
"Nak... Ismail.. Kembali...!" Nisya menyusul sang anak. "Is..ma..!"
Bruuggkk...
Sesosok pria kini bersujud di hadapan Nisya. Hal itu membuatnya menghentikan langkahnya menyusui sang anak.
Deg
Pria yang belum terlihat jelas wajahnya itu sangat mengejutkan Nisya. Wajah wanita itu mendadak pucat, ia memundurkan langkahnya. Waspada dengan pria yang tidak ia kenal itu. Tapi, seketika kedua bola matanya Nisya membeliak sempurna di saat pria yang tadi sujud di hadapan nya, kini tengah mengangkat wajahnya. Dengan cepat ia tutup mulutnya yang sempat menganga saking terkenjtnya dengan tangan nya.
Syiuurr..
Angin tiba-tiba saja berhembus kencang, yang membuat Nisya harus mentahan pakaian yang ia kenakan tidak tersingkap angin. Hal itu cukup merepotkannya. Bisa-bisa nya disaat tegang seperti ini, angin tidak mendukung.
__ADS_1
"Nisya..!'
Sepertinya angin yang kencang membuat Nisya ketakutan. Ia terlihat panik dan was was. Karena angin kencang sudah membuat suara ribut dari dahan pohon yang bergoyang karena tertiup angin.
Kreek..
Samuel menengadahkan wajahnya, melihat dahan di atas kepalanya Nisya retak dan akan terjatuh menimpa tubuh wanita yang ia cintai itu. Hal itu membuat Samuel panik, ia bangkit dan langsung meraih Nisya dalam dekapannya. Menjauh dari teduhnya rindang pohon. Kuatnya tenaga yang dikeluarkan Samuel, saat menjauhkan Nisya dan dirinya dari patahan dahan itu, membuat keduanya berguling di semak-semak. Hingga kedua tubuh yang menempel itu kini berhenti. Dengan tatapan yang dalam, keduanya beradu pandang. Sinar mata penuh kerinduan jelas terlihat di mata nya Samuel. Sedangkan Nisya, masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
Mata indahnya yang berkaca-kaca, menelisik setiap sudut wajah pria di hadapan nya. Ia kenal pria itu, walau wajah dan penampilannya banyak berubah. Dulu wajah itu sangat tampan, walau terkesan sangar. Karena tatapan tajamnya Samuel. Tapi, kini tatapan mata itu sudah sangat sendu, penuh kerinduan dan cinta.
"Le, lepas.. Menjauh lah..!" Nisya dorong kuat pada nya Samuel. Tapi, Samuel masih memeluk dan menimpa tubuhnya Nisya. "Berat tahu, kamu....!" Nisya mulai kesal.
"Haaahh.. Oohh.. Iya..!" Samuel pun tersadar. Ia lepas belitan tangan nya dari tubuhnya Nisya. Kemudian kedua tangan kokoh itu, ia topangkan ke tanah yang ditumbuhi semak-semak yang cukup empuk menurutnya. "Berat badanku sudah berkurang, masak sih berat?" ujar Samuel tersenyum simpul. Ia masih berada di atas tubuhnya Nisya, tapi tubuh kedua sudah tidak bersentuhan lagi.
__ADS_1
Nisya dibuat malu akan situasi ini. Ia buang pandangannya. Jujur, ia sangat bahagia saat ini. Ia tidak menyangka, akan bertemu lagi dengan Samuel. Pria yang ia cintai sejak ingatan nya pulih. Bahkan kejadian saat ia lupa ingatan, tetao melekat di pikirannya.
Dooorr..
Bruuggkk
Samuel yang teekejut, kembali jatuh ke atas tubuhnya Nisya. Tapi, dengan cepat ia topang tubuhnya yang kekar dengan kedua tangannya.
"Cieehh.. Cieeh... Mama dan ayah, lagi ngapain tiduran di situ..!" Celoteh Ismail dengan menunjuk-nunjuk kedua orang tuanya dengan tertawa kecil.
Nisya dan Samuel dibuat malu akan ledakan Ismail. Keduanya menoleh pada sang anak. Tapi merek tetapi pada posisinya.
"Nek... Nek...!" teriak Ismail. "Lihat ini mam dan ayah ku!"
__ADS_1
****