Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 10


__ADS_3

Lamunan


Allan buyar, telinganya mendengar namanya dipanggil-panggil dari arah belakang.


Allan mengalihkan pandangannya ke asal suara itu. Tak jauh dari tempatnya duduk


seorang wanita berdiri, ia terseyum manis, “Tuan Muda, maaf mengganggu


ketenangan Tuan. Saya minta ijin untuk membersihkan teras ini” dia adalah


Yunita, wanita yang baru saja hadir dalam lamunannya walau hanya sepintas saja.


Kedatangan


Yunita memang sedikit mengganggu Allan, tapi, beruntung bagi Allan, jika


terus-menerus larut dalam lamunan masa lalunya, mungkin, bisa saja membuatnya


kembali menjadi orang yang pemurung, penggerutu, sensitif dan pemarah. Saat


melihat Yunita di hadapannya Allan tersenyum kecil, “Setelah membersihkan


tempat ini, apakah ada waktu bagi kamu untuk menemani saya disini ? Bukannya,


pekerjaanmu hampir semuanya selesai ?” tanyanya.


Yunita


tersenyum manis, “Apakah kehadiran saya tidak mengganggu Tuan Muda ? Sebab,


sejak dari tadi saya melihat Tuan Muda duduk sambil melamun disana ? Apakah


Tuan Muda lagi mengenang masa-masa bersama Mira ?” tanyanya.


“Ah,


sudahlah ... melamun terus tak akan mengembalikan Mira di sisi saya. Jadi,


maukah kamu menemani saya duduk disini ? Karena semua pada pergi, saya jadi


kesepian, tak ada teman untuk bicara,”


Yunita


menganggukkan kepala, “Baiklah, Tuan Muda. Mohon ditunggu dulu saya akan


menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal sedikit ini,” katanya sambil


tangannya terus bekerja, sementara, sepasang mata Allan tak berkedip


memandanginya, “Dia adalah wanita yang rajin. Semua pekerjaan yang begitu berat


di rumah ini, dikerjakan sendirian. Tidak pernah mengeluh,” katanya dalam hati.


Pandangan


mata Allan tak berkedip menatap Yunita yang terus menyapu lantai teras, wanita


itu jadi salah tingkah, “Anak ini terus memandangiku bekerja, aku jadi tak enak


sendiri. Jantung ini, entah mengapa jantung itu berdegub begitu kencang sekali.


Sudah, tuan muda ... jangan memandangiku terus, aku jadi tak bisa bekerja


dengan baik,” katanya dalam hati. Buru-buru Yunita membereskan pekerjaannya,


“Sudah selesai, Tuan Muda. Tuan Muda bisa duduk lagi. Saya akan ke belakang


sebentar untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan,” katanya dengan suara


gemetar.


Allan


masih saja memandangi wajah Yunita, pipi wanita itu memerah, tanpa menunggu


jawaban dari Allan, ia segera melangkah ke dalam. Beberapa saat kemudian muncul


lagi sambil membawa nampan berisi makanan ringan dan sebuah gelas berukuran


agak besar yang di dalamnya sudah terisi teh yang asapnya masih mengepul dan


sebagian diterbangkan angin yang kemudian masuk ke lubang hidung Allan. Baunya


begitu harum. Aroma teh itu lebih harum lagi saat nampan yang dibawa Yunita


sudah  diletakkan pada meja tak jauh dari


Allan duduk.


Allan


mengangguk perlahan, “Terima kasih,” katanya, “Duduklah di hadapanku. Tapi,


mengapa hanya satu gelas saja. Kamu juga harus menemani saya minum sambil


menunggu Papa dan Mama pulang,”


“Saya


tidak berani, Tuan Muda ....” ujar Yunita.


“Aku


memberi ijin, kamu tak perlu khawatir. Tak ada salahnya kamu menemaniku minum. Jangan


sungkan,” sahut Allan.


Walau


merasa tak enak hati, Yunita akhirnya menurut juga. Ia kembali masuk ke dalam


untuk kemudian keluar lagi sambil membawa sebuah gelas kosong lalu diisinya


dengan teh yang sudah disiapkan untuk Allan. Baru kali ini ia duduk santai


sambil minum bersama majikan, “Terima kasih, Tuan Muda. Ini adalah sebuah


kehormatan bagi saya,” katanya.


Alan


tersenyum, lalu bertanya, “Kalau tak salah, nama kamu yunita,ya ?”

__ADS_1


Yunita


mengangguk, “Benar, Tuan Muda,”


“Sepertinya,


kamu bukanlah penduduk biasa. Dari gaya bicaramu dan gerak-gerik kamu itu ....


lain sekali dengan para werknemer ( buruh ) yang bekerja di perkebunan juga


para bediende ( pelayan )lain.


