
“Tuan
Muda, katanya Anda ingin berbicara dengan saya,” sapaan lembut terdengar di
kedua belah telinga Allan, suara itu berasal dari hadapannya. Sapaan yang
membuat Allan harus kembali ke masa sekarang dan si empunya sapaan itu adalah :
YUNITA. Allan memperbaiki posisi duduknya yang setengah berbaring, terduduk
tegak sambil meraih cangkir teh yang mulai dingin di atas meja. Sepasang
matanya beradu pandang dengan sepasang mata bulat milik Yunita. Kedua insan
manusia itu saling pandang, berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam
dadanya.
“Ah, ya
...” Allan memulai pembicaraan, “Apakah kamu sudah lama berada di teras ini ?”
tanyanya. Yunita mengangguk, “Ya, Tuan Muda, saya sempat melihat air mata
menetes dari sudut mata Tuan Muda. Apakah Tuan Muda masih teringat akan gadis
yang bernama Mira itu ?” tanyanya.
“Yah...
hubungan kami sudah berlangsung 3 tahun. Tapi, nyatanya kandas di tengah jalan.
Itu membuat saya enggan untuk mengenal apa itu cinta,” kata Allan.
“Tuan
Muda, memang sulit melupakan kenangan-kenangan manis bersama kekasih. Saya juga
pernah mengalaminya, namun ... itu semua bagaikan warna-warni kehidupan. Tanpa
itu, hidup serasa tak berarti atau hampa sekalipun itu menyakitkan hati kita,”
jelas Yunita.
“Kamu
pernah mengatakan, sebenarnya, kamu tidak mencintai suamimu ... tapi, mengapa
kalian bisa hidup sebagai suami-isteri dan memiliki 3 orang anak ? Bisakah kamu
menceritakannya padaku,”
“Tuan
Muda, saya dan suami saya tidak pernah bertemu. Sebenarnya, sebelum saya
menikah... saya sudah memiliki seorang kekasih, dia berjanji akan melamarku
saat dia sudah bekerja. Saya menyetujuinya, tapi, saat dia jauh ... tokoh /
pemuka agama yang sudah menjadi orang kepercayaan Ayah menjodohkanku dengan
anaknya. Waktu itu saya marah sekali, saya benci Ayah saya dan lebih parah lagi
saya membenci semua orang yang ikut-ikutan mendukung perjodohan sepihak itu.
Saya memilih pergi dari rumah. Dia, Jala Sutra yang sekarang menjadi suami saya
mencari saya kesana-kemari, dimana pun saya pergi seakan dia tahu dan
tampaknya, saya tidak bisa menghindari pernikahan yang sebenarnya tidak saya
ingini,” jelas Yunita.
“Hm...
bukankah kamu bisa mengatakannya pada Ayahmu dan orang kepercayaannya itu ?”
“Sudah,
tapi ... saya malah kena marah sama pemuka agama yang bernama Jala Panji itu. Dan,
akhirnya saya terpaksa menjalani hidup yang sepertinya bagaikan sebongkah batu
besar yang menindih tubuh saya sehingga saya harus bertahan untuk hidup
sekalipun tanpa cinta ... semua itu demi anak-anak saya,”
“Apa
maksud kamu, dengan berkata, ‘bagaikan sebongkah batu besar menindih tubuh’ ?
Apakah artinya suami kamu, selalu bersikap kasar pada kamu, begitu ?”
Yunita
menundukkan wajahnya dalam-dalam, perkataan Allan benar, tanpa sadar airmatanya
meleleh, mengalir membasahi lantai teras. Melihat hal itu Allan merasa iba,
“Maafkan saya, karena telah mengungkit rumah tangga orang, dan membuat sedih.
Sebenarnya, saya ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi, saya sudah merusak
__ADS_1
suasana yang seharusnya bukan seperti ini,”
“Tidak
apa-apa, Tuan Muda. Saya sendiri sebenarnya membutuhkan teman untuk berkeluh
kesah. Sebab, semenjak ibu saya meninggal, saya harus menahan diri untuk
bersabar dan terus bersabar. Saya berharap, perkataan almarhum ibu saya benar
adanya,”
Saat hari
menjelang sore, awan hitam bergulung-gulung menutupi langit yang semula cerah.
