
Ezra kini berada dirumah Louie bersama Arion tentu saja, mereka tengah duduk dibangku ruang tamu menunggu kedatangan Louie dan Alina. Pintu tidak dikunci sama sekali karena Louie tadi terlalu panik, Ezra bingung kenapa pintunya tidak dikunci padahal maling bisa saja masuk ke dalam, dan lagi ada uang satu miliar disini.
Kotak koper yang semalam belum dipindahkan, Arion maupun Ezra sudah melihat isinya dan tertawa, bagi anak yang sejak kecil dimanja Arion tentu saja sudah memakai miliaran uang, dia meremehkan Louie yang hanya memiliki sedikit uang.
"Kalau memang perempuan suka uang kenapa Alina nggak ya? Gua pikir dia bakal nempel sama gua karena gua kaya." Ujar Arion.
"Gak semua perempuan suka uang, kalau semuanya suka uang gua seharusnya udah nikah sama Luna." Balas Ezra.
Arion tertawa, "Kesian cinta pertamanya diambil orang."
Ezra menatap datar Arion, padahal keadaan Arion saat ini juga bisa dikatakan 'cinta pertama diambil orang', kalau memang Louie adalah pembunuh bayaran seharusnya Alina takut dan kabur tapi ini sama sekali tidak ada perlawanan, Ezra yakin Alina nyaman berada dekat dengan Louie.
Tapi mulutnya tidak berani bilang begitu, bisa bisa dia mati karena Arion. Meski terlihat lebih kurus darinya, Arion benar-benar gesit, dia bisa membunuh dengan mudah tanpa pandang bulu mau dia perempuan atau laki-laki.
"Orangnya lagi pergi, lu gak mau cari keluar?" Tanya Ezra.
"Nggak dulu, gua bakal nunggu mereka sampai balik." Kata Arion, dia berdiri dari sofa lalu masuk ke dalam kamar yang semalam dia masuki.
Arion mengendus lagi, baunya masih sama meski sedikit ada bau darah, dia berbaring kembali menikmati bau yang membuatnya candu, penciuman Arion memang seperti anjing, dia juga menyukai bau perempuan yang khas.
"Ezra ambilkan air minum." Kata Arion.
Ezra mengambil air minum dari kulkas Louie, ada sedikit rasa tidak enak karena ini bukan rumah dia maupun rumah Arion, namun dibanding harus babak belur sepertinya meminta air minum dirumah Louie tanpa izin jauh lebih baik.
"Ini."
Arion meminum airnya, "Yah ternyata air minum setiap rumah beda beda rasanya, ya."
"Sama aja, kalau dari galon. Tapi sepertinya anak ini lebih sering memasak air dari pada membeli galon." Balas Ezra.
__ADS_1
"Begitu, oiya lu pergi aja biar gua disini nunggu Blackgod dateng."
"Maaf, gua gak bisa. Ayah lu nyuruh gua jagain lu, jadi jangan harap liat gua pergi." Kata Ezra.
Arion berdecak, satu-satunya hal yang membuat dia diam berkutik adalah ayahnya sendiri, jika Ezra sudah diperintah ayahnya dia tidak akan mau berhenti. Yah anak laki-laki itu tetaplah anak laki-laki, dia takut pada ayahnya yang lebih kejam darinya.
"Tck, ganggu."
Arion memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dikasur Alina. Dia tidak peduli nanti dia akan di bunuh Louie atau tidak, Ezra ada disini untuk melindunginya jadi tidak masalah.
Jam demi jam sudah berlalu, ini sudah menunjukan pukul empat sore tapi Arion masih belum bertemu dengan Louie. Dia mulai muak menunggu lebih lama, dia ingin langsung bertemu tapi tidak tahu dimana perginya mereka.
"Capek nunggu?" Tanya Ezra.
"Ya, ke kosannya aja deh." Kata Arion.
