Target Si Mafia

Target Si Mafia
Sembilanbelas : Dikurung


__ADS_3

Kini Ezra tengah bersama Luna ditaman rumah sakit, mereka bicara berdua sambil tertawa-tawa. Rasa lelah hilang begitu saja, Ezra kembali merasa tenang setelah digempur oleh perintah Arion yang kadang diluar nalar.


"Teteh..."


Ezra dan Luna menoleh ke arah suara, itu Ursa yang datang dengan membawa sebuah kotak bekal ditangannya. Luna menghampiri adiknya lalu memeluknya, "Jauh jauh kamu kesini, ngapain kesini Ursa?" Tanya Luna.


"Ini teh aku bawa makanan, tadi iseng buat makanan, nyoba resep baru." Katanya.


"Iya? Makasih Ursa, ini kenalin temen teteh orang yang bantu teteh waktu itu." Kata Luna, mengenalkan Ezra pada Ursa.


"Halo kak, saya Ursa adiknya teh Luna." Katanya.


Ezra mengangguk, "Saya Ezra, salam kenal."


Ursa hanya tersenyum sebagai balasan, sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Ezra yang tampak menatapnya terus-terusan, "Aku mau pergi dulu ya teh? Mau kerja." Pamit Ursa, Luna mengangguk lalu melambaikan tangannya.


"Kerja apa kamu?" Tanya Ezra tiba-tiba.


"Itu saya kerja jualan dorayaki kak." Jawab Ursa gugup.


"Dari pada kamu jualan itu mending kamu ikut saya? Lowongan kerja dengan gaji lima puluh juga perbulannya, mau?" Tanya Ezra.


Ursa sedikit terkejut, sebenarnya jualan dorayaki jauh lebih untung, dia sehari bisa dapat sekitar dua-tiga juta, karena hal itu dia menggeleng, "Saya lebih suka jualan, kak." Jawabnya.


"Kalau begitu, ini."


Sebuah kartu nama Ezra berikan pada Ursa, "Kalau butuh pekerjaan lain datang ke saya." Kata Ezra.


Ursa menerimanya dengan senang hati, dia langsung pergi setelah pamit lagi. Anak yang sopan dan pekerja keras, sama seperti kakaknya Luna. Ezra benar-benar senang bisa dekat dengan keluarga baik seperti itu, meski dia harus merasa sakit hati tiap hari karena perempuan yang dia cintai sudah jadi milik orang lain.


Tapi bagi Ezra cinta bukan soal memiliki, tapi mengikhlaskan juga jika dia bukan takdirmu.


"Ezra, saya boleh tanya?"


"Tanya apa?"


Luna sedikit berdehem, "Sebenarnya kamu kerja apa sampai bisa punya banyak uang begitu?"


"Saya kerja buat keluarga kaya raya, bisa dibilang ajudan dan kerjaan saya cuma ikutin semua perintah dari atasan saya, ditambah saya juga bekerja di perusahaan keluarga itu jadi gaji saya double." Jelas Ezra. Luna mengangguk paham, bagi dia wajar kalau gajinya besar, Ezra bekerja disebuah keluarga kaya jadi tidak perlu khawatir masalah biaya.

__ADS_1


"Luna, lanjutkan pekerjaanmu." Perintah seseorang.


Luna menoleh, lalu mengangguk pada seniornya, "Maaf Ezra, sepertinya saya harus lanjut bekerja." Katanya.


Ezra mengangguk, dia membiarkan Luna pergi meninggalkannya. Ya tidak apa, baginya berbicara dengan Luna saja sudah cukup. Dia juga harus lanjut pergi melacak keberadaan Louie dan Alina, kalau lalai sedikit bisa-bisa dia dihajar Arion.


Arion tidak akan suka pekerjaan yang lalai, karena itu dia merasa tertantang saat ada orang yang lebih baik dalam bekerja dari dirinya, Ezra akui Arion bekerja memang sangat baik, tapi saat melihat bagaimana Louie bekerja dan menghabisi musuhnya dengan cepat, membuat Ezra sadar kalau Louie memang ada untuk melawan Arion.


Pekerjaan Louie yang berat ini membuat Alina sedikit khawatir dia akan ketahuan oleh pihak kepolisian, dia setiap hari merasa takut dengan sirine polisi atau ambulance yang tidak sengaja lewat. Tapi Louie terlihat santai, dia bahkan masih menjalani pekerjaannya.


Kali ini dia dibawayr untuk membunuh salah satu anak pengusaha kaya di Bandung, karena itu Louie harus meninggalkan Alina. Sebelum dia meninggalkannya, Alina dikunci didalam rumah sampai dia kembali.


Benar, Alina kini tengah dikurung.


"Sudahku duga mereka sama aja, gak ada bedanya. Psikopat tetaplah psikopat." Gumam Alina saat pintu kunci rumahnya tidak dia temukan sama sekali.


Alina mencari barang yang bisa membuat dia kabur dari rumah ini sebelum Louie pulang lagi, namun karena ini adalah rumah baru, perabotannya sama sekali tidak memadai, bahkan piring dan gelas hanya ada dua pasang saja.


