
PERCIKAN API DI TENGAH SALJU
Meski
Allan adalah seorang pemuda yang ketus, tertutup, penyendiri, pemarah dan
sensitif, gara-gara patah hati, kehadiran Yunita yang sabar dan senantiasa
memberikan perhatian sekalipun dicaci-maki habis-habisan. Membuat hatinya yang
sekeras batu karang, perlahan-lahan rontok. Dulu sebelum bertemu dengan Yunita,
semenjak patah hati, ia berjanji pada diri sendiri agar tidak akan lagi jatuh
cinta. Ia hanya menginginkan Mira menjadi pendamping hidupnya. Tapi, begitulah
orang yang patah hati, orang yang jatuh ke dalam jurang kelam dan terluka,
sulit sekali untuk bangkit dan mulai melangkah. Sifatnya hanya sementara saja
dan tergantung pada dirinya sendiri untuk bangkit dan memulai hal yang baru.
Allan
sedikit demi sedikit menemukan kembali jati dirinya, meski sekali-kali ia masih
terlihat menyendiri. Senyum mulai menghias wajahnya yang boleh dibilang tampan,
terlebih saat Yunita menyapanya dengan lembut dan penuh perhatian. Siang itu
seperti biasa, Allan selalu duduk di halaman belakang rumahnya. Ia memandangi
sawah-sawah hijau dengan latar belakang pegunungan yang cukup tinggi dan
cakrawala biru. Ia memandangi sementara pikirannya berpetualang kemana-mana.
Pertama kali yang ia kunjungi adalah Mira, bekas kekasihnya. Puteri dari
pasangan Panji Asmoro dan Trinil, sepasang suami isteri yang bekerja sebagai
buruh di perkebunan teh salah satu warga Belanda yang tinggal tak jauh dari
rumah Keluarga Koef.
Allan
teringat akan pertemuannya dengan Mira, saat itu Mira membantu ibunya memetik
daun teh dan memasukkannya ke dalam keranjang yang tergantung di pinggang
kanannya. Ada sehelai kain berwarna merah muda menutupi kepala gadis manis itu.
Entah mengapa angin mendadak bertiup kencang dan melepaskan kain yang menutupi
kepalanya dan terbang lalu mendarat di wajah Allan. Allan tersentak buru-buru
tangannya meraih kain yang menutupi wajahnya, “Siapa pemilik sapu tangan ini ?”
tanyanya kepada para wanita yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Sepasang
mata Allan menatap liar ke arah para wanita itu, semuanya mengenakan kain di
kepalanya, namun, hanya satu orang yang tidak mengenakan kain, dia adalah Mira.
Begitu mata Allan yang tajam bagaikan elang itu menatap ke arahnya, Mira
buru-buru meletakkan keranjangnya dan berjalan menghampiri Allan, “Maafkan
saya, Senor (Tuan). Itu adalah
milik saya, tuan muda,” katanya sambil menundukkan wajahnya, jantungnya
berdegub dengan kencang sementara keringat dingin mengalir dari dahi dan
menetes membasahi sepatu Allan.
“Tunjukkan
wajah kamu, biar kulihat siapa orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap
Tuan Muda,” kata salah seorang tentara yang mendampingi Allan. Allan menatap
tajam ke arah pengawalnya, “Wanita ini adalah salah seorang werknemer (buruh) di
keluarga ini, kamu jangan kasar padanya. Bayangkan saja kalau setiap weknemerdisini diperlakukan kasar oleh
kalian, apa jadinya ?! Jagalah sikap kalian, biar bagaimanapun juga dia adalah
manusia seperti kita, jangan sembarangan memperlakukan orang,” katanya dalam
bahasa Belanda. “Maafkan, saya, Tuan muda,” sambil membungkukkan badan,
sementara Allan kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang masih
berlutut di hadapan Allan.
“Berdiri
dan perlihatkanlah wajah kamu itu. Tak perlu khawatir, saya takkan memarahi
kamu,” kata Allan ramah. Meski ragu-ragu Mira mengangkat wajahnya, sepasang
mata miliknya beradu pandang dengan sepasang mata Allan. Kedua belah pipi Mira
merona merah, ia tak tahan menatap tatapan mata Allan lama-lama. Maka dari itu,
buru-buru ia membuang wajahnya, ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya yang tak
bisa diungkapkan, demikian pula di pihak Allan. Untuk sesaat wajah dua
muda-mudi itu berpandangan meski sesekali Mira harus berusaha mengendalikan
__ADS_1
perasaan aneh itu.
