Taubatnya Sang Mafia

Taubatnya Sang Mafia
Menginap


__ADS_3

"Ya Tuhan...Koq kartunya gak valid...?" ujar Samuel panik di dalam ruang ATM yang Full AC itu. Ia lihat masa expired kartunya Itu, tanggalnya masih berlaku. "Aahhkkk... Sepertinya kartunya sudah rusak." Samuel kembali mengambil kartu ATM nya yang lain. Sebelum ia masukkan ke dalam mesin ATM, ia periksa sulu masa berlakunya. Dan kartu ATM nya masih berlaku hingga 1 tahun ke depan.


"Ya Tuhan... Semoga gak rusak. Aku ingin membahagiakan Nenek, Nisya dan Ismail." Ujarnya penuh harap.


Deg


Ia pun senang, ternyata dari 10 kartu debet yang ia miliki, masih ada yang bagus. Samuel yakin, kartu kartunya yang resmi atas dirinya telah diblokir.


Samuel menarik uang tunai 20 juta hari ini. Dengan langkah cepat Samuel masuk ke counter hape yang juga ada di hadapan rumah makan.


"Beli hape seharga 4 juta." Samuel meletakkan uang sebanyak 4 juta di depan penjaga counter.


"Merk apa ya Pak Ustadz?" tanya pelayan counter.


Heeehh


Samuel tercengang mendengar ucapan si penjaga Counter. Ia pun tersadar, kalau penampilannya memang sudah seperti alim ulama.


"Terserah merek apa." Sahutnya cepat. "Sekalian kartu perdana."


"Iya Pak Ustadz."


Samuel senyam senyum dikatakan pak Ustadz. Bahagia rasanya dikatakan Ustadz. Padahal dulunya ia seorang mafia berdarah dingin. Begitulah takdir, kita gak tahu, apa yang akan terjadi pada kita kelak. Samuel, walau ia seorang mafia. Ia tetap dermawan, sering berbagi kepada orang orang tak mampu. Mungkin, inilah balasan dari kebaikannya selama ini. Ia tetap bisa selamat dengan pertolongan Nenek dan Nisya.


"Oh ya beli Satu lagi, yang pas untuk cewek ya!'" terbersit di benaknya membelikan ponsel pada Nisya.


"Ok pak, bisa banget Pak Ustadz." Sahut si pelayan counter ramah.


Samuel pun senyam senyum menunggu ponselnya siap pakai. Dan ia keluar cepat dari counter Itu, setelah mendapatkan yang ia mau.


Sesampainya di rumah makan. Nisya, nenek dan Ismail, sudah selesai makan. Terlihat wajah mereka ketat dan penuh kekhawatiran.


"Kirain gak balik lagi ke sini!" keluh Nisya sedih.


"Haah... Koq mikirnya gitu. Aku kan bilang mau ambil uang. Bukan pamit mau pergi." Sahut Samuel senang. Ia dudukkan bokongnya di kursi sebelah Ismail. "Anak papa sudah selesai makan ya?' ia colek pipi gembulnya Ismail.


" Sudah pa, enak... makan ayam goyeng..!" Ismail mengacungkan jempolnya dua.


"Iya sayang. Papa makan dulu ya?" Ujar nya tersenyum bahagia menatap Ismail.

__ADS_1


Samuel benar benar merasa sangat puas dan bahagia. Padahal saat jadi mafia, ia memang terlihat bahagia dengan harta dan kekuasaan yang ia miliki. Tapi, hatinya kosong dan tak pernah tenang.


"Apa ini?" Nisya menjulurkan. tangan kanannya meraih paper bag yang ada di atas meja makan Itu. Tepatnya di hadapan Nisya.


Samuel menoleh kearah Nisya dengan senyum mengembangnya. "Itu untukmu!"


"Emangnya ini apa?" tanya Nisa dengan bingungnya. Belum berani membuka paper bag Itu.


" Bukalah dek." Pinta Samuel masih dengan senyum mengembang.


Dengan penasarannya Nisya membuka paper bag warna pink itu. "Hape...?" ujarnya, menoleh ke arah Samuel, kemudian ke arah nenek, yang juga nampak kaget.


"Kamu dapat uang dari mana? kamu mencuri?" Tanya Nenek pelan, karena takut didengar orang sekitar.


"Ya, uangku lah Nek." Jawab Samuel sopan. Ia tetap melanjutkan acara makannya.


