Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 06


__ADS_3

Sewaktu


Yunita masih hidup, ia bernama DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI dan memiliki seorang


kakak bernama DYAH SEKAR ARUM PRAMESWARA. Mereka adalah anak-anak yang memiliki


keturunan darah biru Kerajaan Pasundan. Mereka hidup bergelimang harta dan


kemewahan. Tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak pernah mengenal, apa yang


dinamakan kebahagiaan. Karena, segala sesuatu, diatur oleh orang tua, mereka


hidup bagaikan seekor burung dalam sangkar emas. Tidak pernah mengenal dunia


luar. Itu sebabnya, berulang kali 2 puteri keraton ini senantiasa menghilang


atau lari dari istana diam-diam. Dan, itu membuat seluruh penghuni istana geger.


Tak jarang ayah mereka marah besar dan menghukum mereka.Sekalipun demikian, 2


puteri keraton ini, tidak pernah jera.


Hingga


pada suatu hari, 2 puteri keraton ini menghilang dalam waktu yang cukup lama.


Mereka kembali ke istana saat mendengar bahwa ibunya sedang jatuh sakit. Begitu


mereka tiba di pintu gerbang rumah tempat tinggalnya, sang ayah sudah duduk


sambil memain-mainkan cemeti / cambuk dikelilingi oleh beberapa dayang istana


dan prajurit-prajurit jaga.


“Jika


kalian tak mendengar kabar bahwa ibu kalian sedang sakit, mungkin, kalian


takkan pulang, bukan ?” tanya sang Ayah dengan nada geram. Dyah Sekar Arum


menarik lengan adiknya dan menyuruh adiknya berdiri di belakangnya, “Ananda


berdua sudah melakukan kesalahan, tapi, jika tidak demikian mungkin seumur


hidup kami akan terus dikurung dalam istana. Ayahanda tahu, kami ingin sekali


bermain-main dan mengenal dunia luar,” katanya sementara ia dan adiknya


berlutut dan menundukkan wajah ke lantai.


“Selama


ini kami sudah bersabar melihat kelakuan kalian yang sesukanya sendiri dan


tidak mematuhi peraturan-peraturan istana. Kalian adalah anak-anak


perempuan.... pantaskah kalian berlaku seperti itu ? Ingatlah, kalian adalah


puteri-puteri keraton. Harusnya kalian menjaga sikap kalian itu dan menjadi


contoh seluruh kawula muda di negeri ini. Apakah kalian tahu bagaimana


kekhawatiran kami ? Jika sampai kalian celaka, mau ditaruh dimana mukaku ini ?”


ujar sang Ayah, nadanya masih terdengar tinggi sekali.


“Ayah,


daripada kami hidup seperti ini, lebih baik mati saja,” sahut Dyah Sekar Ayu.


Perkataan Sekar Ayu ini benar-benar membuat Ayahnya bertambah marah, “Baik !!


Jika kalian tidak bisa diatur ... Sekarang juga pergi dari sini dan jangan


kembali ! Asal tahu saja, begitu kaki kalian melangkah keluar dari halaman ini


.... Kalian bukanlah anakku !!!”


Perkataan


sang Ayah itu seakan bagaikan ribuan tombak menusuk ulu hati anak-anak yang


baru berusia 10 dan 12 tahun itu. Mereka menatap wajah Ayahnya yang merah


padam, benar-benar perkataan yang tak pantas disebutkan apalagi di hadapan para


dayang dan para prajurit.


“Tarik


kembali ucapanmu itu, kakang Jogorogo,” mendadak terdengar suara lemah dari


dalam rumah. Bersamaan dengan itu, di ambang pintu, muncullah seorang wanita


cantik berwajah pucat, pandangan matanya begitu sayu.


