Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 09


__ADS_3

PERCIKAN API DI TENGAH SALJU


Meski


Allan adalah seorang pemuda yang ketus, tertutup, penyendiri, pemarah dan


sensitif, gara-gara patah hati, kehadiran Yunita yang sabar dan senantiasa


memberikan perhatian sekalipun dicaci-maki habis-habisan. Membuat hatinya yang


sekeras batu karang, perlahan-lahan rontok. Dulu sebelum bertemu dengan Yunita,


semenjak patah hati, ia berjanji pada diri sendiri agar tidak akan lagi jatuh


cinta. Ia hanya menginginkan Mira menjadi pendamping hidupnya. Tapi, begitulah


orang yang patah hati, orang yang jatuh ke dalam jurang kelam dan terluka,


sulit sekali untuk bangkit dan mulai melangkah. Sifatnya hanya sementara saja


dan tergantung pada dirinya sendiri untuk bangkit dan memulai hal yang baru.


Allan


sedikit demi sedikit menemukan kembali jati dirinya, meski sekali-kali ia masih


terlihat menyendiri. Senyum mulai menghias wajahnya yang boleh dibilang tampan,


terlebih saat Yunita menyapanya dengan lembut dan penuh perhatian. Siang itu


seperti biasa, Allan selalu duduk di halaman belakang rumahnya. Ia memandangi


sawah-sawah hijau dengan latar belakang pegunungan yang cukup tinggi dan


cakrawala biru. Ia memandangi sementara pikirannya berpetualang kemana-mana.


Pertama kali yang ia kunjungi adalah Mira, bekas kekasihnya. Puteri dari


pasangan Panji Asmoro dan Trinil, sepasang suami isteri yang bekerja sebagai


buruh di perkebunan teh salah satu warga Belanda yang tinggal tak jauh dari


rumah Keluarga Koef.


Allan


teringat akan pertemuannya dengan Mira, saat itu Mira membantu ibunya memetik


daun teh dan memasukkannya ke dalam keranjang yang tergantung di pinggang


kanannya. Ada sehelai kain berwarna merah muda menutupi kepala gadis manis itu.


Entah mengapa angin mendadak bertiup kencang dan melepaskan kain yang menutupi


kepalanya dan terbang lalu mendarat di wajah Allan. Allan tersentak buru-buru


tangannya meraih kain yang menutupi wajahnya, “Siapa pemilik sapu tangan ini ?”


tanyanya kepada para wanita yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sepasang


mata Allan menatap liar ke arah para wanita itu, semuanya mengenakan kain di


kepalanya, namun, hanya satu orang yang tidak mengenakan kain, dia adalah Mira.


Begitu mata Allan yang tajam bagaikan elang itu menatap ke arahnya, Mira


buru-buru meletakkan keranjangnya dan berjalan menghampiri Allan, “Maafkan


saya,  Senor (Tuan).  Itu adalah


milik saya, tuan muda,” katanya sambil menundukkan wajahnya, jantungnya


berdegub dengan kencang sementara keringat dingin mengalir dari dahi dan


menetes membasahi sepatu Allan.


“Tunjukkan


wajah kamu, biar kulihat siapa orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap


Tuan Muda,” kata salah seorang tentara yang mendampingi Allan. Allan menatap


tajam ke arah pengawalnya, “Wanita ini adalah salah seorang werknemer (buruh) di


keluarga ini, kamu jangan kasar padanya. Bayangkan saja kalau setiap weknemerdisini diperlakukan kasar oleh


kalian, apa jadinya ?! Jagalah sikap kalian, biar bagaimanapun juga dia adalah


manusia seperti kita, jangan sembarangan memperlakukan orang,” katanya dalam


bahasa Belanda. “Maafkan, saya, Tuan muda,” sambil membungkukkan badan,


sementara Allan kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang masih


berlutut di hadapan Allan.


“Berdiri


dan perlihatkanlah wajah kamu itu. Tak perlu khawatir, saya takkan memarahi


kamu,” kata Allan ramah. Meski ragu-ragu Mira mengangkat wajahnya, sepasang


mata miliknya beradu pandang dengan sepasang mata Allan. Kedua belah pipi Mira


merona merah, ia tak tahan menatap tatapan mata Allan lama-lama. Maka dari itu,


buru-buru ia membuang wajahnya, ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya yang tak


bisa diungkapkan, demikian pula di pihak Allan. Untuk sesaat wajah dua


muda-mudi itu berpandangan meski sesekali Mira harus berusaha mengendalikan

__ADS_1


perasaan aneh itu.


