Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 04


__ADS_3

Hari masih pagi, namun, karena mendung suasana di sekitar sekolah kelihatan gelap


ditambah dengan tanaman-tanaman raksasa yang tumbuh disana-sini di halaman.


Sebagian lampu masih belum dimatikan oleh Pak Jiman. Aku dan Cindy berjalan


menyusuri jalanan di lorong-lorong ruangan kelas yang menghubungkannya ke


halaman toilet wanita.


Baik lorong kelas maupun ruangan kelas masih sepi, karena anak-anak lain belum


datang. Bunyi beradunya sepatu dengan lantai terdengar bergema memenuhi setiap


ruangan yang kami lewati beriringan dengan suara halilintar yang terdengar


semenjak dini hari tadi. Cuaca seakan tak bersahabat, cahaya kilat


menyambar-nyambar seakan hendak mencabik-cabik awan hitam yang bergulung-gulung


menyembunyikan wajah mentari pagi.


“Ddduuuaaarrr !!!”


Kali ini bunyi guntur lebih keras dari sebelumnya, membuat kami melompat


kaget, gendang telinga seakan pecah memaksa setiap detak jantung dan aliran


darah bergerak dua kali lebih cepat dari batas normal para pendengarnya.


Aku


menengadah ke langit. Awan hitam sudah seluruhnya menutupi langit dan tak lama


lagi hujan akan turun, sementara, kami masih berjalan menyusuri lorong demi


lorong. Tepat ketika kami hendak menapak halaman Toilet wanita, hujan turun


disertai hembusan angin. Meski titik-titik hujan tak sebesar pangkal sapu lidi,


tapi, tetap saja membuat pandangan kami terhalang.


Kami


terus melangkah. Langkah-langkah kaki kami terhenti saat melihat sesosok


bayangan wanita berbaju putih dan berambut panjang berdiri. Kepalanya


menengadah ke langit sementara sepasang matanya terpejam. Pada leher wanita


tersebut melingkar sebuah tali berwarna hitam. Dialah wanita yang kami temui


beberapa waktu lalu. Ia menampakkan diri lagi pada kami. Apa yang hendak


dilakukannya di tengah guyuran hujan seperti ini ? tanyaku dalam hati.


Pertanyaan itu segera terjawab, manakala, wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya.


Pinggangnya meliuk-liuk bagaikan badan seekor ular raksasa, tangan dan kakinya


bergerak kesana-kemari. Ia menari. Menari dalam guyuran air hujan. Tapi,


gerakannya berbeda dengan beberapa waktu lalu, gerakan tariannya bersifat


setengah erotis. Aku dan Cindy tak paham mengenai seni tari, akan tetapi,


tarian yang dibawakan olehnya, bagi kami merupakan bentuk tarian yang ...


mungkin, terkesan seperti : MERINDUKAN KEKASIH.


Sebuah tarian yang cukup langka, mata kami tak berkedip menyaksikannya. Itu adalah


tarian yang cukup indah, beruntung kami dapat menyaksikannya. Setidaknya itulah


pendapat kami.

__ADS_1


“Tarian itu, seperti orang yang merindukan kekasih,” perkataan itu mengejutkanku.


Buru-buru aku menoleh ke arah darimana suara itu berasal, di belakangku sudah


berdiri : Rita, Intan Jan-Shen dan Timmy. Tobby duduk tak jauh dari halaman


depan toilet, ia duduk sementara tangannya bergerak mencorat-coret skeetch book


yang ada di pangkuannya. Ia duduk di tempat yang nyaman.


“Kalian .... sejak kapan kalian ada di tempat ini ?” tanyaku.


“Kalian pernah menyaksikan tariannya dalam guyuran hujan beberapa waktu lalu. Tarian


itu selesai saat hujan reda. Aku penasaran dengan cerita kalian itu, maka, saat


hujan turun kami segera kemari berharap bisa menyaksikan bagaimana dia menari


di tengah guyuran hujan seperti ini. Dan, ternyata.... niat kami kesampaian


juga,” jawab Rita sambil menatap wanita yang masih menari di halaman toilet


wanita itu, “Tariannya memang indah dan membuatku terpesona,” sambungnya.


Kami terus menonton, hingga hujan berangsur-angsur reda. Detik berikut, kami


menyaksikan wanita itu berjalan tertatih-tatih memasuki toilet wanita. Aku dan


yang lain mengikutinya dari belakang. Saat tiba di toilet, kami melihat wanita


itu berdiri membelakangi kami.


“Kalian tampaknya menyukai tarianku, ya ?” tanyanya tanpa menoleh.


“Jadi, kau tahu bahwa kami menyaksikan tarian-tarianmu yang indah itu,” tanyaku.


