
Alina menunggu kedatangan Wenda lagi, merasa takut kalau Louie tiba-tiba pulang dan memergokinya berusaha keluar. Ah tidak, dia tidak berusaha keluar untuk saat ini karena masih membutuhkan Louie untuk mengalahkan Arion.
Dia akan tetap bersama Louie sampai Arion sudah berhasil mati ditangan Louie baru setelah itu dia akan kabur dati jeratan pembunuh bayaran. Apa yang dia lakukan selama ini hanya tipuan semata agar dirinya terlihat lugu, sejujurnya dia sudah merasa was was dengan itu.
Tak lama dari itu Alina melihat Wenda berlari membawa palu ditangannya, Alina tersenyum senang saat Wenda berusaha membuka penguncinya. Dengan susah payah Wenda melepas kuncinya dan dia berhasil, jendela itu terbuka dan mereka saling bertatapan, "Nah udah selesai." Kata Wenda.
"Terima kasih, Wenda." Bisik Alina.
Wenda mengangguk lalu memberi makanannya, "Ini makan aja, kalau emang mau kabur kenapa gak dari sekarang aja? Kamu kan dikurung." Ujar Wenda dengan berbisik.
Alina menggeleng, "Aku gak bisa asal pergi, karena mau diluar atau didalam ada aja yang mau culik aku. Jadi aku berniat menghilangkan para penculik itu lebih dulu." Bisik Alina.
Wenda mengangguk paham, "Pakai polisi aja??"
"Gak bisa, pelakunya punya backingan polisi Wenda... Aku gak bisa asal ngejebak mereka, kalau asal-asal bisa-bisa aku dikurung lebih parah lagi." Jelas Alina berbisik.
Wenda menatao iba perempuan didepannya ini, dia juga sedikit merasa tidak nyaman saat berada didekat Alina, seperti ada gejolak aneh yang membuat dia ingin kabur dari sana, "Kalau begitu makan dulu ya, biar lilin yang kamu pinta tadi aku carikan besok." Pamit Wenda, dia melambaikan tangannya lalu pergi.
Alina mengangguk dan okut melambaikan tangannya, dia menutup jendela lagi dan memakan bingkisan salam kenal dari Wenda. Bingkisan itu berisi makanan manis dan juga beberapa buah, Alina memakannya sampai habis karena terlalu lapar. Louie sepertinya lupa membeli makanan yang layak dimakan untuknya saat sebelum pergi kemarin.
Alina sudah menduga itu dari awal.
Sama seperti Arion dulu yang sering lupa memberinya makan saat dia mengurung Alina. Arion tipe yang tidak begitu peduli jika miliknya rusak, terpenting dari itu dia ingin miliknya menjadi miliknya terus sampai akhir hayatnya atau sampai benda miliknya benar-benar hancur lebur.
__ADS_1
"EZRA! EZRA DIMANA LU?!" Pekikkan Arion menggema dirumah besar itu, dia mencari sosok Ezra yang menghilang beberapa hari terakhir, dia marah. Ezra tidak ada kabar seharian penuh yang tandanya dia belum menemukan keberadaan Alina dan Louie, "DIMANA EZRA?!" Tanya Arion pada salah satu pelayannya.
Pelayan itu menggeleng, "Saya tidak tahu, tapi dari yang saya dengar beberapa ajudan pergi ke Bandung, Bali, Purwokerto, Banyuwangi dan daerah sekitar Jabodetabek." Jelas pelayan itu.
Dahi Arion mengernyit, tidak suka mendengarnya, "Kalau udah sebanyak itu kenapa gak ketemu-ketemu? Payah."
Pelayan itu terdiam, dia tidak mau mati ditangan Arion jika membalas omongan Arion. Padahal ini baru dua hari setelah Alina dan Louie dicari tapi Arion terlalu berekspektasitinggi pada ajudan-ajudannya, dia pikir hanya butuh waktu satu hari saja untuk menemukan Alina.
Arion memijat pangkal hidungnya, "Cepat cari dia brengsek." Kata Arion.