Cahaya kilat menyambar-nyambar seakan hendak mengoyak awan hitam itu diiringi
dengan bunyi guntur yang bersahutan ditambah dengan hembusan angin yang cukup
kencang, membuat bulu kuduk merinding, “Tuan, tampaknya akan turun hujan,” kata
Yunita. “Benar. Ijinkan saya membantu kamu membereskan pakaian-pakaian yang
dijemur di belakang,” kata Allan sambil mengikuti Yunita dari belakang.
Jumlah
pakaian yang dicuci hari itu cukup banyak. Hampir memenuhi halaman belakang rumah keluarga Van Koef. Yunita mencuci semuanya
dengan dibantu oleh beberapa buruh lain, kini semua buruh sibuk mengamankan
tanaman-tanaman teh yang hendak dipetik. Jadi, Yunita terpaksa harus
mengamankan pakaian yang dijemur itu sendirian, namun, Allan dengan hati yang
lapang bersedia membantunya. Yunita mengamankan pakaian di sebelah utara sedang
Allan mengamankan pakaian di sebelah selatan. Mereka bergerak dengan cepat
terlebih hujan mulai turun dengan deras. Tanah tempat menjemur pakaian mulai
becek, Yunita bergerak keluar masuk ruangan penyimpanan pakaian.
Karena
tak ingin pakaian majikannya kotor, ia pun lupa menjaga keseimbangan tubuhnya,
kakinya tergelincir dan karena tak bisa mengendalikan tubuhnya, Yunita pun
roboh. Untunglah, saat tubuhnya belum menyentuh lantai sebuah tangan kekar
menyambar tubuhnya, pemilik tangan itu adalah Allan, “Kau tidak apa-apa ?”
tanya Allan sambil memeluk pinggang Yunita.
Yunita
kurang menguntungkan, perbuatan Yunita ini justru malah mencelakakan Allan.
Pemuda itu jatuh terduduk sementara matanya menatap tajam ke arah Yunita.
Melihat putera majikannya itu roboh, Yunita segera berlutut dan meminta maaf,
“Maafkan saya, Tuan Muda ... saya tak sengaja mendorong Tuan hingga jatuh.
Apakah tuan baik-baik saja ?” tanyanya cemas.
Semula
Yunita ketakutan, ia khawatir Allan akan marah besar. Akan tetapi, dugaannya
salah. Allan tidak marah melainkan menganggap itu adalah kesalahannya, “Tidak
apa-apa. Saya yang salah karena menyentuh tubuh wanita yang seharusnya tidak
boleh dilakukan dan tak pantas bagi orang-orang pribumi di negeri ini,” katanya
sambil mencoba untuk berdiri, tapi, tampaknya ada otot di pergelangan kakinya
yang terkilir sehingga ia meringis kesakitan.
Yunita
semakin merasa bersalah, “Tuan, maafkan saya...,” sambil mengatakan itu, Yunita
segera membantu Allan berdiri dan memapahnya menuju ke tempat duduk. Bukan main
kacaunya perasaan Yunita saat itu. Di sisi lain ia merasa senang bisa
berdekatan dengan Allan, pada sisi yang lain, ia merasa hal itu tak pantas
dilakukan oleh seorang wanita. Wajah Yunita tampak cemas sekali, tak tahu apa
yang harus dilakukan. Melihat keadaan wanita di dekatnya itu, Allan tersenyum
lalu berkata, “Sudahlah, ini adalah luka kecil, kamu tak perlu mencemaskannya.
Begini saja, diantara para werknemer, ada yang bernama Yogi, tolong kamu
panggilkan dia. Dialah yang bisa mengurut kaki saya ini,”
Yunita
__ADS_1
mengangguk, “Baiklah, tuan ... sekali lagi, saya minta maaf. Tuan tunggu disini
dulu, saya akan memanggilkan Pak Yogi,” katanya lalu meninggalkan Allan yang
masih meringis kesakitan, tapi, rasa sakit itu seperti tak ia hiraukan.
Sepasang matanya terus mengamati Yunita yang berjalan tergopoh-gopoh, hingga
tubuhnya lenyap di tikungan jalan.
