
Aku,
Cindy dan teman-teman berada di sebuah bangunan sederhana dengan sebuah pohon
beringin berukuran raksasa. Usia pohon itu mungkin sudah ratusan tahun. Masih berdiri
kokoh dengan serabut akar-akarnya yang bergelantungan di tengah udara, panjang
dan lebat. Begitu panjangnya hingga sebagian ada yang menyentuh tanah. Bentuk
pohon itu aneh sekali, jika aku bisa melukiskan bentuknya dengan kata-kata, aku
akan menceritakan setiap detailnya. Yang bisa kukatakan adalah, bentuknya mirip
kerumunan manusia yang saling berpelukan erat dan kuat. Berjejeran dan
bertumpuk-tumpuk menjadi satu.
Aku dan
Cindy mendengar suara aneh yang berasal dari atas kepala. Buru-buru kami mengalihkan
pandangan ke asal suara itu. Ada sesosok wanita berbaju putih bergelantungan di
udara. Sebuah tali tambang mengikat erat lehernya, sepasang matanya terbelalak
lebar, lidahnya terjulur keluar. Saat aku hendak membuka mulutku, sepasang
kelopak matanya bergerak menatap tajam ke arah kami. Menyusul kemudian tubuhnya
yang kaku itu bergerak perlahan-lahan, ia melayang turun dan berdiri di hadapan
__ADS_1
kami.
“Maaf,
sudah membuat kalian takut,” katanya.
Memang,
untuk beberapa menit, kami dihadapkan oleh sebuah pemandangan yang cukup
menakutkan dan menegangkan.
“Selama
20 menit aku harus tersiksa di atas sana, setelah itu aku melihat diriku
bergelantungan. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya, aku bergelantungan
disana selama tiga hari, tiga malam. Hingga akhirnya, ada seorang wanita datang
Dialah Nyai Keting, kakakku. Dia pula yang mengubur jenazahku di bawah pohon
beringin ini,” jelasnya.
Mendengar
nama ‘NYAI KETING’ disebut-sebut, kami semua terkejut. Kami semua tak menyangka
bahwa, hantu gantung leher penghuni toilet wanita dan penunggu Ringin Kembar
memiliki hubungan darah.
__ADS_1
“Sebenarnya,
apa yang membuatmu melakukan ini ?” tanyaku.
“Tahukah
kalian, di dunia ini, apa penyakit yang paling berbahaya sekaligus mematikan ?”
“Kanker,”
“Bukan,”
tegas Yunita, “Kalian adalah anak-anak kemarin sore yang lugu dan polos. Tapi,
tak apa ... aku menyukainya. Nama penyakit itu adalah : CINTA,”
Setelah
berkata demikian sosok arwah penasaran yang menamakan dirinya sebagai YUNITA
itu mulai bercerita. Cerita yang mungkin pernah dialami oleh manusia pada
umumnya. Cerita yang bisa kuanggap, membahagiakan namun harus berakhir tragis.
Berbeda dari yang dialami oleh SRI MENUR dan yang lain. Cerita yang benar-benar
membuat kami, memperoleh pengalaman baru dan harus berhati-hati dengan apa yang
disebut CINTA BUTA. Setidaknya itu menurut kami, sementara, orang boleh
berpendapat lain. Kami adalah anak-anak yang masih harus belajar memahami
__ADS_1
perasaan orang-orang yang ada di sekitar kami.
***