“Ibu...”


seru 2 puteri keraton itu hampir bersamaan dengan sapaan lembut dari Sang Ayah,


“Nyai. Harusnya kau berbaring saja di pembaringan, kau, kan masih sakit ?”


sambil berkata demikian pria yang dipanggil dengan sebutan KAKANG JOGOROGO itu


berjalan menghampiri dan hendak memegang tubuh wanita yang baru keluar dari


dalam rumah itu. Tapi, wanita itu menempiskan tangannya sambil berkata, “Aku


tak menyangka ... Kakang bisa berkata seperti itu terhadap puteri-puteri kita


di hadapan orang. Mereka adalah wanita, tahukah kau, bagaimana jadinya jika ini


sampai tersebar sampai keluar istana. Bagaimana perasaan mereka, kang ?”


sambungnya sambil kemudian melirik ke arah 2 puteri keraton itu, “Kalian masih


saja berlutut disitu ? Masuk dan bersihkanlah tubuh kalian. Makanan dan minuman


sudah disiapkan oleh para dayang,”


Dyah


Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum berdiri dan kemudian melangkah masuk sementara,


para dayang segera mengikuti mereka dari belakang. Di dalam Dyah Sekar Arum


menatap tajam ke arah para dayang, “Aku bertanya pada kalian semua, siapakah


yang memberikan surat ini pada Ayah ?” tanyanya sambil mengeluarkan sehelai


kertas yang terbuat dari kulit sapi dari balik lipatan pakaiannya.


Dyah


Sekar Ayu menatap wajah  kakaknya dengan


tatapan heran, “Kak, bukankah surat itu tadi tergantung di ikat pinggang Ayah ?


Kapan kakak mengambilnya ? Darimana pula kakak mempelajarinya ?”

__ADS_1


Dyah


Sekar Arum tertawa nakal, “Tadi sewaktu lewat di samping Ayah. Karena, Ayah


teledor, surat ini tak lagi diperhatikan. Aku sempat membaca isinya. Kalau kau


bertanya darimana aku bisa melakukan itu... jawabnya Kakang Sabdo Ditho yang


mengajariku. Namanya, mencopet,”


“Apa isi


surat itu, kak ?” tanya Sekar Ayu.


“Ini


adalah surat kita yang kuberikan pada ibu sebelum berangkat dari istana,


tampaknya ada orang yang sengaja mencari muka di hadapan Ayah,” jawab Sekar


Arum lalu kemudian kembali menatap tajam ke arah dayang-dayang istana, “Ayo,


katakan atau kalian semua akan mendapat hukuman dariku. Bukankah kalian sudah


tahu bagaimana aku menghukum orang yang bermain-main dengan kami ? Ayo, katakan


selagi aku masih bisa bersabar,” ancamnya dengan nada yang dingin. Perkataan


Sekar Arum itu membuat bergidik semua dayang yang berada di dalam ruangan. Mereka


semua menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai ruangan.


Untuk


sekian lama, ruangan itu sunyi mencekam. Karena tak ada yang menjawab, Dyah


Sekar Ayu ikut-ikutan bicara. “Kalian mengertilah, bayangkan jika kami adalah


kalian, apakah yang akan kalian lakukan ? Aku yakin kalian akan melakukan hal


yang sama dengan kami, bukan ?”


Dyah


Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum, meski mereka adalah saudara kandung, namun,


memiliki sifat yang bertolak belakang. Dyah Sekar Ayu adalah seorang yang


bijaksana, segala perbuatannya disertai dengan tutur kata yang ramah dan penuh


kasih. Segala gerak-geriknya yang lemah lembut itu, adalah warisan sang ibu.


Sementara, Sekar Arum, dia sedikit pendendam, congkak dan tinggi hati namun,


tegas dalam bertindak atau memutuskan suatu perkara ? Rasa ingin tahunya lebih


besar daripada sang adik. Saat Ayahnya berkata hal-hal yang kurang pantas


diucapkan terlebih di hadapan banyak orang, ia merasa tidak terima dan ingin


melampiaskan kekesalannya pada para dayang dan para prajurit.


