
Nisya yang kelelahan malah tertidur nyenyak setelah masuk ke kamarnya. Beda dengan nenek yang tak bisa istirahat sedikitpun di atas spiringbed yang empuk itu. Wanita tua itu sudah terbiasa tidur di lantai papan gubuknya tanpa alas.
"Ya Tuhan... Tempat ini sangat membosankan!" nenek bicara sendiri. Ia singkap tirai kamar. Dan nampaklah pemandangan indah di bawah sana. Ternyata hotel yang mereka tempati sekarang dekat pantai.
Nenek yang tak ada teman ngobrol. Akhirnya memutuskan ke kamarnya Samuel saja. Seingat dia Samuel kamarnya ada di sebelah kamar mereka.
Sesampainya di depan kamar Samuel.
"Assalamualaikum.... Samsul..... Buka pintunya Nak!" ujar sang nenekku, sambil mengetuk pintu kamarnya Samuel. Ya, si Nenek yang sampai hari ini gak kita tahu namanya, ingin sekali bertemu dengan Ismail. Ismail ikut dengan Samuel.
" Samsul... Ini nenek! " ujarnya lagi dengan suara lebih keras, agar Samuel mendengarnya.
Ceklek
Samuel membuka pintu kamar dengan senyum mengembang. "Iya Nek, maaf telat bukanya. Tadi, lagi pakai baju!" Samuel menunjuk tubuhnya. Kini aju baru melekat di tubuhnya. Kaos polo warna hitam, dipadu dengan celana jeans warna navy. Penampilan Samuel jelas terlihat rupawan saat ini.
"Ayo masuk Nek!" Si nenek pun tersadar dari lamunannya, saat Samuel merangkul si nenek untuk masuk ke dalam kamar. Dan Samuel menutup pintu kamar itu dengan kakinya.
Si nenek masih tercengang melihat penampilan Samuel, yang rapi dan santai. Ditambah Isamil, yang heboh dengan mainan barunya di atas ranjang.
__ADS_1
"Nenek... Lihat ini, aku punya mobil truck... Bruummm brummmm....!" ujar Ismail senang, ia sibuk memainkan mainannya yang sangat banyak itu.
Nenek mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Memperhatikan Ismail yang bermain dengan bahagianya.
"Ini untuk nenek, dan ini untuk Nisya." Samuel menyodorkan dua paper bag kepada sang nenek.
Dengan ragu si nenek menerimanya. Kemudian melirik Samuel lagi, sebelum ia buka paperbag untuknya.
"I, ini apa Samsul?" tanya Nenek sambil mengeluarkan isi paper bag. "Baju?" ia tatap Samuel dengan takjub.
"Iya Nek. Ini baju Nenek pakai sekarang. Karena kita akan makan di resaurant hotel ini." Ujar Samuel dengan ceriahnya.
"Iya nek, dan itu untuk Nisya. Satu jam lagi kita akan turun ke bawah." Jelas Samuel dengan bahagia.
Nenek lirik Ismail yang juga sudah rapi dengan setelan yang sama dengan Samuel.
Samuel menjulurkan tangannya meraih tangan si nenek. "Nek, uang yang ku gunakan untuk membelikan ini semua, adalah uang halal. Jadi, nenek tidak perlu takut untuk memakainya." Jelas Samuel, melihat keraguan di mata sang nenek.
"Oouuw..!" Nenek insecure dengan apa yang dilakukan Samuel pada mereka.
__ADS_1
"Nek, mau ya tinggal denganku. Kita akan pergi ke suatu pulau. Di sana kita akan hidup dengan layak. "
"Pulau...?". tanya si nenek dengan heran nya.
" Iya nek, tadi aku sudah bisa menghubungi anak buahku yang ada di pulau itu. Dan sebentar lagi mereka akan sampai di sini. Mau ya nek, tinggal bersamaku...!" Pinta Samuel dengan penuh harap.
"Terus rumahku di hutan?" si nenek tetap kelihatan tak tertarik untuk tinggal bersama Samuel
"Seumpamana nenek tidak betah tinggal di rumahku. Gak apa-apa, nenek tetap akan bisa tinggal di rumah itu. Nanti aku akan antar nenek ke rumah yang lama." Ujar Samuel dengan lembut. Ia harus bisa merayu sang nenek agar mau tinggal dengannya.
"Bener, nenek bisa pulang ke rumah lama?" tanga nenek meyakinkan dirinya lagi.
"Ia nek, bisa. Nanti, kita tinggal di situ juga." Ujar Samuel semangat. "Tapi, jika aku masih bersama orang nenek."
"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya nenek dengan penasaran nya.
Huufftt
Samuel menarik napas panjang. "Aku ini penjahat nek. Cepat atau lambat, aku Ini akan tertangkap." Ujarnya sedih. Ia tundukkan pandangannya, karena merasa malu pada nenek.
__ADS_1
***