Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 11


__ADS_3

“Tuan


Muda, katanya Anda ingin berbicara dengan saya,” sapaan lembut terdengar di


kedua belah telinga Allan, suara itu berasal dari hadapannya. Sapaan yang


membuat Allan harus kembali ke masa sekarang dan si empunya sapaan itu adalah :


YUNITA. Allan memperbaiki posisi duduknya yang setengah berbaring, terduduk


tegak sambil meraih cangkir teh yang mulai dingin di atas meja. Sepasang


matanya beradu pandang dengan sepasang mata bulat milik Yunita. Kedua insan


manusia itu saling pandang, berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam


dadanya.


“Ah, ya


...” Allan memulai pembicaraan, “Apakah kamu sudah lama berada di teras ini ?”


tanyanya. Yunita mengangguk, “Ya, Tuan Muda, saya sempat melihat air mata


menetes dari sudut mata Tuan Muda. Apakah Tuan Muda masih teringat akan gadis


yang bernama Mira itu ?” tanyanya.


“Yah...


hubungan kami sudah berlangsung 3 tahun. Tapi, nyatanya kandas di tengah jalan.


Itu membuat saya enggan untuk mengenal apa itu cinta,” kata Allan.


“Tuan


Muda, memang sulit melupakan kenangan-kenangan manis bersama kekasih. Saya juga


pernah mengalaminya, namun ... itu semua bagaikan warna-warni kehidupan. Tanpa


itu, hidup serasa tak berarti atau hampa sekalipun itu menyakitkan hati kita,”


jelas Yunita.


“Kamu


pernah mengatakan, sebenarnya, kamu tidak mencintai suamimu ... tapi, mengapa


kalian bisa hidup sebagai suami-isteri dan memiliki 3 orang anak ? Bisakah kamu


menceritakannya padaku,”


“Tuan


Muda, saya dan suami saya tidak pernah bertemu. Sebenarnya, sebelum saya


menikah... saya sudah memiliki seorang kekasih, dia berjanji akan melamarku


saat dia sudah bekerja. Saya menyetujuinya, tapi, saat dia jauh ... tokoh /


pemuka agama yang sudah menjadi orang kepercayaan Ayah menjodohkanku dengan


anaknya. Waktu itu saya marah sekali, saya benci Ayah saya dan lebih parah lagi


saya membenci semua orang yang ikut-ikutan mendukung perjodohan sepihak itu.


Saya memilih pergi dari rumah. Dia, Jala Sutra yang sekarang menjadi suami saya


mencari saya kesana-kemari, dimana pun saya pergi seakan dia tahu dan


tampaknya, saya tidak bisa menghindari pernikahan yang sebenarnya tidak saya


ingini,” jelas Yunita.


“Hm...


bukankah kamu bisa mengatakannya pada Ayahmu dan orang kepercayaannya itu ?”


“Sudah,


tapi ... saya malah kena marah sama pemuka agama yang bernama Jala Panji itu. Dan,


akhirnya saya terpaksa menjalani hidup yang sepertinya bagaikan sebongkah batu


besar yang menindih tubuh saya sehingga saya harus bertahan untuk hidup


sekalipun tanpa cinta ... semua itu demi anak-anak saya,”


“Apa


maksud kamu, dengan berkata, ‘bagaikan sebongkah batu besar menindih tubuh’ ?


Apakah artinya suami kamu, selalu bersikap kasar pada kamu, begitu ?”


Yunita


menundukkan wajahnya dalam-dalam, perkataan Allan benar, tanpa sadar airmatanya


meleleh, mengalir membasahi lantai teras. Melihat hal itu Allan merasa iba,


“Maafkan saya, karena telah mengungkit rumah tangga orang, dan membuat sedih.


Sebenarnya, saya ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi, saya sudah merusak

__ADS_1


suasana yang seharusnya bukan seperti ini,”


“Tidak


apa-apa, Tuan Muda. Saya sendiri sebenarnya membutuhkan teman untuk berkeluh


kesah. Sebab, semenjak ibu saya meninggal, saya harus menahan diri untuk


bersabar dan terus bersabar. Saya berharap, perkataan almarhum ibu saya benar


adanya,”


Saat hari


menjelang sore, awan hitam bergulung-gulung menutupi langit yang semula cerah.


