Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 12


__ADS_3

Kami


sudah kembali ke SMP Negeri Keteng I – Banyuwangi. Sebenarnya, kami masih


penasaran dengan kisah-kasih Yunita bersama orang yang dipanggil dengan sebutan


Allan Van Koef. Namun, lonceng tanda jam masuk kelas sudah berbunyi. Dari cara


Yunita menceritakannya, cinta mereka begitu besar, meski, aku tak setuju dengan


tindakan Yunita yang menerima cinta Allan. Biar bagaimanapun juga itulah yang


disebut perselingkuhan. Yah, itu salah menurut orang kebanyakan. Yunita


memiliki alasan yang kuat untuk melakukan perselingkuhan itu. Biar bagaimanapun


juga tindakannya tidak bisa dibenarkan.


Jam


pelajaran, kurasakan berjalan lambat dan lama. Aku jenuh mengikutinya, apalagi


materi IPA yang diajarkan oleh Bu Yanti sudah bisa kupahami, sebab, dari


kemarin-kemarin aku sudah mempelajarinya sendiri di rumah. Dengan kata lain, sudah


hafal, paham dan kumengerti, aku berusaha untuk tetap bersabar. Jam pertama dan


kedua sudah dilalui, jam ketiga dan keempat sama dan saat bel istirahat, aku


melompat kegirangan, inilah yang kutunggu-tunggu. Saat aku hendak melangkah


menuju toilet, mendadak Rita datang ke kelas dan memberikan aku sebuah buku


berwarna hitam dan agak kotor.


“Aku


menemukan buku ini di salah satu laci meja di lab IPA. Tampaknya, ini adalah


sebuah buku harian. Lihatlah tulisan yang terdapat di sudut sebelah kanan


atasnya,” kata Rita. Aku menerima buku itu dan sepasang mataku mengarah pada


sebuah kalimat yang ditunjukkan oleh Rita “SOPHIA VAN KOEF”. Aku membelalakkan


mata, “Kau mendapatkan buku ini di laci meja sebelah mana ?” tanyaku.


“Di


tempat yang tak jauh dari dimana sosok terbungkus kain kafan berwarna putih


kecoklatan. Semula aku tak ingin pergi kesana. Tapi, setelah mendengar cerita


Yunita, aku teringat akan satu hal. Buku hitam dan agak lapuk itu dibiarkan


saja di dalam laci meja itu tanpa ada yang menyetuhnya. Meja paling sudut,”


ujar Rita, “Mungkin itu berhubungan dengan sosok Yunita,”


“Bisa


jadi, berhubungan dengan erat,” aku membenarkan sambil mulai membuka halaman


demi halaman. Keinginanku untuk mendengar cerita Yunita jadi hilang digantikan


dengan rasa penasaranku terhadap apa yang tercantum di dalam buku itu. Aku


melangkahkan kakiku menuju lab Bahasa. Disana sudah menanti Cindy dan


kawan-kawan hantunya.


Aku


meletakkan buku itu ke meja sambil berkata, “Sebenarnya, aku ingin sekali


mendengar kisah Yunita. Tapi, tampaknya, ada sebuah kejutan dari Lap IPA. Buku


ini dulunya mungkin kepunyaan Miss Sophia, nama beliau tercantum di sudut


sebelah kanan atas. Mungkin ini berhubungan dengan Yunita. Bagaimana menurut


kalian ?”


Tanpa


menunggu jawaban dari Cindy, aku kembali membuka sampul buku yang berwarna


hitam itu. Memang sebagian kulit sampul rusak, tapi, bagian dalam masih bagus


dan kami bisa membaca tulisan yang ada di dalam buku itu. Tulisan demi tulisan


membentuk sebuah kalimat, kalimat itu disusun rapi hingga membentuk sebuah


jalinan cerita yang membuat kami kembali berpetualang menuju ke masa lalu.


