Target Si Mafia

Target Si Mafia
Limabelas : Adik Ren


__ADS_3

Alina tersadar dari tidurnya, kepalanya sakit bukan main akibat benturan keras yang dia rasakan sebelum pingsan. Waktu dia membuka matanya ada anak umur lima belas tahun yang berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah balok kayu ditangan, Alina spontan terkejut, dia berniat menjauhkan anak itu namun tangannya diikat kencang.


Panik, Alina takut dirinya akan sama seperti dulu, dipakai oleh orang jahat seperti Arion. "Kamu siapa? Ini dimana?" Tanya Alina.


"******, lu yang bunuh kakak gua ya?" Tanya si anak ini.


Alina tersentak mendengar kata kakak, dia teringat Ren yang dia bunuh tempo hari karena pertengjaran hebat, "A-aku tidak sengaja membunuhnya! Tolong maafkan aku!" Ujar Alina.


Tubuhnya gemetar saat anak ini mengangkat balok kayu bersiap untuk memukul Alina, "Bajingan." Katanya.


Bugh! Satu pukulan mengenai lengan Alina, gadis itu berteriak kesakitan, tulangnya sepertinya patah karena dipukul kencang, dia menangis ketakutan, ini hampir sama seperti yang dia rasakan saat masih bersama Arion.


"Gara-gara lu gua harus kerja banting tulang buat adek adek gua." Katanya.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" Seru Alina.


Anak bernama Mark ini, kembali memukul Alina dan kali ini tepat dikepala membuat Alina merasakan ada cairan yang keluar dari keningnya, kesadarannya juga menipis karena rasa sakit yang dia rasakan.


"Berhenti... Aku akan melakukan apapun untukmu..." Gumam Alina.


Traumanya kembali terpampang jelas dimata, melihat ada orang yang memukulnya dengan balok kayu atau benda keras yang lain. Dia lemas tidak berdaya, kakinya sudah susah untuk bergerak, dia hanya bisa bergantung pada Louie setelah ini.


'Louie... Tolong aku...' Batin Alina.


Dada nya sesak, kepalanya sakit, penglihatannya buram dan dia tidak bisa melawan karena saat ini dia diikat.


Perasaan itu seakan terhubung dengan Louie yang kini tengah menunggu makanan datang, dia membeli makanan untuk diberikan racun nantinya. Dia mengambil kotak obat yang berisi berbagai jenis racun.


Teman-teman Louie masih berada dirumahnya, Meda kini tengah memperhatikan gerak-gerik Louie yang terlihat gelisah, "Ini pertama kalinya gue liat lu gelisah, Louie." Kata Meda.


"Diem." Sahut Louie.


Meda yang mendapat repson itu hanya bisa menatap temannya yang juga pertama kali melihat kelakuan Louie saat gelisah, mereka sadar kalau Louie merasa khawatir dengan perempuan yang tadi dimaksud Arion.


Arsen sudah berhenti menangis tapi kini dia ikut gelisah, "Louie, lu yakin mau ngeracunin anak-anak gak bersalah itu?" Tanyanya.

__ADS_1


Louie berhenti meracik racunnya, "Gak bersalah kata lu? Dia gangguin milik gua ya gua bakal ganggu mereka lebih parah." Ujar Louie.


"Tapi mereka masih anak-anak." Kata Arsen.


"Dan gak ada anak-anak yang nyulik perempuan lemah kayak Alina, mereka itu anak bajingan." Kata Louie lagi.


Ganesha berdehem, "Kalau mereka bajingan lo apa? Sama aja, lu juga aslinya nyulik si Alina kan? Ada sesuatu yang lu inginkan dari si Alina. Kita kenal gak cuma setahun dua tahun Louie, gua inget tabiat lu yang gak pernah tertarik sama perempuan kecuali buat having ***." Ujar Ganesha.


Meda mengangguk setuju, "Apa yang lu mau dari dia?"


Louie menutup semua botol racun dan racikan racunnya, dia menuang racun itu ke cream soup yang dia beli dari restoran cepat saji terkenal. Dia tidak menjawab pertanyaan Meda dan memilih menyiapkan uang untuk ditukar dengan Alina, "Gua pergi dulu." Izin Louie.


Teman-temannya menghela nafas, "Si brengsek itu ngelak mulu kalau dia udah suka sama perempuan." Celetuk Ganesha.


"Louie tsundere." Sahut Meda.


Laki-laki itu kembali menaiki motornya setelah menaruh racun dimakanan yang dia beli, dia menelusuri jalanan kota Depok untuk mencari keberadaan adik-adik dari Ren yang menculik Alina. Entah bagaimana bisa mereka menculik gadis yang baru saja membunuh orang itu, tapi Louie yakin mereka mengeroyok Alina sampai dia babak belur.


