
Lamunan
Allan buyar, telinganya mendengar namanya dipanggil-panggil dari arah belakang.
Allan mengalihkan pandangannya ke asal suara itu. Tak jauh dari tempatnya duduk
seorang wanita berdiri, ia terseyum manis, “Tuan Muda, maaf mengganggu
ketenangan Tuan. Saya minta ijin untuk membersihkan teras ini” dia adalah
Yunita, wanita yang baru saja hadir dalam lamunannya walau hanya sepintas saja.
Kedatangan
Yunita memang sedikit mengganggu Allan, tapi, beruntung bagi Allan, jika
terus-menerus larut dalam lamunan masa lalunya, mungkin, bisa saja membuatnya
kembali menjadi orang yang pemurung, penggerutu, sensitif dan pemarah. Saat
melihat Yunita di hadapannya Allan tersenyum kecil, “Setelah membersihkan
tempat ini, apakah ada waktu bagi kamu untuk menemani saya disini ? Bukannya,
pekerjaanmu hampir semuanya selesai ?” tanyanya.
Yunita
tersenyum manis, “Apakah kehadiran saya tidak mengganggu Tuan Muda ? Sebab,
sejak dari tadi saya melihat Tuan Muda duduk sambil melamun disana ? Apakah
Tuan Muda lagi mengenang masa-masa bersama Mira ?” tanyanya.
“Ah,
sudahlah ... melamun terus tak akan mengembalikan Mira di sisi saya. Jadi,
maukah kamu menemani saya duduk disini ? Karena semua pada pergi, saya jadi
kesepian, tak ada teman untuk bicara,”
Yunita
menganggukkan kepala, “Baiklah, Tuan Muda. Mohon ditunggu dulu saya akan
menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal sedikit ini,” katanya sambil
tangannya terus bekerja, sementara, sepasang mata Allan tak berkedip
memandanginya, “Dia adalah wanita yang rajin. Semua pekerjaan yang begitu berat
di rumah ini, dikerjakan sendirian. Tidak pernah mengeluh,” katanya dalam hati.
Pandangan
mata Allan tak berkedip menatap Yunita yang terus menyapu lantai teras, wanita
itu jadi salah tingkah, “Anak ini terus memandangiku bekerja, aku jadi tak enak
sendiri. Jantung ini, entah mengapa jantung itu berdegub begitu kencang sekali.
Sudah, tuan muda ... jangan memandangiku terus, aku jadi tak bisa bekerja
dengan baik,” katanya dalam hati. Buru-buru Yunita membereskan pekerjaannya,
“Sudah selesai, Tuan Muda. Tuan Muda bisa duduk lagi. Saya akan ke belakang
sebentar untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan,” katanya dengan suara
gemetar.
Allan
masih saja memandangi wajah Yunita, pipi wanita itu memerah, tanpa menunggu
jawaban dari Allan, ia segera melangkah ke dalam. Beberapa saat kemudian muncul
lagi sambil membawa nampan berisi makanan ringan dan sebuah gelas berukuran
agak besar yang di dalamnya sudah terisi teh yang asapnya masih mengepul dan
sebagian diterbangkan angin yang kemudian masuk ke lubang hidung Allan. Baunya
begitu harum. Aroma teh itu lebih harum lagi saat nampan yang dibawa Yunita
sudah diletakkan pada meja tak jauh dari
Allan duduk.
Allan
mengangguk perlahan, “Terima kasih,” katanya, “Duduklah di hadapanku. Tapi,
mengapa hanya satu gelas saja. Kamu juga harus menemani saya minum sambil
menunggu Papa dan Mama pulang,”
“Saya
tidak berani, Tuan Muda ....” ujar Yunita.
“Aku
memberi ijin, kamu tak perlu khawatir. Tak ada salahnya kamu menemaniku minum. Jangan
sungkan,” sahut Allan.
Walau
merasa tak enak hati, Yunita akhirnya menurut juga. Ia kembali masuk ke dalam
untuk kemudian keluar lagi sambil membawa sebuah gelas kosong lalu diisinya
dengan teh yang sudah disiapkan untuk Allan. Baru kali ini ia duduk santai
sambil minum bersama majikan, “Terima kasih, Tuan Muda. Ini adalah sebuah
kehormatan bagi saya,” katanya.
Alan
tersenyum, lalu bertanya, “Kalau tak salah, nama kamu yunita,ya ?”
__ADS_1
Yunita
mengangguk, “Benar, Tuan Muda,”
“Sepertinya,
kamu bukanlah penduduk biasa. Dari gaya bicaramu dan gerak-gerik kamu itu ....
lain sekali dengan para werknemer ( buruh ) yang bekerja di perkebunan juga
para bediende ( pelayan )lain.
