
Kami
sudah kembali ke SMP Negeri Keteng I – Banyuwangi. Sebenarnya, kami masih
penasaran dengan kisah-kasih Yunita bersama orang yang dipanggil dengan sebutan
Allan Van Koef. Namun, lonceng tanda jam masuk kelas sudah berbunyi. Dari cara
Yunita menceritakannya, cinta mereka begitu besar, meski, aku tak setuju dengan
tindakan Yunita yang menerima cinta Allan. Biar bagaimanapun juga itulah yang
disebut perselingkuhan. Yah, itu salah menurut orang kebanyakan. Yunita
memiliki alasan yang kuat untuk melakukan perselingkuhan itu. Biar bagaimanapun
juga tindakannya tidak bisa dibenarkan.
Jam
pelajaran, kurasakan berjalan lambat dan lama. Aku jenuh mengikutinya, apalagi
materi IPA yang diajarkan oleh Bu Yanti sudah bisa kupahami, sebab, dari
kemarin-kemarin aku sudah mempelajarinya sendiri di rumah. Dengan kata lain, sudah
hafal, paham dan kumengerti, aku berusaha untuk tetap bersabar. Jam pertama dan
kedua sudah dilalui, jam ketiga dan keempat sama dan saat bel istirahat, aku
melompat kegirangan, inilah yang kutunggu-tunggu. Saat aku hendak melangkah
menuju toilet, mendadak Rita datang ke kelas dan memberikan aku sebuah buku
berwarna hitam dan agak kotor.
“Aku
menemukan buku ini di salah satu laci meja di lab IPA. Tampaknya, ini adalah
sebuah buku harian. Lihatlah tulisan yang terdapat di sudut sebelah kanan
atasnya,” kata Rita. Aku menerima buku itu dan sepasang mataku mengarah pada
sebuah kalimat yang ditunjukkan oleh Rita “SOPHIA VAN KOEF”. Aku membelalakkan
mata, “Kau mendapatkan buku ini di laci meja sebelah mana ?” tanyaku.
“Di
tempat yang tak jauh dari dimana sosok terbungkus kain kafan berwarna putih
kecoklatan. Semula aku tak ingin pergi kesana. Tapi, setelah mendengar cerita
Yunita, aku teringat akan satu hal. Buku hitam dan agak lapuk itu dibiarkan
saja di dalam laci meja itu tanpa ada yang menyetuhnya. Meja paling sudut,”
ujar Rita, “Mungkin itu berhubungan dengan sosok Yunita,”
“Bisa
jadi, berhubungan dengan erat,” aku membenarkan sambil mulai membuka halaman
demi halaman. Keinginanku untuk mendengar cerita Yunita jadi hilang digantikan
dengan rasa penasaranku terhadap apa yang tercantum di dalam buku itu. Aku
melangkahkan kakiku menuju lab Bahasa. Disana sudah menanti Cindy dan
kawan-kawan hantunya.
Aku
meletakkan buku itu ke meja sambil berkata, “Sebenarnya, aku ingin sekali
mendengar kisah Yunita. Tapi, tampaknya, ada sebuah kejutan dari Lap IPA. Buku
ini dulunya mungkin kepunyaan Miss Sophia, nama beliau tercantum di sudut
sebelah kanan atas. Mungkin ini berhubungan dengan Yunita. Bagaimana menurut
kalian ?”
Tanpa
menunggu jawaban dari Cindy, aku kembali membuka sampul buku yang berwarna
hitam itu. Memang sebagian kulit sampul rusak, tapi, bagian dalam masih bagus
dan kami bisa membaca tulisan yang ada di dalam buku itu. Tulisan demi tulisan
membentuk sebuah kalimat, kalimat itu disusun rapi hingga membentuk sebuah
jalinan cerita yang membuat kami kembali berpetualang menuju ke masa lalu.
