Target Si Mafia

Target Si Mafia
Sembilan : Eksekusi


__ADS_3

Louie dan Alina kini tengah berada di Starbucks menunggu kedatangan Celina dengan mobilnya, ditas selempang Alina ada bom rakitan Louie. Sekarang Alina sudah tahu apa sebenarnya pekerjaan Louie, dia juga sudah tau siapa targetnya. Celina adalah saudara jauh Alina yang membuangnya dulu, yang tidak menerima dirinya sebagai saudara. Apakah Alina memiliki dendam? Ya, dia memiliki dendam juga terhadap Celina.


Louie makin dibuat tertarik dengan Alina, bukannya sedih Alina justru menunggu kedatangan Celina pagi ini, tangannya gatal ingin memasang bomnya. "Nanti kalau udah dateng, pura-pura aja jatohin barang dibawah mobilnya, habis itu tempelin bomnya." Bisik Louie pada Alina.


Ini adalah rencana sederhana, tidak perlu ada perhitungan dan Louie hanya tinggal menekan tombol aktif pada bom yang dia buat lalu akan terjadi ledakan besar ditempat kejadian, entah berapa orang yang tewas nanti, Louie tidak perduli.


Alina mengangguk paham, dia memakan cheesecake yang dibeli Louie dengan lahap, menunggu adalah hal yang tidak disukai Alina, dia bisa melakukan banyak hal saat menunggu seseorang, tapi kali ini dia harus sabar, "Saya sudah ingin melakukan ini dari lama, terima kasih sudah membuat saya bisa membalas apa yang dia lakukan ke saya." Kata Alina.


Louie menyilangkan tangannya, lalu menyeringai mendengar itu, "Ya sama-sama, gua gak nyangka lu terima aja ngelakuin itu." Kata Louie.


"Gak ada kata ampun buat orang yang udah ngebuang kita, Angkasa."


Tatapan kosong Alina membuat Louie mengingat kejadian masa lalu, dimana dia sudah tidak tahan berada dikeluarga strict yang hanya bisa menekannya, itu tatapan orang yang sudah memendam kebencian selama bertahun-tahun.


Bunyi pintu terbuka mengalihka perhatian Alina dan Louie, mereka melihat Celina akhirnya datang dengan baju croptop dan celana hotpants. Alina segera memakai masker untuk menutupi wajahnya, dia dan Louie segera beranjak untuk menaruh bom dibawah mobil Celina.


"Sayang, kunci mobilnya mana?" Tanya Louie, memulai berakting didekat mobil Celina.


Alina merogoh tas selempang, membuat skenario seakan kunci mobil mereka jatuh kolong mobil Celina dan membuatnya harus mengambil kunci itu. Disaat sudah mencoba merogoh kuncinya, dia menempelkan tiga bom rakitan Louie dibawah tempat mengemudinya.


"Hati-hati dong kamu? Bisa sampe jatuh begitu, ayo cepet ambil." Kata Louie.

__ADS_1


"Sebentar... Sa-saya-sayang." Kata Alina gelagapan, tidak terbiasa memanggil Louie dengan sebutan sayang.


Louie menutup wajahnya mendengar itu, diam-diam tersenyum dipanggil sayang oleh Alina. Namun dengan kemampuan mengendalikan ekspresi wajah, Louie kembali memasang wajah datar saat Alina sudah selesai melakukan pekerjaannya. Bok berhasil ditempel, mereka hanya tinggal menunggu esok hari saat dia pergi ke alun-alun kota Bandung sendirian.


Hari ini tanggal 4 April, sebelum adanya ledakan Louie dan Alina akan berjalan-jalan menikmati uang yang sudah diberikan, tidak semua memang karena menghabiskan lima ratus juta sehari benar-benar boros dan Louie bukan orang yang seperti itu. Mereka pergi ke sebuah Mall untuk bermain mandi bola, menghilangkan beban pikiran mereka.


Disana seru, bola-bola oranye yang nyentrik dimata mereka tampak menaikan mood mereka, melupakan apa yang akan mereka lakukan besok, tidak peduli akan ada berapa banyak orang yang mati.


Mereka hidup untuk diri mereka sendiri.