Dia pergi ke tempat sepi yang disebut Mark didalam pesannya, sebuah pabrik tua yang kotor, tempat Louie menaruh senjata apinya. Ini adalah kesempatan untuk menghabisi anak-anak itu, dia akan membuat skenario pembunuhan dimana adik dari Ren akan dia tembak secara brutal sementara Mark akan dia bunuh dengan racun.


Motornya berhenti tepat didepan pabrik, keadaan tempat ini sepi seperti biasa. Dia bisa melihat adik-adik dari Ren yang menunggunya dengan Alina dibelakang, sudah babak belur dan menatapnya sendu.


Amarah kembali muncul, bau darah Alina tercium sampai ke hidung Louie, "Ini duit yang lu mau, sekarang lepasin Alina." Kata Louie.


Mark maju sambil menodongkan pistol, Louie tidak kaget saat melihat Mark memegang pistol karena dia memang menjadikan tempat ini sebagai gudang senjata pribadinya. Dia tidak membawa bungkus makanan yang tadi dia bawa, beberapa burger dan minuman itu dia tinggal di depan pabrik.


"Lempar." Kata Mark.


Brak! Louie melempar kopernya, lalu mengangkat tangan menandakan dia tidak membawa senjata apapun. Mark masih menodongkan pistolnya dan mengambil koper berisi uang satu miliar, "Tobi, lepas ikatannya." Suruh Mark.


Anak smp yang bernama Tobi itu melepas ikatan tangan Alina dan membiarkan Alina berjalan ke arah Louie dengan keadaan sangat lemas, Louie mencoba mendekat dan memeluk gadis itu, "Lu apain Alina bangsat?" Tanya Louie.


"Bayaran atas apa yang dia lakuin terhadap Ren, gua tau kakak gua ngilang tanpa kabar pasti karena dia." Kata Mark.


"Lu ada bukti gak?!" Tanya Louie.

__ADS_1


Salah satu anak perempuan yang kini ketakutan menimpali, "Kak Ren itu ke rumah om terus! Tapi dia gak balik, soalnya kata kak Ren om bahaya!" Serunya.


Louie mengernyitkan dahinya lalu mengangkat tubuh Alina, "Kalau udah tau gua bahaya kenapa masih deketin, dah sana ambil aja tuh senjata sama uangnya." Katanya lalu berbalik.


Dor! Mark menembakkan satu peluru ke kepala Louie, beruntung laki-laki itu menggunakan helm yang sangat tebal dan keras, dia sama sekali tidak merasa sakit dan buru-buru pergi dari tempat itu.


"Bajingan."


Louie benar-benar tak habis pikir ada anak yang berani menembakan satu peluru ke orang lain semudah itu, tapi yang namanya dendam tetaplah dendam dan itu mengerikan.


Alina dia bawa lari sambil menghindari tembakan dari Mark, buru-buru dia pergi mencari tempat aman untuk Alina sebelum dia yang maju sendiri menghadapi Mark.


Ada sebuah pohon besar yang memiliki ruang didalamnya, Louie menyuruh Alina diam disana sedangkan dia menghadapi Mark sendirian. Dia tau Mark ingin mengambil uang serta membunuhnya bersama Alina karena kakak nya Ren.


"Maju sini, blackgod." Kata Mark.


Louie mengeluarkan sebilah pisau lipat dan berlari zigzag ke arah Mark, pohon dia jadikan pelindung agar bisa mendekat Mark. Dia menaiki pohon besar tanpa suara dan membuat anak lima belas tahun itu mengira Louie ada dibalik pohon, dia masih amatir karena itu Louie dengan mudah memberinya tipuan.


Buagh! Satu tendangan mengarah ke arah Mark tepat di wajah, Louie mengunci semua pergerakan Mark dan mengarahkan pisau lipatnya ke arah leher Mark, dia menaruh sebuah obat tidur dengan dosis tinggi kedalam mulut Mark dan menunggu efeknya bekerja.


"Amatir." Komentar Louie.


Laki-laki itu mengangkat tubuh Mark dan menaruhnya di dalam pabrik tua ini, terlihat disana adik adik dari Ren memakan makanan yang dia taruh didepam pintu. Mereka mulai keracunan makanan, mulutnya berbusa.


"K-kaahkk thoolonhkkk." Kata salah satu dari mereka.


Louie tidak menanggapi, dia menaruh Mark disamping mereka dan meninggalkan mereka disana. Meski tidak seperti apa yang Louie harapkan, setidaknya mereka menghilang bersama Ren.


"Aku sudah mengantar kalian ke tempat Ren, berterima kasihlah padaku." Ujar Louie, dia berbalik meninggalkan anak-anak itu.


Louie tidak perduli lagi dengan dosanya, dia mengambil kembali uang satu miliar tadi, "Aku ambil ini lagi, Mark."


Blackgod sudah menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan, sekarang hanya satu yang belum dia hadapi.


Arion.

__ADS_1


__ADS_2