Tarian Dalam Rinai Hujan

Tarian Dalam Rinai Hujan
BAB 07


__ADS_3

DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI


Setelah


kakaknya menikah dengan pria pilihan orang tuanya, pernikahan Sekar Arum


membawa kehancuran bagi Keluarga Jogorogo. Hal itu disebabkan karena berbagai


faktor. Faktor utamanya adalah, keluarga yang selama ini dibina, retak yang


kemudian hancur setelah DYAH ASIH WILUJENG, isteri Ki Jogorogo meninggal.


Faktor dari luar disebabkan menyerahnya Kerajaan Pasundan kepada Belanda.


Pemerintah Hindia Belanda merombak susunan kepengurusan istana yang sebagian


besar dipegang oleh pejabat-pejabat yang memiliki pola pikir berseberangan


dengan pejabat lama termasuk Ki Jogorogo. Pihak pejabat lama tidak rela apabila


negerinya dijajah oleh bangsa lain sementara, pejabat baru memilih bekerja sama


dengan pihak Belanda.


Satu per


satu, pejabat lama mengundurkan diri, termasuk Jogorogo. Sebagian diantara


mereka memilih berperang melawan penjajah, sementara yang lain memilih tidak


melibatkan diri lagi dalam urusan politik. Hidup Ki Jogorogo berubah drastis


setelah menjadi rakyat jelata. Dulu saat masih berada di istana, segala


kebutuhannya tercukupi, akan tetapi, setelah menjadi rakyat jelata, Ia bersama


Dyah Sekar Ayu dan juga para dayang yang masih setia menemani mereka harus


bekerja keras di sebuah sawah yang tidak terlalu besar. Dari situlah Ki


Jogorogo bertahan hidup di tengah tekanan pihak penjajah.


Sekalipun


Ki Jogorogo dulunya adalah termasuk salah satu orang yang memiliki ilmu bela


diri yang hebat, tak terhitung berapa jumlah orang yang telah bertarung dan


tewas di tangannya. Akan tetapi, ia tak mampu melawan usia yang kian menjelang


senja dan sakit. Ia memilih untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.


Ia teringat dengan salah seorang tokoh pemuka agama pada jaman kerajaan


Pasundan masih jaya. Kebetulan tokoh religius itu memiliki seorang anak


laki-laki yang semenjak masih di istana menaruh hati pada Sekar Ayu. Masih ada


satu tugas yang harus diselesaikan sebelum Ki Jogorogo meninggalkan dunia ini.


Menikahkan puteri yang tinggal satu-satunya.


Dyah


Sekar Ayu semula menolak untuk menikah, ia ingin menghabiskan waktunya untuk


merawat sang Ayah. Tapi, karena desakan Sang Ayah ... iapun terpaksa menikah


dengan JALA SUTRA putera JALA PANJI yang merupakan orang kepercayaan Ki


Jogorogo sekaligus pemuka agama yang sudah mahir dalam ilmu agama. Tapi, untuk


kesekian kalinya, Ki Jogorogo melakukan tindakan yang salah. Setelah menikah


dengan Jala Sutra, hidup Dyah Sekar Ayu bagaikan perahu yang berlayar tak tentu

__ADS_1


arah. Jala Sutra hanya bisa bersenang-senang, berjudi dan minum-minum. Hingga


harta yang terkumpul semenjak meninggalkan istana terkuras habis. Sementara,


Sang Ayah mulai sakit-sakitan dan tak mampu lagi bekerja. Terlebih saat Sekar


Ayu melahirkan anak ketiga, hidupnya serba sulit di tengah pemerintah kolonial


Belanda menaikkan pajak. Keadaan Sang Suami bertambah parah, tak jarang Dyah


Sekar Ayu, merasakan panas di pipinya manakala, tangan-tangan kasar sang suami


menjamah. Tak jarang kedua belah telinganya panas, manakala, suara-suara caci


maki dan umpatan kasar terlontar dari mulut suami.


Keadaan


ekonomi Sekar Ayu merosot drastis dan memaksanya bekerja lebih keras daripada


manusia normal pada umumnya, itupun masih belum cukup. Segala cara dilakukan


oleh Sekar Ayu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, sedang Jala Sutra


tidak mau bekerja. Termasuk menjadi seorang pembantu di rumah Keluarga Van


Koef, rumah seorang warga Belanda yang memang memiliki citra baik di mata semua


orang baik warga pribumi maupun warga Belanda. Dyah Sekar Ayu memulai perjalanan


hidupnya sebagai seorang YUNITA, pembantu rumah tangga.


