
Samuel yang sudah berada di dalam mobil pihak kepolisian menatap sedih Nisya, yang ternyata juga menatapnya dengan nelangsa. Ekspresi wajahnya Nisya menyiratkan kesedihan dan kebingungan. Ia tidak menyangka, akan berpisah dengan Samuel dengan cara seperti ini. Ia sebenarnya masih sangat penasaran dengan Samuel. Dipertemuan pertama saat di hutan, ia seperti pernah lihat pria itu, tapi entah kenapa ia benci dengan Samuel, tanpa sebab. Padahal ia tidak kenal dengan Samuel. Ia yang bingung dengan dirinya, akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa kebenciannya pada Samuel, berasal dari. Karena Samuel adalah seorang Mafia.
Banyaknya orang berkerumum membuat mobil polisi bergerak dengan kecepatan yang lambat, menyusuri tepi pantai, menuju jalan lintas. Anak buahnya Samuel yang ada di dalam pesawat, masih berputar putar di atas permukaan laut, mengawasi situasi. Padahal Samuel sudah memberikan kode, agar anak buahnya mundur teratur. Samuel tidak mau ada pertumpahan darah lagi, karena dia sudah taubat. Sedangkan anak buahnya Fredy, tetap waspada, akan serangan yang akan dilakukan oleh Samuel.
Suasana di pantai itu sangat menegangkan. Dua gengsters hampir saja adu kekuatan, yang membuat orang-orang di tempat itu semakin banyak datang berkerumum. Bukannya malah menyelamatkan diri masing-masing. Ini malah mendatangi tempat kejadian.
Suara sirini polisi semakin kuat dan menakutkan terdengar memekakkan gendang telinga orang-orang di tempat itu. Apalagi, jumlah porsonil polisi bertambah jumlahnya.
"SAM.. SAM... SAMSUL.....!" teriak Nisya histeris, ia seret kakinya mengejar mobil polisi yang membawa Samuel. Ya, Samuel sejak masuk agama islam, namanya berganti jadi Samsul. Nama pemberian si nenek.
Mendengar namanya diteriakkan lantang penuh dambaan, membuat Samuel senang mendengarnya. Hatinya terharu, akhirnya wanita itu menyadari kalau Ia, ada tempat di hatinya. Samuel mencoba bangkit dari duduknya, tapi polisi menahan tubuhnya, agar tetap duduk di tempatnya.
Graapp..
Sementara Nisya, tangannya sudah ditahan oleh Fredy. Sehingga langkah wanita itu terhenti.
"Lepas... Lepas... Aku ingin bebaskan Samsul..!" teriak Nisya, mencoba sekuat tenaga mengibaskan tangannya agar lepas dari cengkraman tangannya Fredy.
"Yumna... Dia itu penjahat!" ujar Fredy tegas, memperingati Nisya.
"Lepas... Lepas... Aku bukan Yumna...!" Ia tatap tajam Fredy, ia kenal wajah Fredy. Karena foto Fredy ada di liontin yang ia pakai selama ini. Tapi, entah kenapa, saat ini ia merasa asing dengan pria dihadapannya.
"Kamu Yumna.. Yumna istriku...!" teriak Fredy, berusaha menyadarkan Nisya dengan menggoyangkan kuat tubuh wanita yang lagi dilema dan bingung itu.
Seketika tubuhnya Nisya membeku di tempat. Berarti benar pria di hadapannya adalah suaminya. Tapi, kenapa ia seperti tidak kenal dan ngerasa asing, walau ia tiap hari menatap wajahnya Fredy digambar liontin yang ia pakai. Ada apa dengan dirinya?
"Su, suami...?" Ujar Nisya terbata. Ia merasa tubuhnya tiba-tiba lemas tak berdaya, pandangan pun kabur, serta kepala terasa pusing tujuh keliling.
"Iya, aku suamimu!" tegas Ferdy, menahan tubuh Nisya yang sempoyongan.
__ADS_1
"Su, suami? kamu benar suamiku?" tanya nya lemah, kembali memastikan.
"Iya..!" jawab Fredy dengan sedih.
Nisya mencoba lepas dari rengkuhan tangannya Fredy, ia putar badannya ke arah mobil polisi yang membawa Samuel. Melihat Samuel dengan ekspresi wajah sedih itu, membuat dada wanita itu sesak. Entah kenapa ia tidak mau pisah dengan Samuel.
"Tidak... Samuel..... Kembalii...!" teriaknya, berontak dalam dekapan Fredy. Tentu saja Fredy menahan kuat tubuh mungilnya Nisya, yang terus saja berontak, lepas dari dekapannya.
Samuel hanya bisa menatap sedih Nisya, yang ternyata merasa kehilangan dirinya. Selama tinggal di hutan, Samuel selalu berusaha dekat pada Nisya. Tapi, Nisya selalu menjaga jarak dengannya. Dan sekarang, kenapa Nisya terlihat seperti sedih atas kehilangannya. Ingin rasanya, ia melompat dari mobil patroli, dan berlari kencang menghampiri Nisya. Tapi, tidak mungkin ia akan lakukan itu. Karena, ia tidak mau menambah kekacauan.
