
Sewaktu
Yunita masih hidup, ia bernama DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI dan memiliki seorang
kakak bernama DYAH SEKAR ARUM PRAMESWARA. Mereka adalah anak-anak yang memiliki
keturunan darah biru Kerajaan Pasundan. Mereka hidup bergelimang harta dan
kemewahan. Tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak pernah mengenal, apa yang
dinamakan kebahagiaan. Karena, segala sesuatu, diatur oleh orang tua, mereka
hidup bagaikan seekor burung dalam sangkar emas. Tidak pernah mengenal dunia
luar. Itu sebabnya, berulang kali 2 puteri keraton ini senantiasa menghilang
atau lari dari istana diam-diam. Dan, itu membuat seluruh penghuni istana geger.
Tak jarang ayah mereka marah besar dan menghukum mereka.Sekalipun demikian, 2
puteri keraton ini, tidak pernah jera.
Hingga
pada suatu hari, 2 puteri keraton ini menghilang dalam waktu yang cukup lama.
Mereka kembali ke istana saat mendengar bahwa ibunya sedang jatuh sakit. Begitu
mereka tiba di pintu gerbang rumah tempat tinggalnya, sang ayah sudah duduk
sambil memain-mainkan cemeti / cambuk dikelilingi oleh beberapa dayang istana
dan prajurit-prajurit jaga.
“Jika
kalian tak mendengar kabar bahwa ibu kalian sedang sakit, mungkin, kalian
takkan pulang, bukan ?” tanya sang Ayah dengan nada geram. Dyah Sekar Arum
menarik lengan adiknya dan menyuruh adiknya berdiri di belakangnya, “Ananda
berdua sudah melakukan kesalahan, tapi, jika tidak demikian mungkin seumur
hidup kami akan terus dikurung dalam istana. Ayahanda tahu, kami ingin sekali
bermain-main dan mengenal dunia luar,” katanya sementara ia dan adiknya
berlutut dan menundukkan wajah ke lantai.
“Selama
ini kami sudah bersabar melihat kelakuan kalian yang sesukanya sendiri dan
tidak mematuhi peraturan-peraturan istana. Kalian adalah anak-anak
perempuan.... pantaskah kalian berlaku seperti itu ? Ingatlah, kalian adalah
puteri-puteri keraton. Harusnya kalian menjaga sikap kalian itu dan menjadi
contoh seluruh kawula muda di negeri ini. Apakah kalian tahu bagaimana
kekhawatiran kami ? Jika sampai kalian celaka, mau ditaruh dimana mukaku ini ?”
ujar sang Ayah, nadanya masih terdengar tinggi sekali.
“Ayah,
daripada kami hidup seperti ini, lebih baik mati saja,” sahut Dyah Sekar Ayu.
Perkataan Sekar Ayu ini benar-benar membuat Ayahnya bertambah marah, “Baik !!
Jika kalian tidak bisa diatur ... Sekarang juga pergi dari sini dan jangan
kembali ! Asal tahu saja, begitu kaki kalian melangkah keluar dari halaman ini
.... Kalian bukanlah anakku !!!”
Perkataan
sang Ayah itu seakan bagaikan ribuan tombak menusuk ulu hati anak-anak yang
baru berusia 10 dan 12 tahun itu. Mereka menatap wajah Ayahnya yang merah
padam, benar-benar perkataan yang tak pantas disebutkan apalagi di hadapan para
dayang dan para prajurit.
“Tarik
kembali ucapanmu itu, kakang Jogorogo,” mendadak terdengar suara lemah dari
dalam rumah. Bersamaan dengan itu, di ambang pintu, muncullah seorang wanita
cantik berwajah pucat, pandangan matanya begitu sayu.
