Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 13


__ADS_3

INDAHNYA TARIAN DALAM RINAI


HUJAN


Hari


masih pagi, ketika kami tiba di sekolah. Sayup-sayup ... aku mendengar


senandung merdu dan itu berasal dari toilet wanita. Aku melangkahkan kakiku


menuju ke toilet diikuti oleh Cindy dan teman-teman hantunya juga Rita. Tak


lama kemudian kami pun tiba dan disana Yunita duduk di atas pasak-pasak kayu


penyangga atap. Dia seakan tak mempedulikan kedatangan kami, dia terus


bersenandung, sementara pandangannya menatap ruangan kosong. Untuk sesaat kami


terpana dengan lagu yang dinyanyikannya. Benar-benar lagu yang sendu, tapi,


enak didengar oleh telinga kami. Tanpa terasa Estefanny dan Febiola ikut-ikutan


memainkan alat-alat musiknya. Kami tak bisa menceritakan bagaimana indah dan


merdunya lagu yang mereka mainkan.


Beberapa


saat kemudian, lagu yang mereka mainkan berhenti dan Yunita mengalihkan


perhatiannya ke arah kami. Tubuhnya melayang turun perlahan dan berdiri di


hadapan kami, detik berikut ia membuka mulutnya dan berkata, “Lagu yang


kunyanyikan tadi, Judulnya Room Of Angel. Iringan musik kalian benar-benar


membuatku hanyut dan mengingatkanku pada kejadian di masa lalu. Masih segar


dalam ingatanku .... siang itu hujan turun. Titik-titik airnya yang lembut


menerpa wajahku. Segar sekali rasanya, dan  mendadak saja tubuhku bergerak kesana-kemari. Ke kanan, ke kiri, ke


depan, ke belakang, ke segala penjuru mata angin. Terkadang aku menyentakkan


kakiku ke depan, ke atas, kesamping kanan atau kiri, terkadang aku menggerakkan


tanganku, dan menarik tubuhku ke belakang, hujan seakan menjadi alunan musik


dan cahaya kilat bagaikan lampu latar yang indah. Aku tak sadar bahwa Allan


berdiri tak jauh dari tempatku menari, dia benar-benar menikmati tarianku. Dia


berkata, ‘Tarian kamu bagus dan indah sekali. Bisakah kau menari sekali lagi


untukku, aku menyukai tarianmu itu,’


“Aku tak


keberatan, aku rela melakukan sebanyak yang dia minta. Hingga pada suatu hari,


dia ikut-ikutan menari bersamaku. Dia mengiringi tarianku, dan kami menari


dalam guyuran air hujan. Aku merasa bahagia sekali saat menari bersamanya, aku


tak peduli seberapa deras hujan mengguyur, kami menari, menari dan terus


menari. Itu adalah salah satu dari banyak kenangan saat bersamanya. Seandainya,


aku bisa memutar balik waktu, kuingin meraih kenangan itu dan takkan kulepas


lagi. Akan tetapi, semuanya sudah berakhir sekarang, berakhir saat aku melihat


tubuhku menggantung di salah satu dahan pohon beringin,” kata Yunita.


“Apakah


kau mengenal Sophia ? Sophia Van Koef ?” tanyaku. Mendengar nama Sophia


disebut-sebut, sepasang mata Yunita menerawang ke langit-langit ruangan toilet seakan


hendak menembus atap. Lagi ... dia membawa kami  menuju lorong waktu dimana ia masih hidup.


Sophia


adalah seorang wanita cantik, puteri dari keluarga Liefderyk namun, diangkat


sebagai anak oleh keluarga Van Koef. Tampaknya dia adalah salah satu alat dari


keluarga Van Koef untuk merebut harta warisan Keluarga Liefderyk. Menikahkan


Sophia puteri Liefderyk dengan Andrew Van Koef adalah salah satu rencana licik


yang disusun oleh Alexander Van Koef. Jika Leonard Liefderyk meninggal, secara


tidak langsung Andrew akan menerima hak waris sepenuhnya meski statusnya adalah


menantu.


