
"Anaknya pintar sekali ya dek?" ujar seorang wanita yang terlihat masih sebaya Nisya Ia dari tadi memang memperhatikan lekat Samuel. "Ini anakmu ya bang?" tanya wanita itu degan kepo nya.
Samuel tersenyum tipis pada wanita muda itu. Samuel dan Ismail akhirnya memilih duduk. Ia takut juga, Ismail terjatuh, karena sangat lasak sekali. "Iya dek." Sahut Samuel ramah.
Wanita muda itu terus saja memerhatikan Samuel dan Ismail. Hal itu membuat Samuel sedikit was was. Jangan jangan wanita cantik ini, tahu dia seorang buronan.
"Ya ampun, ayah dan anaknya sama sama tampan." Puji wanita itu, masih menatap lekat Samuel dan Ismail.
"Terima kasih, adek juga cantik." Ujar Samuel ramah.
"Sangat jarang loh, ada pria yang mau urusi anak dan istri nya malah tidur." Ujar si wanita cantik itu dengan meratap.
Eehhmm... Eehhmm...
Nisya mendehem dengan keras, yang menyita perhatian Samuel yang tengah berbincang bincang dengan wanita cantik itu. Walau begitu, Sanuel hanya melirik sekilas Nisya. Karena ia memang rada tak mengerti dengan deheman Nisya.
"Aku ini seorang janda, suamiku selingkuh. Hu Hu Hu...!" wanita itu malah curhat pada orang dan tempat yang salah.
"Ooouuww.. Iya dek. Yang sabar ya!" Samuel pun akhirnya mengerti maksud dari ucapan wanita itu. Tak sepantasnya wanita itu curhat padanya. Kenal saja tidak.. "Aku ke sana dulu!" Dengan berpegangan di badan truk, Samuel pindah tempat ke dekat Nisya.
Huffftt..
"Enak ya rasanya, duduk bersanding dengan cewek sexy?" sindir Nisya, melirik masam Samuel yang sudah duduk di sebelahnya.
"Bukan hal yang waaah.. Biasa saja tuh!" Sahut Samuel datar. Ia cium gemes Ismail yang masih dalam pangkuannya.
Nisya melirik kembali Samuel dengan muka masamnya. Tingkahnya Nisya jelas sangat, kalau wanita itu sedang cemburu.
"Nisya, ongkos kita sudah kami siapkan. Kita sudah hampir tiba." Nenek yang sudah terbangun, mengingatkan Nisya yang lagi cemberut itu.
"Sudah nek." Jawab nya datar. Nisya melototkan matanya ke wanita yang terus saja memperhatikan Samuel. Mengerti akan maksud tatapan matanya itu. Wanita yang sedari tadi memperhatikan Samuel pun akhirnya membuang muka.
"Ongkos...Ongkos...!" Kernek bicara dengan keras. Saat mobil truk pengangkat barang itu telah sampai di terminal.
Nisya memberikan ongkos mereka. Jarak yang mereka tempuh hanya 15 kilo meter, tapi ongkosnya sudah Rp 20.000/per orang. Cukup mahal, untuk bayar jasa transportasi.
__ADS_1
"Samuel, bawa ke sini karungnya!" ujar nenek semangat. Toke rempah rempah sudah menghampiri mereka.
Samuel dengan semangatnya membawa karung berisi jahe itu ke toke rempah rempah. Jahe dalam karung itu pun ditimbang.
"65 kilo." Ujar pria si tukang timbang.
Wajahnya nenek dan Nisya berseri seri mendengar banyaknya jahe yang mereka panen. Harga per kilo gram, di pasar itu 15.000/kg. Dikali 65 kilo. Jadi uang yang didapat berkisar 975.000 rupiah. Itu uang pemecah rekord yang mereka dapatkan selama ini.
"Nek, simpanlah..!" Samuel memberikan uang itu kepada si nenek dengan tersenyum bahagia. Ya, uangnya dibayarkan kepada Samuel.
Nenek menghitung uang itu kembali. Ia pun memberikan uang satu lembar pecahan 100 rb kepada Samuel.
"Gak nek." Tolak Samuel enggan.
Nenek tetap menyodorkan uang itu dengan paksa kepada Samuel. "Gak usah nek!" kembali Samuel menolek uang yang diberikan si nenek, yang memang tak memiliki nama.
"Eemm... Kamu sudah capek membawa jahe itu. Jadi, ini pantas untuk kamu dapatkan!"
