
INDAHNYA TARIAN DALAM RINAI
HUJAN
Hari
masih pagi, ketika kami tiba di sekolah. Sayup-sayup ... aku mendengar
senandung merdu dan itu berasal dari toilet wanita. Aku melangkahkan kakiku
menuju ke toilet diikuti oleh Cindy dan teman-teman hantunya juga Rita. Tak
lama kemudian kami pun tiba dan disana Yunita duduk di atas pasak-pasak kayu
penyangga atap. Dia seakan tak mempedulikan kedatangan kami, dia terus
bersenandung, sementara pandangannya menatap ruangan kosong. Untuk sesaat kami
terpana dengan lagu yang dinyanyikannya. Benar-benar lagu yang sendu, tapi,
enak didengar oleh telinga kami. Tanpa terasa Estefanny dan Febiola ikut-ikutan
memainkan alat-alat musiknya. Kami tak bisa menceritakan bagaimana indah dan
merdunya lagu yang mereka mainkan.
Beberapa
saat kemudian, lagu yang mereka mainkan berhenti dan Yunita mengalihkan
perhatiannya ke arah kami. Tubuhnya melayang turun perlahan dan berdiri di
hadapan kami, detik berikut ia membuka mulutnya dan berkata, “Lagu yang
kunyanyikan tadi, Judulnya Room Of Angel. Iringan musik kalian benar-benar
membuatku hanyut dan mengingatkanku pada kejadian di masa lalu. Masih segar
dalam ingatanku .... siang itu hujan turun. Titik-titik airnya yang lembut
menerpa wajahku. Segar sekali rasanya, dan mendadak saja tubuhku bergerak kesana-kemari. Ke kanan, ke kiri, ke
depan, ke belakang, ke segala penjuru mata angin. Terkadang aku menyentakkan
kakiku ke depan, ke atas, kesamping kanan atau kiri, terkadang aku menggerakkan
tanganku, dan menarik tubuhku ke belakang, hujan seakan menjadi alunan musik
dan cahaya kilat bagaikan lampu latar yang indah. Aku tak sadar bahwa Allan
berdiri tak jauh dari tempatku menari, dia benar-benar menikmati tarianku. Dia
berkata, ‘Tarian kamu bagus dan indah sekali. Bisakah kau menari sekali lagi
untukku, aku menyukai tarianmu itu,’
“Aku tak
keberatan, aku rela melakukan sebanyak yang dia minta. Hingga pada suatu hari,
dia ikut-ikutan menari bersamaku. Dia mengiringi tarianku, dan kami menari
dalam guyuran air hujan. Aku merasa bahagia sekali saat menari bersamanya, aku
tak peduli seberapa deras hujan mengguyur, kami menari, menari dan terus
menari. Itu adalah salah satu dari banyak kenangan saat bersamanya. Seandainya,
aku bisa memutar balik waktu, kuingin meraih kenangan itu dan takkan kulepas
lagi. Akan tetapi, semuanya sudah berakhir sekarang, berakhir saat aku melihat
tubuhku menggantung di salah satu dahan pohon beringin,” kata Yunita.
“Apakah
kau mengenal Sophia ? Sophia Van Koef ?” tanyaku. Mendengar nama Sophia
disebut-sebut, sepasang mata Yunita menerawang ke langit-langit ruangan toilet seakan
hendak menembus atap. Lagi ... dia membawa kami menuju lorong waktu dimana ia masih hidup.
Sophia
adalah seorang wanita cantik, puteri dari keluarga Liefderyk namun, diangkat
sebagai anak oleh keluarga Van Koef. Tampaknya dia adalah salah satu alat dari
keluarga Van Koef untuk merebut harta warisan Keluarga Liefderyk. Menikahkan
Sophia puteri Liefderyk dengan Andrew Van Koef adalah salah satu rencana licik
yang disusun oleh Alexander Van Koef. Jika Leonard Liefderyk meninggal, secara
tidak langsung Andrew akan menerima hak waris sepenuhnya meski statusnya adalah
menantu.
