
Sidang pertama
Di ruang tunggu, Samuel terlhat sangat sedih dan tertekan duduk di sebuah kursi kayu berwarna coklat tua. Ia seperti itu, setelah mendengar cerita sang nenek, prihal Nisya. Cerita si nenek sangat membuat pria itu putus asa. Harapan untuk hidup bersama dengan Nisya, pupus sudah. Karena Nisya adalah istrinya Fredy, bukan saudarinya Fredy, seperti info yang ia tahu selama ini. Fakta itu jelas membuatnya tidak bisa memiliki Nisya, karena Nisya adalah istri orang.
Air mukanya terlihat sangat kusut. Dengan kedua mata yang memerah karena menahan air mata. Tidak ada gairah hidup lagi terpancar dari wajahnya saat ini. Pria itu terlihat sudah pasrah, akan karma yang ia terima atas kejahatan yang ia lakukan. Walau sempat punya semangat hidup, setelah kenal dengan Nisya dan Ismail. Tapi, nyatanya harapannya itu sangatlah mustahil. Seperti panggang jauh dari api.
Yumna.... Namanya Yumna?
Samuel membathin, ia teringat cerita si nenek soal Nisya. Ternyata nama aslinya Nisya, adalah Yumna. Dan Yumna selama tinggal di hutan, 3 tahun ini mengalami amnesia.
Huufftt..
Samuel menarik napas panjang dan berat, rasanya dadanya sakit sekali memikirkan semuanya. Menjadi orang baik, yang tadinya orang jahat, cukup menyiksa hatinya. Karena, kejahatan yang ia lakukan dulu, membuatnya sangat membenci diri sendiri. Ia menyesali jalan hidupnya yang salah jalan. Seharusnya, ia tidak terjerumus dulunya dalam gengsters saat ia baru tamat SMA. Harusnya ia tidak tergoda dengan jalan pintas dapatkan uang dengan cara yang haram.
Saat Samuel meratapi nasibnya, yang tidak akan bisa memiliki Nisya. Di ruang persidangan, hakim terlihat akan memasuki ruang persidangan, dimana di dalam ruangan sidang telah terdapat panitera pengganti, jaksa penuntut umum, penasehat hukum dan pengunjung sidang.
”Hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri!" tegas seorang pria, yang bertugas sebagai panitera.
Semua yang hadir dalam ruangan sidang tersebut, termasuk jaksa penuntut umum dan penasehat hukum berdiri. Suasana persidangan sudah tegang, karena yang akan diadili adalah seorang mafia kelas kakap.
Hakim memasuki ruangan sidang melalui pintu khusus, kemudian hakim duduk di tempat duduknya masing masing.
"Hadirin harap duduk kembali!" Panitera pengganti mempersilahkan hadirin duduk kembali.
Sidang pengadilan negeri Medan, yang memeriksa perkara pidana nomor 213 atas nama Samuel Alponso pada hari Senin, tanggal 27 Maret 2023 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum." Ujar Halim ketua Dengan tegas.
Tok
Tok
Tok
D ikuti dengan ketokan palu sebanyak tiga kali
__ADS_1
Suasana persidangan masih tenang, tapi sudah terlihat tegang. Karena sidang yang menghadiri lumayan banyak, dari wartawan, LSM dan toko masyarakat. Pidana yang dilanggar Samuel adalah kasus pembunuhan 3 tahun yang lalu, saat idul fitri dikediaman Fredy. Dan kasus penyelundupan minuman keras serta usaha ilegal lainnya.
"Penuntut umum apakah terdakwa sudah siap di hadirkan pada sidang hari ini?"
"Siap pak hakim yang mulia."
"Panggilkan terdakwa!" ujar Hakim tegas. Pak Hakim bernama Taufik Hidayat. Pria berusia sekitar 50 tahun. Dengan ciri khas, wajah nya penuh jambang, serta ada tanda hitam di jidatnya. Sepertinya pak Hakim adalah pria yang bertakwa.
Petugas membawa Samuel ke ruang sidang. Samuel memasuki ruangan sidang dengan sopannya, dan menebarkan senyum tipis yang tulus, seolah ia ikhlas dan siap untuk didakwa. Sikap Samuel yang bersahaja, sangat menarik perhatian orang-orang di tempat itu. Julukan mafia sangar seketika berubah jadi malaikat. Padahal, saat kejadian pembunuhan di rumahnya Fredy. Masyarakat sudah membenci Samuel. Dan kebaikannya kepada masyarakat tidak terlihat lagi. Dan sekarang, semua seolah terbalik. Ia banyak yang mendukung, agar bebas dari jeratan hukum. Entah apa yang terjadi, seolah masalahnya Samuel terlhat semakin sederhana.
Apakah? taubatnya, benar-benar membuat semuanya jadi terasa mudah? ya, kalau Allah berkehendak, apa yang tidak mungkin terjadi.
"Apakah Bapak Samuel dalam keadaan sehat dan siap mengikuti persidangan.?" tanya Pak Hakim dengan tegas, menatap Samuel yang terlihat sedikit tegang. Dan wajahnya nampak murung, Walau ia berusaha menarik sudut bibirnya, agar tetap tersenyum.
