Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 14


__ADS_3

Beberapa


hari setelah mendengar kabar itu, Yunita pergi mengunjungi rumah Sophia yang


letaknya tak jauh dari rumah keluarga Van Koef. Penampilannya kini berbeda, dia


tampak cantik menawan dengan gaun putih pemberian Allan sewaktu masih menjalin


cinta terlarangnya. Begitu bertemu dengan Sophia, ia tersenyum manis. Ia


berbicara mengenai masa lalu, ia berbicara mengenai tarian dalam rinai hujan.


Sophia merasa aneh dengan perubahan sikap Yunita ini. Ia pun merasa lebih


santai saat berbicara dengan Yunita, hubungan mereka bagaikan kakak-adik.


Yunita


sempat menginap beberapa hari di rumah Sophia sambil membantu nona muda itu


membereskan peralatan rumah tangganya, mencuci pakaiannya dan menemaninya


bercerita. 1 minggu kemudian, Yunita pergi tanpa pamit, ia hanya meninggalkan


sebuah amplop coklat dan sebuah surat yang berisi :


“Nona Sophia, beberapa hari


belakangan ini, nona menghibur saya, membantu menemukan diri saya kembali yang


sudah terpuruk.


Saya tahu, cinta tak harus


memiliki sekalipun kita berjuang untuk mewujudkannya. Terus terang apapun yang


telah Tuan Muda Allan perbuat pada saya ... saya rela menerimanya meski, toh


akhirnya kejadiannya seperti ini. Hati saya benar-benar sakit. Kita mencintai


dan menyayangi orang yang sama, kita pun sama-sama tahu bahwa apa yang kita


lakukan, sia-sia belaka. Saya ingin tertawa manakala mengingatnya, saya pun


menangis manakala mengingat betapa sakit hati ini melihat perlakuannya, tapi,


air mata ini serasa kering.


Nah, nona jika kelak bertemu


dengan Tuan Muda Allan tolong sampaikan surat bersampul coklat itu padanya.


Saya tidak bisa menyerahkan surat itu sendiri manakala mengingat, betapa


malunya saya di hadapan Tuan dan Nyonya Van Koef. Ijinkanlah saya meminta


bantuan Nona sekali ini saja. Bisa, bukan ?


Saya akan pergi jauh, entah

__ADS_1


kapan, kembali. Tapi yang jelas kelak jika kita kembali bertemu, mudah-mudahan


hubungan kita tetap seperti beberapa hari belakangan ini. Akrab bagaikan


Kakak-Adik. Terima kasih atas apa yang telah Nona perbuat untuk saya belakangan


ini. Dan, mohon dimaafkan jika ada perbuatan saya yang secara sengaja maupun


tidak sengaja telah menyinggung hati nona. Selamat tinggal, Nona ....


Tertanda


Yunita “


***


Yunita


mengakhiri ceritanya, aku bisa melihat wajahnya yang murung, dan aku


benar-benar merasa iba kepadanya. Aku tak tahu bagaimana caranya agar sosok itu


bisa melupakan masa lalu yang manis, namun, harus berakhir dengan pahit. Aku


tahu, itu adalah ingatan terdalam dan tak mungkin bisa dilupakan. Aku hanya


bisa membayangkan, bagaimana jadinya, jika pengalaman Sri Menur, Sophia dan


Yunita itu terjadi pada wanita-wanita lain yang masih berkelana di dunia ini.


Untuk sesaat suasana di tempat itu sepi, semuanya membisu. Kini aku tahu


ia nyanyikan benar-benar membuat kami semua hanyut dalam setiap kata yang


dinyanyikan.  DIA MASIH MENGHARAPKAN APA


YANG MASIH MENJADI IMPIAN DAN HARAPANNYA yang sudah pupus ditelan waktu. Tapi,


yang tidak kumengerti adalah, mengapa sosok-sosok seperti mereka harus


mengalami nasib yang naas, padahal setahuku, semuanya telah menjalankan apa


yang seharusnya mereka lakukan sebagai manusia ciptaan Tuhan  meski terkadang tak jarang mereka salah dalam


melangkah, karena sifat manusianya yang lemah dan tak berdaya.


“Apakah


kau juga tahu, bahwa suratmu tak pernah sampai di tangan Allan ?” tanya Cindy


memecahkan kesunyian. Yunita mengangguk, “Sebenarnya, Sophia sudah menyampaikan


suratku itu pada Allan. Tapi, pemuda itu sepertinya tak memberikan tanggapan,


ia hanya murung. Maka, surat itu terpaksa dibawa kembali oleh Sophia,” jawab


Yunita, “Sudahlah, biar bagaimana pun, aku rela menanggung dosa ini. Aku merasa


bersalah pada semua orang. Terlebih pada almarhum suamiku, karena aku selama

__ADS_1


dia hidup tak bisa memberikan yang terbaik untuknya,”


“Saat kau


masih ada di dunia ini, kau adalah seorang wanita yang tegar dalam menghadapi


segala cobaan hidup,” pujiku.


“Tidak


juga. Aku baru menyadari semua kesalahanku saat sudah menjadi arwah dan


merenung sendirian. Dulu sewaktu masih hidup, aku menganggap apa yang dikatakan


ibuku tentang tabah dan menerima adalah bohong. Terlebih lagi saat Allan


mencampakkanku. Aku tidak bisa menerimanya,”


“Lalu apa


hubungan ceritamu dengan kejadian yang ada di sekolah ini ?” tanyaku.


“Tentunya


kau masih ingat dengan KELUARGA VAN KOEF dan KELUARGA LIEFDERYK ?! Sekalipun


menurut orang 2 keluarga itu hancur oleh serbuan Tentara Nippon. Tapi,


sebenarnya .... baik Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, semuanya adalah


orang-orang yang penuh dengan siasat licik dan rencana terselubung. Kau bisa


melihat semuanya itu di ruang bawah tanah,” jelas Yunita.


“Ruang


bawah tanah ?” tanyaku, “Dimana itu ?”


“Tempat


itu tak jauh dari ruangan kelasmu,” jawab Yunita.


“Ruang


kepala sekolah ?” sahut Rita, “Benarkah ruangan bawah tanah itu ada disana ?”


“Akan


lebih baik apabila kalian mencari tahu sendiri kebenarannya,” jawab Yunita


sambil tertawa terkikik-kikik mengerikan setelah itu melayang dan duduk di


salah satu dahan pohon beringin. Saat itulah, entah bagaimana caranya, mendadak


saja kami sudah berada kembali di toilet wanita. Bel tanda jam pelajaran


dimulai, berbunyi nyaring, kamipun melangkah meninggalkan ruangan itu,


meninggalkan Yunita yang kini kembali bersenandung. Menyanyikan lagu “Room Of

__ADS_1


Angel” dengan suara merdu.


__ADS_2