Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 05


__ADS_3

Aku,


Cindy dan teman-teman berada di sebuah bangunan sederhana dengan sebuah pohon


beringin berukuran raksasa. Usia pohon itu mungkin sudah ratusan tahun. Masih berdiri


kokoh dengan serabut akar-akarnya yang bergelantungan di tengah udara, panjang


dan lebat. Begitu panjangnya hingga sebagian ada yang menyentuh tanah. Bentuk


pohon itu aneh sekali, jika aku bisa melukiskan bentuknya dengan kata-kata, aku


akan menceritakan setiap detailnya. Yang bisa kukatakan adalah, bentuknya mirip


kerumunan manusia yang saling berpelukan erat dan kuat. Berjejeran dan


bertumpuk-tumpuk menjadi satu.


Aku dan


Cindy mendengar suara aneh yang berasal dari atas kepala. Buru-buru kami mengalihkan


pandangan ke asal suara itu. Ada sesosok wanita berbaju putih bergelantungan di


udara. Sebuah tali tambang mengikat erat lehernya, sepasang matanya terbelalak


lebar, lidahnya terjulur keluar. Saat aku hendak membuka mulutku, sepasang


kelopak matanya bergerak menatap tajam ke arah kami. Menyusul kemudian tubuhnya


yang kaku itu bergerak perlahan-lahan, ia melayang turun dan berdiri di hadapan

__ADS_1


kami.


“Maaf,


sudah membuat kalian takut,” katanya.


Memang,


untuk beberapa menit, kami dihadapkan oleh sebuah pemandangan yang cukup


menakutkan dan menegangkan.


“Selama


20 menit aku harus tersiksa di atas sana, setelah itu aku melihat diriku


bergelantungan. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya, aku bergelantungan


disana selama tiga hari, tiga malam. Hingga akhirnya, ada seorang wanita datang


Dialah Nyai Keting, kakakku. Dia pula yang mengubur jenazahku di bawah pohon


beringin ini,” jelasnya.


Mendengar


nama ‘NYAI KETING’ disebut-sebut, kami semua terkejut. Kami semua tak menyangka


bahwa, hantu gantung leher penghuni toilet wanita dan penunggu Ringin Kembar


memiliki hubungan darah.

__ADS_1


“Sebenarnya,


apa yang membuatmu melakukan ini ?” tanyaku.


“Tahukah


kalian, di dunia ini, apa penyakit yang paling berbahaya sekaligus mematikan ?”


“Kanker,”


“Bukan,”


tegas Yunita, “Kalian adalah anak-anak kemarin sore yang lugu dan polos. Tapi,


tak apa ... aku menyukainya. Nama penyakit itu adalah : CINTA,”


Setelah


berkata demikian sosok arwah penasaran yang menamakan dirinya sebagai YUNITA


itu mulai bercerita. Cerita yang mungkin pernah dialami oleh manusia pada


umumnya. Cerita yang bisa kuanggap, membahagiakan namun harus berakhir tragis.


Berbeda dari yang dialami oleh SRI MENUR dan yang lain. Cerita yang benar-benar


membuat kami, memperoleh pengalaman baru dan harus berhati-hati dengan apa yang


disebut CINTA BUTA. Setidaknya itu menurut kami, sementara, orang boleh


berpendapat lain. Kami adalah anak-anak yang masih harus belajar memahami

__ADS_1


perasaan orang-orang yang ada di sekitar kami.


***


__ADS_2