Pelayan itu membungkuk lalu pergi keluar ruangan untuk berbicara dengan pelayan lainnya, Arion sibuk menendang laci yang sering jadi pelampiasannya saat ini. Auranya mencekam membuat siapapun mundur saat merasakannya, anak mafia ini memang meresahkan.
Dengan emosinya Arion pergi menuju bagasi mobilnya, mobil bmw hitam miliknya dia keluarkan, dia berniat turun langsung mencari keberadaan Alina. Tipe yang tidak sabaran dan sangat ceroboh jika marah, itulah Arion.
Namanya disebut berkali-kali sampai menyampaikan gejolak tidak aman pada Alina yang kini sudah selesai memakan makanannya. Merinding rasanya dan dia seperti disentuh oleh sesuatu meski dia sendirian, rasa takut kembali datang.
"Apa rumahnya beneran angker ya..." Gumam Alina.
Dia berjalan keluar rumah, menghindari berada didalam rumah seengaknya sampai dia mengantuk nanti. Kakinya melangkah keluar mencari udara segar, siang ini memang agak terik jadi Alina sedikit pusing karena tertimpa sinar matahari yang panas.
Ada kebun yang tak jauh dari tempatnya berdiri, itu kebun pohon jeruk dan Alina menatap jeruk-jeruk itu terus menerus, buahnya masih hijau pasti sangat asam jika dimakan. Alina berkeliling kebun dengan kaki tanpa alas, menginjak rumput dan tanah yang kotor itu. Sudah lama kakinya tidak merasakan menginjak rumput segar dan tanah yang subuh, ini seperti terapi.
"Aku udah lama gak nginjek ini..." Gumam Alina, kakinya menyinjak tanah yang sedikit lembab karena air siraman, mengingatkannya akan mandi lumpur saat dia kecil.
__ADS_1
"Eh jangah diinjak-injak!!"
Seruan seseorang membuatnya menoleh, ada seorang laki-laki tua yang menegurnya, dia sedikit mirip dengan Wenda jadi Alina langsung menebak dia adalah ayah dari Wenda. Mendengar seruan itu Alina mundur, "Maaf saya hanya ingin merasakan tanah lagi, udah lama saya gak nginjek tanah begini." Gumam Alina.
"Iya, jangan diulang lagi. Kamu ini tetangga baru ya?" Tanya si bapak itu, Alina mengangguk.
"Saya udah denger dari anak saya, katanya kamu dikurung sama si pemilik rumah? Kenapa kamu gak kabur dari rumah? Kan udah keluar dari sana." Kata si bapak itu.
"Saya gak bisa asal pergi pak, meski saya dikurung saya masih butuh dia buat bertahan hidup, tapi dilain sisi dia juga ngebuat saya ketakutan." Kata Alina sedikit menunduk, Ayah Wenda menghela nafas gusar, sedih mendengar penjelasan Alina.
"Kalau gitu, panggil aja kami kalau kamu butuh bantuan ya."
Tawaran itu Alina terima, dia senang keluarga Wenda adalah keluarga yang baik, dan ini mengingatkannya pada sang ibu. Ibu Alina adalah perempuan cantik yang sangat baik, karena itu ayah dari Alina merasakan jatuh cinta, mereka bertemu di China saat ibu dari Alina tengah study tour semasa SMA.
Sungguh kisah yang indah namun tidak dengan kisah cinta anaknya yang sangat mengerikaan, dicintai oleh orang gila.
"Iya pak, makasih udah nawarin bantuan saya pergi dulu... Sekali lagi saya minta maaf udah ngerecokin ya, saya pamit." Ujarnya sopan lalu pergi saat Ayah Wenda mengangguk.
Alina pergi kembali karena kepalanya sudah pusing, tapi rasanya tubuh kecil itu merinding, ada sesuatu yang harus Alina waspadai tapi Alina tidak tahu apa itu.
'Semoga gak terjadi apa-apa...' batin Alina.
Alina sedikit berpikir, dia akan bersembunyi di suatu tempat jika Arion sudah menemukannya, dia harus menemukan tempat itu meski rasanya mustahil karena Arion memiliki penciuman seperti anjing, Arion pasti akan menemukannya suatu saat nanti.
__ADS_1
Alina harus menyiapkan rencananya lebih dulu sebelum hari itu tiba.