Alina mencoba mencari pisau tapi tidak kunjung ditemui, keadaannya persis saat dia dikurung oleh Arion disebuah rumah, sama sama dikunci dan jauh dari penduduk sekitar. Tetangga yang paling dekat saja berjarak duaratus meter, dia tidak bisa meminta bantuan.


"Sendok, sendok, sendok..." Gumam Alina mencari sendok besi dirumah ini.


Saat dia mengintip diatas kulkas dia menemukan sebuah pisau kecil didekat kardus bekas beli piring. Dia segera mengambilnya dan berusaha mencongkel jendela yang dikunci dengan kunci manual dari luar. Memang agak aneh, tapi rumah ini kunci jendelanya dari luar tidak lazim untuk sebuah rumah.


Rumah ini gelap karena belum dipasang lampu, dia hanya berani dikamar saja terlebih saat malam, sementara sekarang sudah jam empat sore, dua jam lagi adzan maghrib akan berkumandang dan matahari sepenuhnya akan tenggelam.


"ayah... Ayah tolong aku..." Gumamnya, ketakutan.


"Mereka sama gilanya, Ayah... Salah besar aku minta tolong padanya waktu itu."


Alina mengutuk dirinya sendiri, merasa bodoh meminta tolong pada orang yang sikapnya sama, Louie memang kelihatan baik pada awalnya, dia menolongnya tapi Alina tau obsesi itu tetap menyeramkan, Louie juga terobsesi padanya.


Keluar kandang singa dan masuk ke kandang harimau, itu keadaan Alina sekarang. Tapi itu berita bagus, kalau saja memang Louie lebih kuat dari Arion, Alina bisa memakainya seperti apa yang dia harapkan, dia harus mencari celah untuk terlihat di'culik' oleh Arion dan membuat mereka berdua berakhir dengan saling membunuh satu sama lain.


"Ayo berpikir... Berpikir... Aku tau kamu pinter..." Gumam Alina, kepalanya diketuk beberapa kali, memaksakan otaknya memikirkan sebuah strategi.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk terdengar, Alina segera berlari ke dekat pintu. Yang datang ini bukan Louie, itu tetangganya. Seorang perempuan cantik dengan mata hitam terlihat dari kaca jendela, Alina tidak bisa membuka pintunya katena terkunci.

__ADS_1


"Halo? Apa ada orang?" Tanya perempuan itu.


Alina menulis sebuah surat, dia menyelipkannya ke bawah pintu, 'Aku terkunci disini, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa soal ini... Aku ingin minta bantuan darimu.' dia menulis itu diatas kertasnya.


Perempuan yang tidak diketahui namanya itu mengambil kertas itu dengan kebingungan, dia membacanya dan sedikit terkejut, "Halo mba? Mas? Ini ada yang bisa saya bantu?" Tanya perempuan itu.


Alina menulis kembali, 'Kecilkan suaramu ya? Disini ada alat perekam suara, aku dikurung disini. Apa kamu bisa datang lagi besok?'


Selanjutnya Alina mendengar ada yang berbisik, 'Halo mba? Jadi saya harus apa?' begitu bisikannya.


Sela-sela pintu itu sedikit ada cahaya masuk, Alina dan perempuan itu saling bertatapan lewat celah itu. Terlihat perempuan itu terkejut saat melihat Alina yang sedikit berantakan, dia gemetar, "Mba bukan setan kan?" Tanyanya.


Alina menggeleng, "Saya manusia..."


Perempuan itu menghela nafas lega, "Nama kamu siapa? Biar saya bantu." Katanya.


"Alina, namaku Alina, siapa namamu?"


"Wenda. Jadi apa yang harus saya bantu, Alina?" Tanya Wenda.


"Besok datanglah lagi saat pagi hari, bawa lilin mainan ya."


Wenda kebingungan, buat apa lilin mainan? Begitu pikirnya, "O-oke? Cuma itu?"


"Iya tolong, ini benar-benar aku butuhkan." Kata Alina.


Wenda mengangguk, "Ini aku taruh disini ya makanannya, aku pergi dulu." Kata Wenda, namun sebelum pergi Alina menahannya, "Tunggu sebentar, wenda."


Wenda berbalik, "Kenapa?"


"Ambil saja makanannya, aku tidak bisa mengambilnya, pemilik rumah gak bakal kembali dalam beberapa hari. Kalau mau bantu aku membuka jendela disamping." Kata Alina.


"Katanya ambil lilin aja?"


"Itu untuk yang lain lagi, kali ini aku hanya ingin makan, disini makanannya sedikit." Kata Alina.


Wenda pergi berjalan ke arah samping kiri rumah, terlihat ada jendela yang di kunci disana. Alina juha sudah kembali lagi dan mereka bertatapan lewat jendela, "Ini dikunci terlalu rapat... Aku tidak bisa membukanya." Gumam Wenda.


Jendela ini dikunci dengan kayu yang dipaku, tidak ada yang bisa buka selain didobrak atau dilepas pakunya. Wenda mencari barang yang bisa mencabut pakunya namun nihil, dia membuat gestur sebentar pada Alina dan pergi berlari ke rumahnya.

__ADS_1


Alina menggigit jarinya cemas, dia ingin menghirup udara bebas, bukan dikurung lagi seperti ini, Louie dan Arion benar-benar menjijikan.


Mereka seperti pinang dibelah dua.


__ADS_2