
Suara motor melaju kencang terdengar di tengah macet nya Jakarta, Louie bersyukur dia menggunakan sepeda motor milik Arsen, meski hanya beat merah muda, Louie bisa lebih dulu sampai di Depok saat ini karena Arion terjebak macet. Dia harus membawa Alina pergi terlebih dahulu.
"ALINA! ALINA!" Teriak Louie.
Tanpa mematikan motor dia memanggil Alina, sayangnya nihil tidak ada jawaban dari Alina. Dikamar, ditoilet, didapur, ditaman belakang, bahkan dibasement Louie tidak bisa menemukan Alina. Dia sudah frustasi Alina tidak ada dirumahnya.
Yang dia temukan justru rumahnya yang berantakan dan kertas note yang tertulis,
'Aku akan mengambil kembali Alina, see you next time Blackgod.'
Tanpa harus berpikir lagi Louie menebak kalau Arion menyuruh anak buahnya untuk menangkap Alina, terlihat dari kasur Alina yang tampak berantakan, sudah dipastikan perempuan itu melawan tidak mau dibawa oleh anak buah Arion.
Bruk! Pintu dipukuk Louie keras, dia kembali keluar dan menemukan sebuah note kecil didekat kulkas. Tertulis disana jika Alina sudah tidak berada ditempat ini lagi, Alina pergi bersama seseorang. Geraman keluar dari mulut Louie, benar-benar frustasi perempuan yang dia inginkan diambil seseorang. Dia menuduh Arion sebagai pelakunya, laki-laki itu benar-benar membuat Louie kehilangan apa yang dia mau.
Brak! Brak! Prang! Bunyi suara benda dibanting terdengar, Louie sudah diambang marahnya. Dia pergi keluar menunggu kedatangan Arion, tangannya sudah mengepal kuat, kukunya bahkan hampir menancap ditelapak tangannya.
Orang orang yang tinggal didekat rumah Louie tidak bisa berkutik melihat Louie yang wajahnya sudah merah padam karena amarah, mereka takut. Louie mencoba menenangkan pikirannya, kembali tenang seperti semula, mencoba berpikir logis saat ini. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa semarah ini hanya karena dua bola mata hijau, seharusnya dia tidak perlu peduli dengan perempuan itu.
"Brengsek..." Gumam Louie.
Ketika tenang wajahnya kembali datar seperti biasa, dia menunggu kedatangan Arion atau teman-temannya. Entah siapa yang datang lebih dulu, Louie hanya tinggal menunggu saja.
Tidak berselang lama sebuah mobil datang, mobil yang sudah Louie tunggu-tunggu. Mobil milik Arion kini berada tepat didepan rumahnya, Arion keluar dengan pistol ditangannya, dia memiliki stok pistol jika salah satunya diambil. Mereka berdua berhadapan, saling menatap tajam.
"Dimana Alina?" Tanya Louie.
"Loh bukannya sama lu? Gua kesini buat jemput Alina." Kata Arion, sedikit bingung.
__ADS_1
Kerah baju Arion ditarik kencang, Rahang Louie mengeras dan tatapannya semakin tajam seperti siap melahap siapa saja, "Lu bayar orang buat jemput Alina kan?! Dimana dia brengsek!?" Tanya Louie.
Arion mendorong Louie, "Fitnah, gua baru sampe sini mana bisa Alina gua ambil bodoh."
Louie menatap tajam Arion dan dia kembali mengambil kunci motornya, melaju kencang mencari keberadaan Alina berada. Tidak ada jejak lain selain note yang tadi dia temukan, Alina diculik entah oleh siapa.
Jika Arion bukan orangnya, lalu siapa?
Hari itu terasa menegangkan bagi Louie, ini pertama kalinya dia tidak mau kehilangan seseorang, ah tidak dari awal Louie menginginkan mata hijau itu, tidak ada hal lain yang diincar selain itu, begitu pikirnya.
Sementara Arion mengambil note yang terjatuh dilantai, dia tersneyum puas dan mencium bau dari kertas itu. Dia bersyukur memiliki penciuman yang tajam, dia mencium bau seorang laki-laki dikertas itu dan dia pergi ke kamar berantakan yang tadi dimasuki Louie.