“Ibu...”
seru 2 puteri keraton itu hampir bersamaan dengan sapaan lembut dari Sang Ayah,
“Nyai. Harusnya kau berbaring saja di pembaringan, kau, kan masih sakit ?”
sambil berkata demikian pria yang dipanggil dengan sebutan KAKANG JOGOROGO itu
berjalan menghampiri dan hendak memegang tubuh wanita yang baru keluar dari
dalam rumah itu. Tapi, wanita itu menempiskan tangannya sambil berkata, “Aku
tak menyangka ... Kakang bisa berkata seperti itu terhadap puteri-puteri kita
di hadapan orang. Mereka adalah wanita, tahukah kau, bagaimana jadinya jika ini
sampai tersebar sampai keluar istana. Bagaimana perasaan mereka, kang ?”
sambungnya sambil kemudian melirik ke arah 2 puteri keraton itu, “Kalian masih
saja berlutut disitu ? Masuk dan bersihkanlah tubuh kalian. Makanan dan minuman
sudah disiapkan oleh para dayang,”
Dyah
Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum berdiri dan kemudian melangkah masuk sementara,
para dayang segera mengikuti mereka dari belakang. Di dalam Dyah Sekar Arum
menatap tajam ke arah para dayang, “Aku bertanya pada kalian semua, siapakah
yang memberikan surat ini pada Ayah ?” tanyanya sambil mengeluarkan sehelai
kertas yang terbuat dari kulit sapi dari balik lipatan pakaiannya.
Dyah
Sekar Ayu menatap wajah kakaknya dengan
tatapan heran, “Kak, bukankah surat itu tadi tergantung di ikat pinggang Ayah ?
Kapan kakak mengambilnya ? Darimana pula kakak mempelajarinya ?”
__ADS_1
Dyah
Sekar Arum tertawa nakal, “Tadi sewaktu lewat di samping Ayah. Karena, Ayah
teledor, surat ini tak lagi diperhatikan. Aku sempat membaca isinya. Kalau kau
bertanya darimana aku bisa melakukan itu... jawabnya Kakang Sabdo Ditho yang
mengajariku. Namanya, mencopet,”
“Apa isi
surat itu, kak ?” tanya Sekar Ayu.
“Ini
adalah surat kita yang kuberikan pada ibu sebelum berangkat dari istana,
tampaknya ada orang yang sengaja mencari muka di hadapan Ayah,” jawab Sekar
Arum lalu kemudian kembali menatap tajam ke arah dayang-dayang istana, “Ayo,
katakan atau kalian semua akan mendapat hukuman dariku. Bukankah kalian sudah
tahu bagaimana aku menghukum orang yang bermain-main dengan kami ? Ayo, katakan
selagi aku masih bisa bersabar,” ancamnya dengan nada yang dingin. Perkataan
Sekar Arum itu membuat bergidik semua dayang yang berada di dalam ruangan. Mereka
semua menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai ruangan.
Untuk
sekian lama, ruangan itu sunyi mencekam. Karena tak ada yang menjawab, Dyah
Sekar Ayu ikut-ikutan bicara. “Kalian mengertilah, bayangkan jika kami adalah
kalian, apakah yang akan kalian lakukan ? Aku yakin kalian akan melakukan hal
yang sama dengan kami, bukan ?”
Dyah
Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum, meski mereka adalah saudara kandung, namun,
memiliki sifat yang bertolak belakang. Dyah Sekar Ayu adalah seorang yang
bijaksana, segala perbuatannya disertai dengan tutur kata yang ramah dan penuh
kasih. Segala gerak-geriknya yang lemah lembut itu, adalah warisan sang ibu.
Sementara, Sekar Arum, dia sedikit pendendam, congkak dan tinggi hati namun,
tegas dalam bertindak atau memutuskan suatu perkara ? Rasa ingin tahunya lebih
besar daripada sang adik. Saat Ayahnya berkata hal-hal yang kurang pantas
diucapkan terlebih di hadapan banyak orang, ia merasa tidak terima dan ingin
melampiaskan kekesalannya pada para dayang dan para prajurit.