"Nek, hampir dua bulan aku tinggal bersama orang nenek. Makan, minum dan tidur di rumah dengan gratis. Yang ku lakukan, belum seberapa dengan apa yang diberikan nenek dan Adek Nisya padaku." Ujarnya dengan sendu. Kedua matanya Samuel nampak berkaca-kaca sudah. Ia sangat terharu dengan perjuangan hidup Nenek, Nisya dan Ismail.
"Iya Nak, kita akan cari makan." Ujar Nisya semangat. Ia usap kepalanya Ismail yang keningnya sudah berkeringat.
Samuel memperhatikan sekitar. Ia baru sadar, kalau mereka sudah tiba di pusat kota itu. Banyak pedagang di sekitar mereka juga ada terminal angkutan. Sewaktu belum berprofesi jadi mafia, Samuel dulunya adalah preman pasar. Jadi, ia tahu betul keadaan yang ia tempati saat ini.
"Nek, Nisya, kita makan di sana saja ya!" Samuel menunjuk sebuah rumah makan yang lumayan besar di sebrang jalan.
"Tidak... uang kita bisa habis 100 ribu kalau makan di sana." Tolak Nisya dengan muka masamnya. Biasanya juga mereka kalau ke kota makan di warung makan serba 10 ribu.
"Ayo.. Aku yang traktir!" Ujar Samuel semangat. Ia raih Ismail dalam gendongannya. Dan berjalan cepat menuju rumah makan mewah dam besar itu
Mau tak mau, Nenek dan Nisya mengikuti langkahnya Samuel. Dan di saat hendak menyebrang, Samuel menunggu kedua wanita itu.
"Aku sebrangkan nenek dulu!" ujar Samuel, meraih tangan kirinya Nenek. Sedang Ismail ia gendong juga.
Nisya tak menyahut ucapan Samuel. Disaat Samuel menyebrangkan Nenek, Nisya pun ikut nyebrang dengan santainya, seolah wanita itu terbiasa sudah dengan kehidupan di kota.
__ADS_1
Sejenak Samuel terheran melihat Nisya yang terlihat, bukan seperti orang pedalaman.
Kini mereka telah duduk di sebuah meja bentuk bundar. Pelayan langsung datang menghampiri. "Mau pesan, atau di hidang bu ?" tanya si pelayan ramah pada Nisya.
Nisya tampak menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri. Meminta pendapat pada Nenek dan Samuel.
"Di hidang ya dek!" jawab Samuel.
"Eehh... Tidak, pesan aja. Kami pesan gulai rendang aja." Ujar Nisya cepat, kepada pelayan.
Si pelayan tersenyum ramah. "Oh, iya bu, pak. Ditunggu sebentar ya, pesanannya akan diproses." Sahut pelayan itu tersenyum tipis.
"Di hidang, habis berapa kita nanti. Gaya hidup sesuai isi dompetlah. Gak usah sok sok an makan di tempat bagus, kalau uangnya tak cukup." Keluh Nisya menatap masam Samuel
Samuel tertawa tipis menatap Nisya. "Aku yang baru nanti!" ujarnya lembut.
"Emang kamu ada uang?" melirik Samuel dengan sebelah mata.
"Ada."
"Bukan uang haramkan?" tanya nenek pelan, menatap lekat Samuel. Si Nenek tak mau makan uang haram. Bisa bisa ilmu yang ia pelajari hilang.
Samuel menarik napas panjang.
"Percaya padaku Nek. Walau aku ini buronan polisi. Aku masih ada penghasilan yang halal. Tak semua usahaku haram Nek." Jelas Samuel serius. Ia ambil Kartu ATM dari dompetnya. "Semoga kartu ini masih bagus." Samuel bangkit dari duduknya. "Kalian tunggu di sini. Aku ke ATM dulu."
Tanpa menunggu jawaban. Samuel bergegas menuju ATM yang ada di terminal angkutan itu. Tak jauh dari lokasi mereka makan saat ini.
Nisya menatap Nenek dengan penuh kekhawatiran. "Nek, jika Abang Samuel nipu kita, gimana? masak kita harus habiskan uang kita makan di sini." Ujar Nisya dengan nelangsa.
Nisya beranggapan Samuel akan pergi dari hidup mereka.
"Ya, terpaksa kita bayar. Ya gak apa apalah sesekali makan di tempat bagus. Paling juga 30 ribu/porsi." Jawab nenek santai.
"Iya sih nek!" Sahut Nisya. Ia dudukkan Ismail di kursi kosong sebelahnya.
__ADS_1
****