Suara
batuk-batuk dari pengawal Allan, menyadarkan mereka, tapi, Allan tidak
terpengaruh, ia membuka bibirnya, dan berkata, “Teruskan pekerjaanmu, sementara
sapu tangan ini.... kamu tak keberatan, bukan jika saya menyimpannya ?” Mira
salah tingkah, tanpa sadar ia menganggukkan kepala perlahan, lalu kembali
bekerja. Semenjak itulah Allan selalu datang mengunjungi Mira. Saat jam
istirahat, Allan mengajak Mira berjalan-jalan mengelilingi perkebunan teh.
Hubungan Allan dengan para werknemer ( buruh ), begitu akrab dan disanjung
banyak orang karena bijak dan tak jarang bersikap tegas pada werknemer yang
teledor atau melakukan kesalahan.
Tak
jarang saat Allan sedang tidak ada di tempat para Werknemer menanyakannya,
terutama Mira. Kehadiran Allan dalam hidupnya, membuatnya semakin bersemangat
untuk membantu ibunya memetik daun teh, itu semua dilakukan karena ada Allan
yang selalu menemaninya bercakap-cakap saat jam istirahat.
“Aku tahu
kau sedang jatuh hati pada Allan, nduk ... tapi, harus kau ingat siapa dirimu
dan siapa Allan,” kata sang ibu suatu hari pada Mira, “Sebaiknya, jangan
terlalu berharap banyak pada orang Belanda itu. Ayahmu, pasti tidak menyetujui
hubunganmu dengannya,”
“Mengapa
demikian, bu ?” tanya Mira.
“Terus
terang, Ayahmu tidak suka orang Belanda karena bangsa itulah yang menjajah
negeri ini. Entah harus berapa banyak lagi korban yang berjatuhan dan entah
berapa banyak lagi sumber daya alam di negeri ini yang harus dikuras habis oleh
mereka,” jelas sang ibu.
“Lalu,
bagaimana pendapat ibu sendiri tentang Keluarga Van Koef ?”
ibu, mereka adalah keluarga yang cukup disegani dan dihormati. Baik dari
penduduk negeri ini, dalam hal ini para werknemer yang bekerja disini ... juga
orang-orang Belanda yang berada di luaran sana. Ibu khawatir, cintamu bertepuk
sebelah tangan, nduk. Melihat usiamu yang sudah menginjak remaja ini, memang
sudah waktunya menikah. Tapi, Ibu sarankan ... carilah orang lain. Paling tidak
carilah pemuda yang satu bangsa, satu keyakinan, dan satu visi / tujuan,”
“Jadi,
ibu tidak setuju dengan hubungan kami ?” tanya Mira kecewa.
“Bukan.
Ibu setuju-setuju saja. Allan adalah pemuda yang tampan, rajin, bertanggung
jawab dan penuh perhatian. Ibu khawatir itu hanyalah kedok. Semuanya itu hanya
demi kebaikanmu, nduk... terlebih lagi kau tahu bagaimana sifat, watak dan
karakter Ayahmu,”
“Bisakah
ibu membujuk Ayah ?”
Trinil
menghela nafas panjang, ia tahu puterinya ini berwatak keras sama seperti
Ayahnya. Setelah sesaat lamanya terdiam, barulah berkata, “Ibu akan berusaha,
nduk. Selanjutnya, jika Ayahmu tidak menyetujuinya ... maka, ibu tak bisa
berbuat apa-apa lagi. Ibu hanya bisa menasihatkan, jika kau mecintai Allan ...
sebaiknya, kau jangan terlibat terlalu dalam. Biarkanlah berjalan apa adanya,”
Baru saja
Trinil menutup mulutnya, terdengar pintu diketuk seseorang, “Permisi, bolehkah
saya masuk ?” itu suara Allan. Buru-buru 2 wanita itu berdiri dan membereskan
rumahnya yang sejak tadi masih berantakan. Setelah dirapikan seadanya, barulah
Trinil berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu, dari luar seorang pemuda
jangkung mengenakan topi khas orang Belanda berdiri sambil tersenyum, “Ah, Tuan
__ADS_1
Muda... saya tidak menyangka Tuan datang ke rumah saya di saat libur begini.
Apakah ada yang bisa saya bantu,” tanyanya.
