
Hujan.
SMP Negeri Keteng I dan sekitarnya, diguyur hujan yang sangat deras dan
berangin. Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1800-an itu, seakan hendak
ditenggelamkan. Padahal menurut prakiraan cuaca, harusnya, hari ini cerah, tak
ada angin, tak ada hujan ditambah lagi listrik padam. Untunglah saat listrik
padam kami sudah memasuki jam istirahat kedua.
Dalam
keadaan hujan seperti itu, tak ada seorang pun yang berani berlarian di halaman
sekolah. Tapi, jika hari tidak hujan ... mungkin halaman sekolah penuh dengan
anak-anak bermain bulu tangkis, bola basket atau yang lain. Hanya beberapa anak
saja yang berlalu lalang ke halaman, kalau tidak ke kantin, paling ke toilet,
selebihnya, mereka hanya duduk-duduk saja di teras atau di dalam kelas.
Aku
terkejut, tiba-tiba Cindy datang ke kelasku, ia menarik tanganku dan berjalan
menyusuri teras untuk kemudian berhenti tak jauh dari toilet wanita. “Kak, coba
perhatikan baik-baik halaman di depan toilet,” bisiknya. Butuh waktu yang cukup
lama untuk menyesuaikan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh Cindy. Dan,
akhirnya, selain pandangan mata, imajinasi, naluri dan kemampuan yang diberikan
oleh keluargaku ... aku bisa melihat bahwa : Di tengah guyuran air hujan ada
sesosok bayangan wanita cantik berbaju putih, berambut hitam dan panjang.
Wanita itu sedang menari-nari dengan gerakan lemah gemulai di tengah guyuran
air hujan.
__ADS_1
Meski
menari, namun, aku bisa melihat senyuman di sudut bibirnya. Senyuman yang biasa
dilempar untuk para penonton, tapi, senyuman yang penuh dengan kesedihan.
Pandangannya lurus ke depan seakan ada orang lain yang menari bersamanya, dia
tak memperhatikan kami, dia terus menari dan menari dengan gerakan yang indah.
Namun, ada sesuatu yang mengganggu pemandangan kami. Tali... yah, tali yang
mengikat lehernya itulah yang mengganggu pandangan kami. “Siapakah dia ?”
tanyaku dalam hati.
Tariannya
begitu indah. Tubuhnya berputar ke kiri dan ke kanan, terkadang melompat,
menyentakkan kakinya ke depan, ke belakang dan ke atas. Hujan seakan bukanlah
penghalang malah justru membuat gerakannya indah. Air hujan bagaikan
sebagai latar belakangnya. Tapi, yang pasti, wanita itu bukanlah manusia.
Mendadak
lonceng berbunyi, jam istirahat kedua usai. Tapi, wanita itu terus menari, ia
tak terganggu dengan bunyi berisik tersebut. Tariannya makin indah dan membuat
kami enggan untuk meninggalkannya. Tapi, apa boleh buat kami harus kembali
mengikuti mengikuti pelajaran, kami sebenarnya ingin menonton tarian itu hingga
usai.
Sepanjang
jam pelajaran terakhir, aku tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pikiranku
masih tertuju pada sosok wanita yang menari dalam guyuran air hujan di depan
__ADS_1
halaman toilet wanita itu. Ternyata, bukan hanya aku saja yang tidak bisa
mengikuti pelajaran dengan baik, Cindy pun mengalaminya. Maka dari itu,
sepulang sekolah, kami kembali menuju ke tempat itu, berharap bisa menikmati
tarian itu lagi akan tetapi, ketika kami tiba disana tak ada siapa-siapa lagi,
hujan sudah reda saat jam ke-7 tadi. Yang tersisa hanyalah genangan air dan
hembusan angin dingin menggoyang tanaman-tanaman di sekitarnya, juga, Pak Jiman
yang tengah sibuk membersihkan halaman dan ruangan kelas yang sudah kosong.
Melihat
kami, Pak Jiman berjalan menghampiri, “Kalian kok belum pulang ? Apakah masih
ada barang tertinggal ataukah yang lain ?” tanyanya ramah. Aku menggelengkan
kepala, “Tadi sebenarnya kami buang air kecil. Tapi, sekarang mendadak hilang
?!” jawabku berbohong.
Pak Jiman
tertawa, “Apakah karena ada saya disini sehingga kalian malu ? Baiklah, saya
membersihkan ruangan lain dulu, sementara, kalian pergi ke toilet,” katanya.
“Tidak
apa, pak ... Bapak teruskan saja pekerjaan, sementara, kami pulang dulu ...
mumpung hujan sudah reda. Sampai ketemu besak, pak ...” kataku sambil menarik
lengan Cindy dan melangkah meninggalkan tempat itu.
“Baiklah,
hati-hati di jalan, ya,” kata Pak Jiman sambil meneruskan pekerjaannya.
***
__ADS_1