Target Si Mafia

Target Si Mafia
Delapanbelas : Pindah


__ADS_3

Seminggu berlalu, Alina sudah bisa pulang ke rumah lagi, tubuhnya lebih baik sekarang meski masih sedikit pucat. Louie membawanya pergi dari Depok, dia juga keluar dari kampusnya yang ada di Jakarta dengan alasan konyol yaitu, 'Tidak sanggup bayar biaya kuliah.'


Tentu saja itu dusta belaka, Louie orang yang berkecukupan dan dia bisa pergi kemanapun sepuasnya. Tapi sekarang karena menghindari buronan polisi jika saja ketahuan, dia harus pergi ke kota lain agar tidak ada yang curiga padanya selain orang terdekat.


Persetan dengan teman-temannya, Louie harus kabur dan beruntung Meda mendukungnya. Selama seminggu ini Louie pergi mengurus kepindahan keluar kota lebih tepatnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, dia sudah membeli rumah kecil seharga tiga ratus juta.


"Kita bakal pergi jauh, Alina. Arion udah makin brutal, jadi jangan kabur lagi keluar." Kata Louie.


Alina mengangguk, badannya kaku saat mendengar nama Arion, dia tidak tahu kalau Arion berhasil menemukannya selama dia diculik. Apa yang terjadi selama ini pun Alina tidak tahu karena Louie tutup mulut, tapi sepertinya keberadaannya sudah diketahui oleh sang mafia.


Dia kembali menjadi target empuk dari Arion.


"I-iya, Angkasa..." Katanya.


"Panggil Louie aja, kayak waktu itu." Potong Louie.


Alina mengangguk paham, pikirannya kacau memikirkan bagaimana cara Alina pergi dari jeratan Arion melalui Louie. Polisi sudah tidak bisa lagi diajak kerja sama, banyaknya backingan membuat Arion susah untuk dikalahkan.


Dia harus segera kembali melatih tubuhnya serta otaknya agar bisa kabur dari jeratan kedua orang gila ini, Louie dan Arion adalah orang gila yang sama-sama memiliki obsesi terhadap dirinya dan dia tau itu. Dia ingin pergi dari jeratan Louie maupun Arion saat ini, dia harus pintar membuat rencana agar mereka saling membunuh satu sama lain.


"Apa yang lu pikirin?" Tanya Louie.


Alina menggigit kukunya, "Aku khawatir Arion akan menemukanku dikota yang akan kita tuju ini, dia punya banyak backingan." Ujar Alina cemas, mengeluarkan beberapa alibi awal untuk mengelabui Louie.


"Jangan khawatir, gua ada disini kenapa harus takut? Arion cuma orang manja banyak tingkah." Balasnya santai.


Alina menatap Louie dalam, "Berjanjilah padaku Louie, kamu akan melindungiku terus..." Kata Alina sendu.


"Aku janji." Ujar Louie.


Meski ini tidak pasti Alina sedikit yakin kalau Louie benar-benar akan melindunginya, dilihat dari bagaimana dia ikut terobsesi juga pada bau tubuhnya persis seperti Arion. Alina meringkup, membuat dirinya seakan sedang ketakutan.

__ADS_1


Yah tapi dia memang sedang ketakutan sih, dia merasa hidupnya akan berakhir sebentar lagi jika diapit oleh dua orang laki-laki gila seperti Louie dan Arion. Dia berkeringat dingin, "Louie, apa Arion akan menemukan saya?" Tanya Alina.


"Gua gak tau, mau sebagus apapun sembunyi pasti bakal ketemu juga. Orang bawahan Arion itu banyak ya kan? Selagi dia belum bisa bertindak jauh, kita kabur." Kata Louie.


Alina mengangguk paham, "Baiklah."


Perjalanan itu terasa sangat menegangkan bagi kedua orang ini, mereka tidak berbicara lagi sampai tujuan. Rumah yang dibeli Louie terlihat sederhana, tidak seperti rumah sebelumnya. Entah mau dijadikan apa rumah itu, Alina tidak mengurusinya.


Mereka masuk ke dalam, atmosfer yang sedikit lembab terasa sampai ke kulit, Alina merinding disko saat merasakannya. Rumah ini tampak seram, lampu belum juga terpasang karena Louie asal membelinya.


"Louie... Lampunya belum ada?" Tanya Alina.


Ini sudah sore, matahari sebentar lagi akan turun dan malam segera datang. Louie menggeleng, "Besok kita beli, hari ini kita istirahat disatu kamar sana, sudah ada lampunya." Kata Louie.