***
Indonesia. Sebuah negara yang cukup
indah dan luas. Penduduknya begitu padat dan aku tak bisa memahami bahasa
mereka yang campur aduk. Bahasa yang benar-benar asing bagiku yang masih baru
berumur 10 tahun. Tapi, semua kejadian yang terjadi pada keluargaku sebelum
pindah kemari, masih bisa kuingat dengan jelas. Aku mempelajari hampir semua
kebudayaan dan adat-istiadat yang berlaku di negeri ini. Semula aku dan kakak-kakakku,
enggan sekali meninggalkan tanah kelahiran yang tanpa terasa mulai diambang
kehancuran. Aku baru bisa merasakan, bagaimana nasib bangsa yang dijajah dengan
bangsa lain. Ah, sudahlah ... kami datang ke negeri ini, hanya untuk mengadu
nasib, bukannya menjajah, seperti yang dilakukan orang-orang kami yang
menembakkan senapan, mencambuk ataupun membunuh orang tanpa alasan yang jelas.
Seiring dengan jalannya sang waktu,
aku mulai terbiasa menggunakan bahasa-bahasa yang ada di negeri ini, aku pun
tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik menurut orang tuaku, tapi, aku tahu
siapa diriku. Aku tahu dengan siapa aku hidup di negara ini, aku tahu apa
alasan mereka membawaku kemari. Namun, aku tak peduli pada mereka, yang penting
aku bisa bertahan hidup demi untuknya.
Namaku Sophia Van Koef. Van Koef
__ADS_1
adalah nama keluarga yang mengangkatku sebagai anak angkatnya. Aku rela
melakukannya, hanya untuk dia, aku rela melakukan segala-galanya hanya untuk
dia bukan untuk yang lain. Aku membenci Keluarga Van Koef, aku ingin sekali
membalaskan sakit hatiku pada mereka yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah
tangga keluargaku ... seandainya dia bukan berasal dari keluarga Van Koef ...
aku akan lebih berbahagia sekali.
Di buku harian ini, aku ingin
menceritakan bagaimana sebenarnya Keluarga Van Koef yang di mata orang-orang sekitar tampak
begitu baik, ramah dan disegani serta dihormat, akan tetapi, di mataku ...
mereka adalah orang-orang yang sebaliknya. Siapapun yang berhubungan dengan
Keluarga Van Koef, hendaknya berhati-hati ... dan janganlah mudah terpengaruh
oleh senyum dan sikap ramahnya. Aku berkata apa adanya, salah satu korban dari
sikap baik mereka adalah wanita yang bernama Yunita yang dulunya bernama Dyah
Sekar Ayu Prameswati. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya Yunita manakala
mengetahui impian dan harapannya tak bisa terwujud. Sekalipun aku sebenarnya
membenci Yunita yang telah merebutnya dari sisiku, namun, aku merasa iba juga
mendapati nasibnya yang kurang beruntung, karena berbagai hal. Andai aku bisa bertemu
lagi dengan Yunita, aku akan menemaninya kemana pun ia pergi sekalipun itu
menuju alam baka. Bersamaan dengan dituliskannya buku harian ini, aku
melampirkan surat dari Yunita untuk pria yang sangat ia cintai, ia kasihi dan
ia rindukan siang-malam. Andai saja Allan masih hidup, buku dan surat ini akan
kuberikan padanya, agar tahu ... betapa parahnya luka yang harus diterima
Yunita. Betapa berat hidup yang harus dijalaninya hingga akhirnya aku bisa
melihat tubuhnya tergantung pada pohon beringin yang tubuh di sekitar rumahnya.
Dulu, sewaktu belum pindah ke negeri
indah ini, Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, hidup berdampingan, rukun
seperti layaknya saudara kandung. Namun, karena dari segi ekonomi Liefderyk
lebih kaya dari Keluarga Van Koef, maka, Alexander Van Koef mencoba untuk
menyamakan kedudukannya dengan Leonard Liefderyk. Segala cara disusun dengan
rapi termasuk menikahkanku dengan putera pertamanya Andrew Van Koef.
Sebenarnya, aku ingin sekali menikah dengan Allan Van Koef, sebab, sejak pertama
kali aku bertemu dengannya ... aku jatuh hati padanya.
