Taubatnya Sang Mafia

Taubatnya Sang Mafia
Selamat


__ADS_3

"Singkap kain itu...!" titah komandan polisi pada anak buahnya. Menunjuk ke gundukan yang ditutupi kain hitam itu.


"Siap komandan..!"


Braakkk..


Kain hitam itu pun tersingkap.


"Aauuuww...!" Nisya teriak histeris. Ia paling kan wajahnya cepat. Sangat ketakutan polisi menemukan jasad pria yang mereka tolong.


"Ooouuww... Ini monyet yang mau di kuburkan itu Nek?"


Deg


Dengan cepat Nisya memutar lehernya. Ia juga sangat terkejut melihat Si Monbang terbaring di tempat jasadnya  Samuel berada.


Jasad pria itu ke mana? Nisya membathin, memperhatikan sekitar dengan bingungnya.


"Iya Pak." Sahut Sang nenek.


Huudftt...


Pak Polisi menghela napas dalam. Kedua matanya kembali menyoroti sekitar. "Di Hulu sungai kami menemukan parasut. Parasut yang dikenakan Mafia yang buron itu, saat terjun payung. Makanya kami menyisiri sungai ini." ujar Kepala kepolisian itu dengan lemas. Sempat ia senang, berharap Samuel mereka temukan di tempat itu.


"Oouuww.. Mungkin hanyut ke hilir pak. Kan semalam hujan deras. Air sungai besar sekali semalam." Jelas sang nenek sopan.


"Bisa jadi. Ayo, kita lanjutkan pencarian." Sang kepala kepolisian melambaikan tangan, agar para anak buah, bergerak kembali menyisiri sungai dan hutan itu.


Nisya dan sang nenek, memperhatikan lekat, para anggota kepolisian itu meninggalkan tempat mereka. Tentu saja, Nisya masih tercengang dengan apa yang terjadi barusan. Karena pria itu menghilang.


Setelah para polisi itu menghilang dari jangkauan mata mereka. Nenek pun bergegas ke teraa gubuk mereka.


"Nek..!" Ujar Nisya dengan paniknya. Saat melihat sang nenek, menyibak kain hitam penutup jasadnya Samuel.


Nisya bergegas menghampiri sang nenek, yang berdiri di sisi jasadnya Samuel. "Haahh..!' Nisya dibuat kaget, sekaget kagetnya. Saat melihat jasadnya Samuel, masih tetap berada di situ, dan memang ada Monbang tidur di sebelahnya jasadnya Samuel.

__ADS_1


" Nek, koq bisa?" Nisya membungkam mulutnya yang sempat menganga, karena terkejut .melihat jasadnya Samuel, masih ada di tempat semula. "Berarti dari tadi mayat ini, di sini nek?" Bertanya, masih dengan muka bingungnya.


Sang nenek mengangguk lemah. "Iya."


"Koq bisa Nek?" Tanya Nisya menatap heran sang nenek.


"Kamu lupa, Kalau nenek ada ilmu ghaibnya. Tadi, nenek bacakan satu ayat. Sehingga mata mereka tak melihat mayat ini. Bahkan anji ng pelacak terkecoh tadi." Sahut sang nenek tersenyum puas.


"Ya Allah Nek, tadi itu. Aku takut sekali. Aku takut para polisi salah paham, dan mengira kita anak buah mafia ini." Nisya menunjuk kesal, jasadnya Samuel.


"Iya, ayo kita kuburkan saja dia." Sang nenek meraih tangannya Samuel. Mereka pindahkan tubuh kekar itu ke atas tanduk.


"Apa kita bisa angkat Ini orang nek? berat kali loh." Keluh Nisya, merasa tak yakin. Ia dan sang nenek bisa mengangkatnya hingga ke tanah yang mereka gali untuk kuburan Samuel


"Iya Ya? mana tanah yang kita gali. Kedalamannya baru 50 cm." Jawab sang Nenek lemas. Ternyata gali tanah kuburan capek juga.


"Iya Nek." Sahut Nisya tak kalah lemas, dan frustasinya.


"Apa sayang?" Ismail mencolek lengan sang ibu. Kemudian menunjuk ke tangannya Samuel, yang tengah bergerak.


Nisya terkejut dengan hal itu. Jemarinya Samuel, memang benar bergerak.


Sang nenek memeriksa denyut nadinya Samuel. "Loh, koq hidup lagi. Tadi, jelas-jelas tak ada helaan napasnya. Bahkan nadinya tak berdenyut." Ujar sang nenek heran.