Alina mendengus dalam diam, merasa kesal kenapa Louie membeli rumah semacam ini untuk ditinggali. Memilih yang lumayan besar namun sedikit menyeramkan, cat temboknya pun sedikit berkerak, Alina yakin tempat ini berhantu.


"Lu mandi dulu, gua mau beresin bajunya." Kata Louie.


"Siap."


Hanya tidur, Louie ingin memeluk sesuatu yang sebentar lagi jadi miliknya malam ini.


Dia juga waspada dengan sekitarnya, kota barunya ini mungkin sudah ada salah satu anak buah Arion. Jadi laki-laki yang bekerja sebagai pembunuh bayaran itu siap-siap membawa banyak barang agar bisa digunakan suaru saat nanti termasuk senjata api miliknya.


Persetan dengan senjata api digudang, Louie tau polisi mungkin tengah menggeledah tempat itu lagi. Dia harus kabur agar tidak ketahuan sama sekali oleh kepolisian.


Berbeda dengan keadaan Louie yang tengah repot, Arion kini menikmati camilan mahal nya sembari menonton berita, menonton anak-anak yang ditemukan meninggal digudang itu serta beberapa senjata api.


Dia menyeringai, "Kayaknya dia bakal ketahuan kali ini?" Gumam Arion.


"Ya mungkin aja, tapi dia pinter pasti sekarang lagi kabur dari kejaran polisi buat bisa hidup sama Alina." Sahut Ezra.

__ADS_1


Arion menatao Ezra dingin, "Gua gak ada izinin lu ngomong."


Ezra membungkam mulutnya saat Arion sudah menatapnya begitu, dia tidak diperbolehkan melawan atasannya oleh ayah dari Arion. Mau bagaimana pun meski Arion pernah menghajarnya, jika saja dia membalas Arion pasti yang babak belur.


"Suruh anak buah yang ada diluar kota periksa, gua mau tau Louie kabur kemana setelah dari rumah sakit." Perintah Arion.


"Ya." Balas Ezra singkat.


Ketika laki-laki kekar itu pergi, Arion sibuk menghabisi camilannya masih sambil menonton berita. Dia suka menonton banyak berita konyol di tv kecuali berita gossip. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat kesengsaraan orang bagi Arion, ketakutan dan trauma adalah sebuah seni membunuh diri secara perlahan.


Matanya terpejam menikmati dinginnya AC, rasa kantuknya datang dan dia mulai terlelap disofa empuk miliknya. Rasanya jarang dia merasa kelelahan, tapi kali ini dia lelah.


Tidurnya terlihat tenang, seperti tidak memiliki beban hidup. Ya dia memang tidak memiliki beban hidup, dia sudah hidup enak, hanya tinggal menjentikan jarinya barang yang dia inginkan sudah ada.


Satu-satunya hal yang membuat tidurnya tidak nyenyak adalah ibunya.


"Maafkan aku ibu..." Gumam Arion.


Tubuhnya gemetar jika sudah memimpikan sosok ibunya, tidak bisa dideskripsikan tapi Arion melihat ibunya sebagai monster yang mengerikan.


Tubuh itu berkeringat dingin sepanjang malam, tidak nyaman dengan mimpi yang dia lihat. Benda tumpul seperti sapu, sabuk, rotan terlihat jelas dimimpi membuat tubuhnya sedikit sakit mengingat trauma masa lalu dari mimpinya.


'Arion, kamu anak yang gak berguna. Bakal lebih baik kamu ibu bunuh.'


"Arion akan belajar lebih giat lagi ibu..." Gumam Arion.


Arion sedari kecil memang sering dapat penyiksaan dari ibunya, selama itu hanya Ezra dan ayahnya saja yang menemaninya, Ezra sendiri sebenarnya sudah Arion anggap sebagai kakak laki-lakinya. Mereka sudah berteman dari masih umur sepuluh tahun, dan berakhir Ezra bekerja untuk keluarga Arion.


Apapun yang diperintahkan Arion akan Ezra kerjakan seperti saat ini, Ezra sibuk menyuruh beberapa ajudan dari Arion untuk melacak keberadaan Louie yang menghilang dalam sehari ini. Dia sudah tau kalau Louie sebelumnya berada di Rumah sakit untuk merawat Alina, namun setelah itu mereka kehilangan jejak Louie.


"Pergi ke luar kota, cari Louie dan Alina." Ujar Ezra.

__ADS_1


"Baik, pak!"


Ezra menghela nafasnya, sedikit lelah dengan tingkah Arion, dia mengambil kunci motor dan pergi ke rumah sakit tempat dia biasa bertemu dengan Luna, cinta pertamanya.


__ADS_2