Apakah kamu tidak keberatan menceritakannya pada saya ?” tanya Allan.


“Tuan


Muda, apalah gunanya mengenal saya. Saya hanyalah seorang bediende, saya malu


untuk menceritakannya pada tuan Muda,” jawab Yunita.


“Kalau


kamu merasa keberatan, sebaiknya tak perlu kau ceritakan. Tapi, sejujurnya ...


saya ingin mengenal kamu lebih dalam,” kata Allan dengan tatapan yang dalam


seakan-akan hendak memaksa lawan bicaranya menyerah. Hingga akhirnya tanpa


ditanya dua kali, Yunita segera menceritakan asal-usulnya.


“Oh, jadi


dulu kau hidup di lingkungan istana dan ayahmu adalah bekas seorang pejabat


tinggi di kerajaan Pasundan. Nama kamu sebenarnya adalah Dyah Sekar Ayu


Prameswati. Mengapa tidak kamu pakai saja nama itu ?”


“Saya


sekarang bukan lagi wanita keraton, Tuan Muda. Saya memiliki seorang suami dan 3


orang anak. Apalah gunanya memiliki kedudukan dan pangkat, jika, akhirnya harus


kembali menjadi orang biasa. Jadi, saya mengganti nama saya dengan Yunita. Biar


kita terus mengingat bahwa kita dulunya tercipta sebagai manusia biasa.


Berakhir pun juga sebagai manusia biasa,” ujar Yunita.


“Sebuah


ucapan yang bijak. Perkataan kamu membuat saya terharu. Tapi, janganlah kamu


putus asa, sebab, semua itu pasti ada hikmahnya,”


Kata-kata


yang terlontar dari mulut Allan membuat Yunita tercengang. Perkataan itu mirip


dengan perkataan almarhumah ibunya, ‘Nduk... apapun yang kita hadapi, hendaknya


kita tak perlu berkeluh kesah atau merasa diperlakukan tak adil oleh Yang Maha


Esa. Apapun yang kita alami, pahit-manis, suka-duka, semua pasti ada


namanya dipanggil-panggil oleh Nyonya Elizabeth Koef. Tampaknya beliau sudah


datang, “Tuan Muda, Nyonya besar sudah datang. Saya harus kembali bekerja.


Terima kasih karena Tuan Muda bersedia minum bersama saya,”


Allan


mengangguk, “Sayalah yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menemani


saya bicara,” katanya sambil memandangi Yunita. Tubuh wanita itu lenyap di


tikungan jalan, “Sekalipun wanita itu sudah menikah dan memiliki 3 orang anak


... ia masih tetap cantik,” katanya dalam hati.


Sejak


saat itulah, Allan dan Yunita sering melewatkan waktu bersama-sama ketika orang


tua Allan tidak ada di rumah. Hubungan mereka semakin akrab, Allan sudah


berhasil melupakan Mira, wanita yang ia cintai selama lebih kurang 3 tahun itu.


Hati mereka yang bagaikan sebuah tanah gersang, mendadak saja, muncul mata air


yang sejuk dan menyegarkan  serta


ditumbuhi oleh bunga-bunga mekar dan berbau harum; hati mereka yang dingin,


beku dan hampa bagaikan sebuah padang salju yang luas; mendadak saja dicairkan


oleh nyala api yang membara dan membakar segala yang ada.


Hingga


pada suatu hari, saat Tuan dan Nyonya Van Koef  tidak ada di rumah, Allan menemui Yunita yang sedang memasak di dapur.


“Begitu selesai memasak ... bisakah kamu menemuiku di teras ?” tanya Allan.


Sebenarnya, Yunita merasa takut sekali bertemu dengan Allan, tapi, ia sadar


dengan posisinya juga posisi Allan. Akhirnya, ia mengangguk, “Sebentar lagi


saya selesai, Tuan,” katanya, “Tinggal menghangatkan satu masakan saja,” Allan


mengangguk, lalu melangkah ke arah teras. Disana, ia duduk sementara sepasang


matanya menerawang ke tempat yang kosong, pikirannya kembali berkelana ke masa


lalu, masa dimana saat Mira masih disisinya untuk yang terakhir.


Siang itu


Allan berkunjung ke rumah Mira, di luar sudah duduk Ayahnya Panji Asmoro.


Melihat kedatangan Allan, wajah Panji Asmoro merah padam, “Mau apa lagi kau

__ADS_1


datang kemari ?! Apakah kau belum mengerti juga apa yang kukatakan padamu ?