Selain


rela menikah dengan Andrew, Sophia mempunyai rencana lain yakni : mendekati


Allan. Sejak pertama kali bertemu dengan Allan, Sophia jatuh cinta padanya,


tapi, Allan hanya menganggap Sophia sebagai adik. Semua orang punya rencana dan


tujuan, semua orang boleh menggunakan segala hal demi meraih apa yang


diinginkan, tapi, jika Tuhan berkehendak lain, semuanya itu sia-sia. Demikian


pula halnya dengan rencana Sophia, apa yang diinginkan kandas di tengah jalan,


terlebih saat kehadiran Yunita dalam keluarga Van Koef.


Setelah


Allan menyatakan perasaannya pada Yunita, mereka semakin gencar mengadakan


pertemuan secara diam-diam. Tapi, hubungan cinta itu tak luput dari perhatian


Sophia. Wanita cantik itu benar-benar tersiksa saat melihat mereka berdua


bertemu, bercanda, bercerita dan bercumbu bersama. Tapi, Sophia memilih untuk


diam, sekalipun tahu bahwa tindakan mereka benar-benar tak pantas dilihat


orang, mengabaikan segala adat-istiadat dan norma-norma kesusilaan serta


kebudayaan yang ada di negeri ini.


“Kalian,


masih terlalu muda untuk mendengar semua yang kami lakukan. Aku tahu itu adalah


sebuah dosa besar ... dosa yang tak terampuni. Tapi, aku sendiri juga bodoh


terlalu percaya dan berharap pada janji-janji manis yang diucapkan oleh Allan.


Dia pernah berjanji padaku, untuk mengambilku sebagai isterinya,” kata Yunita.


Yunita


kembali bercerita, hingga pada suatu hari, suaminya meninggal tanpa sebab yang


jelas. Usia perkawinan Yunita dengan sang suami yang berlangsung lebih kurang


30 tahun harus berakhir. Inilah kesempatan bagi Yunita untuk menagih janji pada

__ADS_1


Allan, tapi, Allan selalu menghindar dengan mengatakan, “Kamu tenang saja dulu.


Saya pasti menikahi kamu dan dengan demikian kita bisa merenda masa depan


bersama-sama. Waktunya masih belum tepat,”


Hingga


pada suatu hari, seperti biasa, Yunita dan Allan menghabiskan waktu bersama


saat orang tuanya sedang keluar kota. Siang itu Allan memanggil Yunita ke


kamarnya, Yunita tahu apa yang diinginkan oleh Allan. Yah, saat mereka berdua


berada di dalam kamar yang terkunci rapat, mereka selalu berhubungan intim. Itu


sudah terjadi berulang kali, tapi, lolos dari perhatian orang tua kecuali


Sophia. Mereka memadu kasih, merekuh kepuasan dan kenikmatan dari apa yang


dinamakan : CINTA. Setelah semuanya selesai, mereka berbaring bersama dalam


keadaan tanpa busana.


Akan


tetapi, hari itu orang tua Allan yang ada di luar kota mendadak pulang dan


Sophia pun tak ada di rumah sehingga tak ada yang mengawasi apa yang dilakukan


oleh Allan dan Yunita. Saat dua muda-mudi itu setengah tertidur, Yunita


mendengar pintu kamar Allan diketuk orang. Tamu tak diundang itu adalah


Alexander Van Koef, Ayah Allan.


Karena


kesal dan tak ada jawaban, pria berusia sekitar 65 tahun itu mendobrak pintu,


sepasang matanya terbelalak manakala mendapati Allan tengah tidur bersama


Yunita, “Apa-apaan ini ?!” serunya dengan suara tinggi. Melihat pintu terbuka


lebar dan sang Ayah berdiri dengan wajah yang merah padam, Allan tetap tenang sementara


Yunita buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut, “Ma ... ma... maaf Tuan


Besar,” katanya gugup sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai kamar.


“Jangan


salahkan dia, Ayah. Sayalah yang bersalah, saya telah lepas kendali,” ujar


Allan tetap tenang.


