
Hari masih pagi, namun, karena mendung suasana di sekitar sekolah kelihatan gelap
ditambah dengan tanaman-tanaman raksasa yang tumbuh disana-sini di halaman.
Sebagian lampu masih belum dimatikan oleh Pak Jiman. Aku dan Cindy berjalan
menyusuri jalanan di lorong-lorong ruangan kelas yang menghubungkannya ke
halaman toilet wanita.
Baik lorong kelas maupun ruangan kelas masih sepi, karena anak-anak lain belum
datang. Bunyi beradunya sepatu dengan lantai terdengar bergema memenuhi setiap
ruangan yang kami lewati beriringan dengan suara halilintar yang terdengar
semenjak dini hari tadi. Cuaca seakan tak bersahabat, cahaya kilat
menyambar-nyambar seakan hendak mencabik-cabik awan hitam yang bergulung-gulung
menyembunyikan wajah mentari pagi.
“Ddduuuaaarrr !!!”
Kali ini bunyi guntur lebih keras dari sebelumnya, membuat kami melompat
kaget, gendang telinga seakan pecah memaksa setiap detak jantung dan aliran
darah bergerak dua kali lebih cepat dari batas normal para pendengarnya.
Aku
menengadah ke langit. Awan hitam sudah seluruhnya menutupi langit dan tak lama
lagi hujan akan turun, sementara, kami masih berjalan menyusuri lorong demi
lorong. Tepat ketika kami hendak menapak halaman Toilet wanita, hujan turun
disertai hembusan angin. Meski titik-titik hujan tak sebesar pangkal sapu lidi,
tapi, tetap saja membuat pandangan kami terhalang.
Kami
terus melangkah. Langkah-langkah kaki kami terhenti saat melihat sesosok
bayangan wanita berbaju putih dan berambut panjang berdiri. Kepalanya
menengadah ke langit sementara sepasang matanya terpejam. Pada leher wanita
tersebut melingkar sebuah tali berwarna hitam. Dialah wanita yang kami temui
beberapa waktu lalu. Ia menampakkan diri lagi pada kami. Apa yang hendak
dilakukannya di tengah guyuran hujan seperti ini ? tanyaku dalam hati.
Pertanyaan itu segera terjawab, manakala, wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya.
Pinggangnya meliuk-liuk bagaikan badan seekor ular raksasa, tangan dan kakinya
bergerak kesana-kemari. Ia menari. Menari dalam guyuran air hujan. Tapi,
gerakannya berbeda dengan beberapa waktu lalu, gerakan tariannya bersifat
setengah erotis. Aku dan Cindy tak paham mengenai seni tari, akan tetapi,
tarian yang dibawakan olehnya, bagi kami merupakan bentuk tarian yang ...
mungkin, terkesan seperti : MERINDUKAN KEKASIH.
Sebuah tarian yang cukup langka, mata kami tak berkedip menyaksikannya. Itu adalah
tarian yang cukup indah, beruntung kami dapat menyaksikannya. Setidaknya itulah
pendapat kami.
__ADS_1
“Tarian itu, seperti orang yang merindukan kekasih,” perkataan itu mengejutkanku.
Buru-buru aku menoleh ke arah darimana suara itu berasal, di belakangku sudah
berdiri : Rita, Intan Jan-Shen dan Timmy. Tobby duduk tak jauh dari halaman
depan toilet, ia duduk sementara tangannya bergerak mencorat-coret skeetch book
yang ada di pangkuannya. Ia duduk di tempat yang nyaman.
“Kalian .... sejak kapan kalian ada di tempat ini ?” tanyaku.
“Kalian pernah menyaksikan tariannya dalam guyuran hujan beberapa waktu lalu. Tarian
itu selesai saat hujan reda. Aku penasaran dengan cerita kalian itu, maka, saat
hujan turun kami segera kemari berharap bisa menyaksikan bagaimana dia menari
di tengah guyuran hujan seperti ini. Dan, ternyata.... niat kami kesampaian
juga,” jawab Rita sambil menatap wanita yang masih menari di halaman toilet
wanita itu, “Tariannya memang indah dan membuatku terpesona,” sambungnya.
Kami terus menonton, hingga hujan berangsur-angsur reda. Detik berikut, kami
menyaksikan wanita itu berjalan tertatih-tatih memasuki toilet wanita. Aku dan
yang lain mengikutinya dari belakang. Saat tiba di toilet, kami melihat wanita
itu berdiri membelakangi kami.
“Kalian tampaknya menyukai tarianku, ya ?” tanyanya tanpa menoleh.
“Jadi, kau tahu bahwa kami menyaksikan tarian-tarianmu yang indah itu,” tanyaku.