Samuel membuang pandangannya, ia tidak sanggup Melihat Nisya yang terus saja berontak dari rengkuhan Fredy.
"Sa, Samuel...!" Masih ia dengar suara wanita, yang membuat hatinya luluh dalam sebulan ini. Berkat Nisya, ia taubat. Samuel yang tidak mau terpengaruh akan suara tangisnya Nisya, tetap membuang pandangan dari wanita itu. Hingga kini, mobil polisi yang membawanya sudah jauh meninggalkan pantai.
Bruuggkk..
Nisya ambruk dalam dekapan Fredy.
"Mama...!" Ujar Ismail sambil menangis, memengangi gamis bawahnya Nisya.
"Pengawal, siapkan mobil!" teriak Fredy kepada anak buahnya.
Sang nenek nampak takut sekali dengan apa yang terjadi hari ini. Wanita tua itu terlihat tertekan, menatap Nisya yang pingsan, juga sedih melihat Ismail yang terus terusan menangis.
"Ayo nek, kita tinggalkan tempat ini!" ujar Fredy tegas pada Nenek. Kemudian beralih menatap Ismail yang masih menangis. "Gendong anakku!" titahnya lagi pada anak buahnya.
***
Di rumah sakit
__ADS_1
Nisya, yang sudah diperiksa oleh dokter kini dibawa masuk ke ruang rawat inap. Wanita itu sudah sadarkan diri, tapi Masih dalam keadaan lemah. Oleh sebab itu, Nisya tidak boleh diganggu.
Sementara nenek, kini berada di ruang rawat yang berbeda. Sebenarnya nenek baik-baik saja. Tapi, karena ia nampak tertekan, Fredy ingin nenek diperiksa kesehatannya. Sedangkan Ismail juga berada di ruang anak. Anak itu baru saja tertidur, setelah tantrum dalam waktu yang lama, karena ia merasa kehilangan sang ibu.
Fredy yang penasaran, akan semua yang terjadi langsung mengintrogasi nenek. Kenapa Nisya bersamanya. Termasuk menanyakan soal Samuel dan Ismail. Setelah mendapatkan jawaban dari nenek. Fredy pun bergegas menghampiri Dokter. Ia Ingin mengatakan fakta tentang Nisya.
"Iya pak, aku juga tadi baru periksa hasil rontgen kepalanya Nyonya Nisya. Sepertinya Nona Nisya mengalami kerusakan parah di otaknya, dari penjelasan bapak tadi. Atas kejadian itu Nona Nisya ku diagnisa menderita Amnesia Retrograde." Jelas Dokter tampan bermata sipit itu kepada Fredy.
"Amnesia?" tanya Fredy, untuk meyakinkan pendengarannya. Sebebarnya, ia tidak terlalu syok mendengar diagnosa dokter. Karena, saat bertemu di pantai, Nisya seperti tidak terlalu mengenalnya.
Sang dokter terlihat mengangkat sedikit bokongnya, guna mengubah posisi duduknya di kursi kekuasaannya itu.
"Iya pak, Ibu Yumna, mengalami Amnesia retrograde. Yaitu amnesia yang mempengaruhi beberapa ingatan masa kini, ingatan masa lalu, seperti ingatan saat masih kecil dapat ikut terdampak. Pasien dengan dementia dapat menyebabkan amnesia retrograde secara bertahap. Orang dengan amnesia retrograde dapat kehilangan keseluruhan ingatan atau hanya sebagian dari ingatannya. Kondisi tersebut tergantung pada bagaimana tingkat kerusakan otak yang dialaminya." Jelas dokter serius.
Sang dokter, langsung mengetahui kondisi Nisya, saat melihat Nisya berinteraksi dengan Fredy tadi saat di ruang rawat. Nisya yang nampak bingung dan mengingat-ingat sesuatu, membuatnya menyimpulkan Kalau Nisya memang amnesia.
"Dok, apa ia akan lupa denganku. Lupa dengan masa lalunya?" tanya Fredy dengan tidak tenangnya. Ia tidak mau wanita itu lupa akan dirinya.
Huufftt.
Kita akan lakukan yang terbaik untuk pengobatan Ibu Yumna. Semoga amnesianya tidak permanen. Tapi, tadi aku perhatikan, ibu Yumna, sepertinya masih ingat dengan bapak." Ujar Dokter serius
"Iya pak, dia ingat wajahku. Tapi, tidak tahu siapanya aku?" ujar Fredy lemas.
"Koq gitu ya? hadeuhh.. Kasus ini lumayan rumit."
"Dia kenal wajahku, karena fotoku ada di dalam liontinya Dok!" Jawab Fredy sedih. Wajahnya menunduk pasrah. Ia tidak menyangka, Istrinya telah lupa ingatan.
***
__ADS_1
Bersambung