***


Indonesia. Sebuah negara yang cukup


indah dan luas. Penduduknya begitu padat dan aku tak bisa memahami bahasa


mereka yang campur aduk. Bahasa yang benar-benar asing bagiku yang masih baru


berumur 10 tahun. Tapi, semua kejadian yang terjadi pada keluargaku sebelum


pindah kemari, masih bisa kuingat dengan jelas. Aku mempelajari hampir semua


kebudayaan dan adat-istiadat yang berlaku di negeri ini. Semula aku dan kakak-kakakku,


enggan sekali meninggalkan tanah kelahiran yang tanpa terasa mulai diambang


kehancuran. Aku baru bisa merasakan, bagaimana nasib bangsa yang dijajah dengan


bangsa lain. Ah, sudahlah ... kami datang ke negeri ini, hanya untuk mengadu


nasib, bukannya menjajah, seperti yang dilakukan orang-orang kami yang


menembakkan senapan, mencambuk ataupun membunuh orang tanpa alasan yang jelas.


Seiring dengan jalannya sang waktu,


aku mulai terbiasa menggunakan bahasa-bahasa yang ada di negeri ini, aku pun


tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik menurut orang tuaku, tapi, aku tahu


siapa diriku. Aku tahu dengan siapa aku hidup di negara ini, aku tahu apa


alasan mereka membawaku kemari. Namun, aku tak peduli pada mereka, yang penting


aku bisa bertahan hidup demi untuknya.


Namaku Sophia Van Koef. Van Koef

__ADS_1


adalah nama keluarga yang mengangkatku sebagai anak angkatnya. Aku rela


melakukannya, hanya untuk dia, aku rela melakukan segala-galanya hanya untuk


dia bukan untuk yang lain. Aku membenci Keluarga Van Koef, aku ingin sekali


membalaskan sakit hatiku pada mereka yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah


tangga keluargaku ... seandainya dia bukan berasal dari keluarga Van Koef ...


aku akan lebih berbahagia sekali.


Di buku harian ini, aku ingin


menceritakan bagaimana sebenarnya Keluarga Van Koef  yang di mata orang-orang sekitar tampak


begitu baik, ramah dan disegani serta dihormat, akan tetapi, di mataku ...


mereka adalah orang-orang yang sebaliknya. Siapapun yang berhubungan dengan


Keluarga Van Koef, hendaknya berhati-hati ... dan janganlah mudah terpengaruh


oleh senyum dan sikap ramahnya. Aku berkata apa adanya, salah satu korban dari


sikap baik mereka adalah wanita yang bernama Yunita yang dulunya bernama Dyah


Sekar Ayu Prameswati. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya Yunita manakala


mengetahui impian dan harapannya tak bisa terwujud. Sekalipun aku sebenarnya


membenci Yunita yang telah merebutnya dari sisiku, namun, aku merasa iba juga


mendapati nasibnya yang kurang beruntung, karena berbagai hal. Andai aku bisa bertemu


lagi dengan Yunita, aku akan menemaninya kemana pun ia pergi sekalipun itu


menuju alam baka. Bersamaan dengan dituliskannya buku harian ini, aku


melampirkan surat dari Yunita untuk pria yang sangat ia cintai, ia kasihi dan


ia rindukan siang-malam. Andai saja Allan masih hidup, buku dan surat ini akan


kuberikan padanya, agar tahu ... betapa parahnya luka yang harus diterima


Yunita. Betapa berat hidup yang harus dijalaninya hingga akhirnya aku bisa


melihat tubuhnya tergantung pada pohon beringin yang tubuh di sekitar rumahnya.


Dulu, sewaktu belum pindah ke negeri


indah ini, Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, hidup berdampingan, rukun


seperti layaknya saudara kandung. Namun, karena dari segi ekonomi Liefderyk


lebih kaya dari Keluarga Van Koef, maka, Alexander Van Koef mencoba untuk


menyamakan kedudukannya dengan Leonard Liefderyk. Segala cara disusun dengan


rapi termasuk menikahkanku dengan putera pertamanya Andrew Van Koef.


Sebenarnya, aku ingin sekali menikah dengan Allan Van Koef, sebab, sejak pertama


kali aku bertemu dengannya ... aku jatuh hati padanya.