"Al, Alhamdulillah, sehat yang mulia!" jawab Samuel sopan. Suaranya terdengar sedikit terbata-bata. Hal itu wajar karena ia gugup saat ini. Karena, saat ini banyak kamera yang menyorotnya. Bahkan, persidangan ada yang menayangkan secara langsung.
Pak hakim kembali membacakan nama, umur, alamat, pekerjaannya Samuel. Dan hakim mengingatkan Samuel sebagai terdakwa agar memperhatikan segala sesuatu yang di dengar dan dilihatnya dalam sidang itu.
"Siap yang mulia, saya mengerti!" Sahutnya sopan, tatapannya tulus kepada Pak Hakim. Dan bahasa tubuhnya Samuel yang kooperatif itu, membuat hakim terkesima.
"Ada pak." Jawab Samuel tegas dan sopan.
Pak hakim menanyakan keabsahan dari penasehat hukumnya Samuel. Dengan menunjukkan surat kuasa khusus dan kartu ijin praktek pengacara.
Penasehat hukumnya Samuel menunjukkan surat kuasa kepada Pak Hakim. Pak hakim ketua mengamati surat kuasa dan kartu ijin praktek tersebut lalu hakim ketua menunjukkan kedua dokumen itu kepada para hakim anggota dan pada penuntut umum.
"Terima kasih Pak Sitompul!" ujar Hakim kepada pengacaranya Samuel.
Hakim ketua sidang meminta pada Samuel untuk mendengarkan dengan seksama pembacaan surat dekwaan dan selanjutnya mempersilahkan jaksa penuntut mum untuk membacakan surat dakwan.
Jaksa membacakan surat dakwaan yang terdiri dari lima halaman. Samuel mendengarkannya dengan seksama dan pasrah. Surat dakwaan yang dibacakan, sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan. Dan disaat nama Fredy disebutkan dalam surat dakwaan itu. Ia jadi teringat dengan Nisya. Hal itu membuatnya jadi sedih. Hatinya terasa sakit dan ngilu, karena membayangkan wanita itu. Sehingga terbersit dibenaknya, agar tidak melibatkan Fredy dalam kasus ini. Biarlah Fredy bahagia dengan Nisya.
Padahal, Samuel melakukan aksi penyerangan ke rumahnya Fredy, adalah karena Fredy yang terlebih dahulu mengusik ketegangannya. Fredy, iri akan kesuksesan yang Samuel dapatkan dengan bisnis gelapnya. Ia membocorkan bisnis gelapnya Samuel ke pihak berwajib dengan bukti yang ia dapat dari, menyewa mata-mata di kerajaannya Samuel.
__ADS_1
Samuel berang, ia memerintahkan anak buahnya menyerang kediamannya Fredy di saat hari raya idul fitri. Kejahatan itu ia lakukan terang-terang an dan langsung disorot media.
Samuel telah jatuh cinta dengan Nisya. Nisya adalah istrinya Fredy. Samuel inginkan Nisya bahagia. Jadi, ia tidak akan menyeret Fredy dalam masalah ini. Ia berubah pikiran, setelah bertemu dengan nenek tadi pagi, padahal semua sudah ia bicarakan dengan pengacaranya. Bahwa, kalau ada disingung soal Fredy, ia akan naik.
"Pak Samuel..! Pak Samuel..!" untuk kedua kalinya Pak Hakim menegur Samuel yang terlihat melamun. Tapi, Samuel tetap bergeming. Para hadirijn mulai berisik, karena kasihan melihat ekspresinya Samuel, yang muka ingin dikasihani itu, sungguh sangat pasrah.
"PAk SAMUEL...!" Hakim menaikkan dua oktaf ucapannya.
Samuel terkejut. "Siap, saya yang mulia!" jawabnya tegas, setelah ia sempat tingkat dari duduknya..
"Bapak mengkhayal? khayal kan apa Pak?" tanya Pak Hakim dengan guyonan.
"A, aku mengkhayal sedang disiksa di api neraka pak!" jawab Samuel refleks
.
Para penghuni ruangan sidang dibuat mewek dengan ucapan Samuel. Sehingga sedikit menimbulkan kebisingan.
"Hadirin harap tenang!" ujar hakim, kemudian menokok palu 3 kali.
"Bagus lah pak, bapak sepertinya sudah menyadari kesalahan bapak. Jadi, apa bapak keberatan terhadap dakwaan jaksa penuntut hukum?" tanya hakim dengan serius
Samuel terdiam dan menunduk, setelah pengacaranya terlihat ingin membantah dakwaan.
"Yang mulia, dakwaan harus dibatalkan karena keliru!"
"Tidak yang mulia, dakwaan saya terima!" Samuel menyelah ucapan pengacaranya.
Shiitt..
Pak Sitompul pengacaranya Samuel, mengumpat dalam hati. Kalau semua dakwaan diterima, apa gunanya pakai pengacara. Ya sudah, langsung aja dihukum mati.
"Hadirin semuanya, karena ada perbedaan pendapat antara terdakwa dan pengacaranya, terkait pengajuan keberatan. Maka, kami berikan kepasa terdakwa waktu untuk membicarakan nya lagi dengan pengacaranya. Maka sidang ditunda untuk memberi kesempatan pada terdakwa untuk mengajukan eksepsi."
__ADS_1
***
Bersambung