Taubatnya Sang Mafia

Taubatnya Sang Mafia
Banyak belajar ilmu


__ADS_3

Keesokan harinya.


Samuel yang semangat belajar sholat, bangun sangat cepat. Ia lirik jam dinding yang bertengger di gubuk yang mereka tempati. Walau dengan cahaya yang temaran, ia tetap bisa melihat angka yang ditunjukkan jarum jam itu.


Pukul 05.00 Wib.


Gumam Samuel. Ia senang akan pencapaian ia pagi ini. Seumur hidupnya, baru kali ini ia bangun dengan cepat. Biasanya juga, bangun disaat matahari sudah menyingsing.


Samuel melirik ke arah tempat Nisya, Ismail dan nenek tidur. Tempat nya hanya berjarak 2 meter dengan tempat yang ia tiduri. Tapi, ditutupi dengan tirai gorden, sebagai pembatas dengan arealnya. Ya, di gubuk itu tak ada kamarnya. Samuel beranggapan Nisya dan nenek masih tidur.


Samuel yang ingin melaksanakan sholat shubuh. Bergegas ke belakang rumah, lewat dari pintu belakang. Karena bulan masih purnama, jadi tak perlu lampu. Ia bisa melihat jalannya, menuju sumur.


Saakk.... Saakkk.. Saakk....


Terdengar suara air yang disiramkan. Saat itu juga, Samuel tanpa sengaja melihat bayangan Nisya yang sedang mandi, dibalik kain penutup kamar mandi di sumur itu. Posisi Nisya yang menyamping dari penglihatan Samuel, membuat lekukan bagian tubuhnya tercetak jelas, yang dibalut kain salin basah. Hal itu jelas-jelas membuat bira hi Samuel naik. Maklumlah, ia pria normal. Dan ia sering melakukan hubungan badan dengan para wanita penghiburnya. Dan kini, ia sudah lama tak melakukannya. Tentu hal itu membuatnya jadi tersiksa saat ini


Hhuufftt..


"Astaghfirullahaladzim... Ya Allah... Lindungi hambamu ini. Ya Allah... Aku ingin taubat!" Ujarnya pelan, tapi kedua matanya masih melirik lirik ke arah Nisya yang sedang mandi itu.


"Astaghfirullahaladzim..!" Ujar nya lagi, disaat melihat Nisya menyiramkan air ke bagian intinya. Pemandangan itu, benar benar membuat otaknya traveling. "Gak, ini gak boleh terjadi dalam waktu Yang lama. Itu sumur harus aku buat dindingnya. Gak boleh ditutup dengan kain saja." Samuel bicara sendiri. Sambil mondar mandir di tempat ia berada sekarang. Akhurnya, Ia putuskan untuk olah raga. Agar pikirannya itu teralihkan.

__ADS_1


Samuel meninggalkan tempat itu, sebelum Nisya selesai mandi. Ia tak mau jika Nisya melihat nya di tempat itu. Benar saja, baru juga ia sampai di halaman depan gubuk. Terdengar suara pintu belakang gubuk dibuka. Itu artinya Nisya sudah selesai mandi dan masuk dari pintu belakang.


Samuel yang tak mau ketinggalan waktu shubuh. Bergegas menuju sumur. Walau kakinya masih sakit saat dipijakkan. Hal itu tak menyurutkan niatnya untuk beribadah.


Samuel masuk ke dalam gubuk. Saat itu, Nisya sudah selesai sholat shubuh dan lanjut mengaji. Suara syahdunya Nisya saat mengaji, membuat hatinya Samuel tentram mendengarnya. Ingin sekali dia seperti Nisya, pintar mengaji. Tapi, saat ini. Ia baru kenal huruf hijaiyah. Masih pintar an Ismail dibandingkan dirinya.


***


Mengaji dan sholat shubuh telah selesai. Saatnya memasak, sarapan pagi. Terlihat Nisya sibuk di dapur. Sang nenek, membersihkan pekarangan rumah. Sedangkan Samuel terlihat bersiap-siap mencari daun rumbia. Atau yang sering orang katakan pohon sagu.


"Samsul....!" sapa sang nenek ramah. Ia sedikit heran melihat Samuel yang memegang Parang di tangannya dengan berjalan sedikit pincang menuju hutan. Sejak Samuel masuk islam. Si nenek memanggil nya menjadi Samsul. Samuel tak keberatan dengan nama barunya itu. Tapi, ia tak akan mengganti identitasnya.


"Iya sih, apalagi Kamu sudah ada di tempat ini." Ujar Sang nenek.


"Iya nek." Samuel melanjutkan langkahnya.


"Tunnggu... Nenek ikut..!" Sang nenek meraih galah di sebelah gubuk, kemudian mengejar langkah Samuek


Sesampainya di tempat tujuan. Samuel dengan kaki yanh masih sakit, dengan semangat mengambil duan rumbia itu. Dan si nenek yang bertugas mengumpulkannya. Sebenarnya, Samuel tak ingin Nenek ikutan kerja. Tapi, orang tua itu memaksa.


"Sam, apa kamu mau menikahi Nisya?"

__ADS_1


Deg


Braakk..


Samuel yang terkejut dengan ucapan sang nenek tanpa sadar menjatuhkan gala di tangannya ke tanah. Ia tatap nenek dengan tak percayanya. Kemudian ia kembali meraih gala yang ia jatuhkan tadi.


"Nenek serius Sam!"


Samuel menghentikan kegiatannya mengambil duan Rumbia dan kembali fokus menatap sang nenek. "Nek, jangan aneh aneh deh. Aku ini seorang penjahat, mana mungkin Nisya mau jadi istriku!" Jawab samuel lirih.


"Iya sih. Aku sangat mengkhawatirkan tentanggnya dan Ismail. Jika aku meninggal dunia, dia siapa yang menjaga." Ujar nenek sedih. Ia dudukkan bokongnya di atas rerumputan di tempat itu.


"Nenek gak akan meninggal. Nenek pasti berumur panjang." Jawab Samuel sopan. "Lagi pula nek, jika aku dan Nisya menikah. Dia tak akan bahagia. Nyawaku sedang terancam nek. Cepat atau lambat aku pasti di tangkap polisi. Jadi, menikah denganku juga tak akan membuat hidupnya lebih baik." Kedua matanya Samuel terlihat berkaca-kaca saat mengatakan itu. Entah kenapa ia sekarang jadi lebih perasa. Sikapnya sekarang, sangat bertolak belakang dengan dirinya dirinya


"Nenek akan mengawariskan padamu ilmu aji Panglimunan. Ilmu agar musuh gak bisa lihat atau luput dari pandangan orang yang niatnya jahat. Semacam mengelabui musuh gitu Sam. Apa kamu mau?" Sang nenek sangat serius menawarkan ilmunya pada Samuel.


"Haaahh...?" Samuel tak menyangka, si nenek akan menurunkan ilmu itu padanya. Ia kan penjahat sebelumnya.


"Kalau kamu mau. Kita bisa belajarnya setelah kamu bisa baca Al-Quran. Nantinya ilmu ini tidak boleh disalahgunakan untuk melakukan hal gak baik. Karena pantagannya adalah gak boleh buat kejahatan. Murni untuk melindungi dirimu. Dan, kamu gak boleh menikmati kekayaanmu saat jadi mafia." Ujar nenek serius.


****

__ADS_1


__ADS_2