Karena


tak ada jawaban dari para dayang dan yang lainnya, maka, ia merasa kesal dan


ingin memukul semua orang yang ada di tempat itu. Akan tetapi, saat hendak


melayangkan tangannya ke arah dayang-dayang, mendadak, terdengar suara dari


arah pintu masuk, “Mereka tidak bersalah, nduk...,” bersamaan dengan itu dari


berjalan tertatih-tatih sambil batuk-batuk perlahan. “Ibu ...,” panggil dua


puteri keraton itu. Mereka kemudian berjalan menghampiri dan memapahnya menuju


ke pembaringan.


“Ibulah


yang memberikan surat itu pada Ayah kalian,” kata wanita itu setelah meletakkan


pantatnya dengan nyaman di tepi pembaringan, “Ibu melakukan itu, semata-mata


untuk kebaikan kalian. Juga demi untuk menyadarkan Ayah kalian agar lebih bijak


dalam mendidik anak-anaknya,” katanya lagi. Ia memberi isyarat agar para dayang


pergi dari kamar itu. Setelah semua orang pergi, ia menghela nafas panjang


sesaat, baru kemudian kembali berkata, “Hidup di lingkungan istana seperti ini,


tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hampir seluruh mata orang memandang


ke arah istana ini. Mengapa ? Sebagian dari orang-orang di luaran sana


berpendapat, hidup di lingkungan istana ... segala sesuatunya akan serasa lebih


mudah, sebagian berpendapat, bahwa di tempat inilah mereka menggantungkan


harapan dan cita-cita mereka, di tempat ini pula ... hampir seluruh mata orang


mengarah kemari. Perbuatan kita, tingkah laku kita dan apapun yang terjadi


disini, akan dilihat dan didengar banyak orang. Sekalipun kita adalah orang-orang


bermartabat, terhormat ataupun bergelimang harta dan kemewahan, hasilnya,


tetaplah sama, tidak berbeda dari orang-orang di luaran sana; kita harus hidup


dengan segala peraturan dan norma-norma yang ada, tak seorang pun bisa


menghindarinya,”


Mendengar


perkataan ibunya, 2 bocah perempuan itu segera berlutut, “Ananda berdua,


mengaku bersalah ... mohon ibu sudi memberikan hukuman. Kami bersedia


menerimanya,” kata mereka.


“Sudahlah


anak-anakku, bangunlah dan duduklah di samping ibu. Ada yang hendak ibu bicarakan


dengan kalian, terutama kau, Sekar Arum,”


2 puteri


keraton yang jelita itu menurut. Setelah batuk-batuk sebentar, DYAH ASIH


WILUJENG, isteri pembesar Istana Pasundan itu berkata, “Kalian adalah puteri


dari Maha patih JOGOROGO, salah satu pejabat istana Pasundan ini. Nama Ayahmu


cukup disegani dan dihormati, baik dari kalangan istana maupun di luar istana.


Lihat diri kalian. Semenjak kecil kalian disebut sebagai pemberontak kecil,

__ADS_1


pembangkang dan lain sebagainya. Keinginan kalian untuk keluar istana, ibu


sangat memakluminya. Apakah kalian tahu, sewaktu pertama kali ibu menginjakkan


kaki di istana ini sebagai isteri salah seorang pembesar istana ... ibu juga


pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Berulang kali ibu mencoba keluar dari


istana dengan berbagai macam alasan.Tetapi, toh akhirnya harus kembali kemari.


Butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri hidup di lingkungan


istana,”


“Jadi,


ibu pernah mengalaminya ?” tanya Sekar Ayu. Sang Ibu tersenyum, “Tentu saja.


Tapi, tak senekad kalian,” katanya dengan nada sedikit tinggi, “Setelah ibu


mengandung dan melahirkanmu, Sekar Arum, ibu sadar bahwa, tak selamanya ibu


terus-menerus bertindak seenaknya. Sementara, Ayah kalian bekerja untuk negeri


ini. Bayangkan saja, apa jadinya jika negeri ini terancam dan membutuhkan


tenaga dan pikirannya sementara, ibu hanya memikirkan diri sendiri. Kalian


paham, bukan apa yang ibu maksud ?”


