
SURAT UNTUK SANG KEKASIH
Sayangku ...
10 tahun sudah ....
Kita melalui kehidupan tanpa
ikatan yang pasti bersama-sama. Bukanlah waktu yang singkat bagi kita untuk membina
bahtera cinta, kasih sayang, dan perhatian. Tak terhitung, berapa kali kita
bermain dalam lautan asmara. Itulah saat-saat terindah dalam hidup kita.
Tak terhitung, berapa kali
kita bertengkar, karena berbeda pendapat. Aku rela melakukan semua yang kau
pinta. Aku rela, menyerahkan segala-galanya padamu : Kehormatan, harga diri,
keluarga hingga tak ada lagi yang tersisa. Aku rela melakukan itu semua
untukmu, meski kita sama-sama tahu bahwa itu adalah DOSA YANG TAK TERAMPUNI,
dosa yang kelak harus kita pertanggung jawabkan di akhirat nanti ...
Tak terhitung lagi, berapa
kali kau secara sengaja maupun tak sengaja melukai hati dan harga diriku
sebagai seorang wanita. Tetapi, aku rela, karena aku mencintai dan menyayangimu
setulus hatiku. Akupun tahu, kau juga mencintai dan menyayangiku setulus hatimu
... meski terkadang hadir rasa tidak percaya di antara kita karena berbagai
hal. Akupun tahu betapa seringnya kau berdebat dengan orang tuamu, hanya untuk
membela nama baikku; hanya untuk memulihkan harga diriku di hadapan mereka,
yang sudah kau hancurkan. Aku berterima kasih untuk itu, untuk semua yang telah
kau lakukan padaku.
Kita berdua sudah satu jiwa.
Aku merasakan apa yang kau rasakan, demikian pula sebaliknya. Aku benar-benar
bahagia, benar-benar sebuah kebahagiaan yang tidak pernah kudapatkan saat aku
hidup bersama almarhum suamiku. Kau sudah memberikan, apa yang kubutuhkan
(Cinta, kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya). Aku bagaikan wanita yang
paling beruntung bertemu denganmu, sayang ....
__ADS_1
Sekalipun semula aku berasal
dari keluarga yang mampu untuk kemudian jatuh.... kau sama sekali tidak
memperhitungkannya.
Akan tetapi, sayangku ...
Tahukah kau, bahwa selama 10
tahun itu ... aku benar-benar berharap, kau mengambilku sebagai seorang wanita
yang berfungsi sebagaimana mestinya di masa-masa mendatang. 10 tahun itu, aku
berada dalam kebimbangan dan dilema. Tahukah kau, sayangku ....?
Aku sangat berharap, kau
mengambilku sebagai isterimu yang sah. Aku benar-benar mengharapkannya. Aku tak
ingin berpisah denganmu, sayang ....
Sementara, kau ... ingatkah
kau pada janji-janji manismu yang membuatku terlena ? Saat aku bertanya, kau
hanya diam tak bersuara. Kau diam bagaikan sebongkah arca batu.
Hanya padamulah aku
lebah. Kuingin hanya kaulah yang bisa memetikku, menghisap maduku. Kuingin
hanya kaulah yang bisa menemaniku hingga ajal menjelang.
Tetapi, mata ini basah oleh
airmata manakala melihatmu duduk di kursi pelaminan bersama seorang wanita yang
baru kau kenal tak sampai 2 tahun. Kau tersenyum, saat hati ini diiris-iris
sebilah pisau. Hatiku hancur, harapanku yang kupendam selama 10 tahun itupun
hancur. Jika aku boleh bertanya, “Apakah yang kurang pada diri ini ? Apakah
semua yang telah kuberikan padamu masih belum cukup ?”
Mengapa ini terjadi padaku ?
Ada bagian dari diriku ini hilang. Apakah aku masih berharga di matamu ? Apakah aku masih berharga di mata semua orang
: Keluarga dan anak-anakku ? Katakanlah, sayangku ... katakanlah. Mengapa kita
bertemu tapi harus berpisah ? Walau ada luka yang menganga di hati ini dan tak
dapat kusembuhkan, kucoba untuk ikhlas. Haruskah aku tetap menantikanmu sebagai
__ADS_1
isteri ? Sayangku, hati ini sudah hancur berantakan, tahukah kau ?! Tak bisa
kututup mata ini saat melihatmu bahagia bersama orang lain. Aku benar-benar
mengharapkan wanita yang duduk di sampingmu adalah aku.
Mengapa kau begitu tega dan
kejam menghancur-leburkan hati dan cinta yang telah kita bina 10 tahun ini ?
Apakah karena derajat, martabat dan keyakinan kita yang berbeda ?
Sayangku ...
Maafkanlah aku ....
maafkanlah aku jika selama ini telah mengecewakan dan membuatmu kesal.
Sekalipun kini kenyataan pahit harus kuterima ... aku tetap manyayangi dan
mencintaimu senantiasa.
Dulu, kau menyukai tarian
yang kumainkan. Ijinkanlah aku menari untukmu. Sekarang, esok, lusa atau entah
berapa lama waktu berjalan .... aku berharap, kau selalu menyukainya. Kutunggu
kau siap untuk meminang atau melamarku, sekalipun, aku sudah tak berada lagi di
dunia ini. Aku akan terus menari di tengah rinai hujan sepanjang musim. Apalah
artinya hidup, jika harus terus-menerus menelan kecewa, malu dan harapan yang
sia-sia ...
Sayangku ....
Jika kau menemukan surat ini
.... kuharap kau mengingatku sekalipun kini kau sudah hidup bersama dengan yang
lain. Semoga kau berbahagia selalu dan jagalah diri serta kesehatan. Jangan
sampai kau sakit seperti saat kau terbaring lemah tak berdaya dan tak ada
seorang pun menjengukmu, kecuali aku seorang diri.
Peluk, cium dan kasih
sayangku untukmu
YUNITA
( DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI )
__ADS_1
____ T A M A T ____