
"Fredy...!" Nama itu keluar dari mulutnya Samuel dengan muka yang menegang. Pria yang bernama Fredy adalah saingan beratnya saat jadi mafia.
"Samuel....!" Ujar Fredy dengan gigi yang merapat. Ternyata pria itu juga sangat terkejut, karena berjumpa dengan Samuel di tempat ini. Pria itu nampak sangat emosi. Dadanya terlihat naik turun, dengan tatapan tajam ke arah Samuel. Seketika, tangannya Fredy mengepal kuat.
Aaaaaaggghhkkkk....
Puk....
Pak...
Dua tinju melayang ke pipi kiri dan kanannya Samuel dengan kerasnya. Saking kerasnya, tubuhnya Samuel terhuyung. Samuel tidak menduga akan bertemu dengan Fredy di tempat ini, sehingga ia tak ada persiapan, saat diserang oleh Fredy.
Nisya yang sedang menggendong Ismail. Dengan paniknya mendekati Samuel. "Ka, kamu tidak kenapa-napa?" Nisya dengan perasaan campur aduk, mencoba menahan Samuel, agar tidak membalas tinju dari Fredy. Saat ini Samuel masih terkejut, karena ia bertemu dengan Fredy di tempat ini. Makanya ia sangat tercengang saat ini.
"Yumna... Menjauh darinya..!" Fredy tarik lengannya Nisya dengan kuat. Sehingga Nisya kini telah berada di dekat Fredy.
Yumna?
Samuel membathin, memperhatikan lekat Nisya yang kini tangannya digenggam erat oleh Fredy.
"Leppas... Ka, kamu siapa?" Nisya berusaha lepas dari genggaman tangannya Fredy. Wanita itu juga nampak bingung saat ini. Ia kenal wajah Fredy, tapi. Karena Fredy memanggilnya dengan nama Yumna, wanita itu pun dibuat heran dengan kemunculan Fredy.
Saat ini, mereka sedang jadi tontonan orang-orang di pantai itu.
"Nisya..!" sang nenek menghampiri Nisya dan Fredy. Nenek meraih Ismail dari gendongannya Nisya.
__ADS_1
"A, aku ini Fredy. Suamimu..!"
Duarr....
Nisya dan nenek saling pandang. Kemudian tatapan Nisya terpaku kepada Fredy. Ia raih kalung liontin nya dengan terburu-buru. Ekspresi wajah Nisya sangat bingung saat ini. Dengan tangan gemetar, ia membuka liontin yang berisi fotonya dengan seorang pria. Ya, pria di hadapannya wajahnya sama dengan foto di liontinnya. Nisya berulang kali menatap Foto di dalam liontin itu, memastikan kalau penglihatan nya tidak bermasalah.
Samuel sangat terkejut mendengar ucapan dari Fredy. Samuel yang syok, karena tidak menyangka akan bertemu dengan Fredy di tempat itu, hanya bisa mematung. Samuel sudah taubat. Ia tidak mau berkelahi lagi. Makanya ia hanya pasrah ditonjok sampai dua kali oleh pria bernama Fredy. Apalagi Fredy adalah abangnya Nisya. Begitulah yang ia tahu. Karena, saat Samuel melakukan penyerangan ke rumah Fredy 3 tahun lalu. Fredy lolos. Sebagai gantinya, anak buahnya Samuel menculik seorang gadis. Yang diyakini mereka adalah adiknya Fredy. Yaitu Nisya.
Nisya telah diperko sa oleh Samuel, dan dilemparkan ke hutan dalam keadaan tidak bernyawa. Tapi, tidak disangka. Malah Nisya yang menyelamatkannya saat sekarat di tengah hutan. Mengetahui fakta, kalau Nisya adalah istrinya Fredy, membuat hatinya Samuel sangat hancur.
Ia sudah jatuh cinta pada wanita itu. Tak, tapi.. Kenapa Nisya tidak mengenalinya selama mereka tinggal di hutan.
Nisya yang juga masih bingung dengan semuanya. Koq bisa dia bertemu dengan Fredy. Pria yang fotonya ada di liontin nya. Dan mengaku suaminya. Wanita itu terlihat memegangi kepalanya. Bahasa tubuhnya, mengatakan ia akan pingsan
Liu..
liu..
liu..
Graap.. Ia raih Ismail dari gendongan Nenek. Ia akan membawa lari Nisya, nenek dan Ismail.
Puukk...
Dengan gerakan cepat. Ia tendang dengan kuat alat vitalnya Fredy. Hal itu membuat freddy kesakitan.
__ADS_1
"Nisya.. Kita harus pergi. Nenek, ayo...!" teriak Samuel dengan tegas. Memanfaatkan keadaan Fredy yang lemah. Ia sudah menarik tangannya Nisya, agar mau mengikutinya. Tapi, Nisya menahan dirinya. Ia tetap di tempat.
Samuel menoleh ke belakang, karena Nisya tidak bergerak dari tempatnya.
"Ayo...!" ajak Samuel panik. Di atas lautan, pesawatnya Samuel sudah dekat.
Nisya dengan muka bingungnya, tidak mengindahkan ucapan Samuel. Ia juga terlihat bingung.
"Ayooo.. Nis..!" Samuel semakin menarik kuat tangannya Nisya.
"Lepas.. Anak buah.. Bantu aku...!" teriak Fredy, seketika Samuel pun di kepung.
"Ada apa ini?" Polisi pun tiba di tempat.
Samuel yang masih menggendong Ismail. Akhirnya menyerah. Ia angkat tangannya, memberi kode kepada pesawat yang akan menjemputnya, agar meninggalkan tempat itu.
"Samuel...!" ujar nenek sedih. Ilmu nenek tidak berkhasiat lagi, untuk melindungi Samuel.
Samuel melirik nenek dengan mata yang berkaca-kaca. "Sudah saatnya saya menerima semua sanksi atas kejahatan yang saya lakukan." Ujar Samuel pelan, yang hanya didengar nenek. Sempat ingin lari membawa nenek, nisya dan Ismail. Tapi, karena Nisya tidak bergerak dari tempatnya. Samuel pun sadar, jika ia tidak ada di hatinya Nisya.
Sungguh, saat ini. Samuel tidak mau bersitegang lagi. Mau sampai kapan dia berontak. Sebenarnya ia pasti bisa meloloskan diri hari ini. Karena, polisi yang datangpun hanya empat orang. Tapi, jika ia lakukan itu. Akan ada lagi korban jiwa. Karena anak buahnya, akan melakukan penyerangan kepada aparat yang ingin menangkap Samuel. Apalagi mereka berada di tempat yang ramai.
"Anakku Ismail!" Samuel kecup kening nya Ismail lembut, kemudian menyerahkan Ismail kepada nenek.
"Borgol dia!"
__ADS_1
Mafia berdarah dingin itu ditangkap polisi, tanpa perlawanan.
***