Target Si Mafia

Target Si Mafia
Enambelas : Sakit


__ADS_3

Mereka berdua pulang ke rumah saat larut malam, tidak ada orang yang lewat jalan sepi ini, Louie tau jalan mana yang aman agar tidak dilihat orang-orang. Sementara Alina dibelakang memeluknya erat, tidak ada yang berbicara diantara mereka.


Sampai akhirnya di rumah, Ganesha sudah menunggu kedatangan Louie dengan wajah khawatir. Dia bersyukur Louie baik-baik saja saat ini, dan dia terkejut melihat seorang gadis terluka dibelakang Louie.


"Itu Alina? Cepet obatin lukanya." Kata Ganesha.


Alina dibopong menuju kamar Louie, tapi dia tidak membiarkan teman-temannya masuk kedalam, "Kalian tunggu diluar, biar gua yang urus yang ini." Kata Louie.


Teman-temannya menghela nafas, "Yaudah silahkan gua numpang tidur dirumah lu dulu ya." Kata Meda sambil pergi ke kamar atas.


Louie tidak menggubris, dia menutup pintu dan mengambil kotak obatnya. Tubuh Alina kotor dan Louie tidak peduli dengan itu, lukanya lumayan banyak dan sepertinya ada tulang yang patah disini.


"Ini harus dibawa ke rumah sakit..." Gumam Louie.


Louie hanya bisa membersihkan lukanya dan mengganti pakaian Alina, dia tidak bisa mengobati tulang patah dan kepala yang bocor. Tapi dia tau jika saja Alina dibawa kerumah sakit, dia bisa ketahuan sudah membunuh anak-anak tidak bersalah.


Karena itu Louie memutuskan untuk pergi besok saja karena ini sudah malam, dia mengelus kepala Alina lalu mengecup dahi gadis itu.


"Tidur yang nyenyak Alina."


Louie pergi keluar kamar, menemui temannya yang lain. Tubuhnya kelelahan karena terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, sarung tangan yang biasa ia pakai sudah dia buang ke tempat sampah, dia berbaring di sofa, tepar.


"Capek lu? Tumben, ini pertama kalinya gua liat lu begini." Kata Arsen, matanya kelihatan merah, tanda dia habis menangis.


"Ya, capek. Ini pertama kalinya gua mau repot-repot nolong orang." Kata Louie.


Ganesha dan Arsen bertatapan, mengerti kenapa anak ini repot-repot menolong orang sampai kelelahan seperti ini. Namun tidak ada yang berbicara karena mereka tau Louie akan mengelak dengan perasaannya sendiri, Arsen merasa lega akhirnya Louie bisa menyukai perempuan.


"Yah akhirnya..." Gumam Arsen.


Louie mendelik, "Apa akhirnya?" Tanyanya.

__ADS_1


Arsen menggeleng namun wajahnya terlihat senang membuat Louie kebingungan, sementara Ganesha ikut kebingungan kenapa Arsen senyum-senyum.


"Lu gila ya senyum senyum begitu?" Tanya Ganeshaa.


Arsen menggeleng, "Yaudah gua mau pulang, yuk Ganeshaa pulang dulu. Biarin si Meda sendirian, dia kan naik sepeda." Kata Arsen.


Ganesha megangguk, dia pamit pada Louie dan Arsen mengambil kembali kunci motornya yang dipakai Louie. Mereka pulang meninggalkan Meda yang tertidur di kamar atas, menginap dirumah Louie yang besar ini.


Louie sendiri sudah mulai mengantuk, matanya terpejam dan berakhir dia tertidur lelap disofa ruang tamunya.


Ini pertama kalinya Louie tertidur selelap ini, tidak seperti biasanya anak itu bangun jam sebelas siang karena sakin lelapnya, bahkan Meda sudah meninggalkan note dimeja tanda dia sudah pergi. Sarapan bekas Meda juga belum dibersihkan, kebiasaan buruk anak itu memang jorok.


Louie beralih ke kamarnya, disana masih berbaring Alina yang sepertinya baru bangun juga. Badannya kelihatan susah gerak, dia menatap Louie dengan matanya yang sudah berlinang air mata, "Angkasa... Sakit..." Katanya.