“Kalian


berdua sudah melakukan kesalahan besar !! Dosa kalian tak terampuni !!”


bentaknya sambil meraih gagang pistol yang kemudian ditodongkan ke arah Yunita,


Yunita memejamkan mata. Ia pasrah dan sadar bahwa hidupnya tak lama lagi


berakhir. “Dor !!!” bunyi letusan pistol terdengar cukup keras, Yunita menjerit


tertahan. Tak ada luka di tubuhnya, pandangannya tertuju pada Allan yang tengah


bergulat dengan Ayahnya, pistol yang digenggam oleh sang Ayah meletus


berkali-kali melubangi langit-langit kamar.


“Jangan


Ayah !! Jika Ayah membunuhnya, maka, Allan juga tak ingin hidup lagi,” Allan


lalu keluarlah. Saya yang bertanggung jawab,” sambung Allan. Tanpa disuruh dua


kali, Yunita buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari keluar. Di luar ia


bertemu dengan Elizabeth Van Koef, Nyonya besar itu berdiri dan menatap


penampilan Yunita yang berantakan. Ditatap seperti itu, Yunita tak kuasa


menangis sejadi-jadinya, “Nyonya ... saya bersalah besar. Hari ini juga saya


akan keluar dari rumah ini,” setelah itu ia berlari hendak meninggalkan rumah


Keluarga Van Koef


“Tunggu


dulu. Apa yang terjadi ?” tanya Elizabeth Van Koef yang sebenarnya sudah


mengerti kejadian yang menimpa Allan, Yunita dan suaminya.


Yunita


menangis tersedu-sedu, ia berlutut di hadapan majikan perempuannya ini, lalu


dengan terisak-isak menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan Yunita,


Elizabeth Van Koef sebenarnya marah besar, tapi, sebisa mungkin ia tak menyembunyikan


perasaannya itu sambil berkata, “Rapikan dulu penampilanmu yang berantaka itu.


Setelah itu kita bicara baik-baik, jangan sekali-kali kau meninggalkan tempat


ini sebelum berteemu lagi dengan saya. Sementara saya akan mencoba untuk


melerai pertikaian ayah dan anak itu,” katanya sambil memberi isyarat pada


Yunita untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Perlu


waktu yang cukup lama untuk mencairkan suasana yang panas itu, sementara,


Yunita yang tak bisa menahan rasa malu, ia pergi meninggalkan rumah keluarga


Van Koef diam-diam. Hari-hari selanjutnya, ia tak pernah lagi menginjakkan


kakinya ke rumah keluarga Van Koef. Di pihak Allan, pemuda yang baru


mendapatkan dirinya kembali saat putus dengan Mira dan bertemu dengan Yunita,


kembali terpuruk. Terlebih lagi saat berkunjung ke rumah Yunita, ia tak


mendapati wanita pujaan hatinya itu disana. Ia tidak lagi memperhatikan


keadaannya, setiap hari hanya minum-minum dan melamun.


Baik


Allan maupun Yunita sama-sama terpukul. Hubungan cinta mereka yang sudah dibina


selama 10 tahun itu harus kandas di tengah jalan. Saat putus asa, iapun memilih


menikah dengan wanita lain, sekalipun ia tak mencintai wanita itu. Di pihak


Sophia, wanita itu harus rela menahan sakit hati untuk kesekian kalinya. Sophia


berusaha untuk mencari keberadaan Yunita yang tak ketahuan rimbanya, dan usaha


Sophia ini tak sia-sia. Waktu itu, ia berada di kawasan para werknermer (Buruh)


yang kumuh. Disana ada sebuah rumah kecil, pada rumah itu ada bendera hijau

__ADS_1


dengan gambar 2 garis melintang. Orang di sekitar sana mengatakan bahwa itu


adalah rumah Ki Jogorogo, ayah Yunita. Ki Jogorogo meninggal 7 hari yang lalu


dan anak-anaknya sedang berkumpul. Yunita dan Keting.


Sophia


bertemu dengan Yunita dan kakaknya. Ia merasa iba sekali melihat keadaan rumah


itu, terlebih melihat keadaan Yunita yang kurus dan lesu.


“Bagaimana


keadaanmu sekarang Yunita ?” tanya Sophia.


