Taubatnya Sang Mafia

Taubatnya Sang Mafia
Terkejut


__ADS_3

Di sebuah lesehan mewah dan indah, di tepi pantai. Kini Samuel, Nisya, Ismail dan nenek, sedang menikmati pemandangan indah dari pasir putih yang halus serta ombak laut yang menyapu bibir pantai. Warna langit yang ditawarkan sunset membuat suasana di tempat mereka sekarang semakin indah.


"Alhamdulillah Ya Allah, atas rezekimu hari ini." Ujar Sang nenek penuh rasa syukur. Menengadahkan tangannya sambil menatap ke langit. Ternyata nenek mulai merasa nyaman dan enak tinggal di kota, dibandingkan dengan di hutan.


Samuel menatap nenek dengan bahagianya. Wajah pria itu nampak bersinar-sinar. Apalagi, nenek setuju ikut dengannya. Begitu juga dengan Nisya. Tadi, Setelah makan, Samuel mengungkapkan keinginannya. Nisya yang memang tak ingin tinggal di hutan, tentu saja setuju ikut dengan Samuel. Apalagi Samuel, menjanjikan Kehidupan yang layak bagi Samuel.


"Mama.... Ayo ke sungai besar itu..!" Ujar Ismail penuh harap. Ia tunjuk hamparan laut luas. Ya, Ismail yang baru pertama Kali lihat laut, tahunya laut itu sungai.


Hehehehe..


Samuel sangat terhibur dengan tingkahnya Ismail. Ia usap lembut kepala nya Ismail yang kini duduk di sebelahnya. "Sayang, itu namanya laut. Bukan sungai!" tegas Ismail menunjuk lautan di hadapan mereka.


Ismail mengangguk lemah. Mengerti akan ucapan Samuel. Kedua sudut bibir mungilnya tertarik sempurna sehingga menciptakan senyum yang manis. "Papa.. Kita bisa mandi di sungai, eehh di laut besar itu?" tanyanya dengan penasarannya menatap Samuel.


Samuel menggendong Ismail. Ia bawa Ismail ke bibit pantai. "Bisa sayang, tapi kita mandi lautnya, gak di sini. Tapi, nanti di rumah kita yang baru. Di belakang rumah kita yang baru juga ada laut seperti ini. Jadi, besok pagi. Papa, Ibu, nenek dan Ismail mandi di laut." Ujar Samuel dengan bahagianya.


Seumur hidup, ia baru kali ini merasakan hidup yang sangat bahagia. Ternyata menjadi penjahat membuat hidupnya tertekan. Punya keluarga, anak yang sayang kita, ternyata sangat membahagiakan.

__ADS_1


"Oouuww.. Di mana rumah ballu kitaa pa?" tanya Ismail dengan bingungnya. Ia baru tahu, kalau rumah ada juga yang baru dan lama.


Eemmmuaacchh..


Samuel mencium pipi gembulnya Ismail membuat hatinya menghangat. Entah kenapa ia merasa senang sekali, jika bersama Ismail.


"Rumah baru kita, ada di balik pulau itu sayang!" Samuel menunjuk pulau bentuk segitiga di hadapan mereka.


"Manna, papa..?" Ismail yang masih kecil, mana ngerti apa pulau. Kemudian ia menoleh ke lesahan tempat Nisya dan Nenek duduk. "Mama... nenek... Sini!" Ismail mengayunkan tangannya, memanggil ibu dan neneknya, agar bergabung dengan mereka menikmati sunsite yang indah sambil bermain ombak.


Samuel menoleh ke arah lesehan. Terlihat Nisya dan nenek akan menghampiri mereka. Hal itu membuat Samuel senang. "Heheheh... " Samuel tidak henti-hentinya tertawa. Seolah ia tidak akan bersedih lagi. "Pokoknya rumah kita di sana!" Samuel menunjuk ke arah pulau itu. Setelah melirik Nisya dan nenek yang akan menghampiri mereka.


"Mama... Sini...!" Teriak Ismail lagi pada sang ibu, yang kini tengah terlihat sedang bicara dengan seorang pria. Nisya, tadinya ingin ikut bergabung dengan Samuel dan Ismail. Tapi, di tengah jalan, ia dicegat seorang pria. Dan dari tempat Samuel menatap sekarang. Pria yang bicara dengan Nisya itu membelakangi mereka.


"Mama...!" teriak Ismail lagi, karena Ibunya itu, menurut Ismail, kelamaan bicara dengan orang asing.


Samuel pun akhirnya memperhatikan Nisya dari kejauhan.

__ADS_1


Deg


Terkejut sangat Samuel saat melihat Nisya dan nenek nampak bingung bicara dengan pria yang tidak ia kenal dalam jangka waktu lama. Apalagi kini, pria itu malah memeluk Nisya dengan sangat erat. Dan Samuel melihat Nisya memejamkan matannya. Seolah menghayati pelukan itu.


Hatinya Samuel panas melihat pemandangan mesra dan hangat di hadapannya. Wanita yang ia taksir di pandangan pertama, berpelukan dengan pria lain. Ia saja belum pernah memeluk Nisya seerat itu.


Rasanya darahnya Samuel mendidih hingga ke ubun ubun. Ia cemburu sangat melihat Wanita pujaannya dipeluk pria lain.


Samuel menyeret kakinya cepat ke arah Nisya yang sedang berpelukan dengan pria itu. Dadanya berdebar kuat tak berima karena emosi melihat Nisya dipeluk orang lain. Ismail yang ia gendong, hanya bengong melihat kekesalan sang ayah.


Saat sudah mendekat ke arah Nisya saat ini. Samuel menurunkan Ismail dari gendongannya dengan perlahan. Atmosfer di tempat itu terasa panas buat Samuel. Rasanya dunia telah berhenti berputar. Karena mendapati kenyataan bahwa ada pria muda dan tampan memeluk Nisya dengan hangatnya.


"Lep, lepaskan Dia..!" Teriak Samuel. Ia tarik kuat bahu pria yang memeluk Nisya, sehingga pelukan Nisya dan pria itu terpisah.


Tarikan Samuel yang kuat, membuat pria itu terhuyung dan hampir terjatuh.


"Ka... Kamu...!" Kedua pria itu saling tunjuk dengan terkejut bathin.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2