Hati Louie terasa sakit entah karena apa, padahal tidak ada pisau yang tertusuk tapi rasanya sakit. Laki-laki itu segera menyiapkan mobil miliknya, dan menggendong Alina ke mobilnya agar bisa dia bawa ke rumah sakit.


"Angkasa..." Panggilnya.


"Hm??" Tanya Louie.


Dada Louie bergejolak, rasanya seperti ada yang mengganjal dan Louie tidak menyukai perasaan ini. Laki-laki itu mengernyit dan memegang dadanya, ada gejolak aneh yang tidak dia mengerti.


'Ada apa ini, sepertinya aku kena penyakit jantung...' Batin Louie.


Tidak ada yang berbicara, hanya ada isakan tangis Alina, Louie semakin mengencangkan mobilnya agar cepat sampai ke tujuan, rumah sakit tempat biasa dia menjalani pengobatan jika terluka atau hanya sekedar check up kesehatan.


Sampai sudah di rumah sakit, dia bergegas membawa Alina yang badannya juga menghangat, memanggil suster agar buru-buru dirawat. Alina harus dibawa ke ruang ICU karena luka yang dideritanya, Louie menunggu diluar pintu ruang ICU, melihat bagaimana Alina ditindak agar lukanya tidak infeksi.


Dia berharap tidak terjadi apa-apa pada Alina, ini pertama kalinya dia merasa cemas dan dia tidak mengerti perasaan apa yang bergejolak, sama seperti Arion dia ini tidak memiliki perasaan sebelumnya.


Arion sendiri saat ini tengah menikmati mandi air hangat dirumahnya yang bak istana itu, wangi pinus yang sedikit maskulin memasuki penciuman Arion tiap harinya, menikmati harta kekayaan yang dihasilkan dari tindak kejahatan seperti penyelundupan narkoba dan sebagainya.

__ADS_1


"Hm udah dua hari setelah kejadian itu, yah semoga baik-baik saja." Gumam Arion.


Tubuh atletis itu terlihat jelas saat Arion berdiri, seorang pelayan memberikannya handuk kimono hijau dan menyiapkan pakaian untuk Arion.


"Hari ini ada jadwal apa?" Tanya Arion.


"Tidak ada tuan, kami sudah mengosongkan jadwal atas perintah ayah anda." Katanya.


Arion bingung, "tumben ayah gak mau dibantu, biasanya minta tolong terus. Yasudah, siapkan mobil aku akan pergi ke rumah Louie lagi." Katanya yang diangguki sang pelayan.


Baju vintage bermerek Dior sudah dia pakai rapih, badannya wangi dan rambutnya dia sengaja tidak sisir lebih dulu, dia biarkan rambutnya kering dijalan nanti.


Gaya Old money memang melekat hebat ditubuh Arion, bahkan Ezra yang merupakan bawahan Arion. Mereka kaya dan tidak perlu menunjukan merek pakaian mereka untuk terlihat mahal.


"Arion, mau kemana lu?" Tanya Ezra.


"Ke rumah Louie, gua mau ketemu bidadari lagi setelah berbulan-bulan gak ngeliat." Kata Arion.


"Udah ketemu? Kata lu dia diculik."


Arion menyeringai ke arah Ezra, "Gua yakin orang selevel Blackgod bisa selesaiin dengna mudah, Alina pasti udah ketemu." Kata Arion.


Ezra terdiam melihat Arion, dia tidak akan menghalangi Arion karena ranahnya hanya untuk bekerja dibawah perintah saja, tidak ada yang harus Ezra tahan, Arion adalah hewan buas yang susah untuk dikendalikan.


"Ezra." Panggil seseorang.


Dia menoleh dan menemukan ayah dari Arion disana, "Kenapa pak?"


"Ikuti Arion, akhir-akhir ini dia suka lepas kendali." Perintahnya.


Ezra mengangguk mengiyakan, baru setelah itu dia mengikuti Arion dengan motor pribadinya yang terparkir dibagasi rumah Arion. Sebagai kepala pelayan Ezra memang tinggal dirumah ini bersama Arion dan ayahnya juga, dia adalah anak kesayangan dari ayah Arion.

__ADS_1


"Jangan lupa bawa obat penenang milik Arion." Lanjut ayah Arion.


"Siap pak."


__ADS_2