
Siang itu
Nyonya Koef datang ke ruang dapur, Yunita baru saja membereskan peralatan dapur
dan baru saja duduk untuk melepas lelah. Melihat kemunculan Nyonya Koef,
buru-buru Yunita bangkit berdiri dan mengerjakan pekerjaan lain, “Maaf, Nyonya... saya seharusnya
bekerja, namun, masih sempat-sempatnya duduk,” katanya merasa bersalah.
Nyonya
Elizabeth Koef tersenyum, “Sudahlah, kau beristirahatlah dulu... saya tahu kau
sejak tadi terus bekerja dan tidak pernah beristirahat, jika, pekerjaan belum
selesai. Duduklah disini, disampingku. Ada yang hendak kubicarakan,” Yunita
menurut, meskipun ia merasa tak enak untuk duduk di samping majikan, sekujur
tubuhnya gemetaran karena merasa gugup. Nyonya Elizabeth Koef hanya tersenyum,
“Jangan sungkan, Yunita ... kamu sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga
ini. Jadi, saya menganggapmu sebagai anak sendiri,” katanya.
“Terima
kasih, Nyonya ... sebuah kehormatan bagi saya apabila nyonya menganggap saya
demikian,” kata Yunita sambil berusaha menenangkan diri. Nyonya Elizabeth Koef
menghela nafas panjang, “Aku tahu akhir-akhir ini anakku Allan sering sekali
marah-marah padamu, sementara, kau tak
melakukan kesalahan padanya,” katanya.
“Sudahlah,
Nyonya... saya tidak mempermasalahkannya... mungkin karena ada sikap saya yang
salah atau tidak berkenan, sehingga membuatnya tersinggung,” ujar Yunita yang
sudah mulai bisa menenangkan dirinya.
“Bukan. Saya yang paling mengerti sifat, watak
__ADS_1
dan karakternya. Saya tahu, dia baru patah hati,” ujar Nyonya Elizabeth Koef.
Yunita tertegun, mendadak saja sikapnya terhadap Allan Koef yang selama ini
dikenal pemarah, penggerutu dan lain sebagainya berubah menjadi iba. Ia
kemudian mendengarkan cerita Nyonya Koef dengan penuh perhatian.
“3 tahun
yang lalu, Allan jatuh hati dengan salah seorang anak keturunan pribumi.
Hubungannya sudah berjalan hampir 3,5 tahun. Sebenarnya, saya belum bisa
menyetujui hubungan mereka, karena berbagai hal. Tapi, karena melihat
kesungguhan hati mereka, akhirnya, saya terpaksa menerimanya. Akan tetapi, di
saat kami hendak melamar Mira, orang tua gadis itu tidak setuju. Hubungan
mereka pun akhirnya, kandas di tengah jalan. Sejak saat itulah Allan yang
dulunya periang, suka senyum dan suka bercanda, menjadi seperti sekarang ini.
Saya tak habis pikir, bagaimana caranya agar dia bisa kembali seperti dulu
Yunita
terdiam sesaat lamanya, setelah itu bertanya, “Maaf, Nyonya ... kalau boleh tahu, apa yang membuat keluarga
Anda juga keluarganya tidak menyetujui hubungan Allan – Mira ?”
“Tidak
tahukah kamu, bagaimana bangsa kami menjajah bangsamu ? Meski sebenarnya, tidak
semua bangsa kami melakukan hal yang sama terhadap bangsamu. Berapa banyak
nyawa penduduk negara ini yang kehilangan nyawanya demi membela hak-haknya sebagai
penduduk sipil. Nah, pandangan semacam itulah yang membuat keluarga Mira,
memandang negatif terhadap ... hampir semua Bangsa kami. Belum lagi, masalah
keyakinan dan kepercayaan. Walau semuanya itu terlahir dari pribadi
masing-masing orang. Namun, bagi keluarga Mira .... itu adalah sebuah prinsip
__ADS_1
yang tidak b isa dirubah sama sekali. Usiamu dengan usia Allan mungkin hanya
terpaut satu atau dua tahun saja, barangkali ... kalian bisa saling
tukar-menukar pikiran dan pengalaman. Kamu tahu bukan, bagaimana rasanya patah
hati atau putus cinta, bukan. Saya kira semua orang pernah mengalaminya,” jelas
Nyonya Elizabeth Koef.
“Nyonya,
sebelumnya... saya minta maaf, saya tak yakin bisa membantu Anda. Karena,Tuan
Muda Allan ....” ucapan Yunita tersebut segera dipotong oleh Nyonya Koef,
“Dengarlah.... Allan sebenarnya adalah pemuda yang baik. Allan adalah anak
paling muda. Melihat keadaan dia sekarang, saya benar-benar iba. Jika
terus-terusan seperti ini, bagaimana masa depannya. Entah mengapa, saya percaya
kamu bisa membimbing dia untuk keluar dari dasar jurang yang dalam. Saya akan
sangat berterima kasih sekali, apabila kamu bisa membantu saya, menyelamatkan
Allan. Jasa-jasa kamu akan selalu saya ingat,”
“Baiklah,
nyonya... saya akan berusaha,” ujar Yunita
Setelah
perbincangan itu, Yunita mencoba untuk lebih mengakrabkan diri pada Allan,
walau, semula tanggapan Allan dingin, tak jarang kata-kata kasar dan kotor
keluar dari mulut Allan dan itu tak jarang membuat telinga Yunita panas dan
menyakiti hati serta harga diri Yunita. Tapi, wanita yang memang usianya lebih
tua 2 tahun dari Allan itu, berusaha untuk tetap sabar dan mengendalikan diri.
Dan, akhirnya ....
***
__ADS_1