"Hm.... Bau nya menempel di seluruh sudut ruangan, Alina sudah tinggal disini lumayan lama." Guman Arion.
Arion berbaring diatas tempat tidur berantakan dikamar itu, mencium baru tubuh Alina yang menempel disana, pipinya memerah dia kecanduan baru tubuh Alina yang manis, benar-benar manis.
"Alina Alina Alina Alina Alina Alina Alina." Gumam Arion.
Biarkan Louie yang mencarinya, Arion bagian merebutnya dari Louie.
Rencana Arion dari awal bukan mencari Alina yang diculik tapi mengambil Alina kembali untuk jadi miliknya lagi, Arion tidak mau buang-buang tenaga lagi mencari gadis itu.
"Sampai jumpa lagi, Louie." Ujarnya meninggalkan rumah Louie.
"WOY! JANGAN KABUR LU ALEON!" Teriak Meda.
"Arion namanya med." Sahut Ganesha.
__ADS_1
"Suka suka gue, CEPET CARI SI LOUIE KEMANA." Kata Meda, panik. Louie tidak ada dirumahnya disaat rumahnya berantakan, mereka tau Louie bukan anak yang membiarkan rumahnya kotor jadi ini pasti ada hak yang terjadi.
Arsen sesegukan, Meda dan Ganesha menoleh ke arah Arsen yang menangis, "Lu kenapa?!" Tanya Meda.
"Hiks... Ini kenapa, gue cuma pengen main ps aja kok sampe ada ginian hiks... Louie kemana?" Tanya Arsen.
Sosok Arsen yang dikenal tangguh memang aslinya adalah anak cengeng, dia suka khawatir kalau terjadi apa-apa pada temannya termasuk Louie. Ganesha menepuk dahinya melihat Arsen menangis, dia mencoba menenangkan Arsen, "Udah, si Louie pasti baik-baik aja."
"Semoga..." Gumam Meda.
Keributan yang terjadi ini membuat Louie pusing tujuh keliling, dia bertanya pada orang-orang apakah mereka melihat perempuan bermata hijau atau tidak, namun tidak ada yang melihat Alina dimanapun. Louie frustasi, apa yang dia ingin kan hilang begitu saja karena ulah seseorang.
Pikirannya kacau, Arion sepertinya memang bukan pelaku yang menculik Alina, terlihat wajahnya yang marah saat Louie memfitnahnya. Satu-satunya hal yang Louie pikirkan adalah tempat pertama kali mereka bertemu sayangnya meski Louie ke tempat ini lagi dia tidak menemukan batang hidung perempuan yang dicarinya.
Brak! Helm dia banting karena marah, wajahnya masih memerah padam dan dia berpikir untuk membunuh siapa saja yang mengambil Alina saat ini.
"Gua cari lu sampe ke ujung dunia, kalau ketemu gua bantai lu semua." Gumam Louie.
Kring! Kring! Handphone Louie berdering tanda telepon masuk, ada nomor asing yang menelepon dan dia langsung mengangkatnya, "Halo, kenapa?" Tanya Louie.
'Mau cewek ku balik? Tukar uang satu miliar buat bayaran atas nyawa kak Ren yang udah lu bunuh' Ujar si penelpon.
Louie melotot marah, dia mengatahui jelas suara ini, ini adik dari Ren yang paling muda tapi dia sudah melakukan penculikan seperti ini. Tangan Louie sudah berurat seperti ingin memukul sesuatu, "Jangan sentu Alina sebelum gua tuker uangnya ke lu, Mark." Ujar Louie.
'Ya, gua tunggu sampai jam delapan malam, lebih dari itu gua bunuh cewek lu. Jangan bawa senjata apapun kalau gak mau cewek lu gua bunuh.' Ujar si penelpon bernama Mark ini.
"Hm, gua kesana."
__ADS_1
Louie marah, dia tidak berniat membawa senjata apapun tapi dia berencana untuk membunuh mereka dengan racun.
"Mati lu."