“tentu saja. Kalian kira aku tak mengetahuinya ? Aku juga melihat seorang bocah
melukis semua gerakan-gerakan tarianku,” kata wanita itu sambil melirik ke arah
Tobby yang berdiri di belakang Cindy berdampingan dengan Timmy, ia memeluk
“Apakah kau tidak suka, bila tarianmu itu dilukis oleh Tobby ? Kalau memang tak suka,
biar Cindy memintanya untuk diberikan padamu,” sahut Cindy.
Wanita itu tersenyum, “Sebenarnya, tarian itu kupersembahkan untuk dia. Tapi, kurasa
dia takkan mempedulikannya. Kemarikan lukisanmu itu, biar aku melihatnya,”
Tobby
melangkah maju dan kemudian memberikan Skeetch Book-nya pada wanita itu. Begitu
buku sudah dipegang, jari-jemari wanita itu bergerak membuka halamannya satu
persatu, “Kau pandai sekali melukis. Apa nama lukisan ini ?” katanya sambil menunjukkan
lukisan 2 anak duduk di tepi pantai sambil memandangi bulan purnama.
“PENANTIAN
ANAK REMBULAN,” jawab Tobby singkat. Wanita itu tampak heran, “Judul yang
bagus. Bisakah kau melukiskannya lagi untukku ?” tanyanya sambil memberikan
Skeetch Book itu kepada Tobby. Tobby mengangguk, lalu kembali tangannya
bergerak lincah seperti menari di atas kertas. Dalam waktu singkat, Lukisan
PENANTIAN ANAK REMBULAN sudah jadi dan diberikan kepada wanita itu.
“Namamu :
Yunita, bukan ?” tanya Cindy, “Apa nama tarianmu tadi ?” “Tak ada nama yang
__ADS_1
cocok untuk tarianku tadi. Jika kau menyukainya, aku dapat mengajarkannya
kepadamu,” jawab wanita itu.
Cindy
tersenyum, “Cindy menghargainya. Selama ini Cindy banyak belajar banyak hal
dari teman-teman Cindy ini. Cindy berterima kasih sekali. Tapi, sebelum itu...
bisakah kau ceritakan perihal tentangmu. Maksud Cindy, sewaktu kau masih hidup
di dunia ini. Apa yang menyebabkanmu masih berada di dunia ini, sementara,
Cindy tahu ... harusnya kau sudah meninggal. Bisakah kau ceritakan semuanya
kepada kami ? Jika kau tak keberatan,”
Wanita
yang disebut Yunita itu tersenyum, ia berjalan melayang mengelilingi kami, “Ini
luar biasa. Aku tak habis pikir, bagaimana anak-anak seusia kalianberdua bisa
melihat, berkomunikasi juga bersahabat dengan kami. Padahal, setahuku,
anak-anak lain seusia kalian ini, pasti ketakutan melihat apa yang tidak mereka
pahami. Selama sekian abad, aku harus sendirian di tempat ini. Rasanya tersiksa
sekali apabila tak ada yang bisa kuajak bicara. Dulu, tak seorang pun berani
menginjakkan kakinya di tempat ini. Sekarang, ada 2 orang bocah perempuan yang
masih bau kencur berani datang dan mengajakku berbicara. Tentu saja aku tak
keberatan. Baiklah akan kuceritakan, kuharap setelah kalian mendengar ceritaku
ini, janganlah enggan datang kemari kapanpun. Akan tetapi, aku tak ingin ada
orang lain mengganggu saat aku bercerita. Akan tetapi, maafkan aku, jika harus
mengganti suasana toilet ini menjadi rumah tempat tinggalku. Aku berjanji, saat
jam pelajaran sekolah ini dimulai ... kalian sudah kembali,” jelasnya.
Aku
mengangguk, seketika itu pula suasana di ruangan toilet wanita berubah.
Pasak-pasak kayu yang menyangga atap ruangan berubah menjadi dahan dan ranting
pohon beringin yang berdaun lebat. Cat pada dinding ruangan terkelupas dan
retak disana-sini, perlahan-lahan berubah menjadi semak-semak belukar. Lantai
di ruangan perlahan-lahan berubah menjadi rumput-rumputan hijau dan empuk.
“Sebelum
ruangan ini dibangun, ini adalah sebuah tanah lapang yang cukup luas. Disini, ada sebuah pohon beringin
yang berukuran raksasa dan berdaun lebat, disinilah aku menggantung leherku.
Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungimu, Maribeth. Besar harapanku,
agar kau dan teman-temanmu bisa membongkar
seluruh kejahatan yang terselubung di sekolah ini dan menyeret para pelakunya
di pengadilan, semuanya harus diakhiri. Jika hukum tak bisa memberikan keadilan
untuk para korban.... maka, kamilah yang akan memberikan hukuman,” jelas
Yunita. Diapun mulai membawa kami memasuki lorong ruang dan waktu, sebuah masa
__ADS_1
dimana Yunita masih hidup sebagai manusia seperti kami.
***