Maka dari itu, aku rela menikah
dengan Andrew dan tinggal di rumah keluarga Van Koef, semuanya kulakukan adalah
melihat Allan lebih memilih gadis pribumi bernama Mira. Saat aku bertanya pada
Allan, “Mengapa kamu lebih menyukai gadis-gadis pribumi dari negeri ini
daripada gadis-gadis Belanda, padahal, diantara mereka banyak sekali yang ingin
menikah denganmu ?” Allan hanya menjawab, “Karena, gadis pribumi lebih
pengertian dibanding gadis-gadis negeri asal kita,”
Sebuah perkataan yang benar-benar
menyakitkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk aku. Aku merasa iri
dengan Mira yang telah berhasil merebut hati Allan. Maka, dengan berbagai cara
aku berusaha menarik hati Allan. Tapi, semuanya sia-sia. Pendirian Allan kokoh
bagaikan gunung-gunung karang yang ada di negeri ini. Pendirian Allan tak
tergoyahkan, hatiku hancur manakala ia hanya menganggapku sebagai seorang adik.
Hingga pada suatu hari, tanpa
sengaja, aku mendengar Nyonya Elizabeth Van Koef dan suaminya bertengkar dalam
pertengkaran itu, kudengar namaku disebut-sebut, bukan hanya namaku, tapi, nama
Keluargaku, Liefderyk.
“Puteri keluarga Liefderyk, Sophia
... hanyalah pion. Leonard Liefderyk kini sudah berusia lanjut dan tubuhnya tak
sesehat dulu lagi, tak lama lagi, dia akan menemui ajalnya. Saat dia sudah tak
ada di dunia ini, Andrew meski statusnya hanya menantu, dia pasti dapat warisan
apalagi, putera-puteri Liefderyk hampir semuanya sudah tidak menginginkan
warisan tersebut, mereka sudah lebih kaya daripada Ayahnya. Itulah sebabnya,
Andrew kunikahkan dengan Sophia. Satu-satunya pewaris tunggal dari keluarga
Liefderyk adalah Andrew Van Koef. Saat warisan itu jatuh ke tangan Andrew...
apalah artinya seorang wanita yang bernama Sophia Liefderyk ?” Itulah
kalimat-kalimat yang sebagian kudengar dari pertengkaran mereka. Aku tidak bisa
menerima perkataan mereka, aku hendak melaporkan kejadian itu pada Ayah kandungku
namun, entah mengapa mendadak saja aku berpapasan dengan Ifan, salah seorang
bediende (buruh) keluarga kami.
Sejak aku menapakkan kakiku di rumah
ini, anak ini selalu saja mengamati gerak-gerikku. Aku risih jadinya, tapi, aku
tetap bersikap baik padanya ... menemaninya bermain ataupun berbicara. Dia
baik, aku benar-benar sayang padanya, tapi, tidak hatiku. Dia adalah kakak
bagiku. Maka, aku kecewa sekali manakala ia menyalah artikan perhatian dan
__ADS_1
sayangku padanya dengan artian lain. Dia menginginkanku menjadi isterinya.
Tentu saja kutolak sebab, aku tak ingin hidup bersamanya sebagai isteri, aku
ingin dia tetap ada sebagai kakakku.
Pernikahanku dengan Andrew juga
salah satu caraku untuk menghindarinya. Aku tak bisa memberikan perhatianku ini
lebih dari seorang adik yang menyayangi kakaknya. Aku tahu ia terluka, aku tahu
dia kecewa dan sakit hati, tapi, apa yang harus kami lakukan ? Kukira aku tak
bersalah.
Pada hari itu pula, aku merasa
bahagia karena akhirnya Allan putus dengan Mira. Harapanku untuk memiliki Allan
muncul lagi. Aku mendekatinya saat suamiku tidak ada, tapi, lagi-lagi aku harus
kecewa, karena ia masih menganggapku sebagai adiknya. Keadaan lebih parah,
manakala Yunita hadir dalam keluarga kami, 3 tahun setelah berpisah dengan
Mira, Allan semakin dekat dengan Yunita. Aku tak bisa menahan sakit hatiku saat
mereka sedang berduaan. Aku benar-benar merasa iri baik pada Mira maupun
Yunita. Apa kurangnya diriku ini sehingga, harus kalah dengan wanita-wanita
pribumi ? Aku iri manakala melihat Yunita dan Allan saling berpandangan, saling
membagi senyum, saling bercerita. Andaikan Yunita itu aku... akulah yang paling
bahagia di dunia ini.
