
Dua minggu kemudian
Keadaan Samuel sudah semakin membaik. Walau luka-luka di tubuhnya sudah sedikit mengering. Tapi, luka tembak di kakinya masih basah. Hal itu membuatnya jadi susah bergerak. Seperti saat ini, ia sangat haus. Samuel pun harus berjalan jingkat jingkat untuk mengambil air minum untuk nya di dapur.
"Ma, mau apa kamu?" kehadiran Samuel di dapur cukup mengejutkan Nisya, yang tengah sibuk memasak makan malam.
"Aku haus." Sahut Samuel tersenyum tipis. Walau ia sudah senyum. Tetap saja aura menakutkan yang terlihat di wajah nya.
"Oouuww... Itu Air nya panas." Nisya bicara tanpa menoleh pada Samuel. Jujur, ia takut kepada pria itu. Karena mereka sudah tahu, kalau Samuel seorang Mafia.
"I, iya Nona." Sahut Samuel dengan muka enggannya. Kali ini, Nisya menoleh ke arah Samuel, yang masih berdiri di sisi meja dengan satu kakinya tidak berpijak di lantai.
"Nona..? Aku ini seorang ibu. Bukan nona!" Sahut Nisya lembut, tapi dengan mimik wajah ketatnya. Heran juga ia, disebut Nona.
"Ooh.. Iya ma, Mama..!"
"Apa...? kapan pula kamu jadi anakku?" kali ini, Nisya yang lembut bicara keras.
"Nisya...!" terdengar sang nenek memperingati cucunya dari teras gubuk.
Nisya memutus kontak matanya dari tatapan Samuel. Ia kembali fokus ke pekerjaannya. Yaitu membakar ikan tungku. Sore ini, Nisya baru bisa memasak, ikan yang ia dapat tadi pagi. Hasil dari jebakan bubuhnya.
"Aku saja yang memanggang ikannya. Sekalian aku mau mengeringkan luka ku ini, dengan didekatkan ke bara api."
"Sekalian saja panggang kakimu!'
" Nisya...!" sang nenek kembali memberi peringatan pada Nisya.
__ADS_1
"Kalau dengan melakukan itu, kamu berhenti membenciku. Aku akan melakukannya."
"Koq kamu bicara seperti itu? tahu dari mana kamu, kalau aku benci kamu." Tanya Nisya penuh selidik.
Samuel terdiam. Ia pun menunduk, memperhatikan kakinya yang masih dibalut ramuan sang nenek.
"Aku harap, kamu gak membunuh kami di hutan ini. Aku sangat takut kepadamu tuan. Sebaiknya kamu cepat-cepat pergi dari gubuk kami ini." Ujar Nisya dengan mata yang berkaca kaca.
"Papa.. Papa...!" Ismail menghampiri Samuel yang duduk dekat tungku. Ia langsung memeluk Samuel dari balik punggung bidang pria itu. Ismail sudah akrab dengan Samuel, selama dua minggu ini.
"Anak ayah!"
"Ismail bukan anakmu!' Potong Nisya cepat.
Samuel tersenyum tipis pada Nisya yang semakin hari semakin sensitif.
" Aku tahu itu, mana mungkin, Samuel anakku. Emang kita pernah melakukan hubungan badan?"
"Iya, Ismail bukan anakku. Tapi, sekarang kami akan jadi ayah dan anak!' ujar Samuel dengan ceriahnya. Menyambut ciuman Ismail Di pipinya. Anak baik budi dan ramah itu, kini memasrahkan Wajahnya di bahu nya Samuel.
" Kalau kamu sudah bisa jalan, sebaiknya kamu pergi dari tempat ini. Kehadiranmu di sini, membuat hidup kami tak nyaman." Ujar Nisya.
Deg
Sejenak Samuel, berhenti membalas ciuman Ismail di pipinya.
"Uang yang kamu punya, bisa digunakan untuk menggaji orang membawamu keluar dari tempat ini.
__ADS_1
" Aku tak akan pergi dari tempat ini, kalau tak bersama kalian." Sahut Samuel tegas.
"Heii.. Tuan..'
" Ya nona!" jawab Samuel cepat.
Ciihh
Nisya berdecak kesal. "Aku serius? anda harus pergi dari tempat ini, anda lupa. Kalau anda seorang mafia.
" Mafia..? tanya Samuel menatap lekat Nisya.
"Oouuww.. Iya, aku lupa. Kalau kamu itu, amnesia. Kamu itu, seorang mafia kejam. Dan sekarang jadi buron!" Jelas Nisya serius.
"Oouuww. ..!" Sahut Samuel enteng. Ia seperti tak percaya dengan ucapan Nisya.
"Pantes, minggu lalu polisi ke sini."
"Iya, heran saja sama nenek. Koq bisa bisanya buat kamu jadi manusia tak kasat mata. Bingung sama nenek, koq baik banget samamu." Ujar Nisya dengan muka masamnya.
"Iya ya? koq nenek baik denganku ya?"
"Iihh... Malah nanya balik. Mana ketehe."
"Ma, mama...!" kini Ismail menghampiri sang ibu. Ia pun minta di gendong. Nisya meraih sang putra dan menggendongnya.
"Awas, ikannya jangan gosong. Aku Capek capek ambilnya itu dari sungai." Ujar Nisya masam.
__ADS_1
"Aku salah apa samamu ya? koq kamu ketus terus bicara denganku!" ujar Samuel, Biasanya sebelum lupa ingatan. Samuel tipe pria irit bicara. Tapi, saat melawani Nisya bicara, Samuel jadi banyak cakap. Entah kenapa ia seneng melihat tingkah Nisya, yang marah marah tak jelas itu.
***