Selain
rela menikah dengan Andrew, Sophia mempunyai rencana lain yakni : mendekati
Allan. Sejak pertama kali bertemu dengan Allan, Sophia jatuh cinta padanya,
tapi, Allan hanya menganggap Sophia sebagai adik. Semua orang punya rencana dan
tujuan, semua orang boleh menggunakan segala hal demi meraih apa yang
diinginkan, tapi, jika Tuhan berkehendak lain, semuanya itu sia-sia. Demikian
pula halnya dengan rencana Sophia, apa yang diinginkan kandas di tengah jalan,
terlebih saat kehadiran Yunita dalam keluarga Van Koef.
Setelah
Allan menyatakan perasaannya pada Yunita, mereka semakin gencar mengadakan
pertemuan secara diam-diam. Tapi, hubungan cinta itu tak luput dari perhatian
Sophia. Wanita cantik itu benar-benar tersiksa saat melihat mereka berdua
bertemu, bercanda, bercerita dan bercumbu bersama. Tapi, Sophia memilih untuk
diam, sekalipun tahu bahwa tindakan mereka benar-benar tak pantas dilihat
orang, mengabaikan segala adat-istiadat dan norma-norma kesusilaan serta
kebudayaan yang ada di negeri ini.
“Kalian,
masih terlalu muda untuk mendengar semua yang kami lakukan. Aku tahu itu adalah
sebuah dosa besar ... dosa yang tak terampuni. Tapi, aku sendiri juga bodoh
terlalu percaya dan berharap pada janji-janji manis yang diucapkan oleh Allan.
Dia pernah berjanji padaku, untuk mengambilku sebagai isterinya,” kata Yunita.
Yunita
kembali bercerita, hingga pada suatu hari, suaminya meninggal tanpa sebab yang
jelas. Usia perkawinan Yunita dengan sang suami yang berlangsung lebih kurang
30 tahun harus berakhir. Inilah kesempatan bagi Yunita untuk menagih janji pada
__ADS_1
Allan, tapi, Allan selalu menghindar dengan mengatakan, “Kamu tenang saja dulu.
Saya pasti menikahi kamu dan dengan demikian kita bisa merenda masa depan
bersama-sama. Waktunya masih belum tepat,”
Hingga
pada suatu hari, seperti biasa, Yunita dan Allan menghabiskan waktu bersama
saat orang tuanya sedang keluar kota. Siang itu Allan memanggil Yunita ke
kamarnya, Yunita tahu apa yang diinginkan oleh Allan. Yah, saat mereka berdua
berada di dalam kamar yang terkunci rapat, mereka selalu berhubungan intim. Itu
sudah terjadi berulang kali, tapi, lolos dari perhatian orang tua kecuali
Sophia. Mereka memadu kasih, merekuh kepuasan dan kenikmatan dari apa yang
dinamakan : CINTA. Setelah semuanya selesai, mereka berbaring bersama dalam
keadaan tanpa busana.
Akan
tetapi, hari itu orang tua Allan yang ada di luar kota mendadak pulang dan
Sophia pun tak ada di rumah sehingga tak ada yang mengawasi apa yang dilakukan
oleh Allan dan Yunita. Saat dua muda-mudi itu setengah tertidur, Yunita
mendengar pintu kamar Allan diketuk orang. Tamu tak diundang itu adalah
Alexander Van Koef, Ayah Allan.
Karena
kesal dan tak ada jawaban, pria berusia sekitar 65 tahun itu mendobrak pintu,
sepasang matanya terbelalak manakala mendapati Allan tengah tidur bersama
Yunita, “Apa-apaan ini ?!” serunya dengan suara tinggi. Melihat pintu terbuka
lebar dan sang Ayah berdiri dengan wajah yang merah padam, Allan tetap tenang sementara
Yunita buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut, “Ma ... ma... maaf Tuan
Besar,” katanya gugup sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai kamar.
“Jangan
salahkan dia, Ayah. Sayalah yang bersalah, saya telah lepas kendali,” ujar
Allan tetap tenang.
