerja dikeadaan begini, kamu duduk aja! Aku gak mau orang yang udah aku anggak adik babak belur lagi." Kata Luna.
Ezra mengernyitkan dahinya, "Adik? Udah, Kalau gak dibiarin kerja aku malah tambah babak belur Luna! Gak usah anggep aku adik, aku gak mau jadi adik kamu, sekarang tolong lepas infusnya." Ujar Ezra lagi, dengan berat dia menahan tidak meninggikan suaranya didepan Luna, tidak mau Luna merasa sakit hati.
Kalau saja dia tau Ezra melihatnya spesial, lebih spesial dari seorang kakak mungkin Luna tidak akan memberi perhatian lebih.
Alina dirumah Louie kini tengah meregangkan tubuhnya, kamar Louie sepi dan pemiliknya pergi entah kemana, padahal sudah pagi tapi rumah ini hanya ada Alina didalamnya. Makanan-makanan yang Louie beli di Bandung, Alina makan lahap karena lapar, semalam dia melewatkan makan malam karena terlalu lelah.
Hari ini tanggak 7 April, Alina seperti biasa pergi ke basement untuk melatih tangannya, dia masih ingat jelas apa yang sudah dia lakukan pada dua orang yang ingin menyakitinya. Ren dan anak buah Arion, dia sudah membunuhnya. Rasa bersalah datang saat ini, dia duduk menyender pada tembok dan merenung, meski dia merasa takut dia juga sedikit lega.
Setidaknya tidak ada orang yang menghalanginya saat ini, dia hanya harus berlatih, berlatih dan berlatih hingga saat yang tidak ditentukan.
__ADS_1
"Maaf kan aku... Maaf kan aku... Maaf kan aku..." Dia bergumam terus menerus.
Gumaman itu seakan terhubung dengan Louie yang kini merasa khawatir tanpa ada konteks, dia tengah ada dikampusnya memakan onigiri favoritnya lagi bersama Arsen kali ini, Andromeda tidak ada kelas di hari Jumat.
"Lu kenapa Louie?" Tanya Arsen.
"Tiba-tiba ngerasa gak nyaman gua, kayak ada yang ganjel." Jawab Louie.
"Anu lu kejepit kali."
Louie menendang tulang kering Arsen kesal, membuat sipemilik kaki meringis kesakitan, "Ahhss santai aja kenapa sih." Kata Arsen. Louie melahap semua onigirinya sebelum berkata, "Mending lu pergi sholat Jum'at bareng Ganeshaa, tuh anaknya udah rapih pake baju koko." Tunjuk Louie pada Ganeshaa yang sudah rapih dengan sarung dan baju kokonya.
"Yaudah kalau gitu gua pergi dulu, Atheis." Pamit Arsen.
"Ya, silahkan."
Louie kembali ke kelasnya saat satu mahasiswa jurusannya mengirim pesan digrup chat menyuruh anak-anak lain cepat datang. Meskipun hatinya merasa tidak nyaman, Louie tetap ke kelas dan akan memeriksa apa yang salah nantinya.
Arsen dilain tempat kini tengah duduk didekat masjid, sedikit lelah karena dia harus menunggu satu jam lagi. Ternyata Ganeshaa datang untuk melakukan sholat subuh, anak itu telat bangun karena mabuk-mabukan semalam. Dia pikir Ganeshaa datang untuk sholat Jum'at ternyata sholat subuh.
Mata Arsen sibuk menatap sekitarnya, melihat apa ada sesuatu yang menarik perhatian seperti jajanan atau perempuan cantik.
__ADS_1
"Astaga Ganeshaa, sholat subuh lama banget." Gerutu Arsen.
Sebenarnya dia masih ingin pergi beli makanan habis kelas hari ini, tapi karena harus sholat Jum'at dia menahan itu. Ganeshaa memang anak rajin beribadah tapi kali ini dia benar-benar telat melaksanakan sholat subuh, Arsen yakin anak itu tengah menangis meminta ampun pada yang kuasa. Kalau Arsen sih, boro-boro.