
Suara guntur itu terdengar memekakkan
telinga sesaat setelah cahaya kilat mencabik – cabik gumpalan awan hitam yang
menutupi lereng bukit. Air hujan bagaikan ditumpah ruahkan ke permukaan bumi
beserta isinya, seakan hendak menenggelamkan apa saja. Aku terjaga dari
tidurku, sementara mataku refleks mengarah ke jam dinding. 02:30 WIB. Aku tak
terbiasa bangun pada jam – jam tengah malam buta itu. Yah, guntur itu
mengejutkanku, merusak suasana tidur nyenyakku, plus suara angin menderu – deru
mencapakkan air – air tak beraturan ke setiap sudut bangunan. Hujan seperti ini
sangat kubenci.
Perlahan – lahan aku turun dari
pembaringan, dan aku merasakan tapak – tapak kakiku basah, ‘Bagus sekali,’
seruku dalam hati. Kucoba untuk menyalakan lampu tapi, tampaknya aliran listrik
sengaja dipadamkan, ‘Benar – benar bagus sekali,’ Sebagian air hujan masuk,
__ADS_1
lampu padam, haruskah tidurku terganggu karena ini semua, padahal besok harus
tiba di sekolah sebelum pukul 06:00 WIB. ‘Ah, menyebalkan sekali,’ keluhku
sambil merebahkan kembali tubuhku pada tempat tidur.
Aku menghela nafas panjang, dengan malas
aku bangun, untuk mencari senter yang tersimpan tak jauh di laci tempat
tidurku. Ketemu, ‘Klik’ senter menyala dan aku mencari darimana air itu masuk,
jendela dan pintu sudah tertutup rapat, atap tidak bocor ... lalu darimana air
itu masuk. Kuperiksa setiap sudut ruangan, semuanya baik – baik saja... lalu
Mendadak dari genangan air tersebut,
menyembul sesosok kepala manusia, berambut hitam, panjang , kusut dan tergerai.
Aku melompat kaget, terlebih saat di antara kepala tersebut muncul kuku – kuku
hitam, panjang runcing dan pucat. Jari – jemari itu menekan lantai, bunyi aneh
mengerikan menggelitik telingaku terlebih saat kepala tersebut perlahan – lahan
__ADS_1
naik ke atas dan sesosok tubuh berbaju putih kecoklatan berdiri tepat di
hadapanku.
Tubuhku bergetar hebat, rahangku mengeras,
lidahku kelu, gigi – gigiku beradu satu sama lain saat lututku lemas tak
bertenaga. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut, yang jelas
sosok itu adalah wanita. Dia berjalan menghampiriku dan tiba – tiba saja sudah
berada tepat di depan hidungku. Cahaya kilat menyambar, dan detik berikut
terdengar bunyi guntur tapi, telingaku tertuju pada kalimat yang terucap dari
sosok wanita itu, “Menarilah untukku,”
Yah, setelah mengucapkan kata – kata itu
perlahan – lahan sosok itu menghilang dari pandanganku. Pada saat yang sama aku
mendapati tubuhku tengah terbaring di tempat tidurku. Tak ada genangan air,
lampu kamar masih menyala. “Apakah aku baru saja bermimpi ?” tanyaku dalam
__ADS_1
hati, “Serasa nyata sekali,”
***