Karena
tak ada jawaban dari para dayang dan yang lainnya, maka, ia merasa kesal dan
ingin memukul semua orang yang ada di tempat itu. Akan tetapi, saat hendak
melayangkan tangannya ke arah dayang-dayang, mendadak, terdengar suara dari
arah pintu masuk, “Mereka tidak bersalah, nduk...,” bersamaan dengan itu dari
berjalan tertatih-tatih sambil batuk-batuk perlahan. “Ibu ...,” panggil dua
puteri keraton itu. Mereka kemudian berjalan menghampiri dan memapahnya menuju
ke pembaringan.
“Ibulah
yang memberikan surat itu pada Ayah kalian,” kata wanita itu setelah meletakkan
pantatnya dengan nyaman di tepi pembaringan, “Ibu melakukan itu, semata-mata
untuk kebaikan kalian. Juga demi untuk menyadarkan Ayah kalian agar lebih bijak
dalam mendidik anak-anaknya,” katanya lagi. Ia memberi isyarat agar para dayang
pergi dari kamar itu. Setelah semua orang pergi, ia menghela nafas panjang
sesaat, baru kemudian kembali berkata, “Hidup di lingkungan istana seperti ini,
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hampir seluruh mata orang memandang
ke arah istana ini. Mengapa ? Sebagian dari orang-orang di luaran sana
berpendapat, hidup di lingkungan istana ... segala sesuatunya akan serasa lebih
mudah, sebagian berpendapat, bahwa di tempat inilah mereka menggantungkan
harapan dan cita-cita mereka, di tempat ini pula ... hampir seluruh mata orang
mengarah kemari. Perbuatan kita, tingkah laku kita dan apapun yang terjadi
disini, akan dilihat dan didengar banyak orang. Sekalipun kita adalah orang-orang
bermartabat, terhormat ataupun bergelimang harta dan kemewahan, hasilnya,
tetaplah sama, tidak berbeda dari orang-orang di luaran sana; kita harus hidup
dengan segala peraturan dan norma-norma yang ada, tak seorang pun bisa
menghindarinya,”
Mendengar
perkataan ibunya, 2 bocah perempuan itu segera berlutut, “Ananda berdua,
mengaku bersalah ... mohon ibu sudi memberikan hukuman. Kami bersedia
menerimanya,” kata mereka.
“Sudahlah
anak-anakku, bangunlah dan duduklah di samping ibu. Ada yang hendak ibu bicarakan
dengan kalian, terutama kau, Sekar Arum,”
2 puteri
keraton yang jelita itu menurut. Setelah batuk-batuk sebentar, DYAH ASIH
WILUJENG, isteri pembesar Istana Pasundan itu berkata, “Kalian adalah puteri
dari Maha patih JOGOROGO, salah satu pejabat istana Pasundan ini. Nama Ayahmu
cukup disegani dan dihormati, baik dari kalangan istana maupun di luar istana.
Lihat diri kalian. Semenjak kecil kalian disebut sebagai pemberontak kecil,
__ADS_1
pembangkang dan lain sebagainya. Keinginan kalian untuk keluar istana, ibu
sangat memakluminya. Apakah kalian tahu, sewaktu pertama kali ibu menginjakkan
kaki di istana ini sebagai isteri salah seorang pembesar istana ... ibu juga
pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Berulang kali ibu mencoba keluar dari
istana dengan berbagai macam alasan.Tetapi, toh akhirnya harus kembali kemari.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri hidup di lingkungan
istana,”
“Jadi,
ibu pernah mengalaminya ?” tanya Sekar Ayu. Sang Ibu tersenyum, “Tentu saja.
Tapi, tak senekad kalian,” katanya dengan nada sedikit tinggi, “Setelah ibu
mengandung dan melahirkanmu, Sekar Arum, ibu sadar bahwa, tak selamanya ibu
terus-menerus bertindak seenaknya. Sementara, Ayah kalian bekerja untuk negeri
ini. Bayangkan saja, apa jadinya jika negeri ini terancam dan membutuhkan
tenaga dan pikirannya sementara, ibu hanya memikirkan diri sendiri. Kalian
paham, bukan apa yang ibu maksud ?”