Suara


batuk-batuk dari pengawal Allan, menyadarkan mereka, tapi, Allan tidak


terpengaruh, ia membuka bibirnya, dan berkata, “Teruskan pekerjaanmu, sementara


sapu tangan ini.... kamu tak keberatan, bukan jika saya menyimpannya ?” Mira


salah tingkah, tanpa sadar ia menganggukkan kepala perlahan, lalu kembali


bekerja. Semenjak itulah Allan selalu datang mengunjungi Mira. Saat jam


istirahat, Allan mengajak Mira berjalan-jalan mengelilingi perkebunan teh.


Hubungan Allan dengan para werknemer ( buruh ), begitu akrab dan disanjung


banyak orang karena bijak dan tak jarang bersikap tegas pada werknemer yang


teledor atau melakukan kesalahan.


Tak


jarang saat Allan sedang tidak ada di tempat para Werknemer menanyakannya,


terutama Mira. Kehadiran Allan dalam hidupnya, membuatnya semakin bersemangat


untuk membantu ibunya memetik daun teh, itu semua dilakukan karena ada Allan


yang selalu menemaninya bercakap-cakap saat jam istirahat.


“Aku tahu


kau sedang jatuh hati pada Allan, nduk ... tapi, harus kau ingat siapa dirimu


dan siapa Allan,” kata sang ibu suatu hari pada Mira, “Sebaiknya, jangan


terlalu berharap banyak pada orang Belanda itu. Ayahmu, pasti tidak menyetujui


hubunganmu dengannya,”


“Mengapa


demikian, bu ?” tanya Mira.


“Terus


terang, Ayahmu tidak suka orang Belanda karena bangsa itulah yang menjajah


negeri ini. Entah harus berapa banyak lagi korban yang berjatuhan dan entah


berapa banyak lagi sumber daya alam di negeri ini yang harus dikuras habis oleh


mereka,” jelas sang ibu.


“Lalu,


bagaimana pendapat ibu sendiri tentang Keluarga Van Koef ?”


ibu, mereka adalah keluarga yang cukup disegani dan dihormati. Baik dari


penduduk negeri ini, dalam hal ini para werknemer yang bekerja disini ... juga


orang-orang Belanda yang berada di luaran sana. Ibu khawatir, cintamu bertepuk


sebelah tangan, nduk. Melihat usiamu yang sudah menginjak remaja ini, memang


sudah waktunya menikah. Tapi, Ibu sarankan ... carilah orang lain. Paling tidak


carilah pemuda yang satu bangsa, satu keyakinan, dan satu visi / tujuan,”


“Jadi,


ibu tidak setuju dengan hubungan kami ?” tanya Mira kecewa.


“Bukan.


Ibu setuju-setuju saja. Allan adalah pemuda yang tampan, rajin, bertanggung


jawab dan penuh perhatian. Ibu khawatir itu hanyalah kedok. Semuanya itu hanya


demi kebaikanmu, nduk... terlebih lagi kau tahu bagaimana sifat, watak dan


karakter Ayahmu,”


“Bisakah


ibu membujuk Ayah ?”


Trinil


menghela nafas panjang, ia tahu puterinya ini berwatak keras sama seperti


Ayahnya. Setelah sesaat lamanya terdiam, barulah berkata, “Ibu akan berusaha,


nduk. Selanjutnya, jika Ayahmu tidak menyetujuinya ... maka, ibu tak bisa


berbuat apa-apa lagi. Ibu hanya bisa menasihatkan, jika kau mecintai Allan ...


sebaiknya, kau jangan terlibat terlalu dalam. Biarkanlah berjalan apa adanya,”


Baru saja


Trinil menutup mulutnya, terdengar pintu diketuk seseorang, “Permisi, bolehkah


saya masuk ?” itu suara Allan. Buru-buru 2 wanita itu berdiri dan membereskan


rumahnya yang sejak tadi masih berantakan. Setelah dirapikan seadanya, barulah


Trinil berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu, dari luar seorang pemuda


jangkung mengenakan topi khas orang Belanda berdiri sambil tersenyum, “Ah, Tuan

__ADS_1


Muda... saya tidak menyangka Tuan datang ke rumah saya di saat libur begini.


Apakah ada yang bisa saya bantu,”  tanyanya.


