Taubatnya Sang Mafia

Taubatnya Sang Mafia
Tidak Mungkin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju gubuk tempat mereka tinggal dulu, perasaan Samuel tidak tenang. Jantungnya berdebar-debar kencang tidak berirama, kaeena pikirannya terus saja menduga-duga, apakah Ismail adalah anaknya. Dan, kenapa Nisya malah kembali ke hutan ini? Dia kan punya suami, yaitu Fredy. Apakah Fredy mencampakkannya? Karena tahu, Ismail adalah anaknya dengan Nisya?


Huufftt...


Samuel menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Rasanya dadanya semakin sesak, Karena memikirkan semua kejadian, yang menurutnya sangat misteri.


"Ayah kenapa? capek?" tanya Ismail, yang kini berdiri di hadapan Samuel. Kelakuan Samuel yang menarik napas kasar itu cukup menyita perhatiannya.


"Haahh.. Apa nak?" tanya Samuel sedikit gugup. Ia usap lembut kepala Ismail, kemudian tangan nya menjalar mengusap keringat yang ada di kening dan pelipis anak itu.


Ismail tersenyum tipis. "Wajar sih, kalau sudah tua, jalan jauh gak sanggup lagi." Ujar Ismail cengengesan.


"Hei.. Ayahmu ini masih kuat. Bahkan kamu bisa ayah gendong!" ujar Samuel menunjuk otot trisepnya.


"Hehehe... Terus tadi kenapa ayah menarik napas panjang?" tanya Ismail, masih menatap Samuel Dengan penuh selidik.


Huufftt...


Kembali Samuel menghela napas.


"Gak apa-apa Nak. Ayah hanya takut saja." Jawabnya lemah. Tatapan matanya terlihat sendu.


w2w


"Takut? Takut di hutan Ini?" Ismail menghemparkan kedua tangannya.


Samuel menggeleng lemah.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan nya!" Samuel memutar tubuh sang anak. Dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan.


Tempat tujuan semakin dekat, dan kecemasan yang dirasakan Samuel kian menggila. Ia sangat takut untuk bertemu dengan Nisya. Ia banyak salah pada wanita itu. Selain takut pada wanita itu. Ia juga tidak siap untuk kecewa. Karena, jujur. Dari lubuk hati paling dalam, ia sangat mengharapkan Nisya menjadi miliknya.


"Ma.. Ma...!"


Deg

__ADS_1


"Aauuqqhhgg... Astagfirullah ....!" hampir saja Samuel terjatuh, Karena melamun saat berjalan. Ia dikagetkan dengan teriak jam Ismail yang memanggil ibunya, Nisya. Itu artinya mereka sudah dekat ke rumah.


Ya Allah... Ku mohon, beri aku ketenangan hati. Semoga, Nisya tidak membenciku.


Samuel berdoa dalam hati. Ia usap-usap dadanya yang berdebar kuat itu. Rasa gugup yang parah membuatnya sangat was-was. Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya lemah, kaki sangat berat untuk melangkah. Karena, ia belum yakin, Nisya benar-benar memaafkannya.


Huffft..


Kembali ia menarik napas panjang berulang kali. Berharap dirinya bisa tenang. Tapi, semakin ia berusaha untuk rileks, ia malah semakin gugup. Dan semakin tidak berdaya. Jiwa mafianya benar-benar sudah hilang.


"Ma..Ma....!"


"Anakku Ismail.. Kamu sudah pulang...!"


Deg


Suara itu sudah 10 tahun ia rindukan. Suara yang merdu dan lembut, yang membuat siapapun mendengarnya merasa senang. Terutama bagi Samuel. Karena tutur bahasa lembut dan baiknya Nisya lah yang membuat jiwa mafianya menguap. Hati hitam dan berkarat penuh Dengan kebencian, tergantikan sudah dengan penuh cinta, kasih sayang dan belas kasih. Bersama Nisya selama sebulan lebih di hutan itu, sukses membuat Samuel taubat.


Drapp..


Drapp..


Derap langkah terdengar jelas di telinganya Samuel. Ia yang sedang menutup mata, menikmati indahnya suara Nisya yang menyahut panggilan Ismail.


"Mama....!'


" Iya sayang...!"


Jarak Mereka dengan Nisya masih ada 10 meter. Dan jangkauan mata belum terlalu jelas, Karena ditutupi dahan pohon yang ada di jalan yang mereka lintasi. Saat melihat sosok Nisya sudah mendekat.


Astaga...


Samuel membathin, dadanya berdebar-debar kencang. Ia yang gugup malah bersembunyi dibalik pohon yang rindang. Sambil memegangi dadanya itu. Rasanya ia tidak siap berjumpa dengan Nisya. Dan ia juga tidak menyangka Nisya malah tinggal di hutan.


"Anakku Ismail.. kamu Kenapa sayang?"

__ADS_1


Samuel yang tidak punya keberanian untuk berjumpa dengan Nisya, hanya bisa mengintip dari balik pohon besar. Memperhatikan dengan sendu, saat Nisya terlihat sangat mengkhawatirkan sang anak, yang bajunya kotor.


Walau Sudah tidak muda lagi, bagi Samuel, Nisya cantik nya masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu.


"Aku masuk perangkap ma. Syukur ada Ayah yang datang tepat waktu!"


Deg


Kali ini, Samuel memutar lehernya tegak. Ia tidak sanggup lagi memantau Ismail fan Nisya dari balik pohon.


"A, ayah...?" tanya Nisya dengan suara bergetar. Kedua mata langsung berkabut, mencari sosok lain di tempat itu. Tapi, sayang ia tidak melihat orang lain di tempat itu.


"I, iya Ma. Ayah, Ayah Samsul sudah pulang merantau!'


" Apa...?" Nisya sangat terkejut mendengar ucapan sang anak. Saking terkejutnya, Ia malah hampir tersungkur ke belakang.


"Iya Ma!" Sahut Ismail dengan penuh keyakinan. Ia putar tubuhnya, karena tadi Samuel berada di belakangnya.


"Loh, ayah Ke mana?" ujarnya dengan bingung, celigak memperhatikan sekitar.


"Kamu, jangan kebanyakan bermimpi nak. Ayahmu tidak akan pernah mencari keberadaan kita." Ujar Nisya sedih, uang tarik tangan sang anak, agar melanjutkan langkahnya.


"Gak Ma, ayah tadi di sini. Kami sama -sama melewati hutan ini. Ayah yang bantu aku keluar dari perangkap." Ismail bergeming, dengan mukanya yang nampak bingung


"Sayang, ayahmu gak mungkin datang ke tempat ini. Ayo.. Kita ke rumah. Nenek harus minum obat." Nisya kembali mengerek tangan sang anak.


"Ayah... Ayah...!" teriak Ismail histeris, ia lepaskan tangan sang ibu yang menahan tangannya.


"Nak.. !' Nisya tarik kuat tubuh sang anak ke pelukannya. " Jangan seperti ini, ibu jadi sedih!' ujar Nisya sambil terisak.


"Ma, beneran koq. Tadi aku datang bersama ayah!" Ismail tatap sang ibu yang masih menangis. Kemudian ia urai pelukan ibunya itu. Dan berlari kencang mencari sang ayah.


"Nak... Ismail.. Kembali...!" Nisya menyusul sang anak. "Is..ma..!"


Bruuggkk...

__ADS_1


__ADS_2