“Yah,


seperti inilah keadaan saya sekarang. Mau apa lagi ?” jawabnya dengan nada tak


bersemangat seperti yang pernah dilihat Sophia saat masih berada di rumah


keluarga Van Koef.


“Saya


ikut berduka atas meninggalnya Ayah kamu,” ujar Sophia prihatin.


“Terima


kasih,” ujar Yunita dengan nada datar.


“Apakah


kamu tak ingin kembali bekerja di rumah Keluarga Van Koef ?”


“Kau tahu


sendiri, bukan ? Apa yang saya harapkan lagi disana ? Di rumah itu terlalu


banyak kenangan pahit. Masih punya mukakah saya untuk kembali bekerja disana ?


Pertanyaan Nona Sophia terlalu konyol,”


“Hei,


bukankah kau salah seorang anggota dari Keluarga Van Koef ?” tanya seorang


wanita yang duduk di sebelah kanan Yunita dengan nada ketus.


Sophia


mengangguk, “Benar ? Siapa kamu ?” tanyanya.


“Aku


adalah kakak Yunita, namaku Keting,” kata Keting, “Gara-gara bocah bernama


Allan itu, adikku jadi seperti ini ! Bagaimana tanggung jawab kalian, ha ?!


Seandainya saja tak ada kejadian itu, tak mungkin adikku jadi kusut seperti


ini. Bagaimana kalian harus bertanggung jawab ?!” sambungnya.


“Kak,


sudahlah ... aku rela menerimanya. Ini adalah kesalahanku sendiri,” ujar


Yunita.


“Wanita


tolol ! Masih saja kau membelanya,”


“Bukannya


membela, kak ... dia adalah tamu kita. Maka, kita harus menerimanya dengan


baik,” bela Yunita.


“Keluarga


Van Koef ! Apa yang bisa diberikan kepadamu ?! Lihat dirimu sekarang ini.


Gara-gara pemuda bernama Allan itu, kau seperti sepatu bau, baju robek yang


dibuang oleh pemiliknya,”


“Kak...


sudahlah. Perkataanmu tak enak didengar. Maafkan kakak saya Nona Sophia. Kami


masih dalam keadaan berkabung atas kematian Ayah kami. Jadi, kami sembarangan


bicara,”


Sophia


hanya tersenyum, “Jangan sungkan. Kedatangan sayalah yang tidak tepat, sekarang


juga saya mohon diri,” katanya sambil berdiri perlahan. Pada saat itulah


sesuatu terjatuh dari sakunya, tentu saja pandangan Yunita dan Keting tak bisa


melepaskannya, “Apa itu, Nona ?” tanya Yunita.


Sophia


buru-buru memungut benda yang terjatuh dari sakunya, “Maaf. Seharusnya aku tak


menjatuhkannya,” katanya.


Keting


kesal, buru-buru ia merebut benda dalam genggaman Sophia dengan kasar dan ‘Krek


!!” benda itu terpotong menjadi 2 bagian. Yunita bisa melihat bagian yang sobek


itu. SURAT UNDANGAN. Pada surat itu tercantum sebuah nama yang cukup familiar


di hati Yunita “ALLAN VAN KOEF”


Hati


Yunita serasa tercabik-cabik menjadi beberapa bagian. Wajahnya merah padam. Ia


merasakan adanya hawa panas menjalar dari ujung jari kakinya menuju ke setiap


bagian pembuluh darah dan aliran nadi.


“TTTIIIDDDAAAKKK


MMMUUUNNNGGGKKKIIINNN !!!!”


Teriakannya


menggema seakan hendak merobek-robek seisi alam semesta. Bunyi hewan dan


serangga malam yang mengalun merdu seketika itu terdiam. Mereka seakan ikut


merasakan kepedihan hati Yunita yang sudah lama terpendam semenjak ia


melngkahkan kakinya keluar dari rumah Keluarga Van Koef. Selesai berteriak,


Yunita merasakan kepalanya berdenyut-denyut, sekujur tubuhnya lemas tak


bertenaga. Iapun roboh pingsan.

__ADS_1


***


__ADS_2