Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 01


__ADS_3

Hujan.


SMP Negeri Keteng I dan sekitarnya, diguyur hujan yang sangat deras dan


berangin. Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1800-an itu, seakan hendak


ditenggelamkan. Padahal menurut prakiraan cuaca, harusnya, hari ini cerah, tak


ada angin, tak ada hujan ditambah lagi listrik padam. Untunglah saat listrik


padam kami sudah memasuki jam istirahat kedua.


Dalam


keadaan hujan seperti itu, tak ada seorang pun yang berani berlarian di halaman


sekolah. Tapi, jika hari tidak hujan ... mungkin halaman sekolah penuh dengan


anak-anak bermain bulu tangkis, bola basket atau yang lain. Hanya beberapa anak


saja yang berlalu lalang ke halaman, kalau tidak ke kantin, paling ke toilet,


selebihnya, mereka hanya duduk-duduk saja di teras atau di dalam kelas.


Aku


terkejut, tiba-tiba Cindy datang ke kelasku, ia menarik tanganku dan berjalan


menyusuri teras untuk kemudian berhenti tak jauh dari toilet wanita. “Kak, coba


perhatikan baik-baik halaman di depan toilet,” bisiknya. Butuh waktu yang cukup


lama untuk menyesuaikan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh Cindy. Dan,


akhirnya, selain pandangan mata, imajinasi, naluri dan kemampuan yang diberikan


oleh keluargaku ... aku bisa melihat bahwa : Di tengah guyuran air hujan ada


sesosok bayangan wanita cantik berbaju putih, berambut hitam dan panjang.


Wanita itu sedang menari-nari dengan gerakan lemah gemulai di tengah guyuran


air hujan.

__ADS_1


Meski


menari, namun, aku bisa melihat senyuman di sudut bibirnya. Senyuman yang biasa


dilempar untuk para penonton, tapi, senyuman yang penuh dengan kesedihan.


Pandangannya lurus ke depan seakan ada orang lain yang menari bersamanya, dia


tak memperhatikan kami, dia terus menari dan menari dengan gerakan yang indah.


Namun, ada sesuatu yang mengganggu pemandangan kami. Tali... yah, tali yang


mengikat lehernya itulah yang mengganggu pandangan kami. “Siapakah dia ?”


tanyaku dalam hati.


Tariannya


begitu indah. Tubuhnya berputar ke kiri dan ke kanan, terkadang melompat,


menyentakkan kakinya ke depan, ke belakang dan ke atas. Hujan seakan bukanlah


penghalang malah justru membuat gerakannya indah. Air hujan bagaikan


sebagai latar belakangnya. Tapi, yang pasti, wanita itu bukanlah manusia.


Mendadak


lonceng berbunyi, jam istirahat kedua usai. Tapi, wanita itu terus menari, ia


tak terganggu dengan bunyi berisik tersebut. Tariannya makin indah dan membuat


kami enggan untuk meninggalkannya. Tapi, apa boleh buat kami harus kembali


mengikuti mengikuti pelajaran, kami sebenarnya ingin menonton tarian itu hingga


usai.


Sepanjang


jam pelajaran terakhir, aku tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pikiranku


masih tertuju pada sosok wanita yang menari dalam guyuran air hujan di depan

__ADS_1


halaman toilet wanita itu. Ternyata, bukan hanya aku saja yang tidak bisa


mengikuti pelajaran dengan baik, Cindy pun mengalaminya. Maka dari itu,


sepulang sekolah, kami kembali menuju ke tempat itu, berharap bisa menikmati


tarian itu lagi akan tetapi, ketika kami tiba disana tak ada siapa-siapa lagi,


hujan sudah reda saat jam ke-7 tadi. Yang tersisa hanyalah genangan air dan


hembusan angin dingin menggoyang tanaman-tanaman di sekitarnya, juga, Pak Jiman


yang tengah sibuk membersihkan halaman dan ruangan kelas yang sudah kosong.


Melihat


kami, Pak Jiman berjalan menghampiri, “Kalian kok belum pulang ? Apakah masih


ada barang tertinggal ataukah yang lain ?” tanyanya ramah. Aku menggelengkan


kepala, “Tadi sebenarnya kami buang air kecil. Tapi, sekarang mendadak hilang


?!” jawabku berbohong.


Pak Jiman


tertawa, “Apakah karena ada saya disini sehingga kalian malu ? Baiklah, saya


membersihkan ruangan lain dulu, sementara, kalian pergi ke toilet,” katanya.


“Tidak


apa, pak ... Bapak teruskan saja pekerjaan, sementara, kami pulang dulu ...


mumpung hujan sudah reda. Sampai ketemu besak, pak ...” kataku sambil menarik


lengan Cindy dan melangkah meninggalkan tempat itu.


“Baiklah,


hati-hati di jalan, ya,” kata Pak Jiman sambil meneruskan pekerjaannya.


***

__ADS_1


__ADS_2