Ataukah, aku harus mengulanginya lagi dan kali ini aku tak akan sungkan-sungkan


lagi !! Biarkan semua orang mendengar dan menyaksikan bagaimana aku berani


mengusir seorang Tuan Muda Belanda penjajah negeri ini  !!!”


Allan tak


peduli akan kemarahan orang itu, ia terus berjalan dan saat tiba di hadapan


Panji Asmoro, ia berlutut, “Maafkan, saya Tuan .... ijinkanlah saya bertemu


dengan Mira untuk yang terakhir kalinya,” katanya.


“Aku


sudah bilang .... jangan kau temui lagi puteriku !! Kau masih saja bandel,


haruskah aku memukulmu hingga babak belur ?! Sekarang pergilah dari rumah ini


!! Pergilah, jangan sekali-kali kembali !! Lebih bagus apabila kalian


orang-orang Belanda semuanya angkat kaki dari negeri ini !!! Penghisap Darah


!!!”


Keributan


itu didengar oleh Trinil dan juga Mira yang berada di dalam rumah. Buru-buru


mereka keluar dan mendapati Panji Asmoro hendak menendang wajah Allan. Tapi,


Mira buru-buru menghadangnya, “Jangan, Ayah !!! Tak sadarkah Ayah, siapa orang


yang ada di hadapan Ayah ini ?”


“Cih !!


Sekalipun pejabat atau tentara Belanda dalam jumlah yang besar ... aku takkan


mundur !! Kau masuklah ke dalam atau aku juga akan menghajarmu di tempat


terbuka ini ?!!”


“Kau


keterlaluan sekali, kakang. Kau mempermalukan dirimu sendiri... tarik ucapanmu


itu, aku belum siap untuk menjalani hidup ini sendirian. Tahukah, kau ?!”


Trinil juga ikut bicara, “Jika kau ingin memukul mereka hingga babak belur,


pukullah aku terlebih dahulu !!”


“Kalian


berdua, mengapa kalian membela bocah Belanda itu, ha ? Apakah kalian sudah tak


lagi memandangku sebagai kepala rumah tangga di rumah ini ?!”


“Jangan


salah paham, kakang.... tak bisakah kau bicara baik-baik ? Kemanakah Ki Panji


Asmoro yang dulu kukenal ramah dan sopan ? Ingatlah, kang .... jangan kau


turuti emosi yang bisa saja mencelakakan kita semua,” kata Trinil lalu


memandang puterinya dan memberi isyarat agar Allan pergi. Mira paham, apa yang


harus dilakukan, maka dari itu ia menarik tangan Allan dan menjauh dari hadapan


Ayahnya yang sedang kalap.


Saat


muda-mudi itu melngkah menjauh, Panji Asmoro semakin meninggikan suaranya, “Mau


kemana kau !!! Ayah belum selesai bicara denganmu, bocah tak tahu adat !!”


“Plak !!”


sebuah tamparan keras mendarat di pipi Panji Asmoro, Trinil sudah menamparnya


dan menatap tajam ke arah pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu, “Maafkan


aku, kang ... terpaksa aku melakukan itu karena ucapanmu benar-benar kasar


terhadap Mira,” katanya sambil melangkah meninggalkan Panji Asmoro yang masih


berdiri bagaikan sebuah patung. Emosinya seketika itu juga lenyap, diapun


melangkah masuk mengikuti Trinil.


“Tuan


Muda Allan, maafkan Ayahku,” kata Mira saat sudah jauh dari rumahnya. Allan


bagaikan orang yang hilang ingatan, kejadian itu membuatnya Shock. Ia tersadar


saat jari jemari lentik Mira menyentuh dagunya, 2 pasang mata muda-mudi itu


saling pandang, “Tuan muda Allan, kini kau tahu bagaimana marahnya Ayahku saat


Tuan datang ke rumah. Untuk sementara, Tuan jangan ke rumah dulu... kalau


saatnya tepat, aku sendiri yang akan menemuimu. Bagaimana menurut pendapat Tuan


?” ujar Mira lembut.


Allan


mengangguk, dengan langkah gontai, iapun meninggalkan Mira yang masih berdiri


sendirian di tempat itu. Sepeninggal Allan, sepasang mata Mira berkaca-kaca,


“Maafkan, saya, Tuan ... mungkin ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Besok,


Ayah akan membawa saya pergi dari tempat ini. Jika ada jodoh, saya akan kembali


pada Tuan ....” katanya dalam hati lalu ia berlari meninggalkan tempat itu

__ADS_1


sambil menangis tersedu-sedu.


_____


__ADS_2