Maka dari itu, aku rela menikah


dengan Andrew dan tinggal di rumah keluarga Van Koef, semuanya kulakukan adalah


melihat Allan lebih memilih gadis pribumi bernama Mira. Saat aku bertanya pada


Allan, “Mengapa kamu lebih menyukai gadis-gadis pribumi dari negeri ini


daripada gadis-gadis Belanda, padahal, diantara mereka banyak sekali yang ingin


menikah denganmu ?” Allan hanya menjawab, “Karena, gadis pribumi lebih


pengertian dibanding gadis-gadis negeri asal kita,”


Sebuah perkataan yang benar-benar


menyakitkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk aku. Aku merasa iri


dengan Mira yang telah berhasil merebut hati Allan. Maka, dengan berbagai cara


aku berusaha menarik hati Allan. Tapi, semuanya sia-sia. Pendirian Allan kokoh


bagaikan gunung-gunung karang yang ada di negeri ini. Pendirian Allan tak


tergoyahkan, hatiku hancur manakala ia hanya menganggapku sebagai seorang adik.


Hingga pada suatu hari, tanpa


sengaja, aku mendengar Nyonya Elizabeth Van Koef dan suaminya bertengkar dalam


pertengkaran itu, kudengar namaku disebut-sebut, bukan hanya namaku, tapi, nama


Keluargaku, Liefderyk.


“Puteri keluarga Liefderyk, Sophia


... hanyalah pion. Leonard Liefderyk kini sudah berusia lanjut dan tubuhnya tak


sesehat dulu lagi, tak lama lagi, dia akan menemui ajalnya. Saat dia sudah tak


ada di dunia ini, Andrew meski statusnya hanya menantu, dia pasti dapat warisan


apalagi, putera-puteri Liefderyk hampir semuanya sudah tidak menginginkan


warisan tersebut, mereka sudah lebih kaya daripada Ayahnya. Itulah sebabnya,


Andrew kunikahkan dengan Sophia. Satu-satunya pewaris tunggal dari keluarga


Liefderyk adalah Andrew Van Koef. Saat warisan itu jatuh ke tangan Andrew...


apalah artinya seorang wanita yang bernama Sophia Liefderyk ?” Itulah


kalimat-kalimat yang sebagian kudengar dari pertengkaran mereka. Aku tidak bisa


menerima perkataan mereka, aku hendak melaporkan kejadian itu pada Ayah kandungku


namun, entah mengapa mendadak saja aku berpapasan dengan Ifan, salah seorang


bediende (buruh) keluarga kami.


Sejak aku menapakkan kakiku di rumah


ini, anak ini selalu saja mengamati gerak-gerikku. Aku risih jadinya, tapi, aku


tetap bersikap baik padanya ... menemaninya bermain ataupun berbicara. Dia


baik, aku benar-benar sayang padanya, tapi, tidak hatiku. Dia adalah kakak


bagiku. Maka, aku kecewa sekali manakala ia menyalah artikan perhatian dan

__ADS_1


sayangku padanya dengan artian lain. Dia menginginkanku menjadi isterinya.


Tentu saja kutolak sebab, aku tak ingin hidup bersamanya sebagai isteri, aku


ingin dia tetap ada sebagai kakakku.


Pernikahanku dengan Andrew juga


salah satu caraku untuk menghindarinya. Aku tak bisa memberikan perhatianku ini


lebih dari seorang adik yang menyayangi kakaknya. Aku tahu ia terluka, aku tahu


dia kecewa dan sakit hati, tapi, apa yang harus kami lakukan ? Kukira aku tak


bersalah.


Pada hari itu pula, aku merasa


bahagia karena akhirnya Allan putus dengan Mira. Harapanku untuk memiliki Allan


muncul lagi. Aku mendekatinya saat suamiku tidak ada, tapi, lagi-lagi aku harus


kecewa, karena ia masih menganggapku sebagai adiknya. Keadaan lebih parah,


manakala Yunita hadir dalam keluarga kami, 3 tahun setelah berpisah dengan


Mira, Allan semakin dekat dengan Yunita. Aku tak bisa menahan sakit hatiku saat


mereka sedang berduaan. Aku benar-benar merasa iri baik pada Mira maupun


Yunita. Apa kurangnya diriku ini sehingga, harus kalah dengan wanita-wanita


pribumi ? Aku iri manakala melihat Yunita dan Allan saling berpandangan, saling


membagi senyum, saling bercerita. Andaikan Yunita itu aku... akulah yang paling


bahagia di dunia ini.