“Ibu


Trinil, jangan sungkan ... saya datang kemari untuk memberikan sesuatu untuk


ibu sekeluarga. Bolehkah saya masuk ?” kata Allan ramah. Trinil tersadar,


buru-buru mempersilahkan tamunya masuk, “Silahkan masuk tuan Muda, maaf rumah


kami berantakan belum sempat kami bersihkan karena sibuk bekerja di kebun teh


Keluarga Koef,” katanya dengan nada gemetar sementara, tangannya meraih sebuah


kursi yang terbuat dari rotan dan diletakkan di dekat Allan, “Mari, silahkan


duduk, biar saya persiapkan minuman dan makanan seadanya sementara Tuan


ditemani oleh Mira,”


Allan


tersenyum, “Ibu, tidak perlu sungkan, saya hanya sebentar saja, ini ada sebuah


bingkisan dari tanah kelahiran saya, mohon ibu menerimanya,” katanya sambil


memberikan beberapa bungkusan berukuran sedang berwarna merah. Dengan tangan


gemetar, Trinil menerimanya, “Mengapa Tuan Muda begitu repot-repot, kami adalah


orang biasa... rasanya tak pantas diperlakukan secara istimewa. Tapi, te ...


terima kasih, Tuan.... Sekarang juga, saya akan menyiapkan makanan dan minuman


untuk Tuan. Biar Mira dulu yang menemani Tuan,” katanya.


Trinil


masuk ke dalam, beberapa saat kemudian dari dalam muncullah Mira dengan


penampilan yang benar-benar membuat Allan terpana. Pakaian yang dikenakan


berwarna merah muda model pakaian Belanda dengan renda-renda mawar kuning di


bagian dada. “Kamu ... kamu cantik sekali,” katanya terbata-bata. Wajah Mira


merona karena malu, semakin menambah kecantikannya, dengan langkah anggun, ia


menghampiri Allan, “Selamat datang, Tuan Muda. Maaf kami sama sekali tak


menyangka Tuan Muda datang ke rumah kami yang kecil ini,” katanya dengan nada


hormat.


“Su ...


sudahlah, jangan sungkan, terus terang saya datang kemari adalah untuk mengajak


kamu jalan-jalan ke kota,” kata Allan. Baru kali ini ia tak bisa mengendalikan


dirinya di hadapan salah seorang yang menjadi werknemer (buruh) di lingkungan


rumahnya. Ucapan ini membuat Mira terpaku, ia tak bisa berkata apa-apa untuk


sekian lama. Dua muda-mudi itu membisu, tak ada sepatah kata pun keluar dari


mulut mereka, ruangan itu menjadi sunyi. Yang terdengar adalah detak jantung


mereka. Yah, hati merekalah yang bicara dan semuanya itu disaksikan oleh Trinil


dari balik dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.


“Anakku


.... seandainya Allan bukanlah orang Belanda. Ibu takkan keberatan menikahkan


mu dengannya. Kalian adalah pasangan yang serasi, cinta kalian sangatlah besar,


tanpa terasa ... kau telah membuat ibumu ini ri, anakku,” katanya dalam hati,


“Kau benar-benar cantik apabila mengenakan gaun itu dalam pernikahanmu kelak.


Aku bisa merasakan gelora api cinta kalian berdua. Jika mau, aku ingin


menikahkan mereka sekarang juga. Tenanglah, nduk... ibu akan berusaha


membantumu. Ibu bisa melihat diri ibu di dalam dirimu, anakku... yah, ibu akan


berusaha memberikan yang terbaik untukmu,”


Hubungan


antara Mira dan Allan akhirnya diketahui juga oleh Panji Asmoro, ayah Mira.


Semula sang Ayah bersikap baik dan hormat pada keluarga Koef, akan tetapi,


amarahnya memuncak manakala saat itu Allan datang bersama Ayah dan ibunya,


tujuan mereka adalah melamar Mira. Dengan kasar Sang Ayah mengusir mereka dari


rumahnya walau itu sempat memicu pertengkaran dalam rumah tangga Panji Asmoro.


Alasannya sederhana, karena perbedaan kewarganegaraan plus perbedaan keyakinan.


Keluarga Mira beragama muslim sementara, Keluarga Van Koef Nasrani. Puncaknya


adalah dimana setelah pertengkaran Keluarga Van Koef dan Keluarga Mira, Allan


masih saja datang mengunjungi rumah Mira. Dengan kasar Panji Asmoro mengusir


Allan dari rumahnya dan pada hari itu pula Yunita datang menyapanya.

__ADS_1


_____


__ADS_2