Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 15


__ADS_3

SURAT UNTUK SANG KEKASIH


Sayangku ...


10 tahun sudah  ....


Kita melalui kehidupan tanpa


ikatan yang pasti bersama-sama. Bukanlah waktu yang singkat bagi kita untuk membina


bahtera cinta, kasih sayang, dan perhatian. Tak terhitung, berapa kali kita


bermain dalam lautan asmara. Itulah saat-saat terindah dalam hidup kita.


Tak terhitung, berapa kali


kita bertengkar, karena berbeda pendapat. Aku rela melakukan semua yang kau


pinta. Aku rela, menyerahkan segala-galanya padamu : Kehormatan, harga diri,


keluarga hingga tak ada lagi yang tersisa. Aku rela melakukan itu semua


untukmu, meski kita sama-sama tahu bahwa itu adalah DOSA YANG TAK TERAMPUNI,


dosa yang kelak harus kita pertanggung jawabkan di akhirat nanti ...


Tak terhitung lagi, berapa


kali kau secara sengaja maupun tak sengaja melukai hati dan harga diriku


sebagai seorang wanita. Tetapi, aku rela, karena aku mencintai dan menyayangimu


setulus hatiku. Akupun tahu, kau juga mencintai dan menyayangiku setulus hatimu


... meski terkadang hadir rasa tidak percaya di antara kita karena berbagai


hal. Akupun tahu betapa seringnya kau berdebat dengan orang tuamu, hanya untuk


membela nama baikku; hanya untuk memulihkan harga diriku di hadapan mereka,


yang sudah kau hancurkan. Aku berterima kasih untuk itu, untuk semua yang telah


kau lakukan padaku.


Kita berdua sudah satu jiwa.


Aku merasakan apa yang kau rasakan, demikian pula sebaliknya. Aku benar-benar


bahagia, benar-benar sebuah kebahagiaan yang tidak pernah kudapatkan saat aku


hidup bersama almarhum suamiku. Kau sudah memberikan, apa yang kubutuhkan


(Cinta, kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya). Aku bagaikan wanita yang


paling beruntung bertemu denganmu, sayang ....

__ADS_1


Sekalipun semula aku berasal


dari keluarga yang mampu untuk kemudian jatuh.... kau sama sekali tidak


memperhitungkannya.


Akan tetapi, sayangku ...


Tahukah kau, bahwa selama 10


tahun itu ... aku benar-benar berharap, kau mengambilku sebagai seorang wanita


yang berfungsi sebagaimana mestinya di masa-masa mendatang. 10 tahun itu, aku


berada dalam kebimbangan dan dilema. Tahukah kau, sayangku ....?


Aku sangat berharap, kau


mengambilku sebagai isterimu yang sah. Aku benar-benar mengharapkannya. Aku tak


ingin berpisah denganmu, sayang ....


Sementara, kau ... ingatkah


kau pada janji-janji manismu yang membuatku terlena ? Saat aku bertanya, kau


hanya diam tak bersuara. Kau diam bagaikan sebongkah arca batu.


Hanya padamulah aku


lebah. Kuingin hanya kaulah yang bisa memetikku, menghisap maduku. Kuingin


hanya kaulah yang bisa menemaniku hingga ajal menjelang.


Tetapi, mata ini basah oleh


airmata manakala melihatmu duduk di kursi pelaminan bersama seorang wanita yang


baru kau kenal tak sampai 2 tahun. Kau tersenyum, saat hati ini diiris-iris


sebilah pisau. Hatiku hancur, harapanku yang kupendam selama 10 tahun itupun


hancur. Jika aku boleh bertanya, “Apakah yang kurang pada diri ini ? Apakah


semua yang telah kuberikan padamu masih belum cukup ?”


Mengapa ini terjadi padaku ?


Ada bagian dari diriku ini hilang. Apakah aku masih berharga di matamu ?  Apakah aku masih berharga di mata semua orang


: Keluarga dan anak-anakku ? Katakanlah, sayangku ... katakanlah. Mengapa kita


bertemu tapi harus berpisah ? Walau ada luka yang menganga di hati ini dan tak


dapat kusembuhkan, kucoba untuk ikhlas. Haruskah aku tetap menantikanmu sebagai

__ADS_1


isteri ? Sayangku, hati ini sudah hancur berantakan, tahukah kau ?! Tak bisa


kututup mata ini saat melihatmu bahagia bersama orang lain. Aku benar-benar


mengharapkan wanita yang duduk di sampingmu adalah aku.


Mengapa kau begitu tega dan


kejam menghancur-leburkan hati dan cinta yang telah kita bina 10 tahun ini ?


Apakah karena derajat, martabat dan keyakinan kita yang berbeda ?


Sayangku ...


Maafkanlah aku ....


maafkanlah aku jika selama ini telah mengecewakan dan membuatmu kesal.


Sekalipun kini kenyataan pahit harus kuterima ... aku tetap manyayangi dan


mencintaimu senantiasa.


Dulu, kau menyukai tarian


yang kumainkan. Ijinkanlah aku menari untukmu. Sekarang, esok, lusa atau entah


berapa lama waktu berjalan .... aku berharap, kau selalu menyukainya. Kutunggu


kau siap untuk meminang atau melamarku, sekalipun, aku sudah tak berada lagi di


dunia ini. Aku akan terus menari di tengah rinai hujan sepanjang musim. Apalah


artinya hidup, jika harus terus-menerus menelan kecewa, malu dan harapan yang


sia-sia ...


Sayangku ....


Jika kau menemukan surat ini


.... kuharap kau mengingatku sekalipun kini kau sudah hidup bersama dengan yang


lain. Semoga kau berbahagia selalu dan jagalah diri serta kesehatan. Jangan


sampai kau sakit seperti saat kau terbaring lemah tak berdaya dan tak ada


seorang pun menjengukmu, kecuali aku seorang diri.


Peluk, cium dan kasih


sayangku untukmu


YUNITA


( DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI )

__ADS_1


____ T A M A T ____


__ADS_2