Cahaya kilat menyambar-nyambar seakan hendak mengoyak awan hitam itu diiringi


dengan bunyi guntur yang bersahutan ditambah dengan hembusan angin yang cukup


kencang, membuat bulu kuduk merinding, “Tuan, tampaknya akan turun hujan,” kata


Yunita. “Benar. Ijinkan saya membantu kamu membereskan pakaian-pakaian yang


dijemur di belakang,” kata Allan sambil mengikuti Yunita dari belakang.


Jumlah


pakaian yang dicuci hari itu cukup banyak. Hampir memenuhi halaman belakang rumah  keluarga Van Koef. Yunita mencuci semuanya


dengan dibantu oleh beberapa buruh lain, kini semua buruh sibuk mengamankan


tanaman-tanaman teh yang hendak dipetik. Jadi, Yunita terpaksa harus


mengamankan pakaian yang dijemur itu sendirian, namun, Allan dengan hati yang


lapang bersedia membantunya. Yunita mengamankan pakaian di sebelah utara sedang


Allan mengamankan pakaian di sebelah selatan. Mereka bergerak dengan cepat


terlebih hujan mulai turun dengan deras. Tanah tempat menjemur pakaian mulai


becek, Yunita bergerak keluar masuk ruangan penyimpanan pakaian.


Karena


tak ingin pakaian majikannya kotor, ia pun lupa menjaga keseimbangan tubuhnya,


kakinya tergelincir dan karena tak bisa mengendalikan tubuhnya, Yunita pun


roboh. Untunglah, saat tubuhnya belum menyentuh lantai sebuah tangan kekar


menyambar tubuhnya, pemilik tangan itu adalah Allan, “Kau tidak apa-apa ?”


tanya Allan sambil memeluk pinggang Yunita.


Yunita


kurang menguntungkan, perbuatan Yunita ini justru malah mencelakakan Allan.


Pemuda itu jatuh terduduk sementara matanya menatap tajam ke arah Yunita.


Melihat putera majikannya itu roboh, Yunita segera berlutut dan meminta maaf,


“Maafkan saya, Tuan Muda ... saya tak sengaja mendorong Tuan hingga jatuh.


Apakah tuan baik-baik saja ?” tanyanya cemas.


Semula


Yunita ketakutan, ia khawatir Allan akan marah besar. Akan tetapi, dugaannya


salah. Allan tidak marah melainkan menganggap itu adalah kesalahannya, “Tidak


apa-apa. Saya yang salah karena menyentuh tubuh wanita yang seharusnya tidak


boleh dilakukan dan tak pantas bagi orang-orang pribumi di negeri ini,” katanya


sambil mencoba untuk berdiri, tapi, tampaknya ada otot di pergelangan kakinya


yang terkilir sehingga ia meringis kesakitan.


Yunita


semakin merasa bersalah, “Tuan, maafkan saya...,” sambil mengatakan itu, Yunita


segera membantu Allan berdiri dan memapahnya menuju ke tempat duduk. Bukan main


kacaunya perasaan Yunita saat itu. Di sisi lain ia merasa senang bisa


berdekatan dengan Allan, pada sisi yang lain, ia merasa hal itu tak pantas


dilakukan oleh seorang wanita. Wajah Yunita tampak cemas sekali, tak tahu apa


yang harus dilakukan. Melihat keadaan wanita di dekatnya itu, Allan tersenyum


lalu berkata, “Sudahlah, ini adalah luka kecil, kamu tak perlu mencemaskannya.


Begini saja, diantara para werknemer, ada yang bernama Yogi, tolong kamu


panggilkan dia. Dialah yang bisa mengurut kaki saya ini,”


Yunita

__ADS_1


mengangguk, “Baiklah, tuan ... sekali lagi, saya minta maaf. Tuan tunggu disini


dulu, saya akan memanggilkan Pak Yogi,” katanya lalu meninggalkan Allan yang


masih meringis kesakitan, tapi, rasa sakit itu seperti tak ia hiraukan.


Sepasang matanya terus mengamati Yunita yang berjalan tergopoh-gopoh, hingga


tubuhnya lenyap di tikungan jalan.