Mereka bersenang-senang, ah sebenarnya hanya Alina yang bersenang-senang, euforia nya membuat senyum Alina sumringah dan dia bermain bersama anak-anak disana. Berbeda dengan Louie yang menikmati minuman sambil duduk bersila dekat dengan kolam mandi bola, dia tidak berniat menceburkan diri kedalam ribuan bola itu yang dilakukan hanya melihat Alina dari jauh.


Dadanya tampak tenang melihat itu, dia merasa tidak memiliki beban lagi, semua nya hilang. Ini pertama kalinya dia memiliki perasaan lega, tapi perasaan itu hilang saat dia menatap seseorang mencurigakan diluar tempat mandi bola. Orang itu terlihat memakai kemeja putih dengan dasi di lehernya, tampak seperti pekerja kantoran tapi Louie sadar dia lebih mirip mata-mata dilihat dari mic yang dia pakai didekat kerahnya.


"Sayang, ayo pulang." Panggil Louie.


Alina menoleh lalu mengangguk, dia berpamitan dengan anak kecil yang tadi bermain dengannya, "Bye bye Reno, nanti kalau ketemu kita main lagi ya." Pamitnya. Reno mengangguk lalu melambaikan tangan ke arah Alina, "Bye bye kak Rosa!" Katanya.


Alina memakai nama Rosa sebagai nama samarannya sama seperti Louie yang memakai nama Angkasa dan beberapa nama palsu lainnya. Buru-buru mereka pergi dari Mall setelah membeli makanan kecil untuk cemilan nanti. Selama perjalanan Louie terus menyuruh Alina memakai maskernya meski didalam mobil, karena hal itu Alina jadi sadar pasti ada yang tidak beres.


"Ada yang natap lu dari jauh tadi." Kata Louie.

__ADS_1


Merinding, Alina merinding dia takut itu salah satu anak buah Louie yang dibayar untuk menangkapnya, dia kembali gemetar mendengar itu. Tubuhnya menegang dan keringat dingin keluar dari sela-sela jari serta keningnya, Alina kena serangan panik.


"Panik?" Tanya Louie.


Alina tidak menjawab.


"Kalo emang bener itu anak buah orang itu gua bakal bawa lu kabur lagi habis ini, tapi tetep ikut rencana gua, kerjaannya masih belum selesai." Kata Louie.


Selama perjalanan tidak ada yang bicara, bahkan sampai rumah pun Alina tidak merespon, rasa takutnya kembali datang padahal dia memiliki dendam yang harus dibalaskan, Louie tidak mau banyak pikiran, malas ikut campur dengan urusan emosi perempuan. Sulit untuknya mengerti seorang gadis, karena itu dia sampai saat ini single.


"Angkasa, kamu bakal lindungi saya kan? Kamu bakal sembunyiin saya kan? Saya takut..." Tanya Alina.


Louie yang kali ini tidak merespon, dia sibuk membaringkan tubuhnya yang lelah dikasur empuk rumah ini, Alina bicara didepan pintunya dengan nada gemetar, "Ya, masuk aja." Kata Louie.


Alina masuk dengan pakaian tidur longgar, matanya sedikit sembab dan dia terus menunduk, "Saya gak mau ketemu dia lagi..."


"Ya, gua tau. Besok latihan aja disini, gua bakal pergi kerja sendirian." Kata Louie. Dia menepuk kasur disampingnya, "Sini, tidur disamping gua. Buka dua kancing atas baju lu." Perintah Louie.


Seperti seekor anjing yang menurut pada tuannya, Alina membuka dua kancing bagian atas lalu berbaring disamping Louie, membiarkan Louie menghirup bau tubuhnya kembali. Setidaknya Louie tidak bertindak lebih sampai membuatnya menjadi mainan ****, berbeda dengan Arion yang tidak punya hati nurani.


"Aneh, bau tubuh lu candu. Pakai parfume apa, Alina?" Tanya Louie.

__ADS_1


"Saya gak pakai parfume apapun... Ini memang bau tubuh alami saya. Karena ini Arion... Jadi..." Kalimat tidak dilanjutkan Alina, dia tampak gemetar kembali. Louie mengeratkan pelukannya, membuat Alina sedikit tenang, "Gua gak tau siapa Arion dan apa masalah mental yang dia punya, tapi jangan khawatir kalau dibanding Arion gua lebih kuat. Dia yang bakal mati lebih dulu." Kata Louie.


Alina menatap Louie intens dia menangis kembali, "Terima kasih."


__ADS_2