
DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI
Setelah
kakaknya menikah dengan pria pilihan orang tuanya, pernikahan Sekar Arum
membawa kehancuran bagi Keluarga Jogorogo. Hal itu disebabkan karena berbagai
faktor. Faktor utamanya adalah, keluarga yang selama ini dibina, retak yang
kemudian hancur setelah DYAH ASIH WILUJENG, isteri Ki Jogorogo meninggal.
Faktor dari luar disebabkan menyerahnya Kerajaan Pasundan kepada Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda merombak susunan kepengurusan istana yang sebagian
besar dipegang oleh pejabat-pejabat yang memiliki pola pikir berseberangan
dengan pejabat lama termasuk Ki Jogorogo. Pihak pejabat lama tidak rela apabila
negerinya dijajah oleh bangsa lain sementara, pejabat baru memilih bekerja sama
dengan pihak Belanda.
Satu per
satu, pejabat lama mengundurkan diri, termasuk Jogorogo. Sebagian diantara
mereka memilih berperang melawan penjajah, sementara yang lain memilih tidak
melibatkan diri lagi dalam urusan politik. Hidup Ki Jogorogo berubah drastis
setelah menjadi rakyat jelata. Dulu saat masih berada di istana, segala
kebutuhannya tercukupi, akan tetapi, setelah menjadi rakyat jelata, Ia bersama
Dyah Sekar Ayu dan juga para dayang yang masih setia menemani mereka harus
bekerja keras di sebuah sawah yang tidak terlalu besar. Dari situlah Ki
Jogorogo bertahan hidup di tengah tekanan pihak penjajah.
Sekalipun
Ki Jogorogo dulunya adalah termasuk salah satu orang yang memiliki ilmu bela
diri yang hebat, tak terhitung berapa jumlah orang yang telah bertarung dan
tewas di tangannya. Akan tetapi, ia tak mampu melawan usia yang kian menjelang
senja dan sakit. Ia memilih untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.
Ia teringat dengan salah seorang tokoh pemuka agama pada jaman kerajaan
Pasundan masih jaya. Kebetulan tokoh religius itu memiliki seorang anak
laki-laki yang semenjak masih di istana menaruh hati pada Sekar Ayu. Masih ada
satu tugas yang harus diselesaikan sebelum Ki Jogorogo meninggalkan dunia ini.
Menikahkan puteri yang tinggal satu-satunya.
Dyah
Sekar Ayu semula menolak untuk menikah, ia ingin menghabiskan waktunya untuk
merawat sang Ayah. Tapi, karena desakan Sang Ayah ... iapun terpaksa menikah
dengan JALA SUTRA putera JALA PANJI yang merupakan orang kepercayaan Ki
Jogorogo sekaligus pemuka agama yang sudah mahir dalam ilmu agama. Tapi, untuk
kesekian kalinya, Ki Jogorogo melakukan tindakan yang salah. Setelah menikah
dengan Jala Sutra, hidup Dyah Sekar Ayu bagaikan perahu yang berlayar tak tentu
__ADS_1
arah. Jala Sutra hanya bisa bersenang-senang, berjudi dan minum-minum. Hingga
harta yang terkumpul semenjak meninggalkan istana terkuras habis. Sementara,
Sang Ayah mulai sakit-sakitan dan tak mampu lagi bekerja. Terlebih saat Sekar
Ayu melahirkan anak ketiga, hidupnya serba sulit di tengah pemerintah kolonial
Belanda menaikkan pajak. Keadaan Sang Suami bertambah parah, tak jarang Dyah
Sekar Ayu, merasakan panas di pipinya manakala, tangan-tangan kasar sang suami
menjamah. Tak jarang kedua belah telinganya panas, manakala, suara-suara caci
maki dan umpatan kasar terlontar dari mulut suami.
Keadaan
ekonomi Sekar Ayu merosot drastis dan memaksanya bekerja lebih keras daripada
manusia normal pada umumnya, itupun masih belum cukup. Segala cara dilakukan
oleh Sekar Ayu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, sedang Jala Sutra
tidak mau bekerja. Termasuk menjadi seorang pembantu di rumah Keluarga Van
Koef, rumah seorang warga Belanda yang memang memiliki citra baik di mata semua
orang baik warga pribumi maupun warga Belanda. Dyah Sekar Ayu memulai perjalanan
hidupnya sebagai seorang YUNITA, pembantu rumah tangga.