Tak lama


kemudian, tampak Yunita muncul bersamaan dengan seorang pria setengah baya


berbadan agak gemuk dan pendek. Pak yogi segera memeriksa kaki kanan Allan, ia


tersenyum, “Tuan Muda, saya akan mencoba untuk mengurut pergelangan kaki Tuan


yang terkilir. Mungkin akan terasa menyakitkan, tapi, cobalah untuk bertahan,”


Allan menganggukkan kepala, “Lakukanlah, Pak Yogi. Ini tak seberapa daripada


patah tulang,” katanya.


Jari-jemari


Pak Yogi bergerak lincah dan setelah dirasa aman, ia pun mulai mengurut,


“Aduh  !!” teriak Allan diiringi dengan


bunyi halilintar menggelegar. Yunita tak tahan mendengar teriakan Allan, ia


semakin merasa bersalah, ia menutup kedua belah telinganya saat Allan


berteriak-teriak kesakitan, hatinya serasa diiris-iris sembilu. Seandainya saja


ia membiarkan dirinya dipeluk oleh Allan, mungkin, pemuda itu tidak akan celaka.


Mengingat hal itu, pipi Yunita merona merah, ia tak berani membayangkan


bagaimana jadinya kalau seorang pria, yang bukan suami menyentuh tubuhnya.


‘Suami ? Apakah aku harus mengakui Kakang Jala Sutra sebagai suamiku ? Dialah


yang membuatku menderita, dialah yang menguras semua harta peninggalan ibuku.


Iapun selalu kasar denganku, tak jarang pipi ini panas dan hati ini sakit


apabila ia melayangkan tangannya ke wajahku. Masihkah dia bisa kusebut sebagai


suami ? Terlebih pernikahanku itu adalah kehendak ayah dan Jala Panji, orang


yang telah menghancurkan kebahagiaanku,” kata Yunita dalam hati.


Semenjak


Allan jatuh, perhatian Yunita terhadapnya makin besar. Yunita merasa bersalah


sekali. Tapi, semuanya sudah terjadi, Allan merahasiaan kejadian itu pada orang


tuanya. Hubungan Yunita dan Allan makin dekat dan makin akrab. Hingga pada


suatu hari Allan mengungkapkan perasaannya pada Yunita. Di pihak Yunita, wanita


itu sekalipun sudah menikah dan memiliki anak, rumah tangganya dengan Jala Sutra


tidak harmonis. Maka dari itu, entah mengapa tiba-tiba, saat Allan


mengungkapkan perasaannya itu Yunita tidak lagi memikirkan suaminya yang selalu


mabuk-mabukan dan seringkali berbuat kasar padanya. Yunita dihadapkan pada


sebuah dilema, di satu sisi kedudukannya sebagai isteri orang tidak


terbantahkan, sementara, di sisi lain ia pun tidak ingin kehilangan sosok Allan


dalam hidupnya, seorang pria yang telah menabur benih-benih cinta dan kasih


sayang. “Ya, Tuan Allan ... saya menerima cinta Tuan, tapi, tuan harus tahu


siapa saya. Terus terang saya memang tak bisa mengingkari perasaan saya pada


Tuan dan saya tak bisa mengabaikan suami dan keluarga saya. Mohon Tuan Allan


mengerti,” demikianlah perkataan Yunita pada Allan.


“Jika


memang demikian, semuanya bisa diatur Yunita. Yang jelas saya berterima kasih


karena engkau telah menerima cintaku. Untuk sementara, biarkan semuanya


berjalan apa adanya. Saya minta agar hubungan kita ini jangan sampai diketahui


oleh orang. Termasuk orang tua saya. Bisakah kita berusaha untuk itu ?” tanya


Allan. Yunita mengangguk, memang itulah yang dia inginkan. Sejak saat itulah


mereka berdua sering bertemu dan saling tukar menukar pikiran juga pengalaman.


Itulah saat-saat yang membahagiakan bagi dua insan itu, terlebih Allan. Kenangan


bersama Mira, sedikit demi sedikit hilang, Yunita selalu hadir di saat Allan

__ADS_1


membutuhkannya, demikian pula halnya dengan Allan. Dua anak manusia itu,


memulai perjalanan dengan CINTA TERLARANG mereka.


__ADS_2