Apakah kamu tidak keberatan menceritakannya pada saya ?” tanya Allan.
“Tuan
Muda, apalah gunanya mengenal saya. Saya hanyalah seorang bediende, saya malu
untuk menceritakannya pada tuan Muda,” jawab Yunita.
“Kalau
kamu merasa keberatan, sebaiknya tak perlu kau ceritakan. Tapi, sejujurnya ...
saya ingin mengenal kamu lebih dalam,” kata Allan dengan tatapan yang dalam
seakan-akan hendak memaksa lawan bicaranya menyerah. Hingga akhirnya tanpa
ditanya dua kali, Yunita segera menceritakan asal-usulnya.
“Oh, jadi
dulu kau hidup di lingkungan istana dan ayahmu adalah bekas seorang pejabat
tinggi di kerajaan Pasundan. Nama kamu sebenarnya adalah Dyah Sekar Ayu
Prameswati. Mengapa tidak kamu pakai saja nama itu ?”
“Saya
sekarang bukan lagi wanita keraton, Tuan Muda. Saya memiliki seorang suami dan 3
orang anak. Apalah gunanya memiliki kedudukan dan pangkat, jika, akhirnya harus
kembali menjadi orang biasa. Jadi, saya mengganti nama saya dengan Yunita. Biar
kita terus mengingat bahwa kita dulunya tercipta sebagai manusia biasa.
Berakhir pun juga sebagai manusia biasa,” ujar Yunita.
“Sebuah
ucapan yang bijak. Perkataan kamu membuat saya terharu. Tapi, janganlah kamu
putus asa, sebab, semua itu pasti ada hikmahnya,”
Kata-kata
yang terlontar dari mulut Allan membuat Yunita tercengang. Perkataan itu mirip
dengan perkataan almarhumah ibunya, ‘Nduk... apapun yang kita hadapi, hendaknya
kita tak perlu berkeluh kesah atau merasa diperlakukan tak adil oleh Yang Maha
Esa. Apapun yang kita alami, pahit-manis, suka-duka, semua pasti ada
namanya dipanggil-panggil oleh Nyonya Elizabeth Koef. Tampaknya beliau sudah
datang, “Tuan Muda, Nyonya besar sudah datang. Saya harus kembali bekerja.
Terima kasih karena Tuan Muda bersedia minum bersama saya,”
Allan
mengangguk, “Sayalah yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menemani
saya bicara,” katanya sambil memandangi Yunita. Tubuh wanita itu lenyap di
tikungan jalan, “Sekalipun wanita itu sudah menikah dan memiliki 3 orang anak
... ia masih tetap cantik,” katanya dalam hati.
Sejak
saat itulah, Allan dan Yunita sering melewatkan waktu bersama-sama ketika orang
tua Allan tidak ada di rumah. Hubungan mereka semakin akrab, Allan sudah
berhasil melupakan Mira, wanita yang ia cintai selama lebih kurang 3 tahun itu.
Hati mereka yang bagaikan sebuah tanah gersang, mendadak saja, muncul mata air
yang sejuk dan menyegarkan serta
ditumbuhi oleh bunga-bunga mekar dan berbau harum; hati mereka yang dingin,
beku dan hampa bagaikan sebuah padang salju yang luas; mendadak saja dicairkan
oleh nyala api yang membara dan membakar segala yang ada.
Hingga
pada suatu hari, saat Tuan dan Nyonya Van Koef tidak ada di rumah, Allan menemui Yunita yang sedang memasak di dapur.
“Begitu selesai memasak ... bisakah kamu menemuiku di teras ?” tanya Allan.
Sebenarnya, Yunita merasa takut sekali bertemu dengan Allan, tapi, ia sadar
dengan posisinya juga posisi Allan. Akhirnya, ia mengangguk, “Sebentar lagi
saya selesai, Tuan,” katanya, “Tinggal menghangatkan satu masakan saja,” Allan
mengangguk, lalu melangkah ke arah teras. Disana, ia duduk sementara sepasang
matanya menerawang ke tempat yang kosong, pikirannya kembali berkelana ke masa
lalu, masa dimana saat Mira masih disisinya untuk yang terakhir.
Siang itu
Allan berkunjung ke rumah Mira, di luar sudah duduk Ayahnya Panji Asmoro.
Melihat kedatangan Allan, wajah Panji Asmoro merah padam, “Mau apa lagi kau
__ADS_1
datang kemari ?! Apakah kau belum mengerti juga apa yang kukatakan padamu ?