Hati ini semakin sakit, airmata


seakan menetes tiada henti manakala melihat ... ah, tidak hatiku sedih sekali


mengingatnya.... hatiku sedih, aku benar-benar tidak bisa menceritakannya.


Mataku menjadi saksi, manakala melihat mereka berada dalam satu ruangan, kamar


tidur Allan. Pada daun pintu kamar itu, telinga ini mendengar bagaimana *******


nafas dan jeritan tertahan mereka karena berada dalam puncak kenikmatan yang


jarang kudapatkan selama hidup bersama suamiku. Mataku menjadi saksi, dimana


ketika hujan turun, kau dan Yunita menari di halaman sana, menari dengan begitu


indahnya. Tarian dalam rinai hujan, itulah lambang cinta kalian yang abadi.


Aku iri, aku terpuruk, aku kalah dan


aku sakit. Hingga saat ini, aku bertanya .... Adakah sesuatu di dalam diriku


yang kurang di mata Allan ? Tapi, tak ada yang menjawab, pertanyaan itu berlalu


begitu saja bagaikan dihembus angin malam yang dingin. Allan ... demi


kebahagiaanmu, kurelakan kau merengkuh kebahagiaan dan cinta bersama Yunita.


Demi cintaku padamu, aku memilih diam, memilih menelan pil pahit yang secara


tak langsung kau berikan padaku. Cinta kalian berdua benar-benar besar ,


mungkin, di dunia ini cinta terlarang kalian lebih mulia dibanding cinta-cinta


yang diperlihatkan pada orang di kursi pelaminan. CINTA YANG TERKADANG BISA


MEMBUTAKAN MATA HATI KITA.


Nah, Allan ... jika kau masih


diperkenankan hidup ribuan tahun lagi, kuharap kau bisa menemukan buku ini.


Juga surat dari Yunita untukmu. Dan, terus terang .... aku benar-benar salah


menilaimu. Di satu sisi kau adalah pemuda yang memiliki pesona dan mampu


menaklukkan hampir seluruh wanita di muka bumi ini, tapi, di satu sisi ... kau


adalah seorang pria yang tak bertanggung jawab, kejam dan berbisa. Dengan


membaca buku ini juga surat dari Yunita sebelum dia meninggal secara


mengenaskan, kami harap ... kau bisa memahami dan mengerti perasaaan wanita


yang kau cintai dan kau sayangi sekaligus kau campakkan ke dalam jurang yang


dalam, gelap dan penuh dengan derita. Jurang yang tak mungkin bisa diukur


kedalamannya. JURANG DERITA. Betapa banyak wanita yang mengharapkan menjadi


isterimu, tapi, benar-benar pria yang tak mempunyai perasaan.


***


Aku


menutup buku bersampul hitam itu. Terus terang, aku ragu untuk mempercayai


semua yang tertulis di dalamnya. Tapi, setelah aku membaca surat yang terselip


di dalam buku itu... baru aku yakin dan percaya, bahwa Keluarga Van Koef yang


terkenal dengan nama baiknya adalah palsu. Cindy memberi saran padaku agar


surat yang ditulis Yunita atau Dyah Sekar Ayu Prameswati untuk Allan yang tidak


sampai itu disimpan terlebih dahulu. Alasannya sederhana, apa jadinya jika


Yunita mengetahui kalau Allan sama sekali tidak menerima surat itu.


“Kukira,


dia sudah mengetahuinya Maribeth, itulah sebabnya, dia memilih untuk mengakhiri


hidupnya dengan cara seperti itu. Aku melihat keputus asaan dalam dirinya saat


menceritakan masa lalunya,” ujar Rita. Perkataan Rita ini membuatku semakin


merasa iba pada Yunita, aku ingin segera menemuinya dan mendengar ia bercerita


lagi tentang kehidupannya di masa lalunya. Nasibnya lebih tragis dibanding Sri


Menur, itu menurutku.


***

__ADS_1


__ADS_2