Mereka pergi ke kos-kosan Louie seperti yang dipinta Arion, sayangnya Louie tidak ada disana juga, pintu kosannya pun dikunci. Hal itu membuat Arion menggebrak pintunya, "Brengsek dia dimana, apa kemampuan dia udah buruk makannya gak ketemu?" Ujar Arion, marah.
"Penculikan gak bisa langsung ketemu dalam waktu dua hari." Kata Ezra.
"Tapi buat Blackgod, bukannya itu bisa dilakuin? Gua tau dia gak segoblok itu, dan penculiknya juga salah target malah milih Alina yang lagi sama Louie." Kata Arion.
Ezra terdiam, memang benar apa yang dikatakan Arion, Louie adalah orang yang cerdik dan bisa melakukan pekerjaan dalam waktu cepat, dia bisa mencari keberadaan seseorang dengan tenang dan tentunya dalam waktu singkat. Namun, bukannya jika seseorang panik otaknya akan mengalami blank? Mungkin itu yang terjadi pada Louie.
Ezra sudah mendengar apa yang terjadi dari Arion, dia tau Alina diculik oleh seseorang saat sedang berada dirumah sendirian dan sekarang seharusnya Alina sudah berhasil dibawa kembali mengingat Louie bukan sembarang orang seperti Arion.
"Mau cari dimana lagi?" Tanya Ezra.
Clak! Pintu terbuka, menampilkan Ozimaru tetangga dari Louie yang baru saja bangun tidur, "Kalian berisik, ada urusan apa sih sama si Louie?" Tanyanya.
__ADS_1
"Dimana Louie?" Tanya Arion balik.
"Ya mana gue tau? Gue kan gak deket banget sama Louie jadi buat apa lu nanya ke gue, cari aja orangnya dan jangan ganggu." Kata Ozimaru, kesal bobo cantiknya diganggu.
Dahi Arion mengernyit, "Hah..."
"Ekhem... Maaf mengganggu waktunya, kalau Louie pulang apa bisa kamu beritahu saya? Saya ada urusan dengan dia, silahkan hubungi saya lewat ini." Sahut Ezra, mencoba agar Arion tidak mengamuk, dia juga memberikan kartu namanya pada Ozimaru, "Tenang, nanti saya bayar kalau kamu bisa diajak kerjasama." Kata Ezra.
Ozimaru tersenyum senang mendengar ada bayarannya, "Oke nanti gue kasih tau kalau dia udah pulang." Kata Ozimaru.
Ezra mengangguk, dia menarik Arion dari sana, "Kita pulang dan tunggu aja kabar dari dia."
Arion tidak menggubris, dia juga pergi pulang kembali kerumah setelah tidak dapat kabar dari Louie yang kini masih ada dirumah sakit karena Alina mengalami tifus akibat kelelahan dan banyak pikiran.
Dia berbaring lemah dikasur dan terus meminta maaf pada Louie, "Angkasa... Maafkan saya udah repotin kamu." Katanya.
"Gak masalah, lu gak ngerepotin." Balas Louie.
"Maaf..." Katanya lagi.
Louie menghela nafas, lalu bangkit berniat pergi keluar, "Mau kemana... Angkasa..." Kata Alina.
"Mau ke kantin sebentar."
Alina tidak menahan Louie, sudah pasti laki-laki itu lapar karena belum makan dari kemarin hanya untuk mengurusnya saja, perasaannya lega karena ternyata didunia ini masih ada orang yang baik dengannya, masih ada orang yang peduli dengannya.
Alina sangat bersyukur dengan keberadaan Louie, meski sudah membunuh banyak orang, Alina tidak masalah dengan itu, dia tidak takut. Dia butuh Louie untuk rencananya membalas dendam pada Arion, Alina yakin Louie lebih kuat dari Arion dalam masalah fisik.
Alina ingin memakai Louie sebagai senjatanya melawan Arion.
__ADS_1