Tak lama
kemudian, tampak Yunita muncul bersamaan dengan seorang pria setengah baya
berbadan agak gemuk dan pendek. Pak yogi segera memeriksa kaki kanan Allan, ia
tersenyum, “Tuan Muda, saya akan mencoba untuk mengurut pergelangan kaki Tuan
yang terkilir. Mungkin akan terasa menyakitkan, tapi, cobalah untuk bertahan,”
Allan menganggukkan kepala, “Lakukanlah, Pak Yogi. Ini tak seberapa daripada
patah tulang,” katanya.
Jari-jemari
Pak Yogi bergerak lincah dan setelah dirasa aman, ia pun mulai mengurut,
“Aduh !!” teriak Allan diiringi dengan
bunyi halilintar menggelegar. Yunita tak tahan mendengar teriakan Allan, ia
semakin merasa bersalah, ia menutup kedua belah telinganya saat Allan
berteriak-teriak kesakitan, hatinya serasa diiris-iris sembilu. Seandainya saja
ia membiarkan dirinya dipeluk oleh Allan, mungkin, pemuda itu tidak akan celaka.
Mengingat hal itu, pipi Yunita merona merah, ia tak berani membayangkan
bagaimana jadinya kalau seorang pria, yang bukan suami menyentuh tubuhnya.
‘Suami ? Apakah aku harus mengakui Kakang Jala Sutra sebagai suamiku ? Dialah
yang membuatku menderita, dialah yang menguras semua harta peninggalan ibuku.
Iapun selalu kasar denganku, tak jarang pipi ini panas dan hati ini sakit
apabila ia melayangkan tangannya ke wajahku. Masihkah dia bisa kusebut sebagai
suami ? Terlebih pernikahanku itu adalah kehendak ayah dan Jala Panji, orang
yang telah menghancurkan kebahagiaanku,” kata Yunita dalam hati.
Semenjak
Allan jatuh, perhatian Yunita terhadapnya makin besar. Yunita merasa bersalah
sekali. Tapi, semuanya sudah terjadi, Allan merahasiaan kejadian itu pada orang
tuanya. Hubungan Yunita dan Allan makin dekat dan makin akrab. Hingga pada
suatu hari Allan mengungkapkan perasaannya pada Yunita. Di pihak Yunita, wanita
itu sekalipun sudah menikah dan memiliki anak, rumah tangganya dengan Jala Sutra
tidak harmonis. Maka dari itu, entah mengapa tiba-tiba, saat Allan
mengungkapkan perasaannya itu Yunita tidak lagi memikirkan suaminya yang selalu
mabuk-mabukan dan seringkali berbuat kasar padanya. Yunita dihadapkan pada
sebuah dilema, di satu sisi kedudukannya sebagai isteri orang tidak
terbantahkan, sementara, di sisi lain ia pun tidak ingin kehilangan sosok Allan
dalam hidupnya, seorang pria yang telah menabur benih-benih cinta dan kasih
sayang. “Ya, Tuan Allan ... saya menerima cinta Tuan, tapi, tuan harus tahu
siapa saya. Terus terang saya memang tak bisa mengingkari perasaan saya pada
Tuan dan saya tak bisa mengabaikan suami dan keluarga saya. Mohon Tuan Allan
mengerti,” demikianlah perkataan Yunita pada Allan.
“Jika
memang demikian, semuanya bisa diatur Yunita. Yang jelas saya berterima kasih
karena engkau telah menerima cintaku. Untuk sementara, biarkan semuanya
berjalan apa adanya. Saya minta agar hubungan kita ini jangan sampai diketahui
oleh orang. Termasuk orang tua saya. Bisakah kita berusaha untuk itu ?” tanya
Allan. Yunita mengangguk, memang itulah yang dia inginkan. Sejak saat itulah
mereka berdua sering bertemu dan saling tukar menukar pikiran juga pengalaman.
Itulah saat-saat yang membahagiakan bagi dua insan itu, terlebih Allan. Kenangan
bersama Mira, sedikit demi sedikit hilang, Yunita selalu hadir di saat Allan
__ADS_1
membutuhkannya, demikian pula halnya dengan Allan. Dua anak manusia itu,
memulai perjalanan dengan CINTA TERLARANG mereka.