Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 02


__ADS_3

Aku


terjaga, jam dinding di kamarku berbunyi 3 kali berturut-turut. Tak biasanya


aku terbangun pada jam-jam menjelang dini hari terlebih saat hujan turun dan


udara dingin seperti ini. Kepalaku pusing, kuurut kening dan tengkukku yang


sepertinya kaku, rasa pusing perlahan-lahan hilang dan aku turun dari


pembaringan dan melangkah menuju kamar mandi.


Di kamar


mandi, aku memandangi wajahku yang ada di cermin. Lucu sekali melihat keadaanku


seperti ini, wajah kusut dan lesu. Di bawah mataku ada cekungan hitam. Memang,


aku masih mengantuk, wajar saja terbangun dari tidur secara tiba-tiba.


Jari-jemariku bergerak memutar kran air, air dingin segera membasahi telapak


tanganku membuatku menggigil karenanya. Tanpa peduli hawa dingin, kubasuh


wajahku ... segarnya, tapi, tak bisa mengurangi rasa kantuk di pelupuk mataku.


Aku


menguap beberapa kali, begitu tanganku bergerak hendak mematikan lampu, mata


yang semula hampir menutup, mendadak, terbelalak manakala melihat sesosok


bayangan lain di dalam cermin. Bayangan seorang wanita berkulit pucat, berbaju


putih, berambut hitam panjang lagi kusut. Bayangan itu berdiri di sudut pintu.


Buru-buru aku menoleh ke tempat dimana bayangan itu berdiri, tapi, tak ada


siapa-siapa disana.


“Huh,


mungkin karena aku masih mengantuk, jadi aku berhalusinasi,” kataku dalam hati


sambil melangkah kembali ke kamar untuk kemudian naik ke pembaringan.


Aku


menghela nafas panjang, kurebahkan tubuhku di pembaringan sementara tanganku


menarik selimut untuk kemudian kututupi tubuhku dengan selimut itu, hangat dan


nyaman sekali rasanya. “Yak, mulai tidur. Satu. Dua. Tiga,” kataku dalam hati


sambil memejamkan mata. Tak sampai 1 menit aku sudah tertidur kembali. Akan


tetapi, lagi-lagi aku terbangun. Aku merasakan tubuh bagian belakangku panas


bersamaan dengan  itu kudengar ada suara


******* nafas lain, ******* nafas yang berat. Baik ******* nafas berat dan rasa

__ADS_1


panas di punggungku sangatlah tidak wajar. Jelas, ini bukan dimiliki oleh


manusia pada umumnya. Ada orang lain yang berbaring bersamaku ... dan itu ....


bukanlah manusia akan tetapi ARWAH / HANTU.


“Siapa,


kau ? Mengapa kau mendatangiku malam-malam begini ?” tanyaku tanpa menoleh. Tak


ada jawaban, aku melompat turun dan secepat kilat kunyalakan lampu dan menatap


ke arah pembaringan. Benar saja, ada sesosok wanita berambut hitam, panjang,


kusut  dan pucat duduk disana. Ia


menatapku. “Maaf. Saya tak berniat mengganggu tidurmu. Saya ingin bantuanmu


untuk melepaskan tali yang mengikat leherku ini,” katanya sambil meletakkan


jari-jemarinya ke leher. Ada sebuah tali yang mengikat kuat pada lehernya.


“Bisakah kau membantuku melepaskannya ? Rasanya tersiksa sekali,”


Kuberanikan


diri mendekatinya dan mencoba melepaskan simpul tali yang mengikat pada


lehernya. Gagal, sepertinya tali itu sudah menyatu dengan leher. Sekalipun aku


mencoba untuk memotongnya, tetap saja gagal, hingga aku putus asa, “Siapa yang


mengikat lehermu seperti ini ?” tanyaku.


neng Maribeth, mungkin ini adalah hukuman karena kebodohanku,” jawabnya.


Aku


tersentak, “Darimana kau tahu, kalau namaku : Maribeth ?” tanyaku.


“Aku


sudah mengenalmu sejak awal kau menginjakkan kakimu di SMP Negeri Keteng I –


Banyuwangi itu; Akupun mengenal anak yang bernama Cindy itu berikut teman-teman


hantunya. Aku mengamatimu dari tempatku berada, toilet wanita di sekolah itu,”


jawabnya.


“Apakah


rumor mengenai Hantu Gantung Leher di toilet wanita itu benar-benar ada ? Itu


artinya, kau tahu ... anak yang bernama Lita juga meninggal disana ?” aku


benar-benar heran dibuatnya, tapi, itu memaksaku untuk mengetahui apa


sebenarnya yang telah terjadi di sekolahku itu.


Wanita

__ADS_1


itu mengangguk, “Dia bukannya bunuh diri, tapi, dibunuh,” jawabnya.


“Apakah


kau juga tahu, Rita salah seorang sahabat karibku juga dibunuh orang dan kini


dia menjadi salah satu Arwah Penasaran sepertimu ?”


“Yah.


Berikut, pembunuhnya,” sahut wanita itu, “Sebelum SMP Negeri Keteng I –


Banyuwangi itu dibangun, bangunan itu merupakan sebuah gedung perkantoran ...


entah sudah berapa kali gedung itu beralih fungsi. Aku tinggal disana dan tak


bisa kemana-mana ... seakan tempat itu adalah kurunganku. Demikian pula tali


yang mengikat leherku ini. Ini semua adalah hukuman dan entah berapa lama lagi


aku harus menjalaninya. Tak seorang pun bisa membantuku melepaskan tali ini,”


sambil berkata demikian, wanita itu perlahan-lahan turun dari pembaringan dan


berjalan keluar kamar.


“Tunggu


...” cegahku, “Kau belum mengatakan siapa namamu. Rasanya, tak mungkin kau


datang jauh-jauh dari sekolah menuju kemari hanya untuk meminta bantuanku untuk


melepaskan tali itu. Kau punya alasan lain, bukan ?” Wanita itu menghentikan


langkahnya, ia membalikkan badannya, “Kau adalah orang cerdas. Tak salah aku


mendatangimu malam-malam begini. Tapi, aku harus kembali ke termpatku, kau bisa


menemuiku disana. Kelak, apabila kau sudah siap, datanglah. Panggil namaku


‘YUNITA’, maka, aku akan datang,” katanya yang kemudian ia melangkah


tertatih-tatih dan tubuhnya menghilang bersamaan dengan hujan yang


perlahan-lahan mulai reda.


Aku tak


bisa berkata apa-apa selain memandangi jejak-jejak telapak kakinya di lantai


kamarku yang perlahan-lahan  ikut hilang.


Dia ... Hantu Gantung Leher penghuni toilet wanita, sudah menampakkan diri,


setelah sekian lama aku mengharapkan bisa bertemu dengannya. Semenjak malam


itu, kupersiapkan seluruh keberanianku untuk menemuinya. Besar harapanku agar


ia membantuku mngungkap semua misteri yang ada di sekolah. SMP Negeri Keteng I


– Banyuwangi.

__ADS_1


***


__ADS_2