Ataukah, aku harus mengulanginya lagi dan kali ini aku tak akan sungkan-sungkan
lagi !! Biarkan semua orang mendengar dan menyaksikan bagaimana aku berani
mengusir seorang Tuan Muda Belanda penjajah negeri ini !!!”
Allan tak
peduli akan kemarahan orang itu, ia terus berjalan dan saat tiba di hadapan
Panji Asmoro, ia berlutut, “Maafkan, saya Tuan .... ijinkanlah saya bertemu
dengan Mira untuk yang terakhir kalinya,” katanya.
“Aku
sudah bilang .... jangan kau temui lagi puteriku !! Kau masih saja bandel,
haruskah aku memukulmu hingga babak belur ?! Sekarang pergilah dari rumah ini
!! Pergilah, jangan sekali-kali kembali !! Lebih bagus apabila kalian
orang-orang Belanda semuanya angkat kaki dari negeri ini !!! Penghisap Darah
!!!”
Keributan
itu didengar oleh Trinil dan juga Mira yang berada di dalam rumah. Buru-buru
mereka keluar dan mendapati Panji Asmoro hendak menendang wajah Allan. Tapi,
Mira buru-buru menghadangnya, “Jangan, Ayah !!! Tak sadarkah Ayah, siapa orang
yang ada di hadapan Ayah ini ?”
“Cih !!
Sekalipun pejabat atau tentara Belanda dalam jumlah yang besar ... aku takkan
mundur !! Kau masuklah ke dalam atau aku juga akan menghajarmu di tempat
terbuka ini ?!!”
“Kau
keterlaluan sekali, kakang. Kau mempermalukan dirimu sendiri... tarik ucapanmu
itu, aku belum siap untuk menjalani hidup ini sendirian. Tahukah, kau ?!”
Trinil juga ikut bicara, “Jika kau ingin memukul mereka hingga babak belur,
pukullah aku terlebih dahulu !!”
“Kalian
berdua, mengapa kalian membela bocah Belanda itu, ha ? Apakah kalian sudah tak
lagi memandangku sebagai kepala rumah tangga di rumah ini ?!”
“Jangan
salah paham, kakang.... tak bisakah kau bicara baik-baik ? Kemanakah Ki Panji
Asmoro yang dulu kukenal ramah dan sopan ? Ingatlah, kang .... jangan kau
turuti emosi yang bisa saja mencelakakan kita semua,” kata Trinil lalu
memandang puterinya dan memberi isyarat agar Allan pergi. Mira paham, apa yang
harus dilakukan, maka dari itu ia menarik tangan Allan dan menjauh dari hadapan
Ayahnya yang sedang kalap.
Saat
muda-mudi itu melngkah menjauh, Panji Asmoro semakin meninggikan suaranya, “Mau
kemana kau !!! Ayah belum selesai bicara denganmu, bocah tak tahu adat !!”
“Plak !!”
sebuah tamparan keras mendarat di pipi Panji Asmoro, Trinil sudah menamparnya
dan menatap tajam ke arah pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu, “Maafkan
aku, kang ... terpaksa aku melakukan itu karena ucapanmu benar-benar kasar
terhadap Mira,” katanya sambil melangkah meninggalkan Panji Asmoro yang masih
berdiri bagaikan sebuah patung. Emosinya seketika itu juga lenyap, diapun
melangkah masuk mengikuti Trinil.
“Tuan
Muda Allan, maafkan Ayahku,” kata Mira saat sudah jauh dari rumahnya. Allan
bagaikan orang yang hilang ingatan, kejadian itu membuatnya Shock. Ia tersadar
saat jari jemari lentik Mira menyentuh dagunya, 2 pasang mata muda-mudi itu
saling pandang, “Tuan muda Allan, kini kau tahu bagaimana marahnya Ayahku saat
Tuan datang ke rumah. Untuk sementara, Tuan jangan ke rumah dulu... kalau
saatnya tepat, aku sendiri yang akan menemuimu. Bagaimana menurut pendapat Tuan
?” ujar Mira lembut.
Allan
mengangguk, dengan langkah gontai, iapun meninggalkan Mira yang masih berdiri
sendirian di tempat itu. Sepeninggal Allan, sepasang mata Mira berkaca-kaca,
“Maafkan, saya, Tuan ... mungkin ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Besok,
Ayah akan membawa saya pergi dari tempat ini. Jika ada jodoh, saya akan kembali
pada Tuan ....” katanya dalam hati lalu ia berlari meninggalkan tempat itu
__ADS_1
sambil menangis tersedu-sedu.
_____