“Ibu
Trinil, jangan sungkan ... saya datang kemari untuk memberikan sesuatu untuk
ibu sekeluarga. Bolehkah saya masuk ?” kata Allan ramah. Trinil tersadar,
buru-buru mempersilahkan tamunya masuk, “Silahkan masuk tuan Muda, maaf rumah
kami berantakan belum sempat kami bersihkan karena sibuk bekerja di kebun teh
Keluarga Koef,” katanya dengan nada gemetar sementara, tangannya meraih sebuah
kursi yang terbuat dari rotan dan diletakkan di dekat Allan, “Mari, silahkan
duduk, biar saya persiapkan minuman dan makanan seadanya sementara Tuan
ditemani oleh Mira,”
Allan
tersenyum, “Ibu, tidak perlu sungkan, saya hanya sebentar saja, ini ada sebuah
bingkisan dari tanah kelahiran saya, mohon ibu menerimanya,” katanya sambil
memberikan beberapa bungkusan berukuran sedang berwarna merah. Dengan tangan
gemetar, Trinil menerimanya, “Mengapa Tuan Muda begitu repot-repot, kami adalah
orang biasa... rasanya tak pantas diperlakukan secara istimewa. Tapi, te ...
terima kasih, Tuan.... Sekarang juga, saya akan menyiapkan makanan dan minuman
untuk Tuan. Biar Mira dulu yang menemani Tuan,” katanya.
Trinil
masuk ke dalam, beberapa saat kemudian dari dalam muncullah Mira dengan
penampilan yang benar-benar membuat Allan terpana. Pakaian yang dikenakan
berwarna merah muda model pakaian Belanda dengan renda-renda mawar kuning di
bagian dada. “Kamu ... kamu cantik sekali,” katanya terbata-bata. Wajah Mira
merona karena malu, semakin menambah kecantikannya, dengan langkah anggun, ia
menghampiri Allan, “Selamat datang, Tuan Muda. Maaf kami sama sekali tak
menyangka Tuan Muda datang ke rumah kami yang kecil ini,” katanya dengan nada
hormat.
“Su ...
sudahlah, jangan sungkan, terus terang saya datang kemari adalah untuk mengajak
kamu jalan-jalan ke kota,” kata Allan. Baru kali ini ia tak bisa mengendalikan
dirinya di hadapan salah seorang yang menjadi werknemer (buruh) di lingkungan
rumahnya. Ucapan ini membuat Mira terpaku, ia tak bisa berkata apa-apa untuk
sekian lama. Dua muda-mudi itu membisu, tak ada sepatah kata pun keluar dari
mulut mereka, ruangan itu menjadi sunyi. Yang terdengar adalah detak jantung
mereka. Yah, hati merekalah yang bicara dan semuanya itu disaksikan oleh Trinil
dari balik dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
“Anakku
.... seandainya Allan bukanlah orang Belanda. Ibu takkan keberatan menikahkan
mu dengannya. Kalian adalah pasangan yang serasi, cinta kalian sangatlah besar,
tanpa terasa ... kau telah membuat ibumu ini ri, anakku,” katanya dalam hati,
“Kau benar-benar cantik apabila mengenakan gaun itu dalam pernikahanmu kelak.
Aku bisa merasakan gelora api cinta kalian berdua. Jika mau, aku ingin
menikahkan mereka sekarang juga. Tenanglah, nduk... ibu akan berusaha
membantumu. Ibu bisa melihat diri ibu di dalam dirimu, anakku... yah, ibu akan
berusaha memberikan yang terbaik untukmu,”
Hubungan
antara Mira dan Allan akhirnya diketahui juga oleh Panji Asmoro, ayah Mira.
Semula sang Ayah bersikap baik dan hormat pada keluarga Koef, akan tetapi,
amarahnya memuncak manakala saat itu Allan datang bersama Ayah dan ibunya,
tujuan mereka adalah melamar Mira. Dengan kasar Sang Ayah mengusir mereka dari
rumahnya walau itu sempat memicu pertengkaran dalam rumah tangga Panji Asmoro.
Alasannya sederhana, karena perbedaan kewarganegaraan plus perbedaan keyakinan.
Keluarga Mira beragama muslim sementara, Keluarga Van Koef Nasrani. Puncaknya
adalah dimana setelah pertengkaran Keluarga Van Koef dan Keluarga Mira, Allan
masih saja datang mengunjungi rumah Mira. Dengan kasar Panji Asmoro mengusir
Allan dari rumahnya dan pada hari itu pula Yunita datang menyapanya.
__ADS_1
_____