"Koq, tapi kan? uangmu berarti uang haram." Ujar nenek dengan muka masamnya.


"Nek, nanti aku jelaskan semuanya. Aku makan dulu ya?" ujar Samuel serius.


Nisya tak jadi mengambil ponsel itu. Lagian itu untuk apanya.


Samuel telah selesai makan. Ia bayarkan makanan mereka. Kemudian Samuel mengajak Nisya, nenek dan Ismail naik taxi.


"Kita mau ke mana ?" tanya Nenek dengan bingungnya.


"Nanti Samuel jelaskan ya nek, Sekarang nenek masuk dulu." Ujar Samuel lembut.


Sang nenek tak kuasa menolak, ia pun naik ke dalam taxi, yang diikuti oleh Nisya. Mereka duduk di bangku belakang supir. Sedangkan Samuel duduk di kursi sebelah supir.


"Ke hotel paling bagus di tempat ini Ya pak!" ujar Samuel tegas pada sang supir. Ia menoleh ke belakang dengan senyum yang manis, menatap Nisya dan nenek.


"Kita harus pulang Sam. Ini sudah pukul 2 siang. kita bisa kemalaman di jalan." Ujar nenek dengan tak tenang di jok belakang.


Samuel kembali menoleh ke belakang. "Nek, kita akan pulang. Tapi, gak hari ini." Jawab Samuel. Ia pun kini sibuk mengotak atik ponselnya. Sesekali Samuel terlihat menelpon.


Sesampainya di depan sebuah gedung megah


"Haahh.. Kita ke hotel?" tanya nenek dengan bingungnya.

__ADS_1


"Iya nek!" Sahut Samuel sopan. Ia turun dari mobi Setelah ia membayar argo. Ia buka pintu untuk nenek. Dan nenek turun dari dalam mobil dengan malasnya.


Sedangkan Nisya terlihat senang. Bagaimanapun, ia dari dulu pingin tidur di hotel dan tinggal di pemukiman yang ramai bukan di tengah hutan.


"Gak, aku gak mau masuk. Aku mau pulang! " Nenek memaku di tempat. Ia tak tertarik dengan menginap di hotel.


"Nek, satu malam saja kita nginap. Ini sudah kesorean jika kita harus pulang. Besok pagi, kita baru pulang ke hutan nek!" Pinta Samuel dengan lembut penuh bujuk rayu.


Sang Nenek terlihat berfikir keras. Matanya menyoroti sekitar. "Apa di dalam bisa sholat!"


" Bisa, bisa banget nek!" Ujar Samuel dengan semangat.


"Papa...!" Ismail ingin digendong Samuel.


"Iya nak" Ia sambut Ismail dan menggendongnya


"Ayo, kita masuk!" ujar Samuel.


Dengan perasaan tak tenang. Nenek akhirnya mau masuk juga ke dalam hotel itu.


"Aduuh..!" Keluh Nenek, ia hampir saja terpleset. Saat kakinya menapak di lantai marmer hotel yang mengkilap itu. Saking mengkilapnya, bisa dijala ti.


"Hati-hati Nek!" Samuel menuntun nenek duduk di sofa lobby. Nisya juga duduk di sofa yang sama dengan nenek, sedangkan Samuel yang sedang main gendong Ismail sedang Check in ke resepsionis.


"Ayo Dek Nisya." Dua kunci hotel telah ada di tangan Samuel.


Nisya dan nenek bangkit dari duduknya. Karena nenek tak terbiasa berjalan di lantai marmer. Ia pun kini dipapah oleh Nisya.


"I, ini.. Kita mau ke mana?" tanya nenek panik, saat mereka sudah ada di dalam lift. Sedari tadi nenek tak tenang. Maklumlah ini hal pertama buatnya, menginjakkan kaki di sebuah hotel. Di gedung megah.


"Ke kamar yang kita pesan nek!" sahut Nisya tersenyum lepas. Ya, Nisya merasa tak asing dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Ia seperti sering datang ke tempat seperti ini.


Nenek yang bingung, tak mau banyak tanya lagi. Ia ikuti saja, apa rencananya Samuel.


"Ini kamarnya nenek dan Nisya. Dan itu kamarku dan Ismail." Ujar Samuel senang.


"Iihh.. Di sini dingin sekali Samsul!" Keluh nenek


***

__ADS_1


__ADS_2