Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 08


__ADS_3

Siang itu


Nyonya Koef datang ke ruang dapur, Yunita baru saja membereskan peralatan dapur


dan baru saja duduk untuk melepas lelah. Melihat kemunculan Nyonya Koef,


buru-buru Yunita bangkit berdiri dan mengerjakan pekerjaan  lain, “Maaf, Nyonya... saya seharusnya


bekerja, namun, masih sempat-sempatnya duduk,” katanya merasa bersalah.


Nyonya


Elizabeth Koef tersenyum, “Sudahlah, kau beristirahatlah dulu... saya tahu kau


sejak tadi terus bekerja dan tidak pernah beristirahat, jika, pekerjaan belum


selesai. Duduklah disini, disampingku. Ada yang hendak kubicarakan,” Yunita


menurut, meskipun ia merasa tak enak untuk duduk di samping majikan, sekujur


tubuhnya gemetaran karena merasa gugup. Nyonya Elizabeth Koef hanya tersenyum,


“Jangan sungkan, Yunita ... kamu sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga


ini. Jadi, saya menganggapmu sebagai anak sendiri,” katanya.


“Terima


kasih, Nyonya ... sebuah kehormatan bagi saya apabila nyonya menganggap saya


demikian,” kata Yunita sambil berusaha menenangkan diri. Nyonya Elizabeth Koef


menghela nafas panjang, “Aku tahu akhir-akhir ini anakku Allan sering sekali


marah-marah  padamu, sementara, kau tak


melakukan kesalahan padanya,” katanya.


“Sudahlah,


Nyonya... saya tidak mempermasalahkannya... mungkin karena ada sikap saya yang


salah atau tidak berkenan, sehingga membuatnya tersinggung,” ujar Yunita yang


sudah mulai bisa menenangkan dirinya.


 “Bukan. Saya yang paling mengerti sifat, watak

__ADS_1


dan karakternya. Saya tahu, dia baru patah hati,” ujar Nyonya Elizabeth Koef.


Yunita tertegun, mendadak saja sikapnya terhadap Allan Koef yang selama ini


dikenal pemarah, penggerutu dan lain sebagainya berubah menjadi iba. Ia


kemudian mendengarkan cerita Nyonya Koef dengan penuh perhatian.


“3 tahun


yang lalu, Allan jatuh hati dengan salah seorang anak keturunan pribumi.


Hubungannya sudah berjalan hampir 3,5 tahun. Sebenarnya, saya belum bisa


menyetujui hubungan mereka, karena berbagai hal. Tapi, karena melihat


kesungguhan hati mereka, akhirnya, saya terpaksa menerimanya. Akan tetapi, di


saat kami hendak melamar Mira, orang tua gadis itu tidak setuju. Hubungan


mereka pun akhirnya, kandas di tengah jalan. Sejak saat itulah Allan yang


dulunya periang, suka senyum dan suka bercanda, menjadi seperti sekarang ini.


Saya tak habis pikir, bagaimana caranya agar dia bisa kembali seperti dulu


Yunita


terdiam sesaat lamanya, setelah itu bertanya, “Maaf, Nyonya ...  kalau boleh tahu, apa yang membuat keluarga


Anda juga keluarganya tidak menyetujui hubungan Allan – Mira ?”


“Tidak


tahukah kamu, bagaimana bangsa kami menjajah bangsamu ? Meski sebenarnya, tidak


semua bangsa kami melakukan hal yang sama terhadap bangsamu. Berapa banyak


nyawa penduduk negara ini yang kehilangan nyawanya demi membela hak-haknya sebagai


penduduk sipil. Nah, pandangan semacam itulah yang membuat keluarga Mira,


memandang negatif terhadap ... hampir semua Bangsa kami. Belum lagi, masalah


keyakinan dan kepercayaan. Walau semuanya itu terlahir dari pribadi


masing-masing orang. Namun, bagi keluarga Mira .... itu adalah sebuah prinsip

__ADS_1


yang tidak b isa dirubah sama sekali. Usiamu dengan usia Allan mungkin hanya


terpaut satu atau dua tahun saja, barangkali ... kalian bisa saling


tukar-menukar pikiran dan pengalaman. Kamu tahu bukan, bagaimana rasanya patah


hati atau putus cinta, bukan. Saya kira semua orang pernah mengalaminya,” jelas


Nyonya Elizabeth Koef.


“Nyonya,


sebelumnya... saya minta maaf, saya tak yakin bisa membantu Anda. Karena,Tuan


Muda Allan ....” ucapan Yunita tersebut segera dipotong oleh Nyonya Koef,


“Dengarlah.... Allan sebenarnya adalah pemuda yang baik. Allan adalah anak


paling muda. Melihat keadaan dia sekarang, saya benar-benar iba. Jika


terus-terusan seperti ini, bagaimana masa depannya. Entah mengapa, saya percaya


kamu bisa membimbing dia untuk keluar dari dasar jurang yang dalam. Saya akan


sangat berterima kasih sekali, apabila kamu bisa membantu saya, menyelamatkan


Allan. Jasa-jasa kamu akan selalu saya ingat,”


“Baiklah,


nyonya... saya akan berusaha,” ujar Yunita


Setelah


perbincangan itu, Yunita mencoba untuk lebih mengakrabkan diri pada Allan,


walau, semula tanggapan Allan dingin, tak jarang kata-kata kasar dan kotor


keluar dari mulut Allan dan itu tak jarang membuat telinga Yunita panas dan


menyakiti hati serta harga diri Yunita. Tapi, wanita yang memang usianya lebih


tua 2 tahun dari Allan itu, berusaha untuk tetap sabar dan mengendalikan diri.


Dan, akhirnya ....


***

__ADS_1


__ADS_2