“Nduk ...
maafkan jika Ayah selama ini membuatmu sengsara. Harusnya dari dulu, Ayah tidak
memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Pertama, kakakmu Dyah Sekar Arum yang kini tak ketahuan dimana rimbanya.
Seandainya dulu Ayah tak memaksanya menikah dengan orang lain yang bukan
terbaring lemah di atas pembaringan yang nyaris ambruk.
“Sudahlah,
Ayah ... kita tak mungkin bisa merubah sejarah di masa lalu. Ibu pernah berkata
... ‘apapun yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Jangan sampai berkeluh
kesah’, meski sebenarnya, saya ragu apakah perkataan itu benar. Tapi, selama
saya mampu menjalaninya, tak apa. Ayah tidur saja, tidak perlu berpikir apa-apa
lagi,”
“Tapi,
Ayahmu ini merasa berdosa ... tak tahu, apakah masih bisa diampuni atau tidak.
Kemana suamimu ?”
“Entahlah,
sejak tadi pagi tak ada di rumah,”
“Duh,
nduk... Ayah kira menikahkanmu dengan dia, kau pasti bisa hidup lebih baik,
tetapi... malah membuatmu sengsara. Lihat dirimu semakin hari semakin kurus.
Kau tidak lagi merawat dirimu sendiri,”
“Sudahlah,
Ayah... jangan bicara lagi. Berbaringlah, Ayu akan berangkat bekerja,” kata
__ADS_1
Yunita sambil menutupi tubuh Ayahnya dengan selimut yang kumal, “Ya ... ya...
berangkatlah, Ayah harap kau bisa menjaga diri,” kata Ki Jogorogo dengan nada
lemah.
Yunita
mengeluarkan sepeda buntutnya, dia mengayuh sepeda itu cepat-cepat untuk tiba
di rumah Keluarga Van Koef, jika tidak ingin kena marah majikan atau gaji
dipotong, sementara, jarak rumahnya dengan rumah Keluarga Van Koef lebih kurang
3 kilo. Sepanjang jalan yang dilewati adalah padang ilalang, sawah, sungai dan
tanah pemakaman yang gelap saat malam menjelang. Namun, Yunita rela melakukan
itu semua, hanya demi sesuap nasi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan
Allan, putera ketiga dari KELUARGA VAN KOEF. Dia berjalan dengan wajah lesu dan
tak bersemangat, tak seperti biasanya.
“Tuan
Muda, selamat pagi... mengapa Anda berada disini sendirian,” sapanya.
Pemuda
itu menatap Yunita sebentar tapi, kemudian buru-buru membuang mukanya. Tak ada
senyum terlintas di bibirnya dan itu membuat jengkel Yunita. Tanpa menunggu
jawaban dari Allan, Yunita kembali mengayuh sepedanya dan akhirnya tiba lebih
dulu di rumah Keluarga Van Koef, “Huh, orang yang menyebalkan... tak ada senyum
sedikitpun di wajahnya, padahal dia sudah mengenalku. Cih, mengapa aku harus
peduli ?” katanya dalam hati.
Yunita
memarkir sepedanya di tempat seperti biasa, lalu langsung masuk ke dalam rumah.
Dari jauh ia sempat melihat Allan masih berjalan dengan wajah menunduk.
Tangan-tangan Yunita bekerja cepat melakukan rutinitasnya, ia sudah tak
mempedulikan pintu rumah terbuka dan dari luar Allan masuk. “Selamat pagi, dear
Allan, mengapa wajahmu kusut seperti itu ?” dari dalam muncul seorang wanita
berkulit putih dan anggun, dialah Nyonya Keluarga Koef. Namanya, Elizabeth. Ibu
dari Allan.
Allan
hanya tersenyum tipis tak bersemangat, lalu kemudian melangkah masuk menuju
kamar tidurnya. Melihat kelakuan Allan yang tak wajar itu, sang ibu segera ikut
masuk ke dalam kamar. Yunita terus bekerja, ia sebenarnya penasaran terhadap
apa yang dialami Allan. Semenjak pertama kali ia bekerja disitu, ia sama sekali
tak pernah melihat senyum di wajah Allan Tuan Mudanya itu. Tampan saja tidak,
pendiam, pemarah, penyendiri dan penggerutu, tak ada minat untuk mengenalnya
karena membosankan, setidaknya itulah penilaian Yunita terhadap Allan.
***
__ADS_1