Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
P R O L O G


__ADS_3

Suara guntur itu terdengar memekakkan


telinga sesaat setelah cahaya kilat mencabik – cabik gumpalan awan hitam yang


menutupi lereng bukit. Air hujan bagaikan ditumpah ruahkan ke permukaan bumi


beserta isinya, seakan hendak menenggelamkan apa saja. Aku terjaga dari


tidurku, sementara mataku refleks mengarah ke jam dinding. 02:30 WIB. Aku tak


terbiasa bangun pada jam – jam tengah malam buta itu. Yah, guntur itu


mengejutkanku, merusak suasana tidur nyenyakku, plus suara angin menderu – deru


mencapakkan air – air tak beraturan ke setiap sudut bangunan. Hujan seperti ini


sangat kubenci.


Perlahan – lahan aku turun dari


pembaringan, dan aku merasakan tapak – tapak kakiku basah, ‘Bagus sekali,’


seruku dalam hati. Kucoba untuk menyalakan lampu tapi, tampaknya aliran listrik


sengaja dipadamkan, ‘Benar – benar bagus sekali,’ Sebagian air hujan masuk,

__ADS_1


lampu padam, haruskah tidurku terganggu karena ini semua, padahal besok harus


tiba di sekolah sebelum pukul 06:00 WIB. ‘Ah, menyebalkan sekali,’ keluhku


sambil merebahkan kembali tubuhku pada tempat tidur.


Aku menghela nafas panjang, dengan malas


aku bangun, untuk mencari senter yang tersimpan tak jauh di laci tempat


tidurku. Ketemu, ‘Klik’ senter menyala dan aku mencari darimana air itu masuk,


jendela dan pintu sudah tertutup rapat, atap tidak bocor ... lalu darimana air


itu masuk. Kuperiksa setiap sudut ruangan, semuanya baik – baik saja... lalu


Mendadak dari genangan air tersebut,


menyembul sesosok kepala manusia, berambut hitam, panjang , kusut dan tergerai.


Aku melompat kaget, terlebih saat di antara kepala tersebut muncul kuku – kuku


hitam, panjang runcing dan pucat. Jari – jemari itu menekan lantai, bunyi aneh


mengerikan menggelitik telingaku terlebih saat kepala tersebut perlahan – lahan

__ADS_1


naik ke atas dan sesosok tubuh berbaju putih kecoklatan berdiri tepat di


hadapanku.


Tubuhku bergetar hebat, rahangku mengeras,


lidahku kelu, gigi – gigiku beradu satu sama lain saat lututku lemas tak


bertenaga. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut, yang jelas


sosok itu adalah wanita. Dia berjalan menghampiriku dan tiba – tiba saja sudah


berada tepat di depan hidungku. Cahaya kilat menyambar, dan detik berikut


terdengar bunyi guntur tapi, telingaku tertuju pada kalimat yang terucap dari


sosok wanita itu, “Menarilah untukku,”


Yah, setelah mengucapkan kata – kata itu


perlahan – lahan sosok itu menghilang dari pandanganku. Pada saat yang sama aku


mendapati tubuhku tengah terbaring di tempat tidurku. Tak ada genangan air,


lampu kamar masih menyala. “Apakah aku baru saja bermimpi ?” tanyaku dalam

__ADS_1


hati, “Serasa nyata sekali,”


***


__ADS_2