“tentu saja. Kalian kira aku tak mengetahuinya ? Aku juga melihat seorang bocah


melukis semua gerakan-gerakan tarianku,” kata wanita itu sambil melirik ke arah


Tobby yang berdiri di belakang Cindy berdampingan dengan Timmy, ia memeluk


“Apakah kau tidak suka, bila tarianmu itu dilukis oleh Tobby ? Kalau memang tak suka,


biar Cindy memintanya untuk diberikan padamu,” sahut Cindy.


Wanita itu tersenyum, “Sebenarnya, tarian itu kupersembahkan untuk dia. Tapi, kurasa


dia takkan mempedulikannya. Kemarikan lukisanmu itu, biar aku melihatnya,”


Tobby


melangkah maju dan kemudian memberikan Skeetch Book-nya pada wanita itu. Begitu


buku sudah dipegang, jari-jemari wanita itu bergerak membuka halamannya satu


persatu, “Kau pandai sekali melukis. Apa nama lukisan ini ?” katanya sambil menunjukkan


lukisan 2 anak duduk di tepi pantai sambil memandangi bulan purnama.


“PENANTIAN


ANAK REMBULAN,” jawab Tobby singkat. Wanita itu tampak heran, “Judul yang


bagus. Bisakah kau melukiskannya lagi untukku ?” tanyanya sambil memberikan


Skeetch Book itu kepada Tobby. Tobby mengangguk, lalu kembali tangannya


bergerak lincah seperti menari di atas kertas. Dalam waktu singkat, Lukisan


PENANTIAN ANAK REMBULAN sudah jadi dan diberikan kepada wanita itu.


“Namamu :


Yunita, bukan ?” tanya Cindy, “Apa nama tarianmu tadi ?” “Tak ada nama yang

__ADS_1


cocok untuk tarianku tadi. Jika kau menyukainya, aku dapat mengajarkannya


kepadamu,” jawab wanita itu.


Cindy


tersenyum, “Cindy menghargainya. Selama ini Cindy banyak belajar banyak hal


dari teman-teman Cindy ini. Cindy berterima kasih sekali. Tapi, sebelum itu...


bisakah kau ceritakan perihal tentangmu. Maksud Cindy, sewaktu kau masih hidup


di dunia ini. Apa yang menyebabkanmu masih berada di dunia ini, sementara,


Cindy tahu ... harusnya kau sudah meninggal. Bisakah kau ceritakan semuanya


kepada kami ? Jika kau tak keberatan,”


Wanita


yang disebut Yunita itu tersenyum, ia berjalan melayang mengelilingi kami, “Ini


luar biasa. Aku tak habis pikir, bagaimana anak-anak seusia kalianberdua bisa


melihat, berkomunikasi juga bersahabat dengan kami. Padahal, setahuku,


anak-anak lain seusia kalian ini, pasti ketakutan melihat apa yang tidak mereka


pahami. Selama sekian abad, aku harus sendirian di tempat ini. Rasanya tersiksa


sekali apabila tak ada yang bisa kuajak bicara. Dulu, tak seorang pun berani


menginjakkan kakinya di tempat ini. Sekarang, ada 2 orang bocah perempuan yang


masih bau kencur berani datang dan mengajakku berbicara. Tentu saja aku tak


keberatan. Baiklah akan kuceritakan, kuharap setelah kalian mendengar ceritaku


ini, janganlah enggan datang kemari kapanpun. Akan tetapi, aku tak ingin ada


orang lain mengganggu saat aku bercerita. Akan tetapi, maafkan aku, jika harus


mengganti suasana toilet ini menjadi rumah tempat tinggalku. Aku berjanji, saat


jam pelajaran sekolah ini dimulai ... kalian sudah kembali,” jelasnya.


Aku


mengangguk, seketika itu pula suasana di ruangan toilet wanita berubah.


Pasak-pasak kayu yang menyangga atap ruangan berubah menjadi dahan dan ranting


pohon beringin yang berdaun lebat. Cat pada dinding ruangan terkelupas dan


retak disana-sini, perlahan-lahan berubah menjadi semak-semak belukar. Lantai


di ruangan perlahan-lahan berubah menjadi rumput-rumputan hijau dan empuk.


“Sebelum


ruangan ini dibangun, ini adalah sebuah tanah lapang yang  cukup luas. Disini, ada sebuah pohon beringin


yang berukuran raksasa dan berdaun lebat, disinilah aku menggantung leherku.


Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungimu, Maribeth. Besar harapanku,


agar  kau dan teman-temanmu bisa membongkar


seluruh kejahatan yang terselubung di sekolah ini dan menyeret para pelakunya


di pengadilan, semuanya harus diakhiri. Jika hukum tak bisa memberikan keadilan


untuk para korban.... maka, kamilah yang akan memberikan hukuman,” jelas


Yunita. Diapun mulai membawa kami memasuki lorong ruang dan waktu, sebuah masa

__ADS_1


dimana Yunita masih hidup sebagai manusia seperti kami.


***


__ADS_2