Perkataan


itu membuat Dyah Sekar Arum dan Dyah Sekar Ayu menundukkan wajahnya dalam-dalam


ke lantai kamar. Mereka terdiam seribu bahasa. Sejak saat itulah, mereka tak


pernah  lagi pergi diam-diam dari


lingkungan istana. Mereka baru bisa keluar istana, saat Sang Ayah mengajak


berburu ataupun mendapat tugas dari Sang Raja. Itulah saat-saat yang paling


membahagiakan dalam hidup mereka.


***


DYAH


SEKAR ARUM dan DYAH SEKAR AYU, tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Kecantikan


mereka tersebar ke seluruh penjuru negeri. Tak heran banyak pemuda-pemuda dari


kalangan bangsawan maupun dari kalangan rakyat jelata berdatangan dan hendak


melamar mereka. Terutama DYAH SEKAR AYU, yang berwajah lebih cantik dan


berkulit lebih putih daripada kakaknya. Itu membuat sang kakak merasa iri hati.


Dia berharap, diantara banyak pemuda, khususnya, dari golongan darah biru itu


ada yang melamarnya. Akan tetapi, setiap kali ada tamu yang datang, mereka


menanyakan DYAH SEKAR AYU.


Sementara


itu, di pihak Dyah Sekar Ayu, ia tidak ingin menikah sebelum kakaknya menikah


terlebih dahulu. Ia tak ingin mendahului kakaknya.


“Kau


tidak perlu menungguku menikah terlebih dulu, adikku. Kau telah menyia-nyiakan


kesempatan yang ada. Lihat saja, dari sekian banyak pemuda yang datang kemari


... mereka semua menanyakanmu. Mungkin ini takdirku, takkan mendapat jodoh


sampai aku menjadi perawan tua,” kata Dyah Sekar Arum pada suatu hari.


“Jangan


berpikir seperti itu, kak... biar bagaimanapun, aku tidak akan menikah sebelum


kau menikah terlebih dahulu. Kau pandai dalam berbagai hal juga cantik. Lebih


cantik daripadaku. Kalau boleh aku bilang, kau lebih sempurna dariku, kak,”


“Tetapi,


lihat saja .... lihat saja semua hadiah yang diberikan oleh mereka. Semuanya


adalah untukmu. Lama-lama rumah ini penuh dengan barang-barang dan semuanya


adalah milikmu,”


“Kakak


boleh ambil semuanya. Aku tak membutuhkannya, aku akan lebih bahagia jika melihat


kakak hidup bersama dengan orang-orang pilihanmu. Apalah gunanya jika


terus-menerus bersilang pendapat mengenai hal ini ?”


“Adikku


... sebenarnya, apa yang kurang pada diriku ini ? Mengapa tak seorang pun


memandangku walau hanya sebelah mata saja,”


“Kak...


apakah kau masih ingat dengan Kakang Sabdo Ditho. Dulu sewaktu kita masih


berada di luar istana, dia pernah berjanji untuk menjaga dan melindungi kakak.


Apakah kakak telah melupakannya ?” tanya Dyah Sekar Ayu.


Mendadak


Dyah Sekar Arum terdiam, pandangannya menerawang jauh seakan menembus atap


kamar dan menuju ke masa dimana ia bertemu dengan orang yang bernama Sabdo


Ditho, “Kau benar adikku, mengapa aku sampai melupakannya ?”


Teringat


akan nama Sabdo Ditho, Sekar Arum segera bergegas melangkah menuju ruang kerja


Ayahnya dan menceritakan apa yang dialaminya sewaktu berada di luar istana.


Termasuk pertemuannya dengan Sabdo Ditho. Dan,itu membuat Sang Ayah marah


besar, yang nantinya berimbas pada sebuah peristiwa yang nantinya menimbulkan


kehancuran keluarga Jogorogo.


***

__ADS_1


__ADS_2