"Tidak, Tidak... Ampun.. Ampuni aku Tuhan. A, aku, aku akan taubat!" kalimat yang terputus-putus itu, terdengar sangat frustasi dari mulut Samuel. Wajah nya yang pucat, terlihat sangat ketakutan. Tapi, Samuel masih menutup mata.


"Tidak.... Jangan siksa aku.... Ku mohon!" Kali Ini terlihat air mata menetes dari sudut matanya Samuel.


Nisya dan nenek, terus saja memperhatikan Samuel, yang sepertinya sedang bermimpi buruk.


"Pasti, ia tadi mati suri." Ujar sang nenek. Ia goyang pelan tangan Ismail. Sambil memanggil namanya.


"Ooouuuww...! Nek, kita panggil polisi tadi ya? biar aku kejar." Ujar Nisya, kalau pria ini masih hidup, ia tak takut untuk mengatakan pada pihak berwajib.


"Tidak...!" teriak Samuel.

__ADS_1


Nisya dan Nenek, sampai memegangi dadanya yang bedebar hebat, terkejut dengan teriakan Samuel.


Saat itu juga kedua mata merah Samuel, membelalak seperti hendak keluar dari tempatnya. Ia tatap Nisya dan si Nenek.


"Tolong.... Selamatkan aku." Ujarnya lirih, Bibir kering nya Samuel nampak pecah-pecah. Wajahnya yang memelas terlihat sangat memprihatinkan.


"Nek.. Gimana ini?" tanya Nisya pelan, menatap sang nenek yang juga prihatin melihat keadaan Samuel.


"Kita selamatkan dia" Sahut Nenek.


Huuffft


Samuel pun menarik napas legah. Wajah nya yang meringis kesakitan itu, kini terlihat pasrah.


"Nisya, kamu tidurkan Ismail. Bantuan mengobati luka lukanya." Ujar sang nenek tegas pada Nisya. Si nenek, kini sibuk memeriksa luka tembak di kakinya Samuel.


"Iya nek!" Nisya masuk ke dalam pondok.


"Luka tembak ini tembus dari kulit. Kamu kena tembak luar. Dan syukur sekali, tulangmu gak afa yang retak atau patah. Hanya ototmu saja yang terluka." Ujar sang nenek merinding melihat bekas tembakan di kakinya Samuel.


Samuel tak menanggapi ucapan sang nenek Karena saat ini, Ia merasakan semua badannya sakit. Bahkan keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh nya.


"Lukamu sudah meradang. Makanya kamu jadi demam!" ujar sang nenek dengan khawatirnya.


Samuel hanya bisa meringis kesakitan. Sungguh rasanya tulangnya sudah rontok dari tubuhnya.


"Tahan ya? aku racik obat untuk lukamu dulu. Agar tak infeksi." Sang nenek masuk ke dalam gubuk. Ia lihat Nisya sedang melamun, menyusui Ismail.


"Nisya... Kalau Ismail sudah tidur. Bantuin nenek obati pria itu!" ujar sang nenek, sibuk mencari obat yang ia simpan. Ya, sekali sebulan, Nenek dan Nisya keluar dari Hutan. Mereka akan beli obat obatan, persediaan jika dalam keadaan terdesak. Sang nenek yang dukun, sebenarnya bisa mengobati orang yang luka parah. Nenek biasanya memanfaatkan kunyit, jahe, minyak kelapa yang dijampi-jampi.


Tapi, karena panas nya Samuel sangat tinggi saat ini. Sang nenek akan memberikan paracetamol kepada Samuel.


"Nis, minyak kelapa. Koq gak ada di sini?" Tanya sang nenek bingung mencari botol minyak kelapa, yang cara pembuatannya dibacakan sholat. Jadi, minya kelapanya didapatkan tanpa dimasak.


"Ooouuhh... Ini nek!" Nisya menjulurkan tangannya meraih botol berisi minyak kelapa yang tak jauh darinya. "Semalam, perutku sakit." Jelas Nisya, minya kelapa buatan sang nenek, sangat ampuh. Semua penyakit bisa sembuh dengan minyak kelapa itu.

__ADS_1


Sang nenek kembali ke teras gubuk. Di tangannya, sudah ada ember berisikan air panas. Ia akan membersihkan lukanya Samuel terlebih dahulu.


"Aaahhhkkk.....!" teriak Samuel, saat sang nenek meembersihkan lukanya Samuel dengan air hnagat.


__ADS_2