“Kalian
berdua sudah melakukan kesalahan besar !! Dosa kalian tak terampuni !!”
bentaknya sambil meraih gagang pistol yang kemudian ditodongkan ke arah Yunita,
Yunita memejamkan mata. Ia pasrah dan sadar bahwa hidupnya tak lama lagi
berakhir. “Dor !!!” bunyi letusan pistol terdengar cukup keras, Yunita menjerit
tertahan. Tak ada luka di tubuhnya, pandangannya tertuju pada Allan yang tengah
bergulat dengan Ayahnya, pistol yang digenggam oleh sang Ayah meletus
berkali-kali melubangi langit-langit kamar.
“Jangan
Ayah !! Jika Ayah membunuhnya, maka, Allan juga tak ingin hidup lagi,” Allan
lalu keluarlah. Saya yang bertanggung jawab,” sambung Allan. Tanpa disuruh dua
kali, Yunita buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari keluar. Di luar ia
bertemu dengan Elizabeth Van Koef, Nyonya besar itu berdiri dan menatap
penampilan Yunita yang berantakan. Ditatap seperti itu, Yunita tak kuasa
menangis sejadi-jadinya, “Nyonya ... saya bersalah besar. Hari ini juga saya
akan keluar dari rumah ini,” setelah itu ia berlari hendak meninggalkan rumah
Keluarga Van Koef
“Tunggu
dulu. Apa yang terjadi ?” tanya Elizabeth Van Koef yang sebenarnya sudah
mengerti kejadian yang menimpa Allan, Yunita dan suaminya.
Yunita
menangis tersedu-sedu, ia berlutut di hadapan majikan perempuannya ini, lalu
dengan terisak-isak menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan Yunita,
Elizabeth Van Koef sebenarnya marah besar, tapi, sebisa mungkin ia tak menyembunyikan
perasaannya itu sambil berkata, “Rapikan dulu penampilanmu yang berantaka itu.
Setelah itu kita bicara baik-baik, jangan sekali-kali kau meninggalkan tempat
ini sebelum berteemu lagi dengan saya. Sementara saya akan mencoba untuk
melerai pertikaian ayah dan anak itu,” katanya sambil memberi isyarat pada
Yunita untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Perlu
waktu yang cukup lama untuk mencairkan suasana yang panas itu, sementara,
Yunita yang tak bisa menahan rasa malu, ia pergi meninggalkan rumah keluarga
Van Koef diam-diam. Hari-hari selanjutnya, ia tak pernah lagi menginjakkan
kakinya ke rumah keluarga Van Koef. Di pihak Allan, pemuda yang baru
mendapatkan dirinya kembali saat putus dengan Mira dan bertemu dengan Yunita,
kembali terpuruk. Terlebih lagi saat berkunjung ke rumah Yunita, ia tak
mendapati wanita pujaan hatinya itu disana. Ia tidak lagi memperhatikan
keadaannya, setiap hari hanya minum-minum dan melamun.
Baik
Allan maupun Yunita sama-sama terpukul. Hubungan cinta mereka yang sudah dibina
selama 10 tahun itu harus kandas di tengah jalan. Saat putus asa, iapun memilih
menikah dengan wanita lain, sekalipun ia tak mencintai wanita itu. Di pihak
Sophia, wanita itu harus rela menahan sakit hati untuk kesekian kalinya. Sophia
berusaha untuk mencari keberadaan Yunita yang tak ketahuan rimbanya, dan usaha
Sophia ini tak sia-sia. Waktu itu, ia berada di kawasan para werknermer (Buruh)
yang kumuh. Disana ada sebuah rumah kecil, pada rumah itu ada bendera hijau
__ADS_1
dengan gambar 2 garis melintang. Orang di sekitar sana mengatakan bahwa itu
adalah rumah Ki Jogorogo, ayah Yunita. Ki Jogorogo meninggal 7 hari yang lalu
dan anak-anaknya sedang berkumpul. Yunita dan Keting.
Sophia
bertemu dengan Yunita dan kakaknya. Ia merasa iba sekali melihat keadaan rumah
itu, terlebih melihat keadaan Yunita yang kurus dan lesu.
“Bagaimana
keadaanmu sekarang Yunita ?” tanya Sophia.
