
Beberapa
hari setelah mendengar kabar itu, Yunita pergi mengunjungi rumah Sophia yang
letaknya tak jauh dari rumah keluarga Van Koef. Penampilannya kini berbeda, dia
tampak cantik menawan dengan gaun putih pemberian Allan sewaktu masih menjalin
cinta terlarangnya. Begitu bertemu dengan Sophia, ia tersenyum manis. Ia
berbicara mengenai masa lalu, ia berbicara mengenai tarian dalam rinai hujan.
Sophia merasa aneh dengan perubahan sikap Yunita ini. Ia pun merasa lebih
santai saat berbicara dengan Yunita, hubungan mereka bagaikan kakak-adik.
Yunita
sempat menginap beberapa hari di rumah Sophia sambil membantu nona muda itu
membereskan peralatan rumah tangganya, mencuci pakaiannya dan menemaninya
bercerita. 1 minggu kemudian, Yunita pergi tanpa pamit, ia hanya meninggalkan
sebuah amplop coklat dan sebuah surat yang berisi :
“Nona Sophia, beberapa hari
belakangan ini, nona menghibur saya, membantu menemukan diri saya kembali yang
sudah terpuruk.
Saya tahu, cinta tak harus
memiliki sekalipun kita berjuang untuk mewujudkannya. Terus terang apapun yang
telah Tuan Muda Allan perbuat pada saya ... saya rela menerimanya meski, toh
akhirnya kejadiannya seperti ini. Hati saya benar-benar sakit. Kita mencintai
dan menyayangi orang yang sama, kita pun sama-sama tahu bahwa apa yang kita
lakukan, sia-sia belaka. Saya ingin tertawa manakala mengingatnya, saya pun
menangis manakala mengingat betapa sakit hati ini melihat perlakuannya, tapi,
air mata ini serasa kering.
Nah, nona jika kelak bertemu
dengan Tuan Muda Allan tolong sampaikan surat bersampul coklat itu padanya.
Saya tidak bisa menyerahkan surat itu sendiri manakala mengingat, betapa
malunya saya di hadapan Tuan dan Nyonya Van Koef. Ijinkanlah saya meminta
bantuan Nona sekali ini saja. Bisa, bukan ?
Saya akan pergi jauh, entah
__ADS_1
kapan, kembali. Tapi yang jelas kelak jika kita kembali bertemu, mudah-mudahan
hubungan kita tetap seperti beberapa hari belakangan ini. Akrab bagaikan
Kakak-Adik. Terima kasih atas apa yang telah Nona perbuat untuk saya belakangan
ini. Dan, mohon dimaafkan jika ada perbuatan saya yang secara sengaja maupun
tidak sengaja telah menyinggung hati nona. Selamat tinggal, Nona ....
Tertanda
Yunita “
***
Yunita
mengakhiri ceritanya, aku bisa melihat wajahnya yang murung, dan aku
benar-benar merasa iba kepadanya. Aku tak tahu bagaimana caranya agar sosok itu
bisa melupakan masa lalu yang manis, namun, harus berakhir dengan pahit. Aku
tahu, itu adalah ingatan terdalam dan tak mungkin bisa dilupakan. Aku hanya
bisa membayangkan, bagaimana jadinya, jika pengalaman Sri Menur, Sophia dan
Yunita itu terjadi pada wanita-wanita lain yang masih berkelana di dunia ini.
Untuk sesaat suasana di tempat itu sepi, semuanya membisu. Kini aku tahu
ia nyanyikan benar-benar membuat kami semua hanyut dalam setiap kata yang
dinyanyikan. DIA MASIH MENGHARAPKAN APA
YANG MASIH MENJADI IMPIAN DAN HARAPANNYA yang sudah pupus ditelan waktu. Tapi,
yang tidak kumengerti adalah, mengapa sosok-sosok seperti mereka harus
mengalami nasib yang naas, padahal setahuku, semuanya telah menjalankan apa
yang seharusnya mereka lakukan sebagai manusia ciptaan Tuhan meski terkadang tak jarang mereka salah dalam
melangkah, karena sifat manusianya yang lemah dan tak berdaya.
“Apakah
kau juga tahu, bahwa suratmu tak pernah sampai di tangan Allan ?” tanya Cindy
memecahkan kesunyian. Yunita mengangguk, “Sebenarnya, Sophia sudah menyampaikan
suratku itu pada Allan. Tapi, pemuda itu sepertinya tak memberikan tanggapan,
ia hanya murung. Maka, surat itu terpaksa dibawa kembali oleh Sophia,” jawab
Yunita, “Sudahlah, biar bagaimana pun, aku rela menanggung dosa ini. Aku merasa
bersalah pada semua orang. Terlebih pada almarhum suamiku, karena aku selama
__ADS_1
dia hidup tak bisa memberikan yang terbaik untuknya,”
“Saat kau
masih ada di dunia ini, kau adalah seorang wanita yang tegar dalam menghadapi
segala cobaan hidup,” pujiku.
“Tidak
juga. Aku baru menyadari semua kesalahanku saat sudah menjadi arwah dan
merenung sendirian. Dulu sewaktu masih hidup, aku menganggap apa yang dikatakan
ibuku tentang tabah dan menerima adalah bohong. Terlebih lagi saat Allan
mencampakkanku. Aku tidak bisa menerimanya,”
“Lalu apa
hubungan ceritamu dengan kejadian yang ada di sekolah ini ?” tanyaku.
“Tentunya
kau masih ingat dengan KELUARGA VAN KOEF dan KELUARGA LIEFDERYK ?! Sekalipun
menurut orang 2 keluarga itu hancur oleh serbuan Tentara Nippon. Tapi,
sebenarnya .... baik Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, semuanya adalah
orang-orang yang penuh dengan siasat licik dan rencana terselubung. Kau bisa
melihat semuanya itu di ruang bawah tanah,” jelas Yunita.
“Ruang
bawah tanah ?” tanyaku, “Dimana itu ?”
“Tempat
itu tak jauh dari ruangan kelasmu,” jawab Yunita.
“Ruang
kepala sekolah ?” sahut Rita, “Benarkah ruangan bawah tanah itu ada disana ?”
“Akan
lebih baik apabila kalian mencari tahu sendiri kebenarannya,” jawab Yunita
sambil tertawa terkikik-kikik mengerikan setelah itu melayang dan duduk di
salah satu dahan pohon beringin. Saat itulah, entah bagaimana caranya, mendadak
saja kami sudah berada kembali di toilet wanita. Bel tanda jam pelajaran
dimulai, berbunyi nyaring, kamipun melangkah meninggalkan ruangan itu,
meninggalkan Yunita yang kini kembali bersenandung. Menyanyikan lagu “Room Of
__ADS_1
Angel” dengan suara merdu.