
"Haahh..!" Nisya pun mendorong kuat tubuhnya Samuel. Dan Samuel berguling ke samping. Nisya bangkit, sambil merapikan pakaian dan kerudungnya. Ia salah tingkah di hadapan Anaknya Ismail, juga di hadapan Samuel. "A, aku masuk ke rumah. Nenek sedang sakit!" ujarnya sedikit tergagap, dan langsung menyeret kakinya cepat.
Sedangkan Samuel yang sedang berbunga-bunga itu, mengambil ranselnya dengan senyam senyum menatap sang anak. Entah kenapa rasanya sangat mendebarkan, ia tidak menyangka Nisya menunggunya. Kalau tidak menunggunya, kenapa Nisya ada di hutan ini. Tidak perlu lagi, ia tanyakan perasaan wanita itu, ia yakin 1000%, kalau Nisya mencintainya.
"Haahh.. Helikopter. ..! ayah.. lihat itu, ada heli kopter...!"
Deg
Samuel menatap ke atas, ia sangat terkejut setelah melihat helikopter yang dibodynya ada simbol kekuasaannya. Itu artinya helikopter itu milik nya. Koq bisa?
"Waahh... Helikopter. !" teriak Ismail berlari ke arah rumahnya. Helikopter itu terlihat ingin mendarat.
Samuel yang penasaran itu, mempercepat langkahnya. Ia sungguh penasaran dengan orang-orang yang ada di dalam helikopter itu. Apa mungkin orang-orang setianya dulu? tapi, tidak mungkin, sejak ia ditahan di penjara. Ia sudah melepas semuanya. Harta dan kekuasaannya. Bahkan, ia tidak mau tahu tentang semua itu. Saat ditahanan ia juga tidak mau dibesuk anak buahnya. Bahkan ia juga menolak dibesuk oleh nenek saat itu. Ia lakukan itu, karena ia tidak mau ketenangannya terusik saat di penjara, karena ia ingin fokus taubat. Apalagi saat itu, faktanya Nisya adalah istri nya orang.
__ADS_1
"Bos....!" Seorang pria berjubah warna hitam yang baru saja turun dari pesawat itu lari kencang kr hadapannya.
"Mark....!" Samuel menyambut rentangan tangannya Mark... Kedua nya berpelukan erat dengan isak tangis. "Kamu masih hidup?" tanya Samuel dengan suara bergetar, mereka masih berpelukan.
"I, iya Bos..! aku masih hidup." Sahut Mark tak kalah terharunya.
"Kenapa kamu bisa tahu aku disini?"
Mark mengurai pelukan bos nya itu. Ia seka air matanya dengan jemarinya. "Aku sudah 8 tahun mengawasi bos di tahanan. Satu tahun, aku terdampar di hutan, dan syukur ada suku pedalaman yang menolongku bos." Jelas Mark dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bos.. Bukan saat nya sekarang menjelaskan semua nya. Ayo, kita masuk ke rumah!" Mark merangkul Samuel, dan kedua nya menuju rumah gubuk yang di tempati nenek dan Nisya.
Baru juga berada di halaman rumah, si nenek sudah keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Samsul.....!" teriak sang nenek, wanita tua itu memaksa dirinya berlari menghampiri Samuel.
"Nek.. Jangan lari!" Nisya yang memapah nenek, menahan wanita tua itu, agar tetap berada di tempat.
"Nenek...!" Samuel berlari menghampiri si nenek yang kini sudah bungkuk itu.
"Nenek yakin, kamu akan kembali ke tempat ini..!" ujar sang nenek dengan berderai air mata dalam pelukan Samuel. Bahkan tubuh keduanya bergetar saat berpelukan, saking terharunya dengan pertemuan mereka.
"Iya Nek, aku sangat merindukan kalian. Aku tidak menyangka, kalian akan kembali ke hutan ini..!"
Suasana yang syahdu penuh isak tangis kebahagian menyelimuti tempat itu. Semuanya tidak menyangka, kalau mereka akan bisa bertemu lagi, dalam keadaan yang saling merindukan. Keihklasan dan sabar, akan masalah yang datang, ternyata berakhir dengan kebahagiaan.
****
__ADS_1
Tamat