“Nduk ...


maafkan jika Ayah selama ini membuatmu sengsara. Harusnya dari dulu, Ayah tidak


memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Pertama,  kakakmu Dyah Sekar Arum yang kini tak ketahuan dimana rimbanya.


Seandainya dulu Ayah tak memaksanya menikah dengan orang lain yang bukan


terbaring lemah di atas pembaringan yang nyaris ambruk.


“Sudahlah,


Ayah ... kita tak mungkin bisa merubah sejarah di masa lalu. Ibu pernah berkata


... ‘apapun yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Jangan sampai berkeluh


kesah’, meski sebenarnya, saya ragu apakah perkataan itu benar. Tapi, selama


saya mampu menjalaninya, tak apa. Ayah tidur saja, tidak perlu berpikir apa-apa


lagi,”


“Tapi,


Ayahmu ini merasa berdosa ... tak tahu, apakah masih bisa diampuni atau tidak.


Kemana suamimu ?”


“Entahlah,


sejak tadi pagi tak ada di rumah,”


“Duh,


nduk... Ayah kira menikahkanmu dengan dia, kau pasti bisa hidup lebih baik,


tetapi... malah membuatmu sengsara. Lihat dirimu semakin hari semakin kurus.


Kau tidak lagi merawat dirimu sendiri,”


“Sudahlah,


Ayah... jangan bicara lagi. Berbaringlah, Ayu akan berangkat bekerja,” kata

__ADS_1


Yunita sambil menutupi tubuh Ayahnya dengan selimut yang kumal, “Ya ... ya...


berangkatlah, Ayah harap kau bisa menjaga diri,” kata Ki Jogorogo dengan nada


lemah.


Yunita


mengeluarkan sepeda buntutnya, dia mengayuh sepeda itu cepat-cepat untuk tiba


di rumah Keluarga Van Koef, jika tidak ingin kena marah majikan atau gaji


dipotong, sementara, jarak rumahnya dengan rumah Keluarga Van Koef lebih kurang


3 kilo. Sepanjang jalan yang dilewati adalah padang ilalang, sawah, sungai dan


tanah pemakaman yang gelap saat malam menjelang. Namun, Yunita rela melakukan


itu semua, hanya demi sesuap nasi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan


Allan, putera ketiga dari KELUARGA VAN KOEF. Dia berjalan dengan wajah lesu dan


tak bersemangat, tak seperti biasanya.


“Tuan


Muda, selamat pagi... mengapa Anda berada disini sendirian,” sapanya.


Pemuda


itu menatap Yunita sebentar tapi, kemudian buru-buru membuang mukanya. Tak ada


senyum terlintas di bibirnya dan itu membuat jengkel Yunita. Tanpa menunggu


jawaban dari Allan, Yunita kembali mengayuh sepedanya dan akhirnya tiba lebih


dulu di rumah Keluarga Van Koef, “Huh, orang yang menyebalkan... tak ada senyum


sedikitpun di wajahnya, padahal dia sudah mengenalku. Cih, mengapa aku harus


peduli ?” katanya dalam hati.


Yunita


memarkir sepedanya di tempat seperti biasa, lalu langsung masuk ke dalam rumah.


Dari jauh ia sempat melihat Allan masih berjalan dengan wajah menunduk.


Tangan-tangan Yunita bekerja cepat melakukan rutinitasnya, ia sudah tak


mempedulikan pintu rumah terbuka dan dari luar Allan masuk. “Selamat pagi, dear


Allan, mengapa wajahmu kusut seperti itu ?” dari dalam muncul seorang wanita


berkulit putih dan anggun, dialah Nyonya Keluarga Koef. Namanya, Elizabeth. Ibu


dari Allan.


Allan


hanya tersenyum tipis tak bersemangat, lalu kemudian melangkah masuk menuju


kamar tidurnya. Melihat kelakuan Allan yang tak wajar itu, sang ibu segera ikut


masuk ke dalam kamar. Yunita terus bekerja, ia sebenarnya penasaran terhadap


apa yang dialami Allan. Semenjak pertama kali ia bekerja disitu, ia sama sekali


tak pernah melihat senyum di wajah Allan Tuan Mudanya itu. Tampan saja tidak,


pendiam, pemarah, penyendiri dan penggerutu, tak ada minat untuk mengenalnya


karena membosankan, setidaknya itulah penilaian Yunita terhadap Allan.


***

__ADS_1


__ADS_2