
Aku
terjaga, jam dinding di kamarku berbunyi 3 kali berturut-turut. Tak biasanya
aku terbangun pada jam-jam menjelang dini hari terlebih saat hujan turun dan
udara dingin seperti ini. Kepalaku pusing, kuurut kening dan tengkukku yang
sepertinya kaku, rasa pusing perlahan-lahan hilang dan aku turun dari
pembaringan dan melangkah menuju kamar mandi.
Di kamar
mandi, aku memandangi wajahku yang ada di cermin. Lucu sekali melihat keadaanku
seperti ini, wajah kusut dan lesu. Di bawah mataku ada cekungan hitam. Memang,
aku masih mengantuk, wajar saja terbangun dari tidur secara tiba-tiba.
Jari-jemariku bergerak memutar kran air, air dingin segera membasahi telapak
tanganku membuatku menggigil karenanya. Tanpa peduli hawa dingin, kubasuh
wajahku ... segarnya, tapi, tak bisa mengurangi rasa kantuk di pelupuk mataku.
Aku
menguap beberapa kali, begitu tanganku bergerak hendak mematikan lampu, mata
yang semula hampir menutup, mendadak, terbelalak manakala melihat sesosok
bayangan lain di dalam cermin. Bayangan seorang wanita berkulit pucat, berbaju
putih, berambut hitam panjang lagi kusut. Bayangan itu berdiri di sudut pintu.
Buru-buru aku menoleh ke tempat dimana bayangan itu berdiri, tapi, tak ada
siapa-siapa disana.
“Huh,
mungkin karena aku masih mengantuk, jadi aku berhalusinasi,” kataku dalam hati
sambil melangkah kembali ke kamar untuk kemudian naik ke pembaringan.
Aku
menghela nafas panjang, kurebahkan tubuhku di pembaringan sementara tanganku
menarik selimut untuk kemudian kututupi tubuhku dengan selimut itu, hangat dan
nyaman sekali rasanya. “Yak, mulai tidur. Satu. Dua. Tiga,” kataku dalam hati
sambil memejamkan mata. Tak sampai 1 menit aku sudah tertidur kembali. Akan
tetapi, lagi-lagi aku terbangun. Aku merasakan tubuh bagian belakangku panas
bersamaan dengan itu kudengar ada suara
******* nafas lain, ******* nafas yang berat. Baik ******* nafas berat dan rasa
__ADS_1
panas di punggungku sangatlah tidak wajar. Jelas, ini bukan dimiliki oleh
manusia pada umumnya. Ada orang lain yang berbaring bersamaku ... dan itu ....
bukanlah manusia akan tetapi ARWAH / HANTU.
“Siapa,
kau ? Mengapa kau mendatangiku malam-malam begini ?” tanyaku tanpa menoleh. Tak
ada jawaban, aku melompat turun dan secepat kilat kunyalakan lampu dan menatap
ke arah pembaringan. Benar saja, ada sesosok wanita berambut hitam, panjang,
kusut dan pucat duduk disana. Ia
menatapku. “Maaf. Saya tak berniat mengganggu tidurmu. Saya ingin bantuanmu
untuk melepaskan tali yang mengikat leherku ini,” katanya sambil meletakkan
jari-jemarinya ke leher. Ada sebuah tali yang mengikat kuat pada lehernya.
“Bisakah kau membantuku melepaskannya ? Rasanya tersiksa sekali,”
Kuberanikan
diri mendekatinya dan mencoba melepaskan simpul tali yang mengikat pada
lehernya. Gagal, sepertinya tali itu sudah menyatu dengan leher. Sekalipun aku
mencoba untuk memotongnya, tetap saja gagal, hingga aku putus asa, “Siapa yang
mengikat lehermu seperti ini ?” tanyaku.
neng Maribeth, mungkin ini adalah hukuman karena kebodohanku,” jawabnya.
Aku
tersentak, “Darimana kau tahu, kalau namaku : Maribeth ?” tanyaku.
“Aku
sudah mengenalmu sejak awal kau menginjakkan kakimu di SMP Negeri Keteng I –
Banyuwangi itu; Akupun mengenal anak yang bernama Cindy itu berikut teman-teman
hantunya. Aku mengamatimu dari tempatku berada, toilet wanita di sekolah itu,”
jawabnya.
“Apakah
rumor mengenai Hantu Gantung Leher di toilet wanita itu benar-benar ada ? Itu
artinya, kau tahu ... anak yang bernama Lita juga meninggal disana ?” aku
benar-benar heran dibuatnya, tapi, itu memaksaku untuk mengetahui apa
sebenarnya yang telah terjadi di sekolahku itu.
Wanita
__ADS_1
itu mengangguk, “Dia bukannya bunuh diri, tapi, dibunuh,” jawabnya.
“Apakah
kau juga tahu, Rita salah seorang sahabat karibku juga dibunuh orang dan kini
dia menjadi salah satu Arwah Penasaran sepertimu ?”
“Yah.
Berikut, pembunuhnya,” sahut wanita itu, “Sebelum SMP Negeri Keteng I –
Banyuwangi itu dibangun, bangunan itu merupakan sebuah gedung perkantoran ...
entah sudah berapa kali gedung itu beralih fungsi. Aku tinggal disana dan tak
bisa kemana-mana ... seakan tempat itu adalah kurunganku. Demikian pula tali
yang mengikat leherku ini. Ini semua adalah hukuman dan entah berapa lama lagi
aku harus menjalaninya. Tak seorang pun bisa membantuku melepaskan tali ini,”
sambil berkata demikian, wanita itu perlahan-lahan turun dari pembaringan dan
berjalan keluar kamar.
“Tunggu
...” cegahku, “Kau belum mengatakan siapa namamu. Rasanya, tak mungkin kau
datang jauh-jauh dari sekolah menuju kemari hanya untuk meminta bantuanku untuk
melepaskan tali itu. Kau punya alasan lain, bukan ?” Wanita itu menghentikan
langkahnya, ia membalikkan badannya, “Kau adalah orang cerdas. Tak salah aku
mendatangimu malam-malam begini. Tapi, aku harus kembali ke termpatku, kau bisa
menemuiku disana. Kelak, apabila kau sudah siap, datanglah. Panggil namaku
‘YUNITA’, maka, aku akan datang,” katanya yang kemudian ia melangkah
tertatih-tatih dan tubuhnya menghilang bersamaan dengan hujan yang
perlahan-lahan mulai reda.
Aku tak
bisa berkata apa-apa selain memandangi jejak-jejak telapak kakinya di lantai
kamarku yang perlahan-lahan ikut hilang.
Dia ... Hantu Gantung Leher penghuni toilet wanita, sudah menampakkan diri,
setelah sekian lama aku mengharapkan bisa bertemu dengannya. Semenjak malam
itu, kupersiapkan seluruh keberanianku untuk menemuinya. Besar harapanku agar
ia membantuku mngungkap semua misteri yang ada di sekolah. SMP Negeri Keteng I
– Banyuwangi.
__ADS_1
***