Hati ini semakin sakit, airmata
seakan menetes tiada henti manakala melihat ... ah, tidak hatiku sedih sekali
mengingatnya.... hatiku sedih, aku benar-benar tidak bisa menceritakannya.
Mataku menjadi saksi, manakala melihat mereka berada dalam satu ruangan, kamar
tidur Allan. Pada daun pintu kamar itu, telinga ini mendengar bagaimana *******
nafas dan jeritan tertahan mereka karena berada dalam puncak kenikmatan yang
jarang kudapatkan selama hidup bersama suamiku. Mataku menjadi saksi, dimana
ketika hujan turun, kau dan Yunita menari di halaman sana, menari dengan begitu
indahnya. Tarian dalam rinai hujan, itulah lambang cinta kalian yang abadi.
Aku iri, aku terpuruk, aku kalah dan
aku sakit. Hingga saat ini, aku bertanya .... Adakah sesuatu di dalam diriku
yang kurang di mata Allan ? Tapi, tak ada yang menjawab, pertanyaan itu berlalu
begitu saja bagaikan dihembus angin malam yang dingin. Allan ... demi
kebahagiaanmu, kurelakan kau merengkuh kebahagiaan dan cinta bersama Yunita.
Demi cintaku padamu, aku memilih diam, memilih menelan pil pahit yang secara
tak langsung kau berikan padaku. Cinta kalian berdua benar-benar besar ,
mungkin, di dunia ini cinta terlarang kalian lebih mulia dibanding cinta-cinta
yang diperlihatkan pada orang di kursi pelaminan. CINTA YANG TERKADANG BISA
MEMBUTAKAN MATA HATI KITA.
Nah, Allan ... jika kau masih
diperkenankan hidup ribuan tahun lagi, kuharap kau bisa menemukan buku ini.
Juga surat dari Yunita untukmu. Dan, terus terang .... aku benar-benar salah
menilaimu. Di satu sisi kau adalah pemuda yang memiliki pesona dan mampu
menaklukkan hampir seluruh wanita di muka bumi ini, tapi, di satu sisi ... kau
adalah seorang pria yang tak bertanggung jawab, kejam dan berbisa. Dengan
membaca buku ini juga surat dari Yunita sebelum dia meninggal secara
mengenaskan, kami harap ... kau bisa memahami dan mengerti perasaaan wanita
yang kau cintai dan kau sayangi sekaligus kau campakkan ke dalam jurang yang
dalam, gelap dan penuh dengan derita. Jurang yang tak mungkin bisa diukur
kedalamannya. JURANG DERITA. Betapa banyak wanita yang mengharapkan menjadi
isterimu, tapi, benar-benar pria yang tak mempunyai perasaan.
***
Aku
menutup buku bersampul hitam itu. Terus terang, aku ragu untuk mempercayai
semua yang tertulis di dalamnya. Tapi, setelah aku membaca surat yang terselip
di dalam buku itu... baru aku yakin dan percaya, bahwa Keluarga Van Koef yang
terkenal dengan nama baiknya adalah palsu. Cindy memberi saran padaku agar
surat yang ditulis Yunita atau Dyah Sekar Ayu Prameswati untuk Allan yang tidak
sampai itu disimpan terlebih dahulu. Alasannya sederhana, apa jadinya jika
Yunita mengetahui kalau Allan sama sekali tidak menerima surat itu.
“Kukira,
dia sudah mengetahuinya Maribeth, itulah sebabnya, dia memilih untuk mengakhiri
hidupnya dengan cara seperti itu. Aku melihat keputus asaan dalam dirinya saat
menceritakan masa lalunya,” ujar Rita. Perkataan Rita ini membuatku semakin
merasa iba pada Yunita, aku ingin segera menemuinya dan mendengar ia bercerita
lagi tentang kehidupannya di masa lalunya. Nasibnya lebih tragis dibanding Sri
Menur, itu menurutku.
***
__ADS_1