“Yah,
seperti inilah keadaan saya sekarang. Mau apa lagi ?” jawabnya dengan nada tak
bersemangat seperti yang pernah dilihat Sophia saat masih berada di rumah
keluarga Van Koef.
“Saya
ikut berduka atas meninggalnya Ayah kamu,” ujar Sophia prihatin.
“Terima
kasih,” ujar Yunita dengan nada datar.
“Apakah
kamu tak ingin kembali bekerja di rumah Keluarga Van Koef ?”
“Kau tahu
sendiri, bukan ? Apa yang saya harapkan lagi disana ? Di rumah itu terlalu
banyak kenangan pahit. Masih punya mukakah saya untuk kembali bekerja disana ?
Pertanyaan Nona Sophia terlalu konyol,”
“Hei,
bukankah kau salah seorang anggota dari Keluarga Van Koef ?” tanya seorang
wanita yang duduk di sebelah kanan Yunita dengan nada ketus.
Sophia
mengangguk, “Benar ? Siapa kamu ?” tanyanya.
“Aku
adalah kakak Yunita, namaku Keting,” kata Keting, “Gara-gara bocah bernama
Allan itu, adikku jadi seperti ini ! Bagaimana tanggung jawab kalian, ha ?!
Seandainya saja tak ada kejadian itu, tak mungkin adikku jadi kusut seperti
ini. Bagaimana kalian harus bertanggung jawab ?!” sambungnya.
“Kak,
sudahlah ... aku rela menerimanya. Ini adalah kesalahanku sendiri,” ujar
Yunita.
“Wanita
tolol ! Masih saja kau membelanya,”
“Bukannya
membela, kak ... dia adalah tamu kita. Maka, kita harus menerimanya dengan
baik,” bela Yunita.
“Keluarga
Van Koef ! Apa yang bisa diberikan kepadamu ?! Lihat dirimu sekarang ini.
Gara-gara pemuda bernama Allan itu, kau seperti sepatu bau, baju robek yang
dibuang oleh pemiliknya,”
“Kak...
sudahlah. Perkataanmu tak enak didengar. Maafkan kakak saya Nona Sophia. Kami
masih dalam keadaan berkabung atas kematian Ayah kami. Jadi, kami sembarangan
bicara,”
Sophia
hanya tersenyum, “Jangan sungkan. Kedatangan sayalah yang tidak tepat, sekarang
juga saya mohon diri,” katanya sambil berdiri perlahan. Pada saat itulah
sesuatu terjatuh dari sakunya, tentu saja pandangan Yunita dan Keting tak bisa
melepaskannya, “Apa itu, Nona ?” tanya Yunita.
Sophia
buru-buru memungut benda yang terjatuh dari sakunya, “Maaf. Seharusnya aku tak
menjatuhkannya,” katanya.
Keting
kesal, buru-buru ia merebut benda dalam genggaman Sophia dengan kasar dan ‘Krek
!!” benda itu terpotong menjadi 2 bagian. Yunita bisa melihat bagian yang sobek
itu. SURAT UNDANGAN. Pada surat itu tercantum sebuah nama yang cukup familiar
di hati Yunita “ALLAN VAN KOEF”
Hati
Yunita serasa tercabik-cabik menjadi beberapa bagian. Wajahnya merah padam. Ia
merasakan adanya hawa panas menjalar dari ujung jari kakinya menuju ke setiap
bagian pembuluh darah dan aliran nadi.
“TTTIIIDDDAAAKKK
MMMUUUNNNGGGKKKIIINNN !!!!”
Teriakannya
menggema seakan hendak merobek-robek seisi alam semesta. Bunyi hewan dan
serangga malam yang mengalun merdu seketika itu terdiam. Mereka seakan ikut
merasakan kepedihan hati Yunita yang sudah lama terpendam semenjak ia
melngkahkan kakinya keluar dari rumah Keluarga Van Koef. Selesai berteriak,
Yunita merasakan kepalanya berdenyut-denyut, sekujur tubuhnya lemas tak
bertenaga. Iapun roboh pingsan.
__ADS_1
***