Perkataan
itu membuat Dyah Sekar Arum dan Dyah Sekar Ayu menundukkan wajahnya dalam-dalam
ke lantai kamar. Mereka terdiam seribu bahasa. Sejak saat itulah, mereka tak
pernah lagi pergi diam-diam dari
lingkungan istana. Mereka baru bisa keluar istana, saat Sang Ayah mengajak
berburu ataupun mendapat tugas dari Sang Raja. Itulah saat-saat yang paling
membahagiakan dalam hidup mereka.
***
DYAH
SEKAR ARUM dan DYAH SEKAR AYU, tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Kecantikan
mereka tersebar ke seluruh penjuru negeri. Tak heran banyak pemuda-pemuda dari
kalangan bangsawan maupun dari kalangan rakyat jelata berdatangan dan hendak
melamar mereka. Terutama DYAH SEKAR AYU, yang berwajah lebih cantik dan
berkulit lebih putih daripada kakaknya. Itu membuat sang kakak merasa iri hati.
Dia berharap, diantara banyak pemuda, khususnya, dari golongan darah biru itu
ada yang melamarnya. Akan tetapi, setiap kali ada tamu yang datang, mereka
menanyakan DYAH SEKAR AYU.
Sementara
itu, di pihak Dyah Sekar Ayu, ia tidak ingin menikah sebelum kakaknya menikah
terlebih dahulu. Ia tak ingin mendahului kakaknya.
“Kau
tidak perlu menungguku menikah terlebih dulu, adikku. Kau telah menyia-nyiakan
kesempatan yang ada. Lihat saja, dari sekian banyak pemuda yang datang kemari
... mereka semua menanyakanmu. Mungkin ini takdirku, takkan mendapat jodoh
sampai aku menjadi perawan tua,” kata Dyah Sekar Arum pada suatu hari.
“Jangan
berpikir seperti itu, kak... biar bagaimanapun, aku tidak akan menikah sebelum
kau menikah terlebih dahulu. Kau pandai dalam berbagai hal juga cantik. Lebih
cantik daripadaku. Kalau boleh aku bilang, kau lebih sempurna dariku, kak,”
“Tetapi,
lihat saja .... lihat saja semua hadiah yang diberikan oleh mereka. Semuanya
adalah untukmu. Lama-lama rumah ini penuh dengan barang-barang dan semuanya
adalah milikmu,”
“Kakak
boleh ambil semuanya. Aku tak membutuhkannya, aku akan lebih bahagia jika melihat
kakak hidup bersama dengan orang-orang pilihanmu. Apalah gunanya jika
terus-menerus bersilang pendapat mengenai hal ini ?”
“Adikku
... sebenarnya, apa yang kurang pada diriku ini ? Mengapa tak seorang pun
memandangku walau hanya sebelah mata saja,”
“Kak...
apakah kau masih ingat dengan Kakang Sabdo Ditho. Dulu sewaktu kita masih
berada di luar istana, dia pernah berjanji untuk menjaga dan melindungi kakak.
Apakah kakak telah melupakannya ?” tanya Dyah Sekar Ayu.
Mendadak
Dyah Sekar Arum terdiam, pandangannya menerawang jauh seakan menembus atap
kamar dan menuju ke masa dimana ia bertemu dengan orang yang bernama Sabdo
Ditho, “Kau benar adikku, mengapa aku sampai melupakannya ?”
Teringat
akan nama Sabdo Ditho, Sekar Arum segera bergegas melangkah menuju ruang kerja
Ayahnya dan menceritakan apa yang dialaminya sewaktu berada di luar istana.
Termasuk pertemuannya dengan Sabdo Ditho. Dan,itu membuat Sang Ayah marah
besar, yang nantinya berimbas pada sebuah peristiwa yang nantinya